Sebuah kisah tentang dua dunia yang berpijak pada bumi yang sama, antara kehidupan moderen dan primitif yang akhirnya akan bersatu karena Cinta dua manusia yang saling bertemu dalam gelombang ketidak sengajaan.
Kisah dengan semua yang bercampur aduk, antara logika, cita-cita, cinta dan perburuan yang seru dan menegangkan, degan bumbu tawa yang tak disengaja.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DIFAN2, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Larangan Pita Merah
Pak Danu melangkah mendekati sebuah pendopo kayu kecil di tepi balai desa. Dia memberi isyarat agar Hera dan timnya ikut duduk di sana. Udara sore semakin dingin, dan kabut tipis mulai turun dari puncak-puncak pohon Alas Purba, menciptakan suasana yang kian temaram.
"Duduklah dulu, Cah Ayu, Cah Bagus," ujar Pak Danu seraya membenahi letak kain ikat kepalanya.
Hera duduk di bangku kayu panjang, diikuti Kevin yang langsung meletakkan koper sensornya di lantai pendopo. Amara memilih duduk di dekat Hera, wajah cerianya agak meredup melihat ekspresi serius Pak Danu.
Baskara dan Yudha berdiri siaga di dekat tiang pendopo, mata mereka tetap waspada mengamati sekeliling.
Beberapa penduduk desa, pria-pria tua berwajah legam dengan pakaian serba hitam, mulai berkumpul di jarak aman. Mereka menatap tim dari kota itu dengan pandangan dingin dan cemas.
"Kami sangat menghargai sambutan Pak Danu," Hera membuka percakapan, mencoba mencairkan suasana yang kaku. "Seperti yang saya katakan tadi, fokus kami adalah meneliti flora di area ini. Kami membawa peralatan modern untuk mendeteksi zat aktif tanaman tanpa merusak ekosistem."
Pak Danu tersenyum tipis, namun matanya sama sekali tidak menyiratkan keramahan. "Peralatan modernmu itu tidak ada gunanya di dalam sana, Nduk. Alas Purba tidak peduli pada teknologi kota."
Kevin berdeham, membetulkan letak kacamatanya. "Maaf, Pak Danu. Alat yang kami bawa memiliki sensor gelombang elektromagnetik dan pemindai termal tingkat tinggi. Kami bisa memetakan vegetasi dengan akurat bahkan dalam kondisi minim cahaya. Jadi, kami tidak akan tersesat atau merusak apa pun."
Seorang penduduk desa bertubuh kekar yang berdiri di luar pendopo tiba-tiba menyahut dengan suara lantang.
"Kalian orang kota selalu merasa bisa mengendalikan segalanya dengan besi dan layar kaca! Hutan ini punya matanya sendiri. Jangan terlalu percaya diri!"
"Kang Suro, sudah," tegur Pak Danu dengan lambaian tangan tenang. Penduduk bernama Suro itu mendengus dan mundur selangkah, namun matanya tetap menatap tajam ke arah Kevin.
Pak Danu kembali menatap Hera. "Saya tidak akan melarang kalian meneliti di sini karena kalian sudah mengantongi surat dari pemerintah kota. Kalian boleh mendirikan tenda, mengambil daun, atau mencatat apa pun di pinggiran hutan ini. Tapi._"
Pak Danu menggantung kalimatnya, wajahnya mendadak berubah sangat serius. Angin hutan berembus kencang, membuat dedaunan raksasa di tepi desa saling bergesekan dengan suara mendesing yang aneh.
"Tapi apa, Pak?" tanya Hera, memajukan tubuhnya. Sifat keras kepalanya membuat rasa ingin tahunya semakin melonjak.
"Jangan pernah, sekali pun, melangkahi batas," ucap Pak Danu, setiap katanya ditekan dengan berat.
"Di dalam hutan sana, sekitar dua kilometer dari tempat ini, kalian akan menemukan dua pohon terbesar. Pohon itu tumbuh berdampingan seperti gerbang raksasa. Kami sudah mengikatkan pita kain merah tebal di kedua batang pohon itu."
Amara menelan ludah. "Pita merah? Buat apa, Pak?"
"Itu adalah batas dunia kita dengan dunia lain," jawab Pak Danu dingin. "Alas Purba yang ada di balik pita merah itu bukan lagi milik manusia. Hukum alam di sana berbeda. Waktu di sana berbeda. Siapa pun yang nekat melewati dua pohon berpita merah itu, tidak akan pernah bisa kembali lagi ke dunia ini."
