Setelah kehilangan ayah dan melihat ibunya terbaring koma, Karissa justru dikhianati oleh Louis, kekasihnya sendiri, yang berselingkuh dengan sahabatnya.
Dalam amarah dan rasa kecewa, Karissa mengambil keputusan nekat—menikahi ayah Louis.
Kini Karissa bukan lagi kekasih Louis, melainkan ibu tirinya.
Namun tinggal serumah dengan pria yang pernah dicintainya ternyata jauh lebih sulit dari yang ia bayangkan. Louis membencinya, tetapi di saat yang sama, ia juga tidak rela kehilangan Karissa.
Karissa ingin membalas dendam. Tapi tanpa sadar, ia justru terjebak dalam permainan cinta yang ia mulai sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tusya Ryma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20 Cepat Tolong Aku
Sampai di gedung rumah sakit, Karissa segera masuk ke dalam lift lalu naik ke lantai empat menuju ruang kerja Dokter Kevin.
Sesampainya di sana, ia segera mengetuk pintu.
"Masuk!"
Karissa mendorong pintunya dengan pelan. Terlihat pria tampan berbaju putih duduk di meja kerjanya sambil tersenyum.
"Masuklah!"
"Terima kasih!" Karissa segera masuk ke dalam ruangan.
"Duduklah!"
"Ya, terima kasih!" Karissa duduk di kursi depan Dokter Kevin.
"Ada apa? Apa kau sakit?" tanyanya dengan lembut dan sedikit berbeda. Tidak seperti dokter lain yang sedang bertanya pada pasiennya.
"Dahimu kenapa?" tunjuk Dokter Kevin dengan kening mengerut. "Apa kau terjatuh?"
"Tidak!" Karissa menggelengkan kepala.
"Inilah alasanku datang kemari!" Karissa mulai menjelaskan, "Tadi, aku berkelahi dengan teman. Dia menjambak rambutku dan membenturkan kepalaku ke dinding beberapa kali. Sekarang, bukan hanya dahi yang terluka, tapi kepalaku terasa sakit! Rasanya mau pecah!"
Itulah alasan dirinya memutuskan untuk pergi menemui Dokter Kevin.
Kalau hanya luka lecet tanpa disertai rasa sakit di kepala, dirinya tidak akan datang ke rumah sakit untuk diperiksa. Karissa datang ke rumah sakit sekarang karena rasa sakit di kepalanya sudah sangat mengganggu.
"Oh ... hahaha!" Dokter Kevin malah tertawa mendengar cerita Karissa. "Kau berkelahi dengan seorang wanita? Saling jambak?"
Dengan polos, Karissa mengangguk.
"Iya!"
"Kenapa harus berkelahi segala? Apa karena memperebutkan pria, ya?"
Itulah yang selalu ia lihat di film-film. Dua wanita bertengkar dan saling jambak karena memperebutkan satu pria.
"Kariss! Pria di dunia ini sangat banyak! Kenapa sampai harus berkelahi segala?" Kevin masih saja salah sangka. Membuat Karissa tidak nyaman.
"Tidak! Bukan seperti itu!" Ia segera membenarkan. "Kami berkelahi karena aku mencekiknya duluan. Dia mengataiku banyak hal, menghinaku ini dan itu! Jadi aku menyerangnya!"
"Oh, aku kira karena seorang pria!"
"Bukan!"
Dokter Kevin merasa lega.
"Baiklah! Coba kuperiksa dulu!"
Ia bangkit dari duduknya, berjalan menuju tempat tidur untuk pasien.
"Berbaring di sini!"
Karissa dengan patuh naik ke atas tempat tidur, berbaring di sana. Kepalanya masih terasa sakit, apalagi ketika berbaring seperti itu.
"Apa sungguh sangat sakit?" Dokter Kevin melihat ringisan Karissa lagi. Wanita itu mulai memejamkan mata.
"Hemmm!" Karissa mengangguk.
"Baiklah! Tunggu sebentar, aku ambil obat dulu!"
Dokter Kevin mulai mengobati luka Karissa, dari dahi, tangan, siku, bahkan kaki.
Ketika akan mengobati luka gores di wajah karena cakaran Marine, Dokter Kevin diam sejenak. Tangannya sudah terangkat, namun ia turunkan. Jarak mereka sangat dekat, hembusan napas keduanya bisa mereka rasakan.
"Kenapa?" tiba-tiba Karissa bertanya, melihat Dokter Kevin terdiam masih mengangkat tangannya.
"Eh, tidak!" Dokter Kevin segera tersadar. Ia gugup melihat wajah cantik Karissa dari dekat. "Aku akan mengobati luka di wajahmu!"
Dokter Kevin mulai mengobati lukanya. Tangannya sedikit bergetar karena gugup.
Ini pertama kalinya Dokter Kevin bertingkah aneh selama bekerja menjadi dokter. Dirinya gugup karena mengobati pasien wanita. Padahal, sudah lima tahun bekerja menjadi dokter, sudah ratusan bahkan ribuan wanita yang ia obati. Belum pernah ia merasakan gugup seperti ini.
"Sudah!" Dokter Kevin membereskan semua alat-alat yang dipakai untuk mengobati lukanya. Ia beranjak pergi, lalu menyiapkan obat untuk Karissa.
"Untuk melihat luka benturan di kepala, kita akan melakukan rontgen," ucap Dokter Kevin yang kini sudah duduk di mejanya.
Karissa bangkit dari tidurnya, berjalan menghampiri Dokter Kevin.
"Apa sekarang bisa?"
