Ayana pikir cinta berarti selalu berada di sisi orang yang dicintainya. Ketika Angga kehilangan kekasih dan ibunya dalam waktu berdekatan, Ayana hadir untuk membantunya bangkit. Bahkan tanpa sepengetahuan Angga, Ayana diam-diam menggunakan segala yang dimilikinya untuk membantu pria itu meraih kesuksesan. Hingga mereka bertunangan dan pernikahan tinggal menghitung hari. Namun masa lalu Angga kembali. Rara, mantan kekasihnya, datang membawa luka, air mata, dan seorang bayi dalam kandungan. Perlahan, Angga mulai memilih Rara. Meninggalkan Ayana di hari fitting gaun pengantin Membiarkan Rara duduk di sampingnya sementara Ayana harus duduk di belakang Bahkan meminta Ayana mengalah dalam pencatatan pernikahan demi masa depan anak Rara. Sampai akhirnya Ayana sadar, Ia bukan lagi calon istri yang diprioritaskan. Ia hanya pilihan yang diminta untuk mengerti. Ayana pun pergi. Tanpa dendam. Tanpa membalas. Ia hanya berhenti menyelamatkan pria yang tidak pernah menyadari bahwa selama ini, dialah yang membuat hidupnya begitu mudah. Ketika Ayana kembali ke kota besar dan bertemu Kenan, seorang pewaris yang setara dengannya, hidupnya perlahan berubah. Sementara itu, kehidupan Angga mulai runtuh. Dan saat Angga akhirnya mengetahui siapa sebenarnya Ayana, semuanya sudah terlambat. Karena perempuan yang dulu rela berdiri di belakangnya kini telah menemukan seseorang yang bersedia berdiri di sisinya. Akankah Angga mendapatkan Ayana kembali, atau harus hidup dengan penyesalan karena telah kehilangan perempuan yang seharusnya menjadi istrinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nittagiu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Investor yang Mundur
Keesokan paginya, Angga datang ke kantor lebih awal dari biasanya.
Pesan dari investor utama itu masih terbuka di ponselnya. Ia telah mengirim dua pesan tindak lanjut sejak malam sebelumnya, tetapi belum mendapat balasan. Bukan hal yang seharusnya membuatnya gelisah. Para investor punya kesibukan sendiri. Pertemuan bisa dijadwalkan ulang. Komitmen pendanaan juga tidak mungkin berubah hanya karena satu rapat.
Setidaknya, itulah yang berusaha ia yakini.
Pak Dimas sudah menunggu di ruang rapat dengan beberapa berkas di meja. Wajahnya tampak lebih lelah daripada kemarin.
“Beliau bersedia menerima kita pukul sepuluh,” kata Dimas. “Di kantor pusat mereka.”
Angga mengangguk. “Bagus. Kita jelaskan posisi perusahaan dan jadwal pembayaran klien. Begitu mereka melihat angkanya, mereka akan tenang.”
Dimas tidak menyambut keyakinan itu. Ia mendorong sebuah lembar laporan ke hadapan Angga.
“Ada kabar lain. Investor yang sama baru saja mengirim pemberitahuan resmi. Mereka menarik komitmen untuk tahap pendanaan berikutnya.”
Angga tidak langsung menyentuh berkas itu. “Menarik seluruh pendanaan?”
“Untuk tahap berikutnya. Dana yang sudah masuk tetap tercatat sesuai perjanjian. Tapi tambahan yang kita andalkan untuk proyek baru tidak akan dicairkan.”
Untuk sesaat, hanya suara pendingin ruangan yang terdengar. Angga menatap kalimat-kalimat resmi di halaman itu. Bahasa suratnya sopan, bahkan penuh penghargaan atas kerja sama mereka. Namun satu baris di bagian tengah menyatakan bahwa pihak investor memilih meninjau ulang prioritas dan mengalihkan modal ke sektor lain.
“Alasannya?”
“Penyesuaian portofolio. Mereka juga menyebut ketidakpastian arus kas dan risiko konsentrasi klien.”
