NovelToon NovelToon
Raja Iblis Jatuh Dalam Pesonaku

Raja Iblis Jatuh Dalam Pesonaku

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Mengubah Takdir / Transmigrasi
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: Anastasia

Li hua gadis yang bertrasmigrasi ke tubuh gadis desa yang hidup sendiri, dengan wajah yang sama dan nama yang sama.
awalnya dia kira dirinya hidup dengan sederhana didesa, tapi semuanya berubah saat pengurus keluarga Zhang datang menemuinya dan mengatakan kalau dirinya adalah nona kedua keluarga zhang yang harus kembali.
didalam rumah keluarga zhang dirinya menemui Li yun pangeran tawanan dari negeri tang liang.
seketika itu dia menyadari dirinya berada dalam buku yang menceritakan Raja iblis menghancurkan negeri Ye lu, setelah itu membunuh semua keluarga zhang termasuk dirinya.
apa yang akan dilakukan Li hua untuk mencegah itu terjadi?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anastasia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 15.Rencana yang berubah.

Langkah kaki mereka pelan di sepanjang lorong yang tenang. Nyonya Besar berjalan di depan, wajahnya masih tampak lelah dan sedih. Li Hua mengiringinya di samping, sesekali memegang lengan ibunya lembut seakan memberi kekuatan. Di belakang mereka, Li Yun berjalan diam — kini ia memegang peran pelayan pribadi Li Hua, sesuai kesepakatan yang tak terucap namun dipahami semua orang di kediaman itu.

Sesampainya di depan pintu kamar, Nyonya Besar berhenti sejenak, menatap putrinya dengan tatapan sayu.

"Istirahatlah, nak," ucapnya lembut, mengusap pipi putrinya. "Hari ini hari yang melelahkan. Jangan pikirkan apa pun lagi."

"Kau juga, Ibu," jawab Li Hua pelan, mencium punggung tangan wanita itu. "Jangan terlalu banyak memikirkan Kakak.Aku juga tidak mengira kakak seperti itu."

Nyonya Besar mengangguk pelan, lalu berbalik menuju kamarnya sendiri yang terletak tak jauh dari sana. Li Hua melangkah masuk ke kamarnya, diikuti Li Yun yang menutup pintu perlahan dari dalam. Ruangan itu sederhana namun hangat — tempat tidur dengan selimut katun bersih, meja kayu kecil dekat jendela, dan lemari pakaian yang tidak terlalu besar.

"Situlah," ucap Li Hua sambil menunjuk kursi di sudut ruangan. "Kau tidak perlu berdiri seperti pelayan sungguhan saat hanya ada kita berdua."

Li Yun tersenyum tipis, duduk di tempat yang ditunjuk. "Terima kasih. Tapi di luar sana, aku harus tetap terlihat seperti pelayanmu. Agar tidak menimbulkan kecurigaan."

Li Hua mengangguk, lalu mulai melepaskan hiasan rambutnya. "Aku tahu. Hanya saja... kadang terasa aneh melihat Pangeran menjadi orlayanku, kamu tahu sendiri aku melakukannya hanya untuk menyelamatkan dirimu dari siksaan kakak-kakak ku."

"Aku tahu. "

Setelah mengucapkan itu, Li hua menyuruh Li yun kembali ke kamarnya dan meminta qiao'er yang melayaninya.

Di ruang yang berbeda, di Aula Utama yang luas dan megah, suasana terasa jauh lebih berat dan tegang. Jun Yi duduk di kursi kehormatan, jubah kebesarannya berkilau lembut terkena cahaya lampu minyak. Tuan Zhang berdiri di hadapannya, menunggu dengan rasa hormat sekaligus cemas.

"Aku datang untuk membahas urusan penting," buka Jun Yi, suaranya tenang namun memerintah. "Perihal pernikahan politik yang telah direncanakan antara Keluarga Zhang dan Kerajaan Tang liang. Bagaimana kesiapan Tuan Zhang?"

