Dahulu sekali, saat dunia ini hanya sebuah dataran luas, para makhluk yang menghuninya bertarung demi sebuah kekuasaan. Satu di antaranya adalah manusia—kaum yang paling lemah.
Pernahkah kalian mendengar tentang para manusia pengendali elemen? Aetherist, begitulah mereka dipanggil.
Berabad-abad lalu sejak para Aetherist pertama berhasil menyelamatkan manusia dan membentengi wilayah mereka dengan Aetherwall. Kini, ancaman dari kegelapan mulai menyeruak keluar.
Para Aetherist muda kini dihadapkan pada tantangan dari sang Penguasa Kehampaan. Perang besar pertama dan terbesar yang pernah mereka hadapi.
Petualangan penuh keajaiban, tekad, semangat, luka, air mata, juga cinta menanti mereka. Kehadiran makhluk lain yang entah menjadi sekutu atau musuh—Elf, Mermaid, Vampire, hingga Werewolf.
Akankah para Aetherist muda ini mampu memimpin umat manusia lepas dari kehampaan, atau justru membawa kehancuran bagi peradaban?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon seravya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4: Dua makluk aneh?
Airyn masih mencoba mencerna adegan yang baru saja terjadi dalam hitungan detik. Ia menatap pria di depannya dengan lekat. Tak ada niat jahat di mata itu, hanya tampak kedukaan mendalam dan genangan air mata yang siap menetes?
Perlahan, benteng pertahanan Airyn melunak. Gadis itu mengembuskan napas gusar, mencoba menenangkan detak jantungnya yang berpacu.
"Ikut aku," bisik Airyn tegas, lalu berbalik dan berjalan terlebih dahulu.
Pria bertudung itu menurut tanpa membantah, berjalan patuh beberapa langkah di belakang Airyn. Tak ada percakapan di antara mereka. Hanya suara langkah kaki yang menapak beceknya sisa air hujan di sepanjang jalan batu yang terdengar mengisi heningnya malam.
Tak butuh waktu lama, mereka tiba di depan panti asuhan.
"Tunggu di sini dan jangan menarik perhatian," pesannya menunjuk celah gelap di samping bangunan. Dibalas sebuah anggukan mantap dari sang pria.
Airyn masuk ke dalam panti tanpa membuang waktu. Langkah kakinya berjingkat menuju kamar mandi belakang untuk membasuh habis pasta arang dari surainya. Setelah memastikan air membilas bersih seluruh warna hitam itu, ia buru-buru berlari kecil ke kamar, menutupi rambut birunya dengan kupluk jaket tebal agar tak terlihat oleh siapa pun.
Dengan jemari cekatan, ia mengemas sisa barang-barangnya ke dalam tas kain besar, bersiap melangkah keluar menuju kehidupan barunya.
Namun, saat ia mengendap-endap membawa tas di dekat pintu depan...
"Airyn!"
Sebuah suara bernada datar sukses membuatnya terperanjat. Tubuh Airyn membeku seketika. Perlahan ia memutar badan, mendapati Madam Ruby baru saja keluar dari kamarnya.
Airyn menyunggingkan senyum canggung. "Maaf mengganggu tidurnya, Madam. Aku... aku hanya hendak mengambil barang dan langsung pergi."
"Tunggu!" tegur Madam Ruby tegas.
Airyn menahan napas, berharap-harap cemas agar wanita paruh baya itu tidak menyadari ada hal yang aneh dari penampilannya malam ini.
"Ini, ambillah," ucap Madam Ruby dingin seraya menyodorkan sebuah kantong kain kecil ke jemari Airyn.
Airyn yang heran menerima wadah itu dan membukanya pelan. Matanya membelalak kaget. "Madam... ini..."
"Ambillah. Itu bekal terakhir yang bisa kuberikan padamu. Setidaknya setelah ini kau tidak akan merepotkanku lagi," potong sang madam dengan nada ketus seperti biasanya.
Rasa haru yang mendalam membuncah di dada Airyn. Tanpa memedulikan sikap dingin wanita itu, Airyn langsung berhambur dan memeluk Madam Ruby erat-erat.
"Sudah, pergilah! Aku mengantuk," sahut Madam Ruby cepat-cepat melepas pelukan tanpa menoleh, lalu berbalik masuk kembali ke kamarnya.
Airyn tersenyum hangat. Ia tahu betul Madam Ruby hanya pandai bersikap keras di luar, tetapi hatinya begitu baik hingga sudi memberikan beberapa koin perak sebagai bekal hidupnya. Airyn mengantongi hadiah itu, menyandang tas besarnya, dan melangkah keluar menyambut angin malam.
Pria bertudung itu masih menunggunya dengan sabar di balik bayangan.
"Biar aku yang bawa," tawar pria itu lembut, menyodorkan tangan untuk mengambil alih tas kain berukuran lumayan besar milik Airyn.
Airyn tidak menolak. Tubuhnya memang sudah cukup pegal jika harus memaksakan diri membawanya sendirian.
Keduanya berjalan menyusuri jalanan batu pesisir menuju area dermaga, tempat penginapan sederhana dimana Airyn menyewa kamar barunya. Kunci sudah berada di kantongnya sejak sore tadi, memudahkan mereka untuk langsung masuk.
Kamar Airyn terletak di sudut paling ujung lantai bawah, lokasi yang sangat strategis karena tidak terlalu menarik perhatian warga, terutama saat ia membawa sesosok pria mencurigakan bersamanya.
