NovelToon NovelToon
Dendam Salah Alamat

Dendam Salah Alamat

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Mardzan J.

Pernikahan Nadira Alesya batal di depan mata ketika calon suaminya melarikan diri demi menikahi wanita lain. Terluka dan dipenuhi dendam, Nadira tak menyangka justru harus menikah dengan Rayzan Arjunawan, saudara dari pria yang telah meninggalkannya. Bagi Nadira, Rayzan hanyalah penebus dosa atas penghinaan yang ia terima.

Namun, Rayzan menghadapi sikap Nadira dengan kesabaran dan ketulusan. Perlahan, pernikahan yang awalnya dibangun atas dendam berubah menjadi sesuatu yang tak pernah Nadira rencanakan. Laki-laki yang seharusnya menjadi alat balas dendam justru membuat hatinya jatuh cinta.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mardzan J., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Berpura-Pura

Tok! Tok! Tok!

Nadira menghentikan aktivitasnya saat terdengar suara ketukan pintu. Wanita itu meletakkan kemoceng di atas meja tempat beberapa vas bunga berjejer.

“Mama sama Papa pulang? Nggak mungkin secepat ini, dong,” ucapnya.

Tok! Tok! Tok!

Nadira menganggukkan kepala sambil tersenyum.

“Pasti wanita itu datang lagi. Dia pikir aku akan melepaskan Rayzan? Nggak semudah itu, Meidra. Kamu sudah keterlaluan sama aku. Sekalipun aku bercerai dengan Rayzan, aku nggak akan membiarkan kamu menikah dengannya.”

“Kamu sengaja datang untuk membuat aku marah, kan? Oke, Meidra! Kamu akan lihat kalau aku bisa lebih kasar daripada sekadar menampar kamu.”

Nadira mengambil kemoceng dan segera melangkahkan kaki menuju pintu. Dendamnya kepada wanita itu belum juga berakhir. Ia masih mengingat perlakuan Meidra yang begitu kejam kepadanya.

Wanita itu sudah bersiap menyerang Meidra secara tiba-tiba. Namun, ketika membuka pintu rumah, ia justru mendapati seorang wanita berkerudung yang tersenyum sambil menatapnya.

“Assalamualaikum...”

“Waalaikumsalam ... Tante, eh, Umi.”

“Gimana kabar kamu, sayang?”

“Baik, Umi. Umi ngapain ke sini?”

Indah mengernyitkan kening mendengar pertanyaan dari menantunya sendiri.

“Eh, maksudku ... Tumben Umi ke sini?”

“Umi mau ketemu Rayzan. Umi khawatir sama dia.”

“Seerat itu kedekatan mereka,” batin Nadira.

“Rayzan ada?”

“Rayzan demam, Umi.”

“Demam? Sekarang dia di mana? Kenapa nggak ada yang kasih tau kami?”

“Masuk dulu, Umi. Rayzan ada di kamar.”

Nadira mencoba bersikap layaknya seorang menantu yang baik. Ia bahkan merangkul tangan mertuanya.

“Maafin aku, Umi. Aku nggak sempat kasih tau. Aku sibuk banget,” ucapnya sedikit berbohong.

“Mama sama Papa juga lagi di luar kota. Sultan juga ikut.”

“Jadi kamu tinggal berduaan sama Rayzan?”

“Iya, Umi.”

“Kamu lagi beres-beres rumah, ya?” tanya Indah ketika melihat Nadira masih menggenggam kemoceng.

“Iya, Umi.”

Kedua wanita itu memasuki kamar. Indah kemudian duduk di tepi ranjang milik Nadira. Tangannya terulur untuk mengusap kepala putranya yang masih tertidur.

“Dia udah minum obat?”

“Belum, Umi. Aku nggak sempat keluar karena orang rumah nggak ada.”

“Ya ampun, terima kasih, ya. Kamu sudah mengurus anak Umi dengan baik.”

