**Naila Kinanti Prasetya** baru delapan belas tahun ketika kedua orang tuanya terbang ke Amerika demi bisnis, lalu menitipkannya di rumah keluarga **Adiwangsa** — keluarga konglomerat yang sudah menjodohkannya dengan putra mereka sejak Naila masih kecil.
Tapi sebelum mereka sempat bertemu, sang tuan muda, **Radhika Arya Adiwangsa**, lebih dulu mengirim tiga aturan lewat WhatsApp:
> 1. Perjodohan ini tidak aku akui.
> 2. Jangan naik ke lantai tiga.
> 3. Jangan dekat-dekat aku.
Naila cuma membalas satu kata: *"oke."*
Enam tahun lebih tua, dingin, dan menyebalkan — Naila pikir "Mas" yang satu ini benar-benar membencinya. Sampai ia sadar: pria yang katanya cuma menganggapnya adik itu diam-diam menanam empat pohon lemon di balkon khusus untuknya, menyimpan diam-diam setiap fotonya sejak kecil, dan menghajar siapa pun yang berani menyakitinya.
*"Katanya jaga jarak,"* Naila mengadu, matanya berkaca-kaca. *"Katanya aku cuma adik…"*
Radhika menyudutkannya ke daun pintu, suaranya rendah dan berbahaya. *"Lari kenapa? Emang Mas bakal makan kamu?"*
…tapi malam itu, Mas ingkar janji.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Awan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 25
Bab 25: Pakta Perjodohan
Radhika bersandar pada pagar balkon. "Soal apa?"
Eyang Notohadi menatap taman yang gelap. "Kamu ingat hubungan keluarga kita dengan Wirakusuma?"
"Ingat."
"Dulu, waktu Eyang dan kakeknya Anindya masih memimpin usaha masing-masing, dua keluarga membuat kesepakatan perjodohan. Ada acara lamaran keluarga, pertukaran cincin sebagai simbol, dan perjanjian tertulis yang disaksikan para tetua."
Pada masa itu, kedua keluarga baru melewati krisis usaha yang sama. Adiwangsa membantu menyelamatkan lahan milik Wirakusuma, sedangkan keluarga Wirakusuma membuka jalur modal ketika salah satu proyek Adiwangsa terhenti. Kesepakatan tersebut lahir sebagai simbol bahwa hubungan mereka tidak akan berhenti pada satu generasi.
"Itu janji antarkeluarga," lanjut Eyang. "Bukan transaksi membeli anak orang. Tapi kehormatan tetap melekat pada janji."
Radhika sudah pernah mendengar cerita itu, tetapi selama ini menganggapnya bagian masa lalu yang tidak akan menyentuh hidupnya.
"Orang yang dipilih waktu itu Mas Damar," katanya.
"Benar. Anindya disiapkan untuk abangmu. Bukan akad nikah, bukan pencatatan negara. Secara hukum mereka tidak pernah menjadi suami istri dan perjanjiannya bisa dibicarakan kembali." Eyang berhenti sejenak. "Tapi bagi dua keluarga, ada nama baik, janji, dan hantaran simbolis yang sudah diterima."
"Kalau bisa dibicarakan, batalkan."
"Sudah pernah Eyang bicarakan dengan keluarga mereka. Mereka masih berharap kesepakatan diteruskan."
"Anindya sendiri bagaimana? Ada yang pernah menanyakan apa dia mau?"
Eyang menatapnya tajam. "Dia tahu ada perjodohan sejak remaja. Keluarganya mengatakan dia bersedia mengenal calon yang dipilih. Keputusan akhir tetap perlu persetujuannya. Sama seperti keputusan akhir tetap milikmu."
"Kalau begitu jangan sebut ini kewajiban yang jatuh kepadaku."
"Persetujuan pribadi dan tanggung jawab keluarga bisa ada pada saat yang sama. Kamu bebas menolak. Tapi kamu juga harus bersedia duduk di depan semua orang dan menjelaskan penolakan itu, bukan menghilang."
Eyang menoleh. "Semudah itu menurutmu?"
"Pernikahan menyangkut dua orang yang menjalani, bukan dua nama keluarga."
"Eyang tidak menyangkal. Tapi keluarga Wirakusuma menjaga kesepakatan itu selama puluhan tahun. Anindya tumbuh dengan pengetahuan bahwa kedua keluarga akan menyatukan hubungan. Sekarang Damar menolak menikah dengan siapa pun."
"Itu keputusan Mas Damar."
"Dan keputusan itu meninggalkan kewajiban keluarga yang belum selesai."
"Kenapa aku yang harus menanggung keputusan abang?"
"Karena kamu bagian dari keluarga yang sama."
"Menjadi bagian keluarga bukan berarti hidup kami bisa saling menggantikan."
Eyang terdiam. Untuk sesaat, wajahnya tidak lagi tampak seperti kepala keluarga yang keras, melainkan seorang kakek yang kehabisan cara menjaga janji lama tanpa melukai cucunya.
