NovelToon NovelToon
PELET LAKNAT 2

PELET LAKNAT 2

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Misteri
Popularitas:662
Nilai: 5
Nama Author: HERMAWAN 505

Ditolak di depan teman-temannya sendiri, harga diri Jaka hancur berkeping-keping. Satu penolakan yang seharusnya cuma luka kecil, kini menjelma dendam yang membutakan.

Demi mendapatkan Dea—perempuan yang menolaknya—Jaka rela menempuh jalan yang tak seharusnya dilalui siapa pun: mencuri, berbohong, dan akhirnya menyerahkan dirinya pada ilmu hitam seorang dukun tua di ujung hutan bambu.

Namun, cinta yang direbut paksa selalu punya harga. Dan harga itu tak pernah berhenti di satu nyawa saja.

PELET LAKNAT 2 — ketika obsesi menemukan jalannya lewat kegelapan, siapa yang benar-benar akan selamat?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HERMAWAN 505, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

KEHAMPAAN JIWA

# PELET LAKNAT 2

## Bab 30: Kehampaan Jiwa

Keesokan harinya, sinar matahari pagi merayap masuk menembus celah-celah ventilasi rumah keluarga Dea. Namun, kehangatan pagi itu sama sekali tak mampu mengusir hawa dingin luar biasa yang masih tersisa di dalam rumah sejak peristiwa mencekam tadi malam.

Dea sudah terbangun dari tidur lelapnya. Ia duduk termangu di tepian ranjang dengan jemari kaku memegang lutut. Tatapan matanya kosong menatap lantai tanah, sementara wajahnya tampak pucat pasi—bibirnya kebiruan menyiratkan sebuah kehampaan besar yang tiba-tiba menggerogoti jiwanya.

Usut punya usut, sejak malam tadi Dea telah menjadi wadah bagi sosok perempuan gaib berpakaian merah kusam yang selama ini terus mengincarnya. Namun, sosok astral itu belum mampu menguasai seluruh jiwa Dea—saat ini baru sekitar delapan puluh lima persen yang berhasil ditaklukkan. Artinya, Dea secara samar masih memiliki sisa kesadaran dan kesempatan untuk berontak melawan pengaruh jahat tersebut.

Sesekali gadis itu memegangi dadanya, mencengkeram erat kain bajunya yang terasa sangat sesak. Napasnya memburu kusam. Di dalam kepalanya, dua suara saling bertabrakan dengan sangat hebat. Suara batinnya yang asli menjerit memohon pertolongan, sementara gema suara asing yang nyaring terus membisikkan satu nama secara berulang-ulang tanpa henti.

"Jaka... cari Jaka... temui dia..."

Namun apalah daya, mulut, telinga, dan gerak-gerik tubuhnya telah sepenuhnya dikuasai makhluk itu. Hanya pikiran, mata, dan perasaan yang masih mampu Dea pertahankan. Air mata bening menetes perlahan menelusuri pipinya dari sudut mata yang tampak hitam sayu. Ia mencoba melawan sekuat tenaga—tangannya gemetar hebat meremas kain sprei tempat tidurnya hingga kusut, berusaha keras mempertahankan sisa kesadaran manusianya yang kini tinggal lima belas persen.

Namun, setiap kali Dea mencoba menolak, rasa panas yang membakar kembali menjalar dari pergelangan kakinya menuju jantung. Punggungnya mendadak menegak kaku, rasa sakit itu begitu menyiksa hingga Dea hanya mampu memejamkan mata rapat-rapat, meneteskan air mata pasrah menahannya.

Perlahan, tubuhnya bergerak kaku di luar kendalinya. Ia bangkit dari duduknya dengan langkah tersendat-sendat, lalu berjalan gemulai penuh keanehan menuju meja rias. Tangannya yang gemetar meraih sisir kayu. Dengan gerakan patah-patah, jari-jemarinya mulai menyisir rambut yang sedikit berantakan, diselingi senyuman tipis nan menyeringai yang tampak begitu kaku dan asing di wajah cantiknya.

Tok... tok... tok!

"Neng! Kamu sudah bangun, Nak?" panggil sang ibu dari balik pintu seraya mengetuk perlahan.

