Dicampakkan Aris karena dianggap tidak selevel, Aura memilih balas dendam paling elegan: Menikahi Hendra (38th), ayah Aris yang tampan dan kaya raya.
Kini, sang mantan harus tunduk di bawah kekuasaan ibu tiri barunya.
"Dulu kamu menginjakku, Aris. Sekarang, panggil aku Ibu!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nuna_Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PENAWARAN
"Bagaimana kalau kita menikah?”
Kalimat itu terucap begitu mulus dari bibir Aura, melayang di udara malam yang dingin di atas balkon lantai dua. Hening seketika merayap di antara mereka. Di dalam ballroom, alunan musik klasik dan denting gelas kristal para tamu elit masih terdengar memantul, tetapi di balkon ini, waktu seolah terhenti.
Hendra Fahreza mematung selama beberapa detik. Mata cokelat gelapnya yang tajam menatap Aura lurus-lurus, mencoba menembus raut wajah tenang wanita muda di hadapannya. Sebagai pengusaha puncak yang terbiasa menghadapi berbagai gertakan di meja perundingan, Hendra sudah mendengar bermacam-macam penawaran gila. Namun, ditawari pernikahan oleh seorang wanita muda yang baru ditemuinya tak lebih dari tiga menit lalu adalah hal yang belum pernah terjadi sepanjang tiga puluh delapan tahun hidupnya.
Hendra terkekeh rendah—sebuah tawa dingin dan berat yang bergema halus di dada bidangnya.
“Kamu bercanda, Nona?”
tanya Hendra. Suaranya tetap tenang, tetapi ada nada ancaman tersirat di sana. Pria itu menegakkan tubuh tegapnya, membuat bayangannya yang jangkung sepenuhnya mengurung sosok Aura.
“Atau kamu hanya wanita muda nekat yang kehilangan akal karena terlalu banyak minum champagne?”
Aura tidak bergeming. Ia tidak menyurutkan langkahnya atau menurunkan pandangan matanya sedikit pun. Keberanian di matanya begitu membara, tetapi pembawaannya tetap anggun dan terkontrol.
“Saya sangat sadar, Pak Hendra. Bahkan saya tidak menyentuh alkohol sama sekali malam ini,”
balas Aura mantap, meletakkan gelas champagne yang hanya ia pegang sejak tadi ke atas meja sudut balkon.
“Pernikahan yang saya tawarkan bukan bercandaan, bukan pula lamaran emosional. Ini adalah kesepakatan bisnis yang murni dan saling menguntungkan.”
Hendra menaikkan sebelah alisnya. Pria matang itu menyandarkan satu tangannya pada pembatas balkon marmer, menatap Aura dengan binar ketertarikan yang kian dalam. Di mata Hendra, wanita di hadapannya ini ibarat lawan catur yang tiba-tiba melangkah berani tanpa rasa takut pada Sang Raja.
“Kesepakatan bisnis?” repetisi Hendra seraya tersenyum sinis.
“Anak muda, kamu tahu sedang bicara dengan siapa? Saya adalah Hendra Fahreza. Saya memegang kendali atas aset belasan triliun rupiah. Apa yang bisa kamu berikan pada pria yang sudah memiliki segalanya?”
“Satu hal yang tidak bisa dibeli dengan uang Anda, Pak Hendra,”
sahut Aura lancar, melangkah satu titik lebih dekat hingga aroma parfum mawar dan kayu manis miliknya beradu halus dengan parfum kayu sandalwood maskulin milik Hendra.
“Perisai dan ketenangan.”
Hendra tidak menyela. Ia membiarkan Aura melanjutkan dengan ketertarikan yang kian tumbuh.
“Tiga bulan terakhir, dewan direksi Fahreza Group dan media massa terus menekan posisi Anda soal stabilitas domestik,”
papar Aura penuh percaya diri. Ia sudah menghafal seluruh riset yang ia lakukan selama satu bulan penuh.
“Setelah almarhum istri Anda berpulang lima tahun lalu, para pemegang saham khawatir mengenai regenerasi dan konsolidasi kepemimpinan. Belum lagi deretan wanita dari keluarga konglomerat lain yang terus dipaksakan oleh relasi bisnis Anda untuk menjadi istri baru Anda. Anda lelah menghadapi wanita-wanita yang mendekat hanya demi harta, status, dan kekuasaan keluarga mereka, bukan?”
