“Affan, aku ingin nafkah batin.”
“Kalau kamu menginginkannya, aku bisa mencarikan pekerjaan untukmu sebagai PSK. Dengan begitu, kamu bisa mendapatkan apa yang kamu mau.”
Hulya Anindita tidak pernah membayangkan pernikahan yang seharusnya menjadi awal kebahagiaan justru berubah menjadi neraka. Menikah dengan Affandy Frazendra tanpa pernah bertemu sebelumnya membuat Hulya harus menjalani rumah tangga dengan seorang pria yang bahkan tidak pernah menganggapnya sebagai istri.
Kebencian Affandy tidak berhenti pada sikap dingin dan pengabaian. Hulya harus menerima penghinaan, kekerasan, bahkan perlakuan kejam yang perlahan menghancurkan dirinya. Ironisnya, pernikahan itu justru terjadi atas keinginan Affandy sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mardzan J., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ketakutan
Ting!
Maria memeriksa ponselnya. Satu pesan baru masuk dari suaminya yang memintanya segera pulang karena rumah sedang kosong.
"Mami pamit, ya. Papi kalian udah pulang. Rumah lagi kosong."
Gerald langsung beranjak dari tempat duduknya. "Pulang dulu, ya, Bro."
"Iya," balas Affandy.
"Jangan lupa. Nikah udah lama, tapi kabar-kabar keponakan kayaknya belum ada juga."
Gerald langsung berlalu pergi setelah mengatakan hal itu. Maria menggelengkan kepala melihat tingkah anaknya.
"Andy."
Affandy menoleh.
"Yang dibilang Abang kamu benar juga."
Laki-laki itu tersenyum tipis.
"Belum rezeki, Mi," ujar Hulya.
"Iya juga, sih. Tapi harus diusahakan. Jangan terlalu sibuk sama pekerjaan dulu. Fokus sama Hulya."
"Iya, Mi."
Hulya mulai merasa gugup ketika mobil mertuanya sudah meninggalkan halaman rumah mereka. Napasnya tidak beraturan. Dari sudut ekor matanya, dia menatap Affandy dengan ketakutan.
Wanita itu sudah bisa menebak bahwa dirinya akan diperlakukan seperti kemarin oleh suaminya.
Deg!
Hulya terkejut ketika Affandy menggenggam lengannya.
"Masuk!"
"Nggak," tolak Hulya.
"Masuk atau aku tarik kamu dengan cara kasar."
"Jangan, Affan. Aku minta maaf."
"MASUK!"
"Aku nggak sengaja pegang tangan Abang." Hulya sudah tahu apa yang membuat pria itu marah besar kepadanya.
Affandy segera menarik tangan Hulya. "Ayo, masuk."
"Aku nggak mau. Kamu kasar." Mata Hulya mulai berkaca-kaca. Entah apa lagi yang akan dilakukan pria itu kepadanya.
"Ayo!"
"Nggak mau."
"Hiks... hiks... hiks..."
Affandy menarik Hulya dengan paksa hingga wanita itu terpaksa mengikutinya.
Brak!
Pintu dihempaskan oleh Affandy Frazendra. Hulya hendak berlari, tetapi kedua bahunya sudah lebih dulu digenggam oleh pria itu.
"Sakit, Affan."
"Hiks... hiks..."
"Kamu suka sama Abang?"
"Kamu salah paham. Lepasin aku."
"Kamu mau Abang jadi suami kamu karena dia baik?"
"Lepas, Affan. Sakit."
"Hiks... hiks... hiks..."
Affandy mendorong tubuh Hulya hingga wanita itu jatuh ke lantai.
"Aw!"
"Hiks... hiks..."
"Kenapa kamu, Affan? Aku takut kalau kamu kasar begini."
"Kamu takut? Kamu mau laki-laki seperti Bang Gerald?"
Affandy menatap tajam ke arah istrinya. Dia kembali menarik Hulya hingga wanita itu berdiri menghadap kepadanya.
"Kamu tergila-gila sama Abang? Kamu mau dihamili sama Bang Gerald?"
"Cukup, Affan. Kata-kata kamu itu menjijikkan."
"Kamu yang menjijikkan, Hulya. Kamu pegang Abang. Ngapain? Mau menggoda dia?"
"Nggak! Aku sudah bilang, aku nggak sengaja."
"Hiks... hiks..."
"Lepasin."
"Kamu mau Abang yang memberikan nafkah batin yang kamu inginkan itu?"
"Cukup, Affan."
"Kamu mau jadi pelacur pribadi Bang Gerald?"
"Affan, aku mohon cukup. Hiks... hiks..."
"Sakit."
"Andy!"
Affandy menoleh ke arah seorang wanita.
"Kamu ngapain?" tanya Tiffany.
"Ini bukan urusan kamu, Tiffany."
"Sejak kapan kamu kasar sama perempuan?" tanya Tiffany heran.
Tiffany menghampiri keduanya. "Kamu kenapa, hah? Lepasin Hulya!"
"Dia wanita murahan. Dia pegang Abang di depan mata aku."
"Lho, kamu marah? Kamu cemburu?"
"Aku nggak cemburu, Tiffany. Tapi dia ini wanita murahan. Aku nggak mau Abangku jadi korbannya juga."
"Affan, wanita yang di samping kamu itu murahan? Aku istri kamu."
"Murahan kamu bilang?"
Plak!
Untuk pertama kalinya, jejak tangan Affandy menempel di wajah Hulya. Hulya membeku. Harapannya seakan runtuh seketika.
"Kamu bukan istriku."
"Andy," lirih Tiffany.
"Pergi kamu!"
"Tenang-tenang. Jangan marah."