"Eyang sudah bicara berkali-kali dengan Damar," katanya. "Dia punya alasan yang belum mau dia jelaskan kepada siapa pun. Eyang tidak akan membuka aib atau memaksanya di meja makan. Tapi pihak Wirakusuma meminta kepastian."
Radhika memahami arah percakapan sebelum Eyang mengatakannya. Rahangnya mengeras.
"Tidak."
"Dengarkan dulu."
"Aku nggak akan menggantikan Mas Damar."
"Kamu adiknya. Ketika anak pertama tidak bisa atau tidak bersedia menjalankan kesepakatan, tanggung jawab keluarga jatuh kepadamu."
Radhika mengeluarkan pemantik perak, membuka tutupnya, lalu menutup kembali tanpa menyalakan api. "Aku belum kepikiran menikah, Yang. Apalagi dengan orang yang hampir nggak pernah kutemui selama bertahun-tahun."
"Kalian teman sejak kecil. Anindya anak baik, berpendidikan, tahu cara menjaga nama keluarga. Ini bukan pasangan asing yang dipilih dalam semalam."
"Teman masa kecil bukan alasan menikah."
"Lalu apa alasanmu menolak sekeras ini?"
Pertanyaan itu membuat empat pohon lemon di balkon lantai tiga muncul dalam pikiran Radhika. Ia melihat Naila memegang gantungan kunci rumah Dago, menangis di dadanya, lalu percaya penuh bahwa Mas tidak akan menyakitinya.
Ia tidak bisa menyebut nama itu di depan Eyang.
"Aku tidak punya rencana menikah sekarang. Itu cukup."
"Ada orang lain?"
Pemantik di tangan Radhika berhenti berbunyi.
"Tidak," jawabnya setelah jeda.
Jawaban itu seharusnya mudah. Namun, bayangan Naila membuat satu kata tersebut terasa seperti dusta yang belum sepenuhnya ia pahami.
Eyang mengembuskan napas panjang. "Anindya lulus awal tahun depan dan pulang. Keluarganya ingin dia belajar dari bawah di salah satu perusahaan yang kamu pegang. Kamu bisa mengenalnya lagi. Tidak ada yang meminta akad minggu depan."
"Aku nggak setuju dia ditempatkan di perusahaanku hanya untuk mendekatkan kami. Kalau dia memang memenuhi syarat, HR bisa menilai seperti pelamar lain."
"Itu yang keluarga Wirakusuma minta juga. Dia nggak mau diberi jabatan karena nama. Dia akan masuk program manajemen dari tingkat awal dan dinilai tim independen."
"Tidak boleh ada laporan pribadinya dikirim kepadaku."
"Baik. Eyang hanya meminta kamu tidak memperlakukannya sebagai musuh sebelum bertemu."
"Bagus. Perlakukan dia secara profesional. Tapi jangan menutup pintu sebelum bertemu."
"Eyang sudah mengatakan perjanjiannya bisa dibicarakan ulang."
"Bisa. Dengan dua keluarga duduk bersama, mengembalikan hantaran, dan menerima akibat sosialnya. Bukan dengan kamu berkata tidak di balkon malam ini."
Suara Eyang tetap tenang, justru karena itu tekanannya terasa lebih berat. Ia tidak mengancam atau memaksa Radhika menandatangani sesuatu. Ia mengangkat sejarah keluarga, kepercayaan antargenerasi, dan rasa malu yang akan ditanggung orang lain.
"Pikirkan baik-baik," lanjutnya. "Damar sudah memilih jalannya. Sekarang kamu harus memahami posisi keluarga."
"Aku memahami posisi keluarga," kata Radhika. "Tapi kalau kesepakatan ini akhirnya menyakiti Anindya atau aku, nama baik apa yang sebenarnya kita jaga?"
Eyang tidak segera menjawab. Dari dalam ruang keluarga terdengar tawa Larasati, sangat bertolak belakang dengan sunyi di balkon.
"Nanti aku pikirkan," jawab Radhika akhirnya.
Itu bukan persetujuan. Eyang mengetahuinya, tetapi memilih menerima jeda tersebut.
Di lantai satu, Naila masih menunggu balasan pesan. Tenggorokannya kering setelah terlalu banyak makan biskuit. Ia mengambil gelas kosong dan keluar menuju dapur.
Suara dari balkon samping membuat langkahnya melambat.
Pintu kaca menuju ruang keluarga terbuka sedikit. Naila tidak berniat menguping. Ia hanya mendengar namanya tidak disebut, tetapi beberapa kata lain menembus celah.
"...perjodohan keluarga..."
Suara Eyang.
"...Wirakusuma sudah menunggu..."
Lalu suara Radhika, lebih rendah. "Aku nggak akan menggantikan Mas Damar."
Naila berhenti di balik dinding.
"Anindya pulang awal tahun depan," ujar Eyang. "Tanggung jawab ini jatuh ke kamu, Radhika."
Gelas di tangan Naila terasa licin.
