Theo adalah seorang laki laki yang baru saja menikah dengan perempuan bernama Tiara. keduanya adalah pasangan yang bahagia yang tinggal cukup sederhana di Kota. namun ketenangan mereka berubah ketika Thao mendapatkan warisan rumah dan tinggal di rumah tersebut.
keanehan demi keanehan ia alami selama tinggal di rumah tua yang memang sudah terkenal angker sejak lama.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Iephe Tyo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 20
"*Innalillahi wa inna ilaihi raji'un...*" bisik Pak Alwi kaget, seraya memegangi dadanya.
"Ya Allah... Pak Harto meninggal?" sahut Bu Euis tak kalah terkejut. "Kok... kok kalian tidak mengabari Papa sama Mama, Theo? Ya ampun, kami sama sekali tidak tahu..."
"Maafkan Theo, Pa, Ma. Waktu itu situasinya benar-benar kalut dan serba mendadak di desa. Proses pemakaman dan pengurusan rumah cukup menyita waktu, jadi Theo baru bisa cerita langsung sekarang," jelas Theo meminta maaf.
Pak Alwi mengusap wajahnya pelan lalu menepuk-nepuk bahu Theo. "Iya, tidak apa-apa, Nak. Kami mengerti situasinya pasti berat buat keluarga di sana. Papa dan Mama turut berduka cita yang mendalam ya. Semoga almarhum Pak Harto husnul khotimah dan diterima segala amal ibadahnya."
"Aamiin, terima kasih banyak, Pa, Ma," jawab Theo tulus.
"Lalu Tiara sekarang di mana, Theo? Dia baik-baik saja kan?" tanya Bu Euis dengan nada khawatir seorang ibu.
Theo tersenyum menenangkan. "Tiara baik-baik saja, Ma. Justru karena hal ini juga Theo mau menyampaikan sesuatu. Selama seminggu belakangan ini, Theo dan Tiara sudah pindah ke Jawa Tengah, tepatnya di Kabupaten Wonosobo, di desa tempat tinggal Kakung dulu."
Pak Alwi dan Bu Euis saling berpandangan dengan kening berkerut penasaran. "Pindah ke Wonosobo?" tanya Pak Alwi.
Theo mengangguk mantap. "Iya, Pa. Kami berdua sudah sepakat untuk menetap di sana. Selain untuk menemani Uti yang sekarang tinggal sendirian, kami juga berencana untuk merawat dan menjaga rumah peninggalan almarhum Kakung di sana. Makanya kedatangan Theo ke Jakarta kali ini sebenarnya untuk merapikan urusan berkas, pekerjaan, dan saya juga mau titip kunci cadangan rumah di Jakarta ke Mama, sama Papa."
Pak Alwi mengangguk-angguk paham, menyerap penjelasan menantunya dengan bijak. "Keputusan yang mulia, Theo. Kasihan juga Uti kalau harus tinggal sendirian di rumah sebesar itu di usianya yang sekarang. Yang penting kalian berdua sudah diskusi baik-baik dan saling mendukung."
"Iya, Theo. Jagain Tiara baik-baik di sana ya. Udara Wonosobo kan dingin, Tiara suka gampang flu kalau kena dingin," tambah Bu Euis tersenyum hangat, meski matanya menyiratkan rasa kehilangan karena putri mereka kini akan tinggal jauh di Jawa Tengah.
"Iya, Ma, pasti Theo jaga Tiara baik-baik di sana," janji Theo mantap, menentramkan hati Bu Euis.
Setelah berbincang cukup lama dan menerima berbagai nasehat hangat serta petuah hidup dari kedua mertuanya, Theo dan Yayan akhirnya berpamitan untuk kembali ke Jakarta. Pak Alwi dan Bu Euis mengantar mereka hingga ke depan mobil, mengiringi kepergian sang menantu dengan doa dan lambaian tangan.