“Risiko itu sudah mereka ketahui sejak awal.”
“Ya.”
“Dan mereka tetap menyetujui proyek ini.”
“Ya.”
“Lalu sekarang mereka mundur begitu saja?”
Dimas merapatkan kedua tangannya di atas meja. “Mereka berhak meninjau komitmen sesuai klausul perjanjian. Kita perlu membaca ketentuannya dengan saksama sebelum mengambil langkah.”
Angga berdiri dan berjalan ke sisi jendela. Dari lantai atas, jalanan terlihat seperti biasa: kendaraan bergerak, orang-orang menyeberang, pagi berjalan tanpa peduli bahwa satu sumber dana perusahaan baru saja menghilang. Ia mencoba menyusun penjelasan yang masuk akal. Mungkin investor itu memang sedang menata ulang portofolio. Mungkin ada perubahan pasar. Mungkin keterlambatan klien membuat mereka berhati-hati.
“Siapa lagi yang sudah tahu?” tanyanya.
“Tim keuangan dan bagian hukum. Saya minta mereka tidak menyebarkan kabar sebelum kita memahami dampaknya.”
“Jangan sampai kabar ini membuat klien ragu.”
“Karena itu kita harus tahu dulu berapa besar dampaknya.”
Angga kembali ke meja. Kali ini ia membuka laporan. Dana yang batal dicairkan memang belum berada di rekening perusahaan, tetapi telah masuk dalam rencana pembayaran proyek. Tanpa dana itu, mereka harus mencari sumber lain atau mengubah jadwal kerja. Sementara dua klien besar belum melunasi tagihan lama.
Ia menutup berkas dengan telapak tangan. “Kita punya investor lain.”
“Beberapa punya kapasitas lebih kecil. Saya bisa menghubungi mereka, tapi mereka akan meminta penjelasan lengkap.”
“Siapkan semuanya. Kita tetap jalankan proyek.”
Dimas menatapnya hati-hati. “Angga, saya tidak menyarankan kita menghentikan proyek. Saya menyarankan kita tidak menganggap pendanaan pengganti pasti tersedia sebelum ada persetujuan tertulis.”
“Kita tidak bisa terlihat ragu setiap kali ada masalah.”
“Berhati-hati bukan berarti ragu.”
Angga menatapnya, tetapi kali ini tak segera membantah. Ada bagian dari dirinya yang tahu Dimas benar. Namun menerima itu berarti mengakui bahwa langkah yang selama ini dianggap aman ternyata berdiri di atas beberapa janji yang belum benar-benar menjadi uang.
Pukul sepuluh, Angga dan Dimas tiba di kantor investor. Mereka diterima oleh seorang direktur investasi bernama Surya, yang selama ini menjadi penghubung utama mereka. Surya menyambut ramah, tetapi tidak menawarkan basa-basi panjang. Di ruang pertemuan, ia langsung membuka pembicaraan.
“Kami menghargai hubungan kerja sama dengan perusahaan Anda,” katanya. “Keputusan ini bukan penilaian atas kerja tim atau kualitas produk. Kami sedang menata ulang penempatan modal.”
“Perubahan ini membuat proyek yang sudah kita sepakati berada dalam posisi sulit,” jawab Angga. “Kami mengandalkan pencairan tahap berikutnya sesuai jadwal.”
“Komitmen itu memang tercantum sebagai rencana pendanaan, tetapi pencairannya tunduk pada peninjauan berkala.”
“Peninjauan berkala yang baru disebutkan setelah dua klien kami menunda pembayaran?”
Surya tidak menghindari tatapannya. “Kondisi arus kas adalah salah satu pertimbangan. Konsentrasi pendapatan pada beberapa klien juga menjadi perhatian kami sejak evaluasi terakhir.”
“Kalau itu yang menjadi masalah, kami bisa menunjukkan proyeksi pembayaran dan kontrak baru.”
“Kami sudah menelaah dokumen yang diberikan.”
Jawaban itu terdengar sopan, tetapi menutup jalan yang hendak dibuka Angga. Ia merasakan rahangnya menegang.