Kevin tampak ingin mendebat, namun Hera mengangkat tangannya, memberi isyarat agar asistennya itu diam. Hera menatap Pak Danu dengan pandangan menantang yang disamarkan oleh kesopanan.
"Pak Danu, secara ilmiah, sebuah hutan mungkin memiliki vegetasi yang lebih rapat atau zona berbahaya karena gas beracun di bagian dalam. Apakah pita merah itu dipasang karena ada ancaman predator atau gas alam?"
Pak Danu menggelengkan kepala perlahan, menatap Hera dengan rasa iba. "Kalian anak muda berpendidikan selalu mencari alasan yang masuk akal bagi otak kalian. Tidak, Nduk. Ini bukan soal gas atau harimau. Ini soal penunggu hutan. Roh-roh kuno dan klan yang hidup di atas awan. Mereka menjaga wilayah mereka. Melewati pita merah berarti kalian menantang maut."
"Klan di atas awan?" Amara berbisik ngeri, merapatkan tubuhnya ke lengan Hera. "Prof, kok kedengarannya serem banget ya?"
"Itu hanya mitos lokal untuk menakut-nakuti perambah hutan liar, Amara," bisik Kevin pelan, cukup keras untuk didengar oleh Yudha yang langsung menyenggol lengannya agar diam.
Baskara maju selangkah.
"Pak Danu, saya bertanggung jawab penuh atas keselamatan tim ini. Jika kami hanya bergerak di radius satu kilometer dari pinggiran hutan dan menjauhi pohon berpita merah itu, apakah area tersebut aman dari gangguan penduduk lokal atau hewan liar?"
"Selama kalian berada di sisi sini pita merah, kalian aman," jawab Pak Danu. "Penduduk desa tidak akan mengganggu. Hewan liar di pinggiran juga jarang menyerang manusia kecuali diprovokasi.
Tapi ingat pesan saya. Begitu kalian melihat dua pohon raksasa dengan pita merah, berbaliklah. Jangan biarkan rasa penasaran membunuh kalian."
Hera mengangguk, meskipun di dalam hatinya, garis pembatas itu justru terdengar seperti petunjuk arah yang paling berharga. Berdasarkan data satelit rahasia yang ia miliki, anomali vegetasi terbesar yang memancarkan energi biologis unik—tempat di mana Dream Flower diperkirakan tumbuh—berada tepat di sekitar koordinat yang disebutkan Pak Danu.
"Kami mengerti, Pak Danu. Kami akan mematuhi aturan setempat," ujar Hera berbohong demi kelancaran misinya. Dia berdiri dari bangkunya.
"Kami akan segera bergerak ke tepi hutan untuk mendirikan kamp sebelum hari benar-benar gelap."
Pak Danu berdiri, menatap Hera lama. "Tatap matamu memberi tahu saya kalau kamu tidak benar-benar mendengarkan, Cah Ayu. Ingat, penyesalan selalu datang ketika jalan pulang sudah tertutup. Semoga leluhur melindungi kalian."
Hera hanya tersenyum tipis sebagai jawaban. Dia berbalik menatap timnya. "Kevin, Amara, siapkan semua peralatan lapangan. Baskara, Yudha, tolong bantu angkut logistik utama. Kita dirikan tenda di titik koordinat awal pinggiran hutan."
"Siap, Prof!" jawab Amara, mencoba mengembalikan keceriaannya meskipun wajahnya masih agak pucat.
Tim segera bergerak kembali ke jip untuk mengambil perlengkapan lapangan mereka. Sementara itu, Pak Danu dan para penduduk desa berdiri diam di bawah temaramnya sore, menyaksikan rombongan itu berjalan kaki memikul tas-tas besar menuju kegelapan tajuk pohon Alas Purba.
Saat kaki Hera pertama kali menginjak batas semak hutan yang lebat, sensasi dingin yang aneh tiba-tiba menjalar di tengkuknya. Hutan itu terasa seperti makhluk hidup raksasa yang sedang mengawasinya, menanti langkah kaki keras kepalanya untuk masuk lebih dalam ke dalam jebakan. Namun, bayangan wajah ibunya yang sedang sekarat di tempat tidur rumah sakit langsung menghapus semua keraguan di hatinya.
"Ayo maju," perintah Hera tegas, memimpin timnya menembus kegelapan Alas Purba.