Perjodohan. Wirakusuma. Anindya. Tanggung jawab Radhika.
Potongan-potongan itu cukup untuk menyusun jawaban yang tidak ingin ia temukan. Anindya bukan sekadar teman sekelas yang pernah memberi pulpen. Ia adalah perempuan yang dipilih dua keluarga sejak kecil.
Naila mundur pelan sebelum salah satu dari mereka melihat. Ia tidak jadi mengambil air. Di tangga, bunyi televisi dan percakapan Damar terdengar jauh, seolah rumah besar itu mendadak dipenuhi air.
Begitu tiba di kamar, ia menutup pintu tanpa suara.
Naila menyandarkan punggung ke pintu. Tangannya masih memegang gelas kosong. Ia baru sadar jemarinya gemetar ketika kaca itu berdenting mengenai gagang pintu.
Ia meletakkannya di meja, lalu berjalan dua putaran tanpa tujuan. Di cermin, ikat rambut ceri pemberian Radhika masih terpasang. Bot baru yang dibelikan lelaki itu berdiri di dekat lemari. Kotak musik khusus wajahnya berada beberapa sentimeter dari gantungan kunci rumah Dago.
Dalam satu hari, hampir semua benda di kamar mengingatkannya pada perhatian Radhika.
Gantungan kunci lemon tergeletak di meja. Beberapa jam lalu, rumah Dago membuatnya merasa akhirnya mempunyai tempat yang tidak akan diambil siapa pun. Sekarang, satu nama yang datang dari empat belas tahun kosong berdiri di antara dirinya dan Radhika.
"Aku cuma adiknya," bisik Naila.
Ia mengulang kalimat itu seperti aturan yang harus dipercaya.
Seorang adik boleh menerima hadiah. Boleh dipeluk ketika sedih. Boleh dijemput, dibelikan sepatu, dan diberi kunci rumah masa kecil. Seorang adik juga seharusnya ikut bahagia jika Mas menemukan perempuan yang cocok.
Lalu kenapa dadanya sesak?
Seharusnya ia senang. Mas Radhika tidak perlu hidup sendirian. Anindya tampaknya berasal dari keluarga baik, berpendidikan tinggi, dan sudah mengenalnya jauh sebelum Naila kembali.
Naila bahkan pernah menawarkan diri mencarikan istri untuk Radhika.
Ia mengingat wajah Larasati yang membeku saat mendengar tawaran itu. Mungkin semua orang sudah melihat sesuatu yang tidak dipahami Naila. Atau mungkin Larasati memang berharap Naila dekat dengan Radhika hanya supaya kelak mudah menerima Anindya sebagai bagian keluarga.
Pikiran terakhir itu terasa tidak adil. Larasati selalu tulus menyayanginya. Naila tahu, tetapi saat hati sakit, dugaan paling buruk datang tanpa diundang.
Namun, membayangkan perempuan lain menerima kopi yang disiapkan Radhika, duduk di sebelahnya saat keluarga makan, atau memperoleh lemon dari empat pohon itu membuat hidung Naila terasa panas.
Janji seratus tahun tiba-tiba terdengar kekanak-kanakan. Radhika dapat tetap menjadi Mas setelah menikah, tentu saja. Tetapi waktunya, perhatiannya, dan rumahnya akan terbagi. Naila tidak punya hak untuk meminta sebaliknya.
Ponselnya berbunyi.
Aturan pertama tetap. Dua aturan lain batal. Kamu boleh naik kalau Mas panggil.
Pesan dari Radhika yang beberapa menit lalu pasti membuatnya berlari naik kini hanya membuat mata Naila semakin panas.
Ia tidak membalas.
Panggilan video masuk. Naila menatap nama `Mas Radhika` sampai dering berhenti. Ia mengetik `ngantuk`, menghapusnya, mengetik `tumit sakit`, lalu menghapus lagi.
Akhirnya ia mematikan layar dan menarik selimut sampai menutupi kepala. Kebiasaan lama kembali dengan mudah: kalau hati sedang berantakan, tersenyum atau diam agar tidak merepotkan siapa pun.
Di balkon, Eyang menepuk bahu Radhika sebelum masuk.
"Anindya cocok buat kamu. Jangan biarkan keras kepalamu merusak hubungan dua keluarga."
Radhika ditinggalkan sendirian. Ia akhirnya menyalakan sebatang rokok di ruang terbuka dan menatap jendela kamar Naila yang tirainya sudah tertutup.
Ia mencoba menelepon sekali dan tidak mendapat jawaban. Radhika mengira Naila tertidur setelah perjalanan panjang. Tidak terlintas di kepalanya bahwa gadis itu baru saja mendengar sebagian percakapan dan menangis dalam diam di balik tirai tersebut.
Di atas kepalanya, bayangan empat pohon lemon bergerak tertiup angin.
Untuk pertama kalinya, janji keluarga yang dibuat jauh sebelum ia dewasa berdiri tepat berhadapan dengan satu-satunya orang yang ingin ia lindungi.