📍Update 🚥 16 : 16 WIB
Duabelas tahun lalu, Elfiana Putri (Elle) dikhianati oleh taruhan konyol cinta pertamanya, William Adinata (Liam). Kini, takdir membawa mereka kembali dalam sebuah pernikahan pura-pura demi sang Papa.
Di antara luka masa lalu yang belum sembuh dan kebenaran yang perlahan terkuak, bisakah Elle menjaga hatinya agar tidak hancur untuk kedua kalinya?
❣️ I write what I want to write. ❣️
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lunes_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
20 - I Still
Hari itu adalah hari syuting Ginsera. Sebagai Account Executive, aku akan mengawal proses syuting dari awal hingga selesai.
Namun, pagi tadi saat bangun tidur, tamu bulananku datang.
Biasanya, di hari pertama menstruasi, tubuhku terasa lebih lemas dari biasanya. Pergelangan kakiku juga sering terasa pegal dan rasanya ingin terus berbaring.
Kalau hari itu bukan jadwal syuting Ginsera, mungkin aku sudah memilih untuk izin.
Sejak sarapan, perutku mulai terasa tidak nyaman. Pergelangan kakiku juga perlahan mulai pegal. Namun, aku mencoba menguatkan diri.
Aku pasti bisa melewati hari ini dengan baik.
Proses syuting akan dilaksanakan di dua tempat, yaitu Studio Imajinasi Creative dan sebuah pusat olahraga.
Liam sudah mengabariku bahwa dia akan datang saat kami berada di pusat olahraga. Sebenarnya, dia ingin melihat seluruh proses syuting dari awal hingga selesai, tetapi kesibukannya di kantor membuatnya tidak bisa datang sejak pagi.
Saat ini, aku bersama yang lainnya sedang berada di Studio Imajinasi Creative untuk mengambil gambar seorang pekerja yang kelelahan setelah bekerja.
Aku berdiri tak jauh dari sutradara sambil memperhatikan setiap gerakan talent. Aktingnya benar-benar terlihat seperti orang yang kelelahan. Sepertinya, jam terbangnya sudah cukup banyak.
“Cut,” ucap sutradara.
Talent langsung menghentikan gerakannya.
“Bagus. Sekarang kita ambil dari sisi yang berbeda.”
Semua talent dan kameramen kembali memposisikan diri. Kru lainnya juga bersiap di tempat masing-masing.
Beberapa kali pengambilan gambar dilakukan hingga akhirnya sutradara merasa puas.
Setelah semua adegan di studio selesai, kami melanjutkan proses syuting ke lokasi berikutnya, yaitu pusat olahraga.
Pusat olahraga itu cukup luas. Beberapa area digunakan untuk pengambilan gambar, mulai dari lapangan tenis, lapangan padel, hingga lapangan basket.
Kami mengambil adegan di lapangan tenis terlebih dahulu.
Aku berdiri di sekitar sutradara sambil memperhatikan talent yang sedang menjalani pengambilan gambar.
Cuaca hari itu cerah. Matahari mulai terasa hangat di kulit. Entah kenapa, kondisi itu membuat tubuhku terasa semakin tidak nyaman. Perutku semakin sering terasa kram, sementara kedua kakiku mulai terasa lebih pegal.
Namun, aku tetap mencoba bertahan.
Aku masih bisa.
Tak lama kemudian, Liam dan Davin tiba di lokasi.
Kami semua menyapa mereka sebelum keduanya bergabung di sekitar sutradara untuk melihat monitor.
Aku kembali memusatkan perhatian pada proses syuting.
Setelah pengambilan gambar di lapangan tenis selesai, kami berpindah ke lapangan padel.
Entah kenapa, setelah berdiri cukup lama sejak pagi, tubuhku terasa semakin berat.
Perutku semakin tidak nyaman.
Kepalaku juga mulai terasa ringan.
Aku menarik napas pelan dan berusaha mengabaikannya.
Aku pasti kuat sampai syuting hari ini selesai.