Sebuah kamar sederhana berukuran tak jauh beda dari kamarnya di panti menyambut mereka. Pencahayaannya lebih terang, tempat tidurnya lebih layak, dan terdapat sebuah sofa kecil di sudut ruangan.
Airyn mempersilakan pria itu masuk dan duduk di sofa, sementara ia mengunci pintu rapat-rapat. Dengan tenang, gadis itu duduk di tepi ranjang, menatap lurus ke arah tamu tak diundangnya yang baru saja menurunkan tas bawaannya serta melepas tudungnya pelan, memperlihatkan surai biru pendek itu lagi.
"Siapa kau sebenarnya?" tanya Airyn memulai konfrontasi.
Pria itu terdiam sebentar, tampak ragu bagaimana harus merangkai kata.
"Jika Kau tidak mau menjawab, Kau bisa keluar sekarang," tegur Airyn seraya mengambil ancang-ancang berdiri hendak membukakan pintu.
"Tunggu! Jangan!" cegah pria itu panik. "Namaku... Kaelen. Untuk hal lainnya, aku akan menjawabnya setelah kau menjawab pertanyaanku sebelumnya."
Airyn terdiam sejenak lalu mengangguk setuju. "Baiklah."
Di pikiran Airyn, jika pria ini memang memiliki warna rambut yang sama dengannya, artinya pria ini tidak punya alasan untuk mencelakainya? Toh mereka berdua sama-sama bisa dianggap makhluk aneh ditempat ini.
Airyn perlahan menurunkan tudung jaket tebalnya. Surai panjang berwarna biru serenity terang terurai indah memantulkan cahaya lampu kamar.
Saat melihat warna rambut itu bersinar bebas, pria bernama Kaelen itu seketika bersimpuh di atas lantai batu. Tubuhnya gemetar. Pria itu menunduk dan terisak pelan.
"Kau baik-baik saja, Tuan?" tanya Airyn memastikan dengan raut bingung.
Kaelen mencoba menguasai dirinya. Dengan napas tersengal, ia bangkit dan melangkah mendekati Airyn. Tanpa peringatan, ia menarik gadis itu ke dalam pelukan hangat yang begitu erat.
"Syukurlah... kau masih hidup, Airyn..." bisik Kaelen di selang isak tangisnya yang tak terbendung.
Airyn terpaku. Bingung harus merespons seperti apa, jemari tangannya hanya terangkat ragu, mengelus dan menepuk pelan punggung pria yang terus terisak di bahunya itu.
Kaelen perlahan melepaskan pelukannya, menatap paras Airyn dengan manik mata birunya yang dibasahi air mata.
"Maafkan pamanmu ini, Keponakanku..." bisik Kaelen lirih.
Dahi Airyn berkerut dalam. Keponakan? Paman?
"Tenang dulu, Tuan. Apa maksudmu sebenarnya?" tanya Airyn makin tidak mengerti.
Kaelen menyapu air matanya dengan lengan baju susah payah. Begitu napasnya kembali stabil, ia bicara dengan nada yang sangat serius.
"Aku Kaelen... aku adalah paman kandungmu, Airyn. Dan kau adalah keponakanku."
"Tidak-tidak... ini tidak masuk akal," tolak Airyn menggeleng cepat. "Aku ini anak yatim piatu sejak bayi! Bagaimana bisa tiba-tiba punya paman hanya karena kita punya warna rambut aneh yang sama?"
"Ini kenyataan, Airyn. Warna rambut kita sama, dan manik mata emasmu itu... itu diwariskan langsung dari ayahmu, Kakak kandungku," jelas Kaelen mendesak.
"Tidak! Aku tidak percaya. Aku butuh bukti lain yang lebih masuk akal!" tegas Airyn membentengi dirinya dari kebenaran yang terlalu mendadak ini.
Kaelen terdiam sejenak. Pandangannya beredar mengamati seisi kamar, hingga matanya tertuju pada sebuah vas bunga berisi air jernih di atas meja cermin.
"Mungkin ini bisa membuatmu percaya," gumam Kaelen pelan.
Tanpa gerakan fisik yang berlebihan, Kaelen hanya memfokuskan tatapannya pada air di dalam vas tersebut.
Wuuush!
Tanpa perlu menyentuhnya, cairan bening dari dalam vas itu terangkat naik ke udara. Dengan gerakan jemari yang sangat anggun dan luwes, Kaelen mengendalikan air itu mengalir berputar-putar melingkungi tubuhnya, membentuk pita air berkilau yang menari indah sebelum akhirnya kembali masuk ke dalam vas tanpa menetes sedikit pun.
Mata emas Airyn membelalak penuh horor sekaligus takjub. Lidahnya mendadak kelu. Pria di depannya melakukan hal yang persis sama dengan pria dalam mimpi buruknya dan hal ajaib yang tak sengaja ia lakukan di dapur kedai pagi tadi.
"Aku rasa ini cukup," ucap Kaelen lembut. "Sekarang, giliranmu."
Namun sebelum Airyn sempat memberikan reaksi atau membalas ucapan itu...
Deg!
Sensasi dingin yang hebat mendadak mencengkeram dadanya. Kepala Airyn terasa seberat batu, pandangannya bergoyang hebat, dan warna di sekelilingnya mendadak mengabur menjadi kegelapan pekat.
"Airyn?!"
Suara teriakan Kaelen terdengar makin jauh dan berinterupsi dengan gema samar dari arah samudra. Hanya tenang dan sunyi mengiringi malam yang semakin larut.