Nadira tersenyum simpul. “Umi udah makan belum? Tadi aku udah masak.”

“Udah, sayang. Sebelum ke sini Umi udah sarapan. Rayzan gimana? Apa dia udah makan?”

“Tadi aku masakin bubur. Tapi nggak habis, Umi. Katanya pahit,” jawab Nadira, kembali berbohong.

Indah kemudian menarik tangan Nadira dan menuntunnya untuk duduk di sampingnya.

“Terima kasih, Umi ucapkan sama kamu karena sudah mengurus anak Umi.”

Nadira hanya membalasnya dengan senyuman. Baginya, ucapan terima kasih itu terasa biasa saja karena perhatian yang ia berikan kepada Rayzan belum sepenuhnya berasal dari hati.

“Hmm ... Umi, aku mau tanya sesuatu. Rayzan memang sering mimisan, ya?”

“Sering. Dia udah biasa seperti itu. Dari kecil memang begitu.”

“Sialan, Rayzan. Kebiasaan dari kecil malah dibilang penyakit!” batin Nadira kesal.

“Umi nggak tahu ucapan Daulat benar atau nggak. Tapi yang Umi tau, sekarang kamu adalah menantu kesayangan Umi. Umi sangat berharap pernikahan kalian bisa bertahan selamanya.”

“Semoga ucapanmu itu nggak terkabul,” batin Nadira.

“Uhuk...”

Obrolan kedua wanita itu terhenti ketika Rayzan terbangun dari tidurnya. Nadira kembali beraksi. Ia mengambil gelas di atas nakas yang berisi air putih, lalu memberikannya kepada Rayzan.

“Minum dulu, Mas.”

Rayzan mengernyitkan kening. Ia tahu Nadira terpaksa melakukan semua itu.

“Makasih, sayang,” ucap Rayzan setelah meneguk segelas air.

“Umi udah lama datang ke sini?”

Melihat kedatangan ibunya, Rayzan mencoba untuk duduk. Ia merasa senang karena ibunya datang di waktu yang tepat.

“Umi dengar kamu udah jarang ke kantor. Kalaupun datang, cuma sebentar. Makanya Umi ke sini karena khawatir sama kamu.”

“Rayzan baik-baik saja, Umi.”

“Pernikahan kalian nggak bermasalah, kan?”

Rayzan dan Nadira saling memandang.

“Baik-baik saja kok,” jawab Rayzan. “Doain pernikahan Rayzan, ya, Umi. Semoga langgeng dan kami bisa segera kasih Umi cucu.”

Indah membulatkan matanya. “Kalian sudah—”

Wanita itu menghentikan ucapannya dan memandang ke arah Nadira. Kabar tersebut benar-benar tidak disangka-sangka, mengingat Nadira dan Rayzan menikah karena terpaksa.

Nadira menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Ia merasa sangat malu ketika mertuanya malah memandanginya sambil tersenyum penuh arti.

“Alhamdulillah, kalau begitu ... Berarti Umi nggak perlu lagi mengkhawatirkan kalian. Sejujurnya, Umi takut kalau Nadira akan meminta cerai.”

“Tapi Umi nggak bermaksud apa-apa ... Kalau Rayzan udah berjanji akan mempertahankan rumah tangga kalian, Umi bisa percaya. Tapi kalau kamu...”

Indah menggenggam telapak tangan Nadira.

“Umi berharap kamu juga sama seperti Rayzan.”

“I-iya, Umi,” jawab Nadira ragu.

[] [] []

Daulat dan Resya sudah berada di kantor. Hari ini Resya ikut bersama suaminya. Seharusnya ia bertamu ke rumah Nadira, tetapi perbincangan mereka di meja makan tadi berakhir sia-sia. Daulat tetap bersikeras tidak mengizinkan Resya ikut bersama Indah ke rumah besan Rayzan.

“Gini, kan, bagus. Temenin suami kerja. Daripada kamu ketemu Nadira, Mas malah khawatir,” ujar Daulat.

