NovelToon NovelToon
When The Extra Writes The Rules

When The Extra Writes The Rules

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Transmigrasi / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: Skyline Scribe

When the Extra Writes the Rules/ Ketika karakter tambahan menulis aturan.

Kisah seorang pekerja kantoran modern Kirana yang masuk ke tubuh Evelyn Rosenberg, karakter figuran kaya raya namun berpenyakit kronis dalam novel fantasi favoritnya.

Karena tahu takdir karakter pendukung dan dunia novel tersebut akan berujung bad ending, Evelyn bertekad mengubah alur dengan memanfaatkan pengetahuan ceritanya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Skyline Scribe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 4 : Lembah Oakhaven.

Matahari sore memancarkan sinar keemasan yang menerobos masuk lewat tirai jendela yang sedikit terbuka.

Di dalam kamar Evelyn, ia sedang bersandar di ranjangnya. Di pangkuannya, bertumpuk beberapa bundel kertas—Laporan Keuangan dan Aset Keluarga Rosenberg kuartal terakhir.

Di ujung sofa dekat jendela, Julian duduk berselonjor dengan satu kaki ditumpangkan ke paha.

Tangan kanannya memegang apel merah yang digigitnya berkali-kali sampai berbunyi krik-krik renyah, sementara mata cokelatnya terus menatap Evelyn dengan dahi berkerut heran.

"Kamu tuh ya, bukannya tidur siang atau baca buku cerita dongeng yang dibeli kemarin, malah bacain lembaran laporan pajak begitu," cetus Julian seraya mengunyah apel.

"Kalau Mama masuk terus liat kamu kaya begini, Kakak yang kena semprot lagi, Lyn."

"Sstt, diam dulu, Kak. Ini penting," gumam Evelyn tanpa berpaling dari lembaran kertas.

"Penting apanya? Itu cuma laporan inventaris tambang sama hasil panen gandum wilayah Selatan," balas Julian sambil berdiri, melangkah mendekati ranjang.

"Lagipula, buat apa kamu pusing-pusing ngurusin ini? Papa punya puluhan akuntan hebat di kantor pusat. Kamu itu tugasnya cuma satu: minum obat, makan yang banyak, terus gemukin badan."

"Akuntan hebat Papa itu bisa aja ketipu kalau musuhnya main bersih di atas kertas," potong Evelyn cepat.

Ia akhirnya mendongak, menatap Julian dengan tatapan serius yang membuat Julian tertegun sejenak.

Julian menghentikan langkahnya, memiringkan kepala. "Maksudmu?"

Evelyn menarik napas panjang. Ia menggeser salah satu bundel berkas ke tepi ranjang, menunjuk sebuah paragraf di lembaran ketiga.

"Coba Kakak lihat ini. Ini laporan proyek investasi baru di Lembah Oakhaven, kan?"

Julian mendekat, menundukkan badan sedikit untuk membaca baris yang ditunjuk jari Evelyn.

"Iya. Lembah Oakhaven. Itu proyek pembelian lahan tambang kristal mana baru yang mau dieksekusi bulan depan. Papa bilang cadangan kristalnya melimpah, bisa bikin pendapatan keluarga naik dua puluh persen tahun ini. Kenapa memangnya?"

Evelyn menyandarkan punggungnya, memejamkan mata sejenak memanggil kembali ingatan dari novel.

Lembah Oakhaven.

Di novel aslinya, peristiwa inilah yang menjadi bencana ekonomi pertama yang menghantam keluarga Rosenberg.

Dalam cerita, Duke Richard tergiur oleh laporan analisis geology palsu yang dibuat oleh Count Malakor—salah satu bangsawan licik yang diam-diam menjadi kaki tangan pihak kerajaan dan Rosalia.

Dalam laporan itu, Oakhaven diklaim sebagai surga kristal mana murni.

Namun kenyataannya, di balik lapisan tanah, terdapat aliran air bernoda sihir hitam yang sangat beracun.

Ketika penggalian skala besar dimulai bulan depan, aliran air racun itu akan meledak, menghancurkan seluruh ekosistem lembah, membunuh ratusan pekerja, dan mencemari sungai utama yang mengaliri lima kota besar di sekitarnya.

Dampaknya di novel? Keluarga Rosenberg dituntut ganti rugi secara gila-gilaan oleh Kerajaan.

