Aurelia Evandra datang membawa sebuah kontrak.
Bukan untuk ditandatangani olehnya, melainkan oleh Nathaniel Alister—pewaris keluarga Alister yang terkenal dingin dan tak pernah tunduk pada siapa pun.
Semua orang menganggap Nathaniel akan menolak tanpa berpikir dua kali.
Namun, Aurelia datang dengan syarat yang tak bisa diabaikan. Sebuah tanda tangan menjadi awal dari permainan berbahaya yang mempertemukan dua pewaris, dua keluarga besar, dan rahasia yang selama bertahun-tahun terkubur.
Awalnya hanya kontrak.
Hingga perlahan berubah menjadi ikatan yang tak seorang pun mampu putuskan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon masadepan_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Omelan Sarah untuk Aurelia
Tubuh Nathaniel muncul dari balik tembok. Pandangan mereka bertemu, sama-sama tidak mengetahui keberadaan satu sama lain sebelumnya.
Sarah menyadari itu, ia hanya menggelengkan kepalanya kecil.
"Lilia baru saja masuk kamar." Ucap Sarah seraya menatap Nathaniel yang masih berdiri disana.
Pria itu melirik Aurelia sekilas lalu mengangguk kecil. "Baiklah, aku akan menghampiri Lilia." Nathaniel berjalan meninggalkan ruangan menuju kamar Lilia.
Sesaat setelah melihat kepergian Nathaniel. Aurelia melirik tajam ke arah Sarah. Ia benar-benar tidak tahu kalau Nathaniel akan berada di vila ini juga. Ia pikir, di vila ini hanya akan ada Sarah dan putrinya.
"Kamu tidak bilang sebelumnya, Sarah."
Sarah hanya menunjukkan cengiran kuda. Ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Iya maaf, memang apa masalahnya?" Sarah bertanya dengan ekspresi polos. Wanita yang sudah memiliki anak satu itu mengerti arah pertanyaan Aurelia. Namun, ia pura-pura tidak mengerti.
Aurelia menggeserkan letak tasnya. "Jadi ini tempat tinggal tuan Nathaniel atau kamu?" ucapnya langsung bertanya pada intinya.
Sarah menyilangkan kedua kakinya.
"Ini adalah tempat tinggal Nathaniel. Aku sedang menginap di sini karena Lilia sedang merindukan pamannya."
Aurelia menghembuskan napas kasar. "Kalau aku tahu sebelumnya. Mungkin aku tidak akan datang." Ucapnya seraya mengambil secangkir teh tanpa gula.
Sarah mencondongkan tubuhnya. "Karena itu aku tidak memberitahu lebih awal." Ucapnya dilanjut dengan kekehan kecil.
Aurelia meneguk teh itu perlahan, kemudian meletakkan cangkirnya kembali ke atas meja.
Sarah mengambil bantal sofa, meletakkan di atas pangkuan dan memeluknya erat.
"Jadi.... kamu sudah menepati janjimu dengan datang kesini tanpa air mata." Sarah berkata dengan senyuman tipis. Ia membahas perihal topik obrolan mereka tadi di telepon.
Aurelia ikut tersenyum, "Suasana hatiku berubah seketika setelah melihat Lilia. Rasanya...." Aurelia menghela napas sebentar lalu mengembangkan senyum lebar.
"Begitu hangat." Tatapan Aurelia jatuh pada beberapa hiasan di dinding. Ia baru menyadari kalau konsep vila ini jauh sekali dengan selera Sarah. Vila ini sederhana tapi terlihat indah. Sedangkan Sarah.... Wanita itu sangat menyukai suasana yang lebih berwarna. Aurelia baru menyadari hal itu. Mana mungkin seorang Sarah tinggal lebih lama disini.
Sarah berdehem kecil. "Lalu. Hal apa yang membawamu malam-malam kesini?" ucapannya seraya menatap Aurelia serius. Ia bisa melihat sorot mata kesedihan pada Aurelia ketika memasuki vila ini tadi.
Aurelia tidak langsung menjawab. Ia mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan.
"Nathaniel di kamar bersama Lilia. Dia juga tidak akan menguping." Ucap Sarah seolah tahu kekhawatiran Aurelia.
Aurelia tersenyum tipis. Padahal tujuannya bukan seperti itu, ia hanya sedang kagum pada kondisi vila ini yang terbilang sangat rapih dan bersih untuk ukuran vila yang di huni oleh seorang pria.
"Aku tahu." Aurelia tersenyum tipis. Ia duduk tegap dengan kedua kaki yang berjajar rapih di sofa dengan kedua tangan yang bertumpu di atas kedua pahanya.
"Mana mungkin seorang tuan Nathaniel menguping." Aurelia sedikit menyipitkan matanya.
"Itu... Terdengar mustahil." Aurelia tahu Nathaniel adalah seorang klien bisnis yang profesional dan sangat menjaga privasi rekannya.
Sarah mengangguk-anggukkan kepalanya kecil. "Jadi...?" matanya bertanya dengan sorot penasaran. Sarah ingin mendengar Aurelia bercerita dengan jujur, ia sudah siap menjadi tempat cerita bagi Aurelia.
Aurelia terdiam sejenak. Ia sedikit menurunkan kepalanya.
"Aku sudah mengakhiri hubunganku dengan Adriant."
"Demi Tuhan kamu sedang tidak berbohong?" Sarah membelalakkan matanya sembari menutup mulut dengan satu tangan.
Aurelia mengangguk kecil.
