Ardila gadis yang selama ini mendapatkan pilih kasih dari keluarganya, harus kembali berhadapan dengan sang kakak ketika dirinya telah berumah tangga.
Sang kakak mengambil dan berselingkuh dengan suami yang begitu dia cintai
Mampukah dia melewati badai dari semua permasalahan yang tengah menghimpitnua
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ummu Umar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tidak Memilih Siapapun
Satu bulan setelah sidang puncak Jaya kembali menata hidupnya apalagi setelah ibu dan ayahnya akhirnya sadar dan menyayangi dirinya sangat berbeda saat dirinya masih belum bisa melawan
Bimo resmi divonis 4 tahun penjara karena pemalsuan dokumen dan percobaan perdagangan anak. Lastri divonis 1 tahun percobaan karena dianggap sebagai ibu, tapi wajib ikut konseling KPAI. Diandra? Wajib lapor dan wajib berobat sifilisnya sampai sembuh di RS, plus akun TikTok-nya di-take down polisi karena pencemaran nama baik.
Ketiga saudara Bimo pun kini sudah menata hidupnya dengan bekerja dibantu oleh Raka dan Arka agar mereka tetap bersekolah dan berkuliah sedangkan Bagas sudah bekerja di kantor Arka
Rumah hijau kembali tenang.
Naya duduk di teras dengan secangkir teh, menatap taman kecil yang dulu gersang, sekarang ia tanami bunga matahari.
Di depannya, Raka dan Arka duduk bersebelahan. Keduanya rapi, wangi, bawa bunga. Saingan sampai detik terakhir.
Raka bawa martabak kesukaan Naya.
Arka bawa buket bunga dan... sertifikat apartemen baru yang lebih besar di Senopati.
"Nay, gue tahu lo butuh waktu. Tapi gue mau lo tahu, gue bakal tunggu. Mau setahun, dua tahun, gue tunggu," kata Raka duluan.
Arka tidak mau kalah. "Naya, gue juga. Apartemen yang kemarin gue kasih, itu tetap punya kamu. Gue gak akan ambil lagi. Dan kalau kamu mau S2 di luar negeri, semua gue biayain. Gue cuma mau kamu bahagia."
Naya menatap dua laki-laki itu dan tersenyum. Senyum damai, bukan senyum bingung seperti dulu.
Ia menghela napas.
"Raka... Arka... makasih ya... makasih banget... kalian berdua udah jadi pahlawan buat aku di saat aku hancur..."
Naya meletakkan tehnya kemudian menatap keduanya dengan tatapan intens membuat keduanya menjadi salah tingkah.
Naya menarik nafasnya dalam-dalam, dia berharap dnegan keputusannya ini keduanya tetap menjadi sahabatnya sampai nanti
"Tapi... aku gak akan pilih siapa-siapa. Bukan karena kalian kurang. Kalian terlalu baik malah, disini akulah yang kurang apalagi aku juga baru resmi menjanda, aku ingin menata kehidupanku"
Raka dan Arka saling tatap, kaget.
"Selama 3 tahun nikah sama Bimo, aku lupa siapa Naya. Aku jadi istri yang nurut, yang takut dibilang mandul, yang tabungannya dipakai suami. Selama ini aku hidup untuk orang lain."
"Habis cerai, aku langsung disayang kalian berdua. Aku seneng, tapi aku sadar... kalau aku pilih salah satu dari kalian sekarang, aku cuma pindah dari hidup untuk Bimo, jadi hidup untuk Raka atau Arka. Aku belum pernah hidup untuk Naya sendiri."
Adam dan Rahayu yang mengintip dari jendela mengangguk pelan. Mereka bangga mendengar jawaban anak tengahnya itu, ini pertama kali mereka bisa merasakan ketulusan dan juga kebaikan Naya karena selama ini mereka dibutakan oleh kasih sayang sepihak pada Diandra.
Naya melanjutkan dengan mata berkaca-kaca ksrena teringat bagaimana menderita nya dia saat masih berumah tangga bersama Bimo
"Jadi... aku mau fokus nata hidup aku dulu. Aku mau S2 Psikologi yang tertunda 3 tahun karena Bimo larang. Aku mau buka biro psikolog kecil-kecilan buat bantu perempuan korban KDRT kayak aku. Aku mau ajak Sari dan Tari sekolah lagi sampai sarjana."
"Aku mau jadi Naya yang utuh dulu, baru jadi pacar atau istri orang lagi."