Tatapan mata Hendra perlahan berubah. Binar geli yang tadinya menghiasi matanya kini berganti menjadi tatapan tajam dan penuh penilaian. Wanita muda di hadapannya ini ternyata tidak sekadar modal nekat; ia telah mempelajari situasi hidup Hendra dengan sangat presisi.
“Lalu, apa bedanya kamu dengan wanita-wanita itu?” tanya Hendra dingin.
“Bukankah kamu juga mendekati saya demi status?”
“Bedanya adalah saya menawarkan transaksi terbuka tanpa pura-pura berniat mencintai Anda,”
jawab Aura tanpa ragu. suaranya begitu lugas dan jujur hingga membuat Hendra sedikit terkejut.
“Saya tidak akan menuntut cinta, tidak akan mencampuri urusan bisnis pribadi Anda, dan tidak memiliki keluarga berpengaruh yang akan menggerogoti aset Fahreza Group. Di depan publik dan media, saya akan menjadi istri yang sempurna, anggun, berpendidikan, serta menjaga nama baik Anda. Di balik pintu, kita adalah mitra kerja yang saling menguntungkan.”
Hendra memandangi wajah Aura lekat-lekat. Ia meneliti garis rahang tegas wanita itu, matanya yang jernih, dan sikap tubuhnya yang memancarkan harga diri tinggi. Selama bertahun-tahun, wanita yang mendekati Hendra selalu menggunakan pesona murahan, tangisan manja, atau godaan halus untuk melunakkan hatinya. Tidak ada satu pun yang berani menyodorkan kontrak pernikahan secara blak-blakan dengan argumen rasional seperti ini.
Rasa penasaran yang sudah lama mati di dalam dada Hendra perlahan membara kembali.
“Tawaran yang menarik,” ujar Hendra pelan, suara beratnya bagai bisikan berbahaya di tengah angin malam.
“Tapi transaksi selalu membutuhkan dua sisi. Kamu sudah menyebutkan apa yang bisa kamu berikan untuk saya. Sekarang katakan... apa yang kamu inginkan dari saya sebagai imbalannya?”
Aura meremas jemarinya di balik lipatan gaun hijaunya sejenak sebelum menguasai diri. Di dalam pikirannya, wajah Aris yang penuh kesombongan saat mencampakkannya di kafe mendadak terbayang jelas. ‘Ayahku nggak akan pernah sudi punya menantu seperti kamu!’ cemooh Aris waktu itu.
Kilatan dingin melintas cepat di mata Aura, menggantikan kelembutannya.
“Saya ingin status,” sahut Aura tegas.
“Saya ingin nama belakang Fahreza melekat pada saya. Saya ingin posisi sah sebagai Nyonya Hendra Fahreza—wanita teratas yang memegang kendali di rumah Anda dan diakui oleh seluruh keluarga besar Anda. Termasuk oleh anak Anda.”
Hendra memicingkan matanya. Mendengar kata 'anak Anda', ada riak aneh yang tertangkap oleh insting tajamnya, namun ia tidak terlalu ambil pusing. Bagi Hendra, Aris memang putra tunggalnya yang selama ini manja, arogan, dan belum bisa diandalkan. Memiliki seorang istri muda yang tegas dan cerdas mungkin justru bisa memberi pelajaran berharga bagi putranya yang kurang ajar itu.
“Kamu cukup berani menyebut nama anak saya,”
gumam Hendra. Pria itu merogoh saku dalam jas mewahnya, menarik keluar sebuah kotak rokok perak dan pemantik api. Dengan gerakan yang sangat elegan dan tenang, Hendra menyalakan sebatang rokok, membiarkan asap tipis beraroma cengkeh melayang di antara mereka.
“Aris adalah anak yang keras kepala dan sulit diatur. Dia tidak akan menyukai kehadiran ibu tiri yang usianya tidak jauh beda dengannya.”
Aura mengukir senyuman tipis yang sangat mematikan. ‘Justru karena dia tidak akan menyukainya, saya ada di sini, Hendra,’ batin Aura kejam.