Aku tetap berdiri dan memperhatikan jalannya pengambilan gambar.
Namun, semakin lama, rasa pusing itu justru semakin kuat.
Setiap kali raket memukul bola, suara benturannya terdengar semakin jelas di telingaku.
Plop!
Plop!
Plop!
Aku memejamkan mata sesaat, berharap rasa pusing itu berkurang.
Namun, tidak.
Pandangan di depanku mulai menyempit. Suara-suara di sekitarku terdengar semakin jauh dan samar.
Tubuhku terasa kehilangan tenaga.
Aku mencoba bertahan dengan tetap berdiri, tetapi kakiku seolah tidak lagi mampu menopang tubuhku.
Dan akhirnya—
Bruk!
Tubuhku jatuh ke lantai.
“Elle!”
Aku mendengar suara Liam memanggil namaku.
Langkah kaki terdengar berlari mendekat. Suara orang-orang mulai terdengar panik di sekelilingku.
Namun, aku sudah tidak mampu membuka mata.
Semuanya perlahan menjadi gelap.
Terdengar riuh suara orang berbicara dan langkah kaki di sekitarku.
Perlahan, aku membuka mata.
Pandangan masih sedikit kabur. Namun, setelah beberapa kali berkedip, aku bisa melihat wajah-wajah yang kukenal. Ada Liam, Mona, dan Aldi yang berdiri di dekat tempat tidurku.
“Elle...” ucap mereka hampir bersamaan.
“Mona...” panggilku pelan.
“Iya, ini aku.” Mona langsung mendekat.
Aku mengerjapkan mata beberapa kali sebelum kembali bertanya.
“Ini di mana?”
“Ini di rumah sakit. Tadi kamu pingsan di pusat olahraga,” jelas Mona.
Aku terdiam sejenak. Ingatanku tentang kejadian tadi perlahan kembali.
“Ah...” Aku menarik napas pelan. “Syutingnya gimana?”
“Aman. Mas Doni dan yang lainnya masih di sana,” jawab Mona.
Aku mengangguk lega.
“Kenapa kamu bisa ada di sini?”
“Tadi Sinta kasih tahu di grup kantor kalau kamu pingsan. Aku dan Aldi langsung ke sini.”
Aku kembali mengangguk.
Setelah itu, pandanganku beralih kepada Liam.
“Kenapa Bapak ada di sini?”
“Saya yang membawa kamu ke sini,” jawab Liam.
Aku sedikit terkejut.
“Ah... terima kasih, Pak.”
Liam hanya mengangguk, kemudian menatapku dengan wajah serius.
“Kata dokter tekanan darah kamu rendah. Apa kamu belum sarapan?”
“Sudah, Pak. Pakai roti.”
Liam menghela napas panjang.
“Roti lagi, roti lagi...” gumamnya. “Hanya makan roti tidak akan cukup untuk memberikan tenaga sepanjang hari.”
“Tapi itu yang paling simpel, Pak.”
“Iya, memang simpel. Tapi tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan tenaga kamu selama satu hari. Mulai besok, kamu harus sarapan yang lebih mengenyangkan.”
Aku menatapnya.
“Memangnya harus nasi?”
“Kalau bisa, iya.”
Sebelum aku sempat menjawab, Aldi tiba-tiba bersuara.
“Pak William.”
Liam langsung menoleh kepadanya.
“Kenapa Bapak terkesan seperti sedang menghakimi Elle?” tanya Aldi. “Seharusnya Bapak bertanya apa yang Elle rasakan, bukan langsung menyalahkan sarapannya.”
“Siapa yang menghakimi Elle?” Liam mengerutkan kening. “Mbak Elle maksud saya. Saya hanya mengatakan fakta.”
“Tapi cara Bapak menyampaikannya terdengar seperti sedang menghakimi Elle.” Aldi masih mempertahankan tatapannya. “Dan menurut saya, Bapak tidak seharusnya seperti itu. Bapak kan bukan siapa-siapa bagi Elle.”
Liam terdiam sesaat.