Kas keluarga terkuras hampir tujuh puluh persen hanya untuk bayar denda, kompensasi korban, dan pembersihan sihir. Belum lagi reputasi nama baik Rosenberg yang hancur di mata publik karena dituduh lalai dan serakah.

Itu titik awal kejatuhan keluarga ini, batin Evelyn, dadanya berdegup kencang saat mengingat alur tragis tersebut. Dan kejadian itu tinggal tiga minggu lagi dari sekarang!

"Lyn? Kok malah ngelamun lagi? Ada yang aneh sama Oakhaven?" suara Julian memecah lamunannya.

Julian duduk di tepi ranjang, menatap adiknya dengan selidik.

Evelyn menatap Julian. Ia harus berhati-hati. Ia tidak bisa terang-terangan bilang, "Aku tahu ini dari novel yang kubaca di kehidupan sebelumnya!"

"Kak Julian... Kakak pernah dengar cerita atau baca jurnal tentang geografis Lembah Oakhaven tidak?" tanya Evelyn pelan, suaranya terdengar meyakinkan.

"Ya... Oakhaven itu daerah lembah hijau, kan? Dekat pegunungan tengah," jawab Julian agak ragu.

"Bukan cuma hijau, Kak. Tiga puluh tahun lalu, di catatan sejarah tua yang pernah Evelyn baca di perpustakaan, Oakhaven itu bekas arena pertempuran penyihir hitam zaman perang. Daerah itu ditutup rapat dan dikarantina selama bertahun-tahun karena tanah bagian dalamnya terkontaminasi sihir hitam."

Julian menaikkan satu alisnya. "Masa? Tapi para ahli geologi yang disewa Papa bilang tanahnya aman. Mereka bahkan sudah bawa sampel kristalnya ke laboratorium istana."

"Sampel kristal yang cuma diambil dari permukaan!" sela Evelyn gemas.

"Kak, coba pikir pakai logika. Kenapa Count Malakor—yang terkenal pelit dan serakah itu—tiba-tiba berbaik hati mau menjual hak kelola lahan sesubur dan sekaya Oakhaven ke Papa dengan harga yang relatif 'murah'? Kenapa tidak dia kelola sendiri kalau memang menguntungkan?"

Julian terdiam. Ia tampak mulai memproses kata-kata adiknya.

Sebagai calon Duke selanjutnya, Julian bukan orang bodoh. Hanya saja selama ini keluarga Rosenberg terlalu percaya pada reputasi dan koneksi antar bangsawan.

"Kamu... mencurigai Count Malakor sengaja jebak Papa?" bisik Julian.

"Bukan cuma curiga. Evelyn yakin seratus persen dia ngejebak Papa," tegas Evelyn. Ia mengambil selembar kertas catatan kecil yang sudah ia susun sejak pagi.

"Lihat laporan arus kas ini. Count Malakor baru saja menarik semua investasinya dari bank pusat dua minggu lalu. Kalau proyek Oakhaven memang sebagus itu, kenapa dia malah mengamankan aset likuidnya dan menjual lahannya ke kita?"

Julian mengambil kertas catatan itu dari tangan Evelyn, matanya bergerak cepat meneliti angka-angka yang dicatat adiknya.

"Sialan..." umpat Julian lirih, merutuki kebodohan tim akuntan keluarganya yang melewatkan detail sejelas ini.

"Kalau yang kamu bilang ini bener... kalau tanah itu memang beracun dan bisa meledak pas digali... ganti rugi sama denda dari Istana bisa bikin kas Rosenberg kering dalam semalam."

"Bukan cuma kering, Kak. Nama baik Papa bakal hancur. Orang-orang bakal ngira kita sengaja meracuni air kota demi cari untung dari kristal," tambah Evelyn, memperjelas skenario terburuk yang sangat ia hafal dari isi buku.

Julian berdiri dari ranjang. "Kakak mau ke ruang kerja Papa sekarang. Kita harus batalkan perjanjian jual beli tanah itu hari ini juga!"

"Tunggu, Kak! Jangan!" teriak Evelyn refleks, menarik lengan baju Julian.

"Jangan... jangan langsung batalkan begitu saja, Kak," bisik Evelyn, Julian menyimak.

"Kalau Papa langsung membatalkan tanpa bukti konkret, Count Malakor bisa menuntut kita atas pelanggaran kontrak awal. Lagipula, Papa nggak akan percaya gitu aja cuma berdasarkan 'firasat' atau tulisan di buku tua yang Evelyn baca."