"Itu benar, Sarah." Raut sedihnya tidak bisa ia sembunyikan lagi. Seketika suasana hatinya berubah kembali setelah mengingat kejadian tadi.
Sarah masih membeku. Tapi beberapa detik kemudian ia bergerak menggeserkan bantal yang berada di pangkuannya ke sembarang arah.
"Kira-kira apa yang membuat seorang Aurelia memutuskan hubungan dengan Adriant?" Sarah menaruh jari telunjuknya di dagu. Ia bertindak seolah sedang berpikir keras.
"Selama ini kamu sudah sangat sabar dan tidak pernah mau mundur dari hubungan ini."
Aurelia meneguk salivanya, tiba-tiba terlintas dipikirannya adegan Adriant dan wanita tadi. Ia masih diam, matanya memberanikan diri menatap Sarah yang sedang berekspresi serius.
"Adriant selingkuh." Aurelia mengalihkannya pandangannya pada lantai. Ia mereka celananya perlahan.
Sarah tak bereaksi apapun, ia menatap Aurelia dengan hati yang tiba-tiba berdesir. Ada rasa sakit yang dapat ia rasakan ketika mendengar ucapan Aurelia barusan. Ia seakan ikut merasakan apa yang sedang dirasakan Aurelia saat ini.
Sarah menghela napas berat, beranjak dari sofa dan berpindah tempat duduk di samping Aurelia. Ia tersenyum tipis seraya merangkul pundak Aurelia yang bergetar.
"Kamu sudah melakukan hal yang tepat Aurel." Suaranya terdengar rendah namun tersirat keseriusan.
Sarah memperhatikan Aurelia yang tidak bergerak atau melakukan reaksi apapun. Jemarinya mengusap pundak Aurelia perlahan.
"Tidak ada yang perlu di tangisi ataupun di sesali."
Aurelia menatap wajah Sarah nanar. Bibirnya bergetar tiba-tiba, ia memajukan tubuhnya dan berhambur memeluk Sarah dengan erat. Ia kembali merasakan hatinya yang berdenyut sakit. Tidak ada air mata, hanya getaran tubuhnya itu sudah cukup menandakan bahwa yang Aurelia alami bukanlah hal biasa.
"Menangislah jika itu membuatmu tenang, Aurel." Ucap Sarah seraya mengelus surai Aurelia.
Aurelia masih mempertahankan air matanya. Ia hanya membutuhkan ketenangan dalam pelukan Sarah. Matanya terpejam sesaat, suara pancuran air dari kolam di pinggir ruangan terdengar mendominasi. Udara malam ini sudah cukup menandakan bahwa waktu semakin larut.
Aurelia membuka matanya secara perlahan. sesaat setelahnya, ia mengurai pelukan mereka. Matanya menatap Sarah dengan senyum seolah ia berkata bahwa aku masih kuat.
Sarah bergerak menggenggam kedua tangan Aurelia dan meremasnya pelan, ia berusaha menyalurkan kekuatan agar Aurelia jauh lebih tenang.
"Aurelia Evandra." Gumam Sarah dengan intonasi mengabsen.
"Wanita yang memiliki kekuatan super." Lanjutnya seraya terkekeh kecil.
"Nangis Aurelia... Nangis..." Sarah melotot lebar seakan mengancam. Ia tidak pernah melihat secara langsung wanita dihadapannya menangis sesenggukan. Seolah Aurelia adalah superhero yang tidak bisa menangis kecuali dengan orang-orang tertentu.
Aurelia ikut terkekeh, ia melepaskan genggaman Sarah perlahan.
"Aku sudah kenyang menangis di apartemen Adriant tadi." Ucap Aurelia sembari menghembuskan napas berat. Ia membenarkan posisi duduknya kembali.
Sarah menepuk pundak Aurelia pelan, "Kamu menangis di hadapan pria sialan itu?" suara Sarah naik dua oktaf.
Aurelia menggeleng pelan. "Aku bukan menangisi dia..." ia menghentikan kalimatnya dan beralih menatap pembatas kaca ruangan yang menunjukkan kolam ikan dengan pancuran di tengahnya.
"Aku menangisi diriku sendiri, karena baru berani melepaskan dia." ucapnya pelan.
Sarah beralih berdiri.
"Bagus. Kamu sudah sadar, meskipun terlambat." ia berkacak pinggang dan menatap Aurelia bak seorang ibu mengomelinya anaknya.
Aurelia memajukan bibir bawahnya dengan tubuh yang duduk dengan lunglai. Ia sudah siap menerima omelan panjang dari Sarah.
"Kenapa tidak dari dulu, Aurelia?" Jari telunjuknya bergerak di udara.
"Apa kamu baru sadar kalau dia pria bajingan?" Sarah menatap Aurelia dengan kedua alis mengerut tajam.
"Pria brengsek."
"Pria tidak tahu diri."
Tubuh Sarah mondar-mandir tak karuan.
"Tidak tahu di untung." Kakinya berhenti melangkah. Ia menatap Aurelia kembali sesaat setelah berhasil meluapkan emosinya.
"Heii..."
"Kenapa jadi aku yang mengumpat?" Ia mengangkat dagunya.
"Seharusnya kamu yang mengumpat Aurelia?"
Aurelia hanya mengedipkan matanya berulangkali, ia kemudian melipatkan bibirnya kedalam.
"Aku sudah mengumpat di depan wajahnya tadi."
Sarah menyipitkan matanya dengan tubuh yang ia condongkan ke arah Aurelia.
"Apa?"
"Aku sebut dia pria bajingan."
Sarah tertawa dengan puas.