Kemudian dengan tenang dia menjawab,
“Saya ini... klien.”
Aldi mengangkat alis.
“Hanya klien, kan?” Aldi menegaskan. “Bukan keluarga atau pacarnya.”
Aku yang masih terbaring hanya bisa memandangi mereka bergantian.
Liam mulai terlihat tidak suka.
“Kenapa saya merasa kamu tidak suka dengan saya, ya?” tanyanya. “Dan kamu juga bukan siapa-siapanya. Kenapa kamu sampai protes?”
“Saya ini temannya.” Aldi menjawab tanpa ragu. “Saya setiap hari bersama Elle.”
Liam menatapnya beberapa detik.
“Kalau saya—”
“Cukup.”
Aku mengangkat tangan pelan.
“Cukup.”
Keduanya langsung diam.
Aku menghela napas.
Baru saja membuka mata setelah pingsan, aku sudah harus menghadapi dua orang laki-laki yang berdebat di depanku.
Benar-benar melelahkan.
“Kenapa kalian malah berdebat, sih?” tanyaku. “Kalau kalian mau berdebat, pergi saja dari sini.”
“Iya, betul. Ini Elle baru saja pingsan, lho,” timpal Mona.
Aku menatap Aldi.
“Di... lebih baik sekarang kamu balik ke kantor.”
“Aku masih mau di sini. Temenin kamu,” jawab Aldi.
“Aku nggak apa-apa. Ada Mona juga.”
“Iya, Di. Mending kamu balik ke kantor aja,” kata Mona.
Aldi terlihat masih ragu. Namun, akhirnya dia mengangguk.
“Ya udah. Kalau ada apa-apa, kabari aku, ya?”
Mona mengangguk.
Aldi pun pergi meninggalkan ruangan.
Aku kemudian menatap Liam.
“Kamu juga pergi sana.”
Liam mengernyit.
“Aku yang bawa kamu ke sini, lho. Aku juga yang harus nganter kamu pulang.”
Aku menghela napas.
“Ya udah. Sana panggil dokter. Aku mau pulang.”
Liam mengangguk, lalu berbalik meninggalkan kami berdua.
Mona yang sejak tadi memperhatikan kami tiba-tiba tersenyum kecil.
“Lihat, Elle. Pak William kelihatan perhatian banget sama kamu. Kayaknya dia memang masih suka sama kamu.”
Aku langsung menatap Mona.
“Mon... tolong jangan bahas itu sekarang.”
“Oh... oke. Oke.”
Tak lama kemudian, Liam kembali bersama dokter.
Dokter menghampiriku dan melakukan pemeriksaan singkat.
“Mbak Elfiana, tadi pagi apakah Mbak tidak sarapan?”
“Sarapan, Dok. Tapi hanya roti.”
Dokter mengangguk.
“Apakah Mbak sedang menstruasi?”
“Iya, Dok. Hari pertama.”
“Apakah biasanya menstruasi membuat Mbak sampai seperti ini? Pingsan?”
“Tidak, Dok. Biasanya paling hanya kram perut dan pegal-pegal. Tapi tadi saya berdiri cukup lama di area lapangan yang lumayan panas.”
“Baik.” Dokter kembali memeriksa kondisiku sebelum melanjutkan. “Kemungkinan tubuh Mbak sedang kurang fit, ditambah berdiri cukup lama di tempat yang panas. Kondisi seperti itu bisa membuat tekanan darah turun dan menyebabkan pingsan.”
Aku mengangguk pelan.
“Tidak ada sesuatu yang perlu dikhawatirkan, Dok?” tanya Liam.
Dokter menoleh kepadanya.
“Sejauh pemeriksaan ini tidak ada tanda yang mengkhawatirkan. Untuk sementara, Mbak Elfiana harus banyak beristirahat, cukup minum, dan jangan melewatkan makan. Sarapan juga sebaiknya jangan hanya roti.”
Aku mengangguk.
“Baik, Dok.”
Setelah memastikan kondisiku cukup stabil, dokter mengizinkanku pulang.
