Kirana Dwi Lestari, seorang gadis belia berusia 17 tahun.
Tari, begitu Sapaanya di sekolah. Memiliki tiga orang adik yang sudah dua tahun ini ia hidupi sendiri. Kemana orangtuanya? Mereka meninggal dunia dua tahun lalu.
Tari dan adik-adiknya tinggal di sebuah rumah sederhana hasil kerjanya selama dua tahun ini.
Saat pagi menjelang, Tari akan berangkat kesekolah dan bekerja saat malam tiba. Selama dua tahun ini, kehidupan Tari tenang-tenang saja. Sampai suatu saat, ia bertemu dengan pria sebaya yang mampu menggetarkan hatinya.
Apakah cinta Tari akan terungkap dan terbalaskan?
Apakah pria itu akan menerima seorang ... Tari?
Ikuti kisahnya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tataxx, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Eps 20
"Tar, aku boleh ngomong sesuatu?"
"Eh, iya?" Tari mendongakan kepalanya. Memperlihatkan wajah yang memerah namun masih samar karna tertutup oleh make up wajah buruknya.
"Emb, sebenarnya ... Aku ... Suka sama kamu sejak pertama kali kita ketemu. Kamu mau ngga jadi pacarku?" laki-laki itu dengan sedikit malu memgutarakan apa yang ada di benaknya.
Ah, astaga ... Sungguh jantung Tari benar-benar akan lepas dari tempatnya. Laki-laki yang ketampanannya setara dengan salah satu artis muda di Indonesia ini sedang menembaknya. Wajah Tari semakin memerah, entahlah ... Tak bisa di ungkapkan dengan kata-kata. Yang jelas, Tari sangat terkejut dan bahagia saat ini.
Tari tak langsung menjawab pertanyaan Yoga barusan. Ia terlalu gugup untuk mengucapkan sepatah atau dua patah kata.
"Kok diem? Emang gitu ya ekspresi cewe kalau ditembak sama cowo? Hahaha lucu sekali."
Lah, disaat serius begini kenapa Yoga malah tertawa? Belum Tari menghilangkan rasa gugupnya, ia sudah di kejutkan lagi dengan Yoga yang tiba-tiba tertawa terbahak.
Dengan kebingungan Tari bertanya, "Maksudnya?" Gadis itu menatap Yoga sembari mengerutkan dahinya.
Saat ingin bicara, pelayan datang dengan membawa pesanan mereka lalu menaruhnya di atas meja. "Dimakan dulu!" perintah Yoga.
Akhirnya mereka makan dengan tenang. Kafe ini juga ada restoran di lantai dua. Jadi mereka bisa memilih makanan sesuai keinginan. Kafe yang berada di tengah kota dengan taman di sampingnya, sangat nyaman untuk dijadikan tempat nongkrong para kaula muda.
Setelah pernyataan Yoga, Tari tak berani mengucap sepatah katapun. Melirik Yoga pun tak berani. Masih ada kegugupan dalam dirinya.
"Tari," Yoga memulai perbincangan setelah beberapa saat menyelesaikan makan malam mereka.
Gadis itu menoleh namun tak berucap apapun.
"Gimana?"
"A-apanya?"
"Yang tadi, kira-kira bener ngga kalimat buat nembak cewe kayak gitu?"
Tari benar-benar bingung, apa sih maksud Yoga? Tari masih diam, tidak mengerti dengan yang dipikirkan sahabat nya itu.
"Ehm, gini loh tar, aku suka sama cewe, dan rencananya mau nembak dia buat jadi pacarku. Terus aku tadi lagi berlatih lewat kamu. Gimana? Udah benar belum kalimatku yang tadi?" jelas lelaki itu dan berhasil membuat mata Tari mendelik hampir lepas.
Apa? Jadi ... Yang tadi? Bukan nembak Tari beneran? Seketika Tari menjadi lemas. Hatinya benar-benar gugur seperti daun yang mengering. Ia mengira Yoga benar-benar menyatakan perasaan padanya.
"Gimana Tar? Kok diem?"