Mobil SUV hitam itu kembali membelah jalanan malam kota Bekasi menuju kontrakan Theo di Jakarta. Sesampainya di rumah, rasa lelah akibat perjalanan bolak-balik mulai kembali terasa. Theo memutuskan untuk tidak melakukan kegiatan berat malam itu. Ia memanfaatkan waktu untuk beristirahat total dan merapikan beberapa dokumen penting, mempersiapkan mental untuk mendatangi kantornya besok pagi guna mengurus proses pengunduran diri.
.
.
.
Sementara itu, di Desa Bojasari, Wonosobo...
Hawa dingin malam itu terasa jauh lebih menusuk ketimbang malam-malam sebelumnya. Angin gunung berhembus cukup kencang, menggoyangkan dedaunan pohon kelengkeng tua di halaman rumah besar Theo yang merupakan rumah peninggalan almarhum Pak Harto. Suara kerit kayu pintu dan jendela sesekali terdengar, menambah kesunyian desa yang merayap makin dalam.
Di ruang tengah yang dihangatkan oleh secangkir teh jahe panas, Tiara duduk berdampingan dengan Bu Sri di atas sofa dengan pinggiran kayu jati berukir. Di sudut ruangan lain, Jalu sudah tertidur lelap di kamar tamu ditemani Marni, sementara Joko tampak sedang asyik merokok sembari melihat video pendek lucu seperti kebiasaanya di ruang tamu.
Suasana dingin itu perlahan mencair ketika Bu Sri mulai menceritakan kenangan masa lalu. Senyum hangat terkembang di wajah keriput Ndoro Putri tersebut saat mengenang cucu kesayangannya.
"Theo itu waktu kecil masya Allah bandelnya, Tiara..." ujar Bu Sri terkekeh pelan, kenangan lama berputar kembali di ingatan. "Ada saja tingkahnya. Suka memanjat pohon kelengkeng di halaman samping rumah sampai jatuh, mengejar ayam tetangga, bermain sepeda sampai sore, sampai pernah bolos ngaji cuma buat mandi di kali sama anak-anak desa."
Tiara tertawa kecil mendengarnya, membayangkan sosok suaminya yang kini tenang dan dewasa ternyata punya masa kecil yang sangat aktif. "Masa sih, Uti? Mas Theo padahal sekarang kelihatan pendiam dan tenang banget."
"Ah, itu kan sekarang setelah makin dewasa," sahut Bu Sri sambil mengelus tangan Tiara. "Tapi ya begitu... sebandel-bandelnya Theo waktu kecil, kalau almarhum Kakung sudah memanggil atau menegur, dia langsung kuncup. Langsung penurut sekali."
"Sangat patuh ya, Uti, sama Kakung?" tanya Tiara penasaran.
"Sangat," jawab Bu Sri dengan tatapan mata yang menerawang jauh. "Pak Harto itu memang tegas, tapi sayangnya ke Theo luar biasa. Mau se-aktif apa pun Theo main, kalau Kakung bilang 'Theo, sudah, masuk rumah', dia pasti langsung lari pulang tanpa bantahan sedikit pun. Hubungan batin mereka berdua itu memang sangat kuat sejak dulu..."
Bu Sri melanjutkan ceritanya dengan mata yang berbinar-binar gembira, "kalau bicara soal masa kecil Theo, tidak akan lengkap kalau tidak menyebut Rian."
Tiara langsung menyunggingkan senyum lebar begitu mendengar nama itu. "Mas Rian, Uti? Wah, Tiara tahu banget! Kan Mas Rian itu teman satu kantor Tiara sama Mas Theo dulu di bank swasta sebelum Tiara memutuskan resign"
"Nah, iya! Rian yang itu!" Bu Sri tertawa pelan. "Uti senang sekali waktu dengar Theo ajak Rian kerja ke Jakarta. Anak itu dari dulu memang sudah seperti saudara kandungnya Theo sendiri. Ke mana-mana pasti berdua, seperti amplop sama perangko."