Liam kemudian mengurus administrasi rumah sakit. Setelah semuanya selesai, kami bertiga keluar dari rumah sakit.
Kami masuk ke mobil Liam.
Liam duduk di kursi depan, di samping sopir. Sementara aku dan Mona duduk di kursi belakang.
Aku menyandarkan tubuh ke kursi dan mengembuskan napas pelan.
Hari yang seharusnya hanya menjadi hari syuting Ginsera berubah menjadi hari yang cukup melelahkan.
Dan entah kenapa, aku merasa perhatian Liam hari ini justru lebih melelahkan daripada rasa kramku
Sepanjang perjalanan pulang, kami semua hanya diam.
Aku hanya bersandar di bahu Mona. Aku tidak ingin memikirkan apa yang baru saja terjadi. Terlebih lagi, aku tidak ingin memikirkan apa yang Liam lakukan untukku.
Dia melakukan semua itu pasti hanya karena kami adalah rekan bisnis.
Tidak lebih.
Beberapa saat kemudian, kami tiba di Imajinasi Creative.
Mona turun dari mobil, lalu mobil kembali melaju menuju apartemenku. Namun, di tengah perjalanan, Liam tiba-tiba meminta sopir menghentikan mobil.
“Pak, tolong berhenti di rumah makan itu sebentar.”
“Baik, Mas.”
Mobil berhenti di depan sebuah rumah makan.
Liam turun dan masuk ke dalam rumah makan tersebut.
Aku yang kini hanya berada di dalam mobil bersama sopir merasa sedikit canggung. Aku tidak tahu harus melakukan apa, sampai akhirnya memutuskan untuk mengajaknya berbicara.
“Bapak sudah lama bekerja dengan keluarga Adinata?” tanyaku.
“Sudah, Mbak. Sejak Mas Liam masih kecil.”
Aku sedikit terkejut.
“Sejak Liam kecil? Berarti sebelum mamanya Liam meninggal?”
“Iya, betul, Mbak.”
Aku terdiam sejenak. Entah kenapa, tiba-tiba aku ingin tahu lebih banyak tentang perempuan yang selama ini hanya kukenal dari cerita Liam.
“Kalau boleh tahu, mamanya Liam itu bagaimana orangnya, Pak?”
Sopir tersenyum kecil.
“Oh, Ibu Ayna itu orang yang baik, Mbak. Dengan semua orang beliau baik. Beliau juga sangat menyayangi keluarganya. Makanya, waktu beliau meninggal, banyak orang yang sangat terpukul.”
Sopir berhenti sejenak sebelum melanjutkan.
“Terutama Mas Liam dan Pak Wilson.”
“Ah... seperti itu.”
Aku mengangguk pelan.
Pantas saja setiap kali Liam bercerita tentang ibunya, nada suaranya selalu terdengar berat.
Mungkin kehilangan itu masih menjadi sesuatu yang sulit diterimanya.
Tidak lama kemudian, pintu mobil terbuka.
Liam masuk sambil membawa sesuatu di tangannya.
Aku menatapnya.
“Ayo jalan lagi, Pak,” ucap Liam kepada sopir.
“Baik, Mas.”
Sopir kembali menjalankan mobil.
Liam menoleh ke belakang dan menggangkat plastik di tangannya.
“Ini. Aku belikan makan siang buat kamu.”
Aku menatap kantong plastik itu beberapa detik.
Tadi dokter sudah mengatakan aku tidak boleh hanya makan roti.
Mungkin karena itu.
“Ya. Makasih.”
Liam hanya mengangguk, kemudian kembali menghadap ke depan.
Aku menatap ke Liam.
Entah kenapa, perhatian kecil itu justru membuat dadaku terasa sedikit berbeda.
Aku segera mengalihkan pandangan ke jendela.
Tidak.
Aku tidak boleh salah mengartikan perhatian Liam.
Dia hanya khawatir karena aku sakit.
Hanya itu.
Setidaknya... itulah yang ingin kupercaya.