Raka tertunduk, tapi kemudian tersenyum. Senyum tulus.
"Aku paham, Nay. Aku dukung. Kamu memang harus jadi Naya dulu."
Arka juga mengangguk, walau ada kecewa di matanya tapi dia sangat menghargai apa yang diinginkan Naya saat ini.
"Aku hormati keputusan kamu, Naya. aku akan tetap di sini. Kalau biro psikolog lo butuh modal, bilang aja. Gue investor pertama."
Naya tertawa kecil.
"Nah, itu baru Arka yang aku kenal. Dan Raka, martabaknya aku terima, tapi bunga-nya maaf ya aku taruh di vas aja, bukan sebagai lamaran."
Mereka bertiga tertawa. Untuk pertama kalinya, tanpa canggung, tanpa saingan yang panas, tapi sebagai tiga sahabat.
*6 BULAN KEMUDIAN*
Taman di depan rumah hijau sudah jadi kebun bunga matahari yang cantik.
Papan kecil tergantung di pagar:
*"RUANG PULIH NAYA - Biro Konseling Gratis untuk Perempuan"*
Di dalam, Naya dengan blazer rapi sedang konseling seorang ibu muda korban KDRT. Sari dan Tari, yang sekarang sudah pindah ke rumah hijau dan sekolah lagi (Sari kelas 3 SMA, Tari kuliah semester 1 dengan beasiswa dari Arka), membantu jadi admin.
Di luar, Raka sedang ngecat pagar yang mengelupas.
"Kebunnya udah cantik, Nay, tapi pagarnya jelek, gue cat ya!"
Di teras sebelah, Arka datang dengan laptop dan kopi.
"Naya, gue bawain klien lagi, temen kantor gue butuh konseling. Oh iya, gue bawain AC baru buat ruang konseling, yang lama berisik."
Mereka masih bersaing. Setiap hari.
Raka saingan jadi tukang kebun, tukang cat, tukang ojek antar jemput Sari sekolah.
Arka saingan jadi donatur, investor, dan penyedia AC, laptop, dan koneksi.
Tapi Naya tidak risih. Ia menikmati persaingan sehat itu sambil fokus dengan mimpinya.
Sore itu, setelah klien terakhir pulang, Naya duduk di ayunan di taman bunga mataharinya.
Raka dan Arka duduk di dua sisi ayunan, tidak terlalu dekat, memberi ruang.
"Nay, kamu bahagia?" tanya Raka.
Naya menatap langit senja Jakarta yang orange.
"Bahagia banget, Ka. Untuk pertama kalinya dalam 25 tahun hidup aku, aku bahagia karena aku sendiri, bukan karena laki-laki."
Arka tersenyum. "Kalau gitu, persaingan kita lanjut besok ya? aku mau coba bikin lo bahagia lagi besok dengan cara aku."
Raka menyahut. "Aku juga! Besok aku bawain soto Betawi!"
Naya tertawa lepas. Tawa paling lepas setelah setahun penuh air mata.
Ia tidak memilih siapa-siapa. Dan justru karena itu, ia memenangkan segalanya.
Ia menang atas Bimo, menang atas Diandra, menang atas Lastri, dan yang paling penting, ia menang atas dirinya sendiri yang dulu.
Di kejauhan, Diandra melihat dari ujung gang. Ia baru pulang berobat, wajahnya lebih bersih, tidak pakai make-up tebal lagi. Ia melihat Naya tertawa dengan Raka dan Arka, dan melihat papan "Ruang Pulih Naya".
Ia tidak berani mendekat. Ia hanya menitipkan sepucuk surat lewat Bagas.
Isinya:
_Dek, Kakak berobat terus. Kakak mau sembuh. Nanti kalau Kakak sudah sembuh total, boleh Kakak main ke Ruang Pulih Naya? Kakak mau jadi relawan, bantu perempuan lain biar gak kayak Kakak. Maafin Kakak ya._
Naya membaca surat itu dan menangis. Tapi kali ini tangis haru.
Mungkin suatu hari, ia akan maafkan Diandra sepenuhnya. Tapi tidak sekarang. Sekarang waktunya Naya pulih.
semoga dpt jodoh yg bner bner baik ya, gk kayak Raka Dan Arka.
mending yg kaya sekalian kn 😁
Bimo juga bukan orang kaya selingkuh juga kan😄🤣.
jgn nyerah ya nay...
salam kenal