"Eh, iya i-itu tadi sudah benar kok." jawab gadis itu dengan tersenyum. Senyuman yang menyembunyikan sakit di hatinya.
Yoga terlihat sangat bahagia sekali karna latihannya berhasil. "Emb, Yoga ...."
"Iya Tar?"
"Emang ... Ka-kamu mau nembak siapa?" pertanyaan itu keluar lepas begitu saja dari mulut Tari. Entahlah, mungkin gadis itu penasaran dengan siapa yang disukai Yoga. Sarah kah?
"Eh iya, mumpung kamu tanya nih. Aku jadi inget kan harus tanya sesuatu ke kamu."
Tari menaikkan kedua alisnya. "Kamu pasti kenal sama yang namanya Ana, gadis seusia kamu yang tinggalnya juga di daerah rumah kamu."
Deg, Tari mulai membisu kembali. Gadis itu perlahan meraih minumannya dan meminumnya. Mencoba menghilangkan rasa gugup dalam dirinya yang mulai datang kembali. Bagaimana ini? Tari harus menjawab apa?
"Kenal kan Tar?" Yoga bertanya kembali.
"E-engga!" jawab gadis itu singkat. Keringat dingin mulai membasahi telapak tangannya.
"Yah, padahal aku mau minta tolong kamu buat ketemuin aku sama dia. Akhir-akhir ini dia jarang bisa ditemui Tar. Dan Ana lah gadis yang mau aku tembak. Aku suka banget sama dia, ya ... Walaupun pekerjaannya yang aku kurang suka."
Mulai, cowo bucin lagi curhat🤦
Tari tetap diam dengan beberapa pertanyaan dalam pikirannya. Jadi Ana? Yoga menyatakan cintanya pada Ana dan bukan padanya? Laki-laki itu menyukai Ana dan bukan dirinya. Meski Ana adalah dirinya sendiri, tetap saja Tari merasa sedih. Yoga mencintai seorang Ana, bukan Tari. Ah ... Siapa juga yang mau menyukai dirinya? Gadis cupu buluk yang tak terlihat. Mau berteman dengannya saja Tari sudah merasa sangat bersyukur.
"Tari, bantuin cari rumahnya ya. Please ...."
Yoga menggenggam kembali jemari Tari yang sudah berkeringat dingin. Memasang wajah melas agar Tari mau membantunya.
"A-aku ngga janji." lirih gadis itu. Sungguh, keadaan ini membuatnya tak karuan. Tari menarik tangannya dari genggaman Yoga. Ia tak mau lagi terlarut dalam perasaan yang membuatnya semakin kesakitan.
Gadis itu bangun dari duduknya. "Aku ingin pulang!" tak ada senyum dari bibirnya seperti biasa. Suasana hatinya membuat keadaan menjadi hambar.
"Oke, aku antar."
Setelah membayar Bill Yoga segera mengantar Tari pulang ke rumah.
***
"Makasih ya udah mau nemenin aku." ucap Yoga saat Tari ingin keluar dari mobil. Gadis itu hanya mengangguk lalu membuka pintu mobil.
Setelah Tari keluar mobil, Yoga langsung melanjutkan mobilnya untuk pulang. Tari hanya menatap lesu mobil yang semakin menjauh itu. Tubuhnya seperti baru saja terjatuh dari ketinggian beratus-ratus meter. Sakit sekali. Terutama hatinya yang patah sebelum tunasnya meninggi.
Tari berjalan masuk kedalam rumah. Membuka pintu dengan malas dan menyalakan lampu ruang tamu yang sudah padam. Ini sudah pukul sepuluh malam. Adik-adiknya pasti sudah tidur nyenyak di dalam kamar.
Klek, lampu menyala.
"Ah ...."
To Be Continue ....
LANJUT THOR.....🙏🙏
ayooo lanjut 🚴🚴🚴
uuuuuhhhh Miss u om
lagipula saat itu Tari atau Ana dalam keadaan mabuk seeeh
disebelah ada nyawa yang harus kamu jaga tuuuuh