Tuan Zhang menegakkan tubuh. "Semuanya telah dipersiapkan, Putra Mahkota. Sesuai kesepakatan, putri yang akan menjadi istri adalah Li Hua — putri yang dibesarkan di desa, putri yang dikatakan membawa kehancuran. Shi Yin akan tetap di sini, menunggu saat yang tepat untuk dinikahkan dengan Pangeran..."

Jun Yi mengangkat tangan, memotong kata-katanya. "Rencana itu telah berubah."

Wajah Tuan Zhang berubah bingung. "Berubah... bagaimana maksudnya, Putra Mahkota?"

"Mata-mata kami dari Negeri Tang Liang melaporkan kabar yang mengkhawatirkan," ucap Jun Yi perlahan, matanya menatap lurus ke arah Tuan Zhang. "Kondisi kesehatan Pangeran Mahkota Tang Liang semakin memburuk. Tidak banyak waktu yang tersisa. Pernikahan itu harus dilaksanakan secepatnya, paling lambat sebulan dari sekarang."

Tuan Zhang menelan ludah. "Saya mengerti... namun bukankah itu justru sesuai rencana kami? Li Hua siap untuk dikirim..."

Jun Yi menggeleng pelan. "Bukan Li Hua. Yang akan dikirim ke Negeri Tang Liang adalah Shi Yin."

Tuan Zhang terbelalak, seakan tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar. "Shi Yin? Tidak mungkin, Putra Mahkota! Itu bukan rencana awal! Kesepakat sejak awal, Shi Yin adalah putri yang akan tetap di sini, menjadi kebanggaan keluarga... sedangkan Li Hua yang dikirim karena dia..."

"Karena dia apa?" Jun Yi menyela, suaranya sedikit meninggi. "Karena dia dianggap pembawa nasib buruk? Sedangkan Shi Yin dianggap pembawa keberuntungan?"

"Benar!" jawab Tuan Zhang tegas, meski wajahnya tampak gelisah. "Ramalan Pendeta Agung mengatakan demikian! Shi Yin yang membawa keberuntungan bagi siapa pun yang menikah dengannya! Jika yang dikirim ke sana adalah Shi Yin, maka keberuntungan itu akan berpindah ke Negeri Tang Liang! Itu tidak menguntungkan kita, Putra Mahkota!"

Jun Yi menatapnya lekat-lekat, seakan ingin membaca kebenaran di balik wajah pria itu. "Apakah Tuan Zhang benar-benar yakin ramalan itu tidak salah? Sudahkah kau memastikannya kembali?"

"Saya yakin!" jawab Tuan Zhang mantap. "Pendeta Agung tidak pernah keliru. Shi Yin adalah putri yang membawa keberuntungan. Li Hua... sayangnya dia yang membawa nasib buruk. Itulah sebabnya dia dibuang sejak bayi."

Jun Yi terdiam sejenak, menatap ke arah jendela yang menampakkan langit mulai gelap. Ia tidak mengatakan apa pun tentang apa yang dilihatnya dan didengarnya tadi di halaman depan. Ia hanya menyimpannya dalam hati.

"Baiklah..." ucap Jun Yi akhirnya. "Keputusan telah diambil. Satu bulan dari sekarang, Shi yin akan berangkat ke Negeri Tang Liang. Persiapkanlah."

"Tapi, Putra Mahkota..." Tuan Zhang masih berusaha membantah.

"Ini perintah dari Kaisar," potong Jun Yi tegas. "Tidak ada bantahan."

Tuan Zhang menunduk dalam, tak berani lagi membantah. "Hamba patuh..."

Sementara itu, di kamar Li Hua, Qiao'er sibuk membantu tuannya mengganti pakaian. Gaun resmi yang dikenakan tadi sudah dilepas, kini Li Hua mengenakan pakaian rumah sederhana berwarna biru muda, longgar dan nyaman.

"Memangnya apa yang dilakukan pria brengsek itu datang ke sini?" gerutu Li Hua pelan sambil merapikan ujung bajunya.

Qiao'er terhenti sejenak, tangannya terangkat di udara. "Maaf... maksud Nona siapa?"