Julian menghela napas panjang, mengusap wajahnya yang tegang. "Terus kita harus gimana? Kita nggak bisa membiarkan Papa menandatangani dokumen pelunasan itu minggu depan, Lyn!"

Evelyn mengukir senyuman tipis, yang membuat Julian agak merinding.

"Kita buktikan secara diam-diam," kata Evelyn tenang. "Kakak punya orang-orang yang bisa dipercaya kan?"

"Tentu saja ada. Pasukan Shadow yang Kakak pimpin sendiri."

"Bagus," Evelyn memajukan badannya sedikit, merendahkan suaranya, berbisik lirih. "Kirim dua atau tiga orang paling cerdas dari pasukan Kakak ke Oakhaven malam ini. Jangan cuma ambil sampel tanah di permukaan. Minta mereka bor tanah itu agak dalam—paling tidak sepuluh meter ke bawah—di area dekat aliran sungai utama. Ambil sampel air dan lumpur hitam di dasar tanahnya."

Julian mendengarkan dengan penuh perhatian,

"Setelah dapat sampelnya," lanjut Evelyn, "jangan bawa sampel itu ke laboratorium Istana, tapi ke penyihir atau alchemist netral di pasar gelap wilayah Barat. Minta mereka tes kadar sihir beracunnya. Begitu hasilnya keluar di atas kertas resmi dengan segel alchemist... baru kita serahkan itu ke meja kerja Papa."

Julian terpana. Ia menatap adiknya seolah-olah baru pertama kali melihat sosok gadis di depannya ini.

"Lyn..." gumam Julian dengan kening berkerut. "Kamu... belajar mikir kayak gini dari mana?"

Evelyn tersentak kecil, menyadari dirinya terlalu bersemangat menunjukkan taringnya. Ia buru-buru memasang raut wajah polos dan agak lesu, batuk kecil yang dibuat-buat keluar dari bibirnya.

"Yah... Evelyn kan cuma tidur-tiduran terus di kamar, Kak," cicitnya beralasan sambil memilin ujung selimut. "Karena nggak bisa main ke luar, Evelyn cuma bisa baca buku strategi sama buku sejarah di perpustakaan. Ternyata... berguna juga ya?"

Julian menatapnya selama beberapa detik, lalu helaan napas pasrah keluar dari mulut ksatria muda itu. Ia tersenyum, mengacak-acak rambut Evelyn.

"Berguna banget, Adik Kecil," kata Julian lembut, matanya penuh rasa bangga yang tak tertutup.

"Kamu baru saja menyelamatkan aset keluarga kita dari kebangkrutan. Kalau cara ini berhasil... Kakak bakal belikan apa pun yang kamu mau. Mau istana kecil di pantai? Kakak usahakan!"

"Evelyn cuma mau Kakak selamat dan Papa nggak pusing," jawab Evelyn jujur, menatap kakaknya hangat.

"Pasti. Kakak bakal jalanin rencana kamu malam ini juga," janji Julian tegas.

Ia berdiri, merapikan bajunya, lalu menatap Evelyn dengan raut serius. "Tapi ingat satu hal. Kamu harus janji sama Kakak: jangan kelelahan begini lagi. Laporan-laporan ini biar Kakak yang simpan. Kamu harus tidur sekarang."

"Iya, Kakak Sayang," cibir Evelyn bercanda.

Julian tertawa pelan, lalu mengecup dahi Evelyn singkat sebelum melangkah keluar kamar.

Pintu kamar kembali tertutup rapat.

.

Evelyn menyandarkan kepalanya ke sandaran tempat tidur, menatap langit-langit di atasnya. Dadanya masih terasa agak sesak akibat ketegangan tadi, tapi hatinya terasa begitu puas.

Satu langkah besar telah diayunkan. Bencana ekonomi pertama yang harusnya meruntuhkan kekayaan keluarga Rosenberg kini sudah dipasangi jebakan balik.

1
Fazira
Cassian 😍😍
Fazira
padahal Rosalia di dunia novel ini protagonis, kenapa sifatnya jadi kaya antagonis gini yaa/Doubt/
Fazira
udah Rosalia 🤭
Fazira
Evelyn Evelyn pinter akting yaa🤣🤣
Fazira
Wah Duke Utara 😍
Fazira
Evelyn Evelyn udah badan penyakitan kenapa akting sakit 🤭
Fazira
kehidupan novel dalam novel ya😄
Fazira
wow transmigrasi kak👍
semangat nulisnya 💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!