Mendengar panggilan ibunya, kepala Dea berputar kaku dan patah-patah, melirik sekilas ke arah pintu, lalu kembali melanjutkan aktivitas menyisir rambutnya tanpa acuh.

Lantaran cemas melihat tidak ada respons, sang ibu memutar gagang dan mencoba mendorong pintu kamar tersebut. Anehnya, pintu yang semalam terkunci rapat kini justru terbuka dengan sangat mudah, memicu derit engsel yang nyaring.

Saat pintu itu terbuka lebar dan Ibu Nengsih melihat putrinya sedang duduk di meja rias, ia segera melangkah masuk, mempercepat jalannya dan langsung berlutut kecil di samping Dea.

"Neng, kamu kenapa? Ada masalah apa? Coba cerita sama Ibu, jangan dipendam sendiri," tanya Ibu Nengsih lembut penuh keprihatinan, tangannya terulur mencoba mengelus pundak sang anak.

Namun, sebelum jemari ibunya mendarat, Dea berdiri mendadak hingga kursi kayu di belakangnya terdorong keras. Ia berputar dingin, melangkah kaku menuju lemari pakaian. Tanpa sepatah kata pun, jemarinya secara kasar mengacak-acak isi lemari hingga kain-kain berserakan ke lantai. Tangannya terus menggeledah hingga akhirnya menemukan sehelai gaun yang dirasanya cocok, lalu segera mengenakannya melapis pakaiannya di depan sang ibu tanpa memedulikan kehadiran wanita itu.

Melihat tingkah aneh putrinya, Ibu Nengsih hanya bisa terperangah melongo. Mulutnya menganga, tangannya sibuk memunguti pakaian yang berserakan. "Neng, kamu cari apa sih? Yang rapi kalau cari sesuatu, jangan diacak-acak begini," tegur sang ibu seraya menengadah menatap anaknya.

Dea masih tak menghiraukannya. Ia berdiri mematung di tengah kamar, lalu perlahan memutar lehernya kaku dan menatap sang ibu dengan sorot mata yang amat dingin, hampa, dan menusuk kalbu.

Sepertinya mata dan separuh kesadarannya kini makin terhimpit oleh kuasa si makhluk gaib, hingga ia tega bersikap sedemikian kaku dan dingin pada ibu kandungnya sendiri.

"Jaka... aku mau ketemu Jaka!" seru Dea dengan nada datar, monoton, dan menusuk, seraya melangkah kaku keluar dari kamar.

Melihat tingkah aneh anaknya, Ibu Nengsih panik. Ia langsung bangkit berdiri dan berlari kecil mencegat di ambang pintu, merentangkan kedua tangannya. "Kamu mau ke mana, Nak? Jaka... siapa dia?"

"Jaka... aku mau ketemu Jaka!" sahut Dea tanpa raut wajah sama sekali. Dengan dorongan tenaga asing yang sangat kuat dari kedua tangannya, ia menghempaskan sang ibu hingga wanita paruh baya itu hilang keseimbangan dan ambruk terjerembap ke lantai.

Mendapat perlakuan kasar yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya, Ibu Nengsih terduduk lemas meraba sikunya yang kesakitan. Ia hanya bisa meneteskan air mata diiringi rasa pilu mendalam, menatap punggung putri semata wayangnya yang melangkah lurus tanpa menoleh sedikit pun, lalu menghilang di balik pintu rumah.

Sementara itu, Pak Wawan kala itu sudah berangkat ke sawah sejak subuh untuk menggarap padinya yang sebentar lagi memasuki musim panen. Ia sama sekali tak menyadari kekacauan yang tengah melanda rumahnya.

"Nak... kenapa kamu jadi kasar begini sama Ibu?" gumam sang ibu lirih di antara sedu sedan tangisnya, tangannya mengusap dada yang terasa sesak.

Ternyata Dea tak pernah bersikap sedemikian kasar selama ini. Jangankan sampai mendorong ibunya hingga jatuh, bahkan untuk memotong pembicaraan orang tuanya saja ia tak pernah berani. Bukan karena takut, melainkan karena Dea sangat menjunjung tinggi dan menghormati kedua orang tuanya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!