fatimah azzahra yang kerap di panggil fafa atau patimah oleh teman dekat maupun orang lain. fatimah sudah 3 tahun nikah bersama Hengki Affandi.dari pernikahan itu belum juga mendapatkan seorang pun anak sampai ia di usir oleh suaminya.
beberapa tahun hengki dan fatimah berpisah dan gak pernah ketemu,di suatu hari hengki bertemu dengan fatimah dan kedua anak kembar fatimah dari pernikahan mereka.
apa kelanjutannya baca ajah yah
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ridwan jujun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pindah
Sudah 2 tahun sejak Fatimah berkunjung ke Jakarta. Setelah itu tak pernah lagi berkunjung ke sana. Sekarang anak Fatimah sudah genap berumur 5 tahun bahkan sekarang mereka sudah TK.
Hari-hari Fatimah terlewatkan dengan penuh rintangan. Kadang kala ia sedih melihat saat anaknya dihina sama orang lain karena tak memiliki seorang ayah. Tak ada yang bisa dilakukan kedua bocah laki-laki itu. Mereka hanya diam menyaksikan setiap hinaan yang tertuju pada mereka. Buat apa mereka menjawab, toh dulu Umi mereka juga sudah pernah bilang tentang Abi Mereka.
Seminggu yang lalu Fatimah sudah meminta surat pindah sekolah anaknya pada pihak TK dimana Raikal dan Rayyan menuntut ilmu. Rencananya mereka akan pindah ke Jakarta hari ini. Fatimah membawa seluruh keluarganya termasuk Ibu Hilda. Fatimah tidak mau jika Ibunya itu tinggal sendiri disini. Biarlah masalah rumah dan kontrakannya akan diurus orang kepercayaan Fatimah.
Selama seminggu ini juga Fatimah mengurus surat pindah mereka ke Jakarta. Ke-dua anak Fatimah serta adik kembarnya sangat bahagia akhirnya mereka akan menginjakkan kaki mereka di kota kelahiran sang Umi.
"Umi apakah masih lama kita akan berangkat?" tanya Raikal memelas. Ia sudah merasa jenuh sedari tadi mereka belum juga berangkat ke bandara.
"Iya Umm, kenapa lama sekali kita disini? Iyan sudah tidak sabar menginjakkan kaki di kota kelahiran Umi," timpalnya penuh semangat.
"Ia jagoan, sebentar lagi taxi kita akan datang," jelas Fatimah lembut.
Memang sudah 30 menit mereka duduk di depan rumah. Karena keberangkatan pesawat masih ada 30 menit lagi, jadi Fatimah lebih baik menunggu disini dari pada di bandara yang pasti terasa sangat lama.
Taxi berhenti di depan rumah Fatimah. Seluruh keluarga langsung menaiki taxi satu persatu. Ibu Hilda duduk di depan sedangkan yang lainnya duduk di bagian belakang.
Perjalanan yang hanya menempuh waktu 25 menit. Saat tiba disana mereka langsung masuk ke dalam pesawat karena sebagian orang sudah masuk.
Raikan dan Rayyan terlihat sangat bahagia. Mereka tersenyum untuk pertama kalinya menaiki pesawat. Kedua bocah laki-laki itu tak henti-hentinya berceloteh ria di samping Fatimah. Fatimah hanya bisa geleng-geleng kepala melihat kelakuan kedua putra kesayangannya.
Menempuh waktu 2 jam pesawat sudah mendarat di bandara soekarno-hatta. Raikal dan Rayyan berlari keluar pesawat dengan semangat tanpa mau mendengar ucapan sang ibu.
"Sayang, jangan lari-lari, Nak! Nanti kalian hilang Sayang!" teriak Fatimah.
Mereka tak mendengarkannya dan malah semakin berlari keluar. Hingga sekarang mereka sudah berada di sekitar area bandara. Fatimah yang berada jauh dari mereka tergopoh-gopoh berlari ke arah anak-anaknya. Ia takut anaknya hilang disini melihat banyaknya orang di bandara.
"Rai, Iyan, kalian jangan ngulangi seperti ini lagi ya Nak. Nanti jika kalian berdua hilang siapa yang akan menemani umi. Apa kalian tidak sedih melihat umi bersedih karena ke-dua putra umi tidak ketemu?" lirih Fatimah dengan air mata yang mulai menganak sungai dipelupuk matanya.