“Saya tahu cara mengatasi anak muda yang arogan dan kurang diajar, Pak Hendra. Anda tidak perlu khawatir,”
balas Aura santai.
Hendra mengembuskan asap rokoknya ke udara malam, menatap Aura dari balik kepulan tipis tersebut. Ada aura dominasi dan kepemimpinan yang begitu kuat dari diri Hendra. Pria berusia 38 tahun ini bukan hanya tampan dan matang, tetapi juga memiliki aura karismatik yang sanggup melumpuhkan pertahanan wanita mana pun.
Untuk sejenak, Aura merasa detak jantungnya berdesir aneh saat menatap mata tajam Hendra dari dekat. Rasa tertarik itu murni dan mendalam—pria di hadapannya ini berada di level yang sangat jauh berbeda dibandingkan Aris yang kekanak-kanakan.
“Kamu wanita yang sangat berbahaya, Nona...” Hendra menggantung kalimatnya, menyadarkan bahwa ia belum tahu nama lengkap wanita muda di hadapannya.
“Aura. Aura Paramitha,”
sebut Aura dengan nada suara yang halus namun lugas.
Hendra mengulang nama itu di dalam hatinya. Aura. Nama yang sangat cocok dengan pesona dingin dan misterius yang dipancarkannya malam ini.
Hendra mematikan puntung rokoknya di asbak berdiri yang ada di sudut balkon. Pria matang itu melangkah mendekat hingga jarak di antara mereka tersisa beberapa sentimeter saja. Kehadiran Hendra yang begitu tegap dan tinggi memaksa Aura untuk sedikit mendongak.
Hendra mengulurkan tangannya yang kokoh, jemarinya yang hangat dan sedikit kasar menyentuh dagu Aura dengan lembut namun penuh dominasi. Sentuhan itu tidak genit, melainkan sebuah gestur kekuasaan dari seorang pria yang biasa memegang kendali penuh atas segalanya.
“Aura...” suara Hendra terdengar begitu berat dan dalam di dekat telinga Aura.
“Saya tidak pernah mengambil keputusan penting dalam bisnis hanya karena impresi lima menit di atas balkon. Saya seorang pria yang terbiasa menguji setiap investasi sebelum menanamkan modal.”
Aura merasakan desir hangat menjalar di sepanjang tengkuknya akibat sentuhan dan kehangatan napas Hendra, tetapi ia tetap mengunci tatapan matanya pada manik mata cokelat gelap milik sang taipan.
“Lalu? Apakah Anda menolak penawaran saya?”
tantang Aura pelan.
Hendra perlahan melepaskan tangannya dari dagu Aura, lalu merogoh saku dalam jasnya sekali lagi. Kali ini, ia mengeluarkan sebuah kartu nama bertekstur tebal dengan pinggiran berwarna emas dan tulisan timbul yang sangat elegan.
Hendra menyelipkan kartu nama itu di antara jemari lentik Aura.
“Datang ke kantor saya besok pagi jam sepuluh tepat,” perintah Hendra dengan nada tenang namun tak tertahankan.
“Sekretaris saya sudah tahu keberadaanmu. Kamu punya waktu lima belas menit untuk mempresentasikan draf kesepakatan pernikahan ini di depan saya secara formal.”
Aura menatap kartu nama di tangannya, lalu kembali menatap Hendra dengan sudut bibir yang terangkat tipis. Langkah pertamanya telah berhasil melintasi garis pertahanan Sang Penguasa.
“Lima belas menit terlalu lama, Pak Hendra. Saya hanya butuh sepuluh menit untuk membuat Anda menandatangani dokumen pernikahan kita,”
balas Aura percaya diri.
Hendra terkekeh rendah—sebuah tawa menawan yang jarang sekali diperlihatkannya kepada orang lain. Pria itu merapikan jas mewahnya, berbalik membelakangi balkon untuk kembali ke dalam ballroom yang bising. Namun, sebelum melangkah lebih jauh, Hendra menghentikan langkahnya dan menoleh sedikit ke arah Aura.
Mata tajam sang taipan menatap Aura lekat-lekat dari balik bahunya, mengulas senyum tipis yang sarat akan dominasi dan kepastian.
“Jangan terlambat besok pagi, Aura. Calon istri seorang Hendra Fahreza tidak pernah membuat suaminya menunggu.”