Tiara mengangguk-angguk paham, mendengarkan dengan antusias sambil tertawa kecil membayangkan seperti apa tingkah suaminya di saat masih kecil dulu.
"Ada satu kejadian lucu yang Uti paling tidak bisa lupa," kenang Bu Sri sambil menggeleng-gelengkan kepala. "Waktu mereka umur sepuluh tahunan, Theo sama Rian ini pernah ketahuan memancing di kolam ikan gurame milik Mbah Sumo, tetangga sebelah. Pagi-pagi Mbah Sumo pergoki mereka berdua sedang asyik narik pancingan di pinggir kolam."
"Lho, terus bagaimana, Uti? Dimarahi sama Mbah Sumo?" tanya Tiara sambil tertawa kecil.
"Bukannya takut, mereka berdua malah cengengesan," lanjut Bu Sri. "Lucunya, ikan hasil pancingan di kolam itu bukannya dibawa pulang, malah diserahkan kembali ke Mbah Sumo. Dengan wajah polosnya, Theo bilang, *'Mbah, ini ada ikan nyasar dari sungai masuk ke kolam Mbah Sumo, kita bantu pancingin biar tidak kesepian!, ikan di kolam Mbah Sumo kan gurame, ini yang kita pancing ikan Nila, Mbah!'* padahal jelas-jelas itu memang ikan ternaknya Mbah Sumo, karena memang di kolam itu bukan cuma Gurame saja, tapi juga ada Nila nya sebetulnya."
Tiara tak sanggup lagi menahan tawa membayangkan kepolosan dan kecerdikan suaminya waktu kecil bersama Rian. "Ya ampun, ada-ada saja alasannya, Uti!"
"Iya, Mbah Sumo sampai tidak jadi marah dan malah tertawa terbahak-bahak," Bu Sri ikut tertawa renyah. "Apalagi semua orang di desa ini tahu, Theo itu dari kecil paling tidak doyan makan ikan. Mau dimasak apa saja, pasti dilepeh. Jadi buat apa dia susah-susah mencuri ikan?"
"Kalau yang itu Tiara tahu banget, Uti," sahut Tiara di sela tawa bahagianya. "Sampai sekarang pun kalau Tiara masak ikan di rumah, Mas Theo pasti cuma colek sambalnya saja!"
Gelak tawa hangat antara mertua dan cucu menantu itu memenuhi ruang tengah, mengusir sejenak hawa dingin mencekam yang sempat menyelimuti rumah besar peninggalan almarhum Pak Harto malam itu.
Gelak tawa bahagia yang baru saja membumbung di ruang tengah itu mendadak terhenti seketika.
Secara tiba-tiba, sehembusan hawa dingin yang teramat menusuk—jauh lebih dingin dari udara malam Wonosobo biasanya—menyapu ruangan tersebut. Hawa dingin itu bukan datang dari jendela atau pintu yang terbuka, melainkan seolah menembus dinding-dinding kayu tua rumah tersebut. Suasana hangat dan riang seketika menguap, berganti dengan rasa tidak nyaman yang membuat kuduk Tiara dan Bu Sri merinding hebat.
Lampu gantung antik di atas meja tengah kembali meredup perlahan, memancarkan cahaya kekuningan yang samar dan agak redup. Tiara reflek memegang erat lengan Bu Sri, sementara Bu Sri memejamkan mata sejenak sambil mengelus dadanya yang terasa agak sesak.
"Uti... kok tiba-tiba dingin banget, ya?" bisik Tiara dengan suara bergetar, matanya liar memandangi sudut-sudut ruangan yang mendadak terasa makin gelap dan asing.
Belum sempat Bu Sri menjawab, tiba tiba ...
Tiba-tiba hawanya dingin begitu...
🤨🤨🤨
Kira-kira, suara rintihan dari sosok siapa atau apa yang di denger sama neneknya Theo, ya???
🤨🤨🤨🤨🤨