"Maafkan kami Umi," balas kedua anak laki-laki itu sambil mendekap Umi mereka.
"Iya Sayang. Tapi jangan pernah ulangi lagi ya? Umi takut Sayang," pintanya.
"Baik Umi, kami janji,"
Saat ini mereka semua sudah berada di depan rumah Fatimah yang ada di Jakarta. Kedua anaknya kagum melihat rumah itu. Mata mereka tampak berbinar melihat setiap dekorasi yang ada di luar rumah.
"Umi rumahnya bagus sekali. Rai suka Umi," ujarnya terkagum-kagum.
"Iya Umm, Iyyan juga suka. Pasti kita bakal senang tinggal di sini," tambahnya tak kalah antusiasnya.
"Iya Sayang alhamdulillah," balas Fatimah mengusap kepala kedua putranya dengan sayang.
Mereka melanjutkan masuk ke dalam rumah itu setelah pintu rumah dibuka Fatimah. Kedua putranya langsung berlari ke dalam rumah untuk melihat-lihat keadaan di dalam rumah. Langkah kaki mereka berhenti di depan sebuah kamar yang mana tertera nama "Raqib Raikal" Yang mengantung indah.
"Abang ini kamar Abang, mari kita masuk Abang, Iyyan mau lihat kamar Abang," ujarnya membuka gagang pintu.
"Wahhh, kamar Abang bagus sekali!" pujinya dengan senyum mengambang.
"Iya Dek, abang suka dekorasinya. Ayo kita ke kamar adek buat lihat," ajaknya menarik tangan Rayyan.
Mereka melangkah ke kamar sebelah kamar Raikal, yang mana juga ada sebuah nama yang mengantung seperti kamar Raikal.
"Wihhh, kamar Adek juga bagus sama seperti kamar abang," puji Raikal berdecak kagum.
"Abang Rai, berarti kita tidak tidur bersama lagi dong?" tanyanya dengan menundukkan kepalanya.
"Entahlah Dek, abang rasa begitu. Lagian kita punya kamar masing-masing." Raikal mendekat ke arah sang kembaran lalu merangkul bahu kembarannya itu.
"Tapi iyyan mau tidur dengan Abang seperti biasa," jawabnya dengan masih menunduk.
"Iya nanti coba kita tanya sama Umi, ya?"
"Baiklah Abang,"
Mereka kembali berjalan ke arah ruang tamu yang mana seluruh keluarganya sedang duduk melepas rasa lelah yang sempat mereka rasakan. Raikal dan Rayyan berjalan menuju Fatimah yang sedang selonjoran di atas sofa.
"Umi, apa iyyan sama Abang akan pisah kamar?"
"Iya, emang kenapa Sayang? Lagian kamar di sini kan ada 7,"
"Tapi Iyyan mau tidur sama Abang seperti biasa Umm,"
"Iyyan dengerin umi ya, Nak. Umi ngelakuin ini semua demi Iyyan sama Abang. Nggak mungkin 'kan Iyyan tidur terus sama Abang sampai besar? Makanya umi ngajarin buat kedua putra umi mandiri dari hal yang kecil contohnya tidur di kamar sendiri-sendiri. Apa Iyyan ngerti ucapan umi?"
"Ngerti Umm, tapi--"
"Nggak apa-apa kok Dek, abang yakin kita pasti bisa. Nanti jika Adek terbangun tengah malam dan nggak bisa tidur Adek bisa datang ke kamar abang dan begitupun sebaliknya. Boleh 'kan Umi?"
"Iya boleh, Nak. Iyyan paham 'kan Sayang?"
"Paham Umm,"
"Yasudah, sekarang Iyyan dan Rai beresin gih baju-baju kalian yang ada di koper masing-masing dan taruh di dalam lemari,"
"Baik Umi,"
"Baik Umm,"
Fatimah tersenyum melihat anaknya yang sangat patuh dengan perintahnya. Mereka tidak pernah sekalipun menolak perintah yang disuruh Fatimah. Fatimah mendidik anak-anaknya dari usia dini untuk menjadi anak yang patuh agar jika besar nanti anak-anaknya tak memiliki sifat nakal atau apapun itu.
Bersambung
walaupun singkat tapi mantap sekali 👍👍
teruslah berkarya dan sehat selalu 😘😘
makasih banyak kak thor 😘❤️