“Jadi keputusan ini final?”
“Untuk tahap pendanaan berikutnya, ya. Kami tidak menutup kemungkinan bekerja sama lagi di masa depan.”
Di sampingnya, Dimas meminta salinan lengkap hasil evaluasi dan meminta agar semua perubahan dicatat sesuai perjanjian. Angga mendengarkan, tetapi pikirannya tertahan pada kata masa depan. Kalimat itu mungkin berarti kesempatan lain. Mungkin juga hanya cara yang halus untuk mengakhiri pertemuan tanpa pertengkaran.
Mereka meninggalkan gedung dengan membawa dokumen yang tak mengubah keputusan apa pun.
Di dalam mobil, Angga membuka kembali surat resmi itu. “Mereka bisa saja memberi peringatan lebih awal.”
“Mereka mungkin sudah memberi sinyal lewat evaluasi sebelumnya,” kata Dimas. “Kita perlu memeriksa catatan rapat.”
“Dan kau tahu soal itu?”
“Saya tahu mereka meminta diversifikasi klien. Saya tidak tahu mereka akan menarik komitmen sekarang.”
Angga terdiam. Ia ingat beberapa kali Dimas mengangkat masalah ketergantungan perusahaan kepada klien besar. Saat itu ia menganggap kekhawatiran tersebut bisa ditangani setelah proyek baru selesai. Proyek baru akan memperkuat posisi mereka. Setidaknya, itulah yang ia pikirkan.
Ponselnya bergetar. Sebuah pesan masuk dari Rara: “Kamu jadi datang hari ini? Aku perlu ditemani bicara dengan dokter.”
Angga membaca pesan itu. Jadwalnya masih penuh, tetapi pikirannya mendadak lelah. Ia mengetik, “Hari ini aku tidak bisa. Aku sedang mengurus masalah kantor. Kalau perlu, aku akan minta seseorang mengantarmu.”
Balasan Rara datang beberapa menit kemudian. “Tidak apa-apa. Aku bisa sendiri.”
Angga menatap pesan itu sebentar. Ia merasakan rasa bersalah, meski tak tahu apakah karena tak bisa menemaninya atau karena ia baru saja menyadari bahwa selama ini terlalu mudah menganggap semua orang akan tetap menunggu.
Sore harinya, Dimas mengirimkan daftar kewajiban perusahaan dan pilihan untuk menutup kekurangan dana. Tak ada jalan yang benar-benar mudah. Mengambil pinjaman akan menambah beban bunga. Meminta investor lain berarti membuka seluruh kondisi perusahaan. Menunda proyek bisa merusak hubungan dengan klien baru.
Angga meminta waktu sampai keesokan pagi.
Ketika ia pulang, ruang kerjanya terasa lebih sempit daripada biasanya. Ia membuka laporan arus kas, surat penarikan komitmen, lalu catatan evaluasi investor. Di salah satu halaman, ada rekomendasi yang diberi tanggal beberapa bulan lalu: memperluas basis klien dan mengurangi ketergantungan pada pendanaan eksternal.
Angga membaca catatan itu dua kali.
Ia tidak ingat pernah mengabaikannya. Namun ia juga tak ingat pernah benar-benar menindaklanjutinya.
Ponselnya kembali bergetar. Kali ini Dimas mengirim pesan singkat: investor kedua meminta salinan laporan keuangan terbaru sebelum bersedia membahas pendanaan tambahan.
Angga meletakkan ponselnya di meja. Selama ini, ia mengira satu investor mundur hanya berarti satu masalah baru yang bisa ditutup dengan mencari investor lain.
Kini, untuk pertama kalinya, ia bertanya-tanya apakah kepercayaan mereka sedang hilang satu per satu—dan apakah ia sendiri yang terlalu lama menganggap kepercayaan itu akan selalu ada.
Bab 52 — Investor yang Mundur
km sibuk jdi malaikat untuk perempuan lain.... tpi lupa dgn perasaan calon istrimu🙄🙄
jadi laki² kok nggak tegas hufftt..