"PERGI!"
Tiffany ikut ketakutan melihat Affandy yang sedang emosi. Sebelumnya, dia tidak pernah melihat laki-laki itu sampai kehilangan kendali dan memukul perempuan. Tiffany akhirnya memutuskan untuk pergi dari rumah tersebut. Tangis Hulya terhenti. Dadanya terasa sesak ketika tangan pria itu mengenai wajahnya.
Perlahan, Hulya mengusap pipinya yang baru saja ditampar suaminya. "Ka-kamu nampar aku."
"Hulya..."
Seperti biasa, Affandy mulai sadar setelah amarahnya mereda.
Pria itu hendak memeluk Hulya, tetapi wanita tersebut segera berlari menjauh.
"Mama tolong Hulya. Hulya takut. Hiks... hiks... hiks..."
"Hulya. Maafin aku."
"Mama, Papa... Hulya takut di sini. Hiks... hiks..."
Brak!
Pintu kamar dikunci oleh Hulya. Dia benar-benar ketakutan melihat perilaku Affandy.
"Hulya, buka."
Di dalam kamar, Hulya terus menangis. Sementara itu, Affandy mencoba membuka pintu.
Beberapa kali Affandy mendobrak pintu tersebut hingga akhirnya pintu itu terbuka.
"Mama!" teriak Hulya.
"Hulya, diam. Aku nggak akan marah sama kamu."
Hulya berlari masuk ke dalam kamar mandi. Lagi-lagi Affandy berusaha mengikutinya.
"Awas, Hulya. Aku mau masuk."
"Mama!"
"Hiks... hiks... hiks..."
"Tolongin Hulya."
Pintu kamar mandi terbuka. Hulya langsung terduduk di sudut kamar mandi. Affandy ikut duduk di hadapan wanita itu.
"Hiks... hiks..."
"Jangan."
Affandy menangkup wajah Hulya. Pria itu kemudian menarik istrinya ke dalam pelukan.
"Sudah, sudah. Jangan nangis lagi."
"Hiks... Kamu jahat."
"Aku jahat karena ulah kamu sendiri."
"Aku mau pulang. Hiks... hiks..."
"Udah, ya. Jangan nangis lagi. Aku nggak akan marah selagi kamu nggak banyak tingkah."
"Hulya!"
Kedua orang itu menoleh. Seorang pria sudah berdiri di depan pintu.
"Ngapain kamu masuk ke rumahku?"
"Laki-laki macam apa kamu? Kamu melakukan kekerasan terhadap istri kamu."
"Jangan ikut campur. Ini bukan urusan kamu."
Vicky menghampiri mereka dan menarik kerah baju Affandy.
Bugh!
Sebuah pukulan mendarat di wajah Affandy. Pria itu tidak tinggal diam. Dia membalas pukulan tersebut.
"Stop!" teriak Hulya.
"Kamu pulang."
"Tapi, Hulya—"
"Pulang! Jangan buat keributan di sini."
"Urusanmu sama aku!" ucap Vicky sebelum berlalu pergi.
Affandy kembali menoleh ke arah istrinya. Dia melihat tangan Hulya masih gemetar.
"Kenapa, hm?" tanyanya.
Kemudian Affandy menatap wajah Hulya.
"Kamu lapar?"
"Jangan sakiti aku, Affan. Aku takut."
Kembali Affandy memeluk istrinya.
[] [] []
Saat malam tiba, keadaan Hulya sudah jauh lebih baik. Wanita itu mulai tenang setelah rasa takut yang sempat menguasainya perlahan mereda. Affandy memperlakukannya dengan sangat baik, membuat hati Hulya kembali luluh kepada pria itu.
Bahkan, mereka baru saja selesai melaksanakan salat Magrib bersama. Affandy kemudian mendekati istrinya yang masih duduk di belakang.
"Masih sakit?" tanyanya sembari mengelus wajah wanita itu.
Hulya menggeleng pelan. Ia masih takut untuk menatap Affandy saat ini.
"Kenapa nggak mau lihat aku?"
Hulya kembali menggeleng. Bahkan, ia menjauhkan tangan Affandy dari wajahnya. "Aku mau tidur."
"Nggak mau makan?" tanya Affandy.
"Aku nggak lapar."
"Makan dulu."
Hulya terdiam. Ia mencoba melepaskan mukena yang dikenakannya. Affandy membantu wanita itu melepaskan kain tersebut.
Kamu mau makan apa?" tanya Affandy. "Aku nggak bisa masak. Kalau aku beli, nggak apa-apa, kan?"
Hulya menoleh ke arah pria itu. Tatapan Affandy terasa begitu menenangkan. Sampai-sampai, untuk sesaat Hulya lupa bahwa pria itu pernah berbuat kasar kepadanya.
"Kamu mau beliin aku makanan?"
Affandy mengangguk sambil menampilkan senyuman.
"Serius?"
"Iya, Hulya. Cepat dong. Nanti keburu tengah malam."
"Aku mau makan bakso."
"Cuma itu?" tanya Affandy.
"Itu aja."
"Oke."
Affandy melepaskan peci yang dikenakannya, kemudian memberikannya kepada Hulya. "Kamu tunggu di sini. Jangan ke mana-mana. Aku akan cepat. Nggak lama."
Affandy pun beranjak dari tempat duduknya.
"Affan."
"Iya?"
"Makasih, sayang."
"Sama-sama, Hulya."
Hulya Anindita sangat gembira. Affandy seolah telah kembali seperti semula. Laki-laki itu kembali berbicara dengan lembut kepadanya.
"Ya Allah, terima kasih karena Engkau telah melunakkan hatinya lagi."