"Siapa lagi? Putra Mahkota itu," jawab Li Hua tanpa menoleh, menyisir rambutnya perlahan.

Wajah Qiao'er pucat seketika. Ia melangkah mendekat, menutup mulut tuannya dengan tangan yang gemetar pelan. "Nona! Jangan bicara begitu! Jika ada yang mendengar... kita bisa dihukum mati!"

Li Hua menepuk tangan pelayan itu lembut, tersenyum tipis. "Aku tahu, tenanglah. Tidak ada orang lain di sini selain kita." Ia menoleh ke arah pintu, memastikan tertutup rapat. "Maafkan aku. Aku hanya kesal melihatnya."

"Nona sebaiknya berhati-hati," bisik Qiao'er cemas. "Putra Mahkota itu berkuasa atas nyawa siapa pun di negeri ini."

"Iya, iya, aku mengerti," Li Hua tersenyum, mencoba mencairkan suasana. "Sudahlah, jangan cemas. Oh ya, tadi di perjalanan pulang aku membeli sesuatu yang enak."

Ia berjalan ke meja kecil, mengambil dua bungkusan besar yang terbuat dari kertas cokelat yang diikat tali. Wangi manis kue masih tercium samar dari balik bungkusnya.

"Ini untukmu," ucapnya sambil menyodorkan satu bungkusan. "Dan yang satunya untuk Li Yun. Katakan padanya, ini sebagai ucapan terima kasih karena selalu mendampingiku."

Qiao'er menatap bungkusan di tangannya, lalu menatap tuannya. Matanya perlahan berkaca-kaca, lalu air mata jatuh membasahi pipinya.

"Nona..." suaranya bergetar. "Kenapa Nona begitu baik padaku? Aku hanyalah pelayan rendahan..."

Li Hua mengusap air mata gadis itu dengan lembut. "Kau bukan sekadar pelayan bagiku, Qiao'er. Kau satu-satunya orang yang tulus menemaniku sejak aku kembali ke sini."

Qiao'er menunduk, tangannya meremas ujung bajunya. "Qiao'er berjanji... akan selalu setia pada Nona. Apa pun yang terjadi. Jika Nona meminta nyawa Qiao'er, akan Qiao'er berikan tanpa ragu."

Li Hua tertawa pelan, lalu menggeleng. "Gadis bodoh... untuk apa aku meminta nyawamu? Aku justru ingin kau hidup panjang, sehat, dan bahagia di sisiku. Sudah, jangan menangis lagi. Nanti orang melihat akan mengira aku menyiksamu."

Qiao'er tersenyum di antara isak tangis, mengusap wajahnya dengan lengan baju. "Baik, Nona... Qiao'er akan berhenti menangis." Ia menatap bungkusan itu lagi, hatinya terasa hangat dan penuh syukur. "Aku akan mengantarkan yang satu ini kepada Pangeran sekarang."

"Terima kasih, Qiao'er," ucap Li Hua lembut.

Gadis itu mengangguk, berjalan menuju sudut ruangan tempat Li Yun duduk menunggu. Ia menyodorkan bungkusan kue itu dengan kedua tangan.

"Ini... dari Nona Li Hua," ucapnya pelan. "Beliau bilang sebagai tanda terima kasih."

Li Yun menerima bungkusan itu, mencium aroma manis yang keluar dari celah kertasnya. Ia menatap Li Hua yang berdiri di dekat jendela, punggungnya menghadap mereka, menatap ke arah langit yang mulai gelap.

Dia begitu berbeda dari yang lain, batinnya. Walaupun mereka kembar dengan wajah yang sama,tapi sifat mereka berbeda.

Li Hua seakan merasakan tatapan itu, menoleh perlahan. Matanya bertemu dengan mata Li Yun, lalu muncul perasaan gugup di hati pria dingin itu, segera dia berpaling dari Li hua.

 ​

1
lin sya
msih menunggu li hua membalas shi yin krn dijual dirmh bordil sayangnya li hua cerdas, tp beruntung li yun perduli smpai nyari kemana mana, klo li hua balik kkluarganya bikin shi yin dijual juga
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!