“Mas itu berlebihan banget, sih. Aku nggak yakin Nadira bakal kasar, apalagi di depan Umi. Pasti dia juga mikir-mikir kalau mau melakukan sesuatu sama aku, Mas.”

Daulat memutar bola matanya malas. Kemudian ia membuka jas kerjanya dan meletakkannya di sandaran sofa.

“Kamu nggak kenal Nadira. Dia itu keras. Mungkin di depan orang lain dia bisa bersikap manis, tapi kalau di belakang, jangan tanya. Bisa jadi ular kobra,” ungkap Daulat.

“Aku juga berpikir panjang saat mau menikahi dia. Kalau nggak, mungkin aku dan dia sudah menikah.”

“Mas nggak boleh ngomong begitu. Apalagi kemarin Mas mempermalukan dia.”

“Aku cuma mau menyadarkan Rayzan kalau istrinya itu bukan perempuan baik-baik. Sekalian biar Nadira nggak sombong.”

“Mas ... A-aku boleh tanya sesuatu nggak?”

“Mau tanya apa, sayang?”

Resya sedikit ragu untuk menanyakan hal tersebut. Namun, ia juga penasaran dengan semua yang sebenarnya terjadi.

“Mas punya bukti kalau Nadira sudah nggak perawan lagi?”

“Punya.”

Daulat merogoh saku celananya. Lelaki itu kemudian membuka beberapa file di ponselnya dan memperlihatkan sebuah video.

Dalam video tersebut, terlihat seorang wanita yang berteriak meminta pertolongan setelah mengalami pelecehan di sebuah tempat. Wajah wanita itu terlihat sangat ketakutan, sementara seorang pria yang mengenakan masker berada di dekatnya.

Resya spontan menutup mulutnya. Ia tidak percaya melihat apa yang ada di hadapannya.

“Kamu lihat, kan? Mas nggak mungkin mengatakan sesuatu tanpa bukti. Jadi perlakuan Mas kemarin nggak salah,” ucap Daulat.

“Dari dulu Umi mengajarkan kami untuk nggak macam-macam dengan perempuan. Masa iya kami mendapatkan perempuan yang nggak benar? Makanya Mas nggak setuju Rayzan menikah sama dia.”

“Tapi Mas nggak boleh menghina Nadira. Seharusnya Mas bisa memberikan semangat untuk Nadira saat dia mendapatkan musibah seperti itu,” ujar Resya.

“Atau jangan-jangan Mas yang melakukan semua ini demi memutuskan hubungan dengan Nadira dan menikah denganku?”

“Kamu aneh, ya ... Nggak mungkin Mas melakukan kekerasan terhadap orang yang Mas sayang.”

“Terus kalau Mas sayang sama dia, kenapa Mas meninggalkan Nadira begitu saja? Kenapa malah memilih menikah sama aku?”

“Karena Nadira kasar. Dia juga keras kepala. Ditambah dengan kebohongannya yang satu ini,” jawab Daulat. “Seharusnya dia bisa jujur dengan kondisinya sebelum kami menikah. Tapi dia malah diam saja. Untungnya Mas lebih dulu tau tentang dia.”

Daulat menatap Resya.

“Dengar, Mas juga tau kalau di kantor, Nadira disukai sama atasannya. Mas malah ragu untuk menjalani rumah tangga sama dia. Bisa saja dia punya hubungan dengan atasannya itu.”

“Mas punya bukti ini dari mana?” tanya Resya, mulai penasaran.

“Meidra.”

“Ha? Meidra, kan, pacarnya Rayzan?”

“Iya. Meidra bilang dia dan Nadira pernah tinggal satu atap. Mereka pernah kuliah bareng.”

“Tapi kok bisa, ya, Meidra melakukan itu?”

“Ya bagus, dong. Berarti Mas beruntung nggak jadi menikah sama bekas orang.”

1
Rian Moontero
mampiirr👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!