"Bisa! Kita akan melakukan rontgen sekarang!" Dokter Kevin bangkit berdiri. "Sekarang, ikut denganku!"
Ia membawa Karissa pergi ke ruangan khusus untuk rontgen.
Setelah selesai, mereka kembali ke ruangan Dokter Kevin.
"Hasilnya baru akan keluarnya besok! Sekarang, ini obat untukmu. Makanlah dengan teratur!" Dokter Kevin memberikan empat macam obat pada Karissa. "Semuanya diminum tiga kali sehari, setelah makan, ya!"
"Baik!" Karissa mengambil obat itu. "Besok, jam berapa aku kemari lagi?"
"Terserah kau saja! Mau malam seperti ini juga tidak masalah!" jawabnya sedikit bercanda.
"Hehe ... baiklah! Besok malam aku kemari lagi, ya! Kalau siang, takutnya kau sibuk," ucap Karissa.
"Oh, iya! Aku harus membayar biaya pemeriksaannya ke mana?" Karissa baru ingat. Dirinya datang tanpa mendaftar terlebih dahulu. Langsung masuk dan meminta diperiksa.
Memangnya rumah sakit ini milik nenek moyangnya?
"Tidak perlu!" tolak Dokter Kevin. "Sekarang pulanglah! Makan dulu, baru minum obatmu! Jangan lupa istirahat yang cukup!"
"Eh, masa tidak dibayar? Aku tidak enak!" ucapnya malu.
Hanya karena rasa sakit di kepala, Karissa jadi melupakan hal penting ini.
"Sungguh, pulanglah! Kau tidak perlu membayar apapun." Dokter Kevin masih menolaknya. "Apa kau mau aku antar?"
"Ah, tidak ... tidak! Aku bisa pulang sendiri!" Karissa bangkit berdiri.
"Kalau begitu aku pulang dulu! Besok kemari lagi sambil membayar semua biaya pengobatan!"
"Hehe ... oke! Terserah kau saja!" ucap Dokter Kevin.
Yang terpenting, besok Karissa kemari lagi. Itu sudah membuatnya sangat puas.
Karissa pun segera pergi meninggalkan rumah sakit. Ia kembali menggunakan taksi untuk pulang ke rumah.
Di perjalanan pulang, Karissa mendapati ponselnya berdering. Sebuah panggilan telepon dari Karina terlihat di layar ponselnya.
"Ada apa?" Karissa segera menekan tombol hijau.
Terdengar suara kepanikan dari seberang telepon.
"Ka-Kariss, cepat tolong aku!"
"Karin ... ada apa?" tanya Karissa tidak mengerti, juga sangat terkejut. "Sekarang kau di mana?"
"Aku di Mahandi! Cepat, datanglah!" lirih Karina penuh ketakutan.
"Apa yang terjadi, Karin? Apa kau dalam bahaya?" tanya Karissa memastikan.
"Cepatlah, aku tidak punya waktu lagi! Cari aku di ruangan nomor 201 ...."
Tut! Tut! Tut!
Tiba-tiba telepon terputus.
"Eh, halo ... halo, Karin?"
Suara Karina sudah tidak ada lagi.
"Aish, sial!"
Karissa segera menyimpan ponselnya ke dalam saku sweater. Ia meminta sopir taksi untuk memutar arah.
"Antar aku ke klub Mahandi! Cepat!"
"Baik, Nona!"
Untuk berjaga-jaga, Karissa segera mengirim pesan kepada Davi. Memberitahu sahabatnya bahwa malam ini ia akan pergi ke Mahandi untuk mencari Karina.
***
Tiba di Mahandi Club, Karissa segera masuk ke dalam. Suara berisik dengan lampu warna-warni yang terus berputar membuat kepalanya kembali sakit.
"Argghh!"
Karissa mencengkeram kepalanya sendiri. Menahan rasa sakit dengan sekuat tenaga.
Dirinya harus kuat. Ia harus bisa menemukan Karina dan membawanya keluar dari klub ini.
Karissa bertanya terlebih dahulu, di mana ruangan nomor 201. Setelah tahu bahwa ruangan itu ada di lantai dua, Karissa segera naik ke atas.
Berjalan di lorong yang sangat panjang untuk mencari pintu ruangan nomor 201, Karissa seolah sedang berjalan di dalam gua. Terasa gelap dan juga dingin.
Entah hanya perasaannya saja, atau memang suasana di tempat ini memang seperti ini. Ia tidak tahu.
Ketika sampai di depan pintu nomor 201, dengan ragu Karissa segera mengetuk pintu tiga kali.
Tidak lama, pintu ruangan terbuka.
"Mau mencari siapa?" tanya seorang pria yang membuka pintu.
"A-apakah di dalam a-ada yang bernama Karina?" tanyanya dengan gugup.
Pria itu terdiam sejenak, menatap Karissa dari ujung kaki hingga ujung kepala. Tiba-tiba keningnya mengerut.
"Apa kau wanita yang akan menemani Karina bermain?" tanyanya dengan ragu.
Pasalnya, tadi, Karina mengatakan akan mengajak satu wanita lagi untuk bermain. Tapi, melihat penampilan wanita di depannya yang hanya mengenakan celana pendek dan sweater besar di tubuhnya, sangat tidak cocok dengan keadaan di dalam ruangan 201.
"A-aku bukan mau ikut bermain. Ta-tapi ... mau mengajak Karina pulang!" jawab Karissa masih dengan gugup.
"Hah ...."
Dari dalam ruangan, terdengar suara yang tidak asing.
"Kariss, kau sudah datang? Ayo masuk!"
Tangan seseorang segera menarik Karissa masuk ke dalam ruangan itu.