NovelToon NovelToon
Terikat Oleh Perjodohan

Terikat Oleh Perjodohan

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / CEO / Nikah Kontrak
Popularitas:846
Nilai: 5
Nama Author: saphal_tha

#history Romantic
by : Saphal_tha

Anna adalah istri yang tidak pernah Xavier inginkan… sekaligus kelemahan yang tak pernah ia sangka.

Kekayaan, kekuasaan, dan kecerdasan. Xavier Romanov memiliki segala sesuatu yang diimpikan banyak orang. Sebagai seorang CEO muda yang disegani, hidupnya nyaris sempurna, kecuali satu hal yang tidak pernah ingin ia miliki, seorang istri.

Pernikahan tidak pernah ada dalam rencana hidup Xavier, sampai sebuah ancaman pemerasan memaksanya bertunangan dengan wanita yang hampir tidak ia kenal.

Annastasia Clifford ahli waris perusahaan perhiasan sekