"Katanya sahabat masa kecil itu cuma masa lalu, tapi kenapa kehadirannya bisa menghancurkan masa depanku?"
Bagi Nawang, Timy adalah segalanya—cowok yang berjanji melindunginya di bawah inisial kalung T&N. Tapi segalanya berubah saat Kanaya, teman masa kecil Timy yang rapuh dan penuh trauma, kembali hadir. Demi alasan kemanusiaan, Timy perlahan melangkah terlalu jauh hingga melupakan janji-janjinya pada Nawang.
Saat Nawang memilih mundur karena lelah dianaktirikan, Rendy—Ketua OSIS berhati es—hadir menawarkan sandaran baru.
Di saat Timy tersadar dirinya hanya dijadikan pelampiasan egois oleh Naya, semuanya sudah terlambat. Penyesalan Timy membawanya pada Jihan, gadis misterius yang diam-diam membalut lukanya.
Ini bukan sekadar cerita tentang cinta segitiga, melainkan tentang melepaskan yang sia-sia, menyembuhkan luka, dan menemukan kedewasaan di koridor sekolah
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rofiwan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hati Yang 'Mulai' Retak 09.
Sabtu pagi di hari libur sekolah biasanya menjadi waktu favorit Nawang untuk meringkuk di dalam selimut, mendengarkan lagu-lagu indie dari musisi lokal favoritnya.
Namun, pagi ini berbeda. Sinar matahari yang menerobos celah gorden kamarnya terasa membakar kulit, padahal suhu tubuhnya sudah berangsur turun.
Sisa-sisa demam semalam hanya meninggalkan rasa lemas yang luar biasa di persendiannya, serta rasa kosong yang aneh di dadanya.
Nawang duduk di tepi ranjang. Kepalanya masih sedikit berdenyut saat ia meraih ponsel yang tergeletak di meja nakas.
Alat komunikasi itu sempat mati semalam karena kehabisan baterai, sama seperti energinya yang terkuras habis sebelum ia pingsan karena demam.
Setelah kabel pengisi daya terpasang dan layar ponsel menampilkan logo barunya, rentetan notifikasi langsung menyerbu. Nawang menahan napas. Matanya bergerak cepat, mencari satu nama yang ia harapkan muncul di baris paling atas.
Nol.
Tidak ada satu pun pesan atau panggilan tak terjawab dari Timy.
Cowok itu benar-benar menghilang setelah centang satu semalam.
Tidak ada penjelasan. Tidak ada permintaan maaf. Otak Nawang mencoba rasional—mungkin Timy ketiduran, mungkin ban motornya bocor, atau mungkin ada urusan keluarga yang mendadak. Namun, intuisi perempuan jarang salah, dan intuisi Nawang saat ini sedang membunyikan alarm bahaya.
Untuk mengalihkan rasa sesak yang mulai merayap naik ke tenggorokan, Nawang membuka aplikasi Instagram.
Di barisan paling atas, lingkaran merah muda mengitari foto profil beberapa teman sekelasnya. Jari Nawang bergerak random, mengetuk cerita demi cerita tanpa benar-benar menikmatinya. Hanya sebuah pelarian.
Sampai jarinya berhenti di akun milik Yandi, teman sekelasnya yang kebetulan tinggal di kompleks perumahan yang sama dengan Kanaya.
Yandi mengunggah sebuah video pendek dengan keterangan teks: "Anak kompleks sebelah pagi-pagi udah dapet drama. Semalem mati lampu emang bikin heboh."
Jantung Nawang seperti berhenti berdetak selama satu detik penuh.
Video itu diambil dari dalam mobil Yandi yang tampaknya baru saja ingin keluar kompleks semalam.
Kualitasnya agak buram karena minim pencahayaan dan hanya mengandalkan lampu sorot mobil, tetapi Nawang tidak butuh resolusi 4K untuk mengenali jaket jin pudar dan motor matik putih yang terparkir sembarangan di depan pagar sebuah rumah mewah.
Itu motor Timy. Jaket itu juga jaket yang sering dipakai Timy saat kencan bersama Nawang.
Di dalam video berdurasi lima belas detik itu, kamera Yandi sempat menyorot area teras rumah Kanaya yang remang-remang.
Di sana, di bawah sorot lampu jalanan kompleks yang mulai berkedip pasca-pemadaman, Kanaya sedang berdiri dengan kaos kebesaran, wajahnya disembunyikan di lipatan tangan yang bersedekah pada pundak lebar seorang cowok.
Timy sedang memeluknya. Menepuk-nepuk punggung Kanaya dengan gerakan menenangkan yang sangat familier di mata Nawang.
Gerakan yang biasanya Timy lakukan pada Nawang saat cewek itu sedang menangis karena tekanan ujian sekolah.
Nawang menatap layar ponselnya tanpa berkedip. Kamarnya mendadak terasa begitu sunyi, sampai-sampai suara detak jarum jam dinding terdengar seperti dentuman keras di telinganya.
Nawang yang selama ini selalu mencoba memaafkan, kini mulai runtuh berkeping-keping. Kepingan fakta semalam langsung menyusun diri membentuk sebuah kebenaran yang kejam di otak nya.
Timy tidak kecelakaan.
Timy tidak mengantre bubur terlalu lama.
Timy hanya memilih untuk memutar balik motornya demi perempuan lain, di saat pacarnya sendiri sedang menggigil menahan sakit.
"Jadi..." Suara Nawang keluar dalam bentuk cicitan lirih. Tenggorokannya mendadak perih, bukan karena radang, melainkan karena ada tangis yang tertahan di sana. "Ini alasan kamu nggak bisa dihubungi, A?"
Rasa sakit semalam yang berupa demam fisik, kini bertransformasi menjadi rasa sakit emosional yang jauh lebih tajam.
Yang paling menyakitkan bukan fakta bahwa Timy menolong Kanaya yang ketakutan karena mati lampu.
Nawang tidak tahu Kanaya memang punya trauma pada kegelapan atau bagaimana.
Yang mulai menghancurkan hati Nawang adalah kebohongan dan prioritas.
Timy memilih untuk mengabaikan pesannya.
Timy membiarkan ponselnya mati tanpa berusaha memikirkan bagaimana keadaan Nawang yang menunggunya dengan perut kosong dan tubuh demam tinggi.
Bagi Timy, ketakutan Kanaya adalah darurat medis, sementara rasa sakit Nawang hanyalah sesuatu yang bisa ditunda.
Nawang meletakkan ponselnya kembali ke meja dengan tangan yang bergetar hebat. Ia memeluk lututnya sendiri di atas kasur, menenggelamkan wajahnya di sana. Air matanya tidak mengalir deras seperti semalam. Kali ini, air mata itu menetes satu-satu, lambat, namun terasa sangat berat.
Di dalam dadanya, Nawang mulai merasakan ada sesuatu yang patah. Rasa percaya yang ia bangun dengan susah payah selama satu tahun terakhir, yang selalu ia pertahankan, tapi nama Kanaya masuk di antara hubungan mereka, kini runtuh tanpa suara.
Remaja usia belasan tahun sering kali berpikir bahwa patah hati terbesar adalah saat kata "putus" terucap. Namun pagi ini, Nawang belajar satu hal baru yang lebih menyakitkan, patah hati terbesar adalah saat kamu menyadari bahwa posisimu di hati seseorang yang kamu prioritaskan, ternyata tidak pernah lebih dari sekadar pilihan kedua.
Matahari di luar semakin terang, menerangi kamar Nawang yang rapi namun terasa mati.
Di atas meja belajarnya, wadah bekal berwarna biru—yang kemarin sengaja diabaikan Timy demi sandwich Kanaya—berdiri bisu.
Menjadi saksi dari sebuah ketulusan yang kini tidak lagi memiliki tempat untuk pulang.
Hati Nawang, yang selama ini selalu kokoh menampung segala sifat dan kelakuan seorang Timy, pagi itu resmi mulai retak. Dan Nawang tahu, retakan itu mulai masuk ke dalam.
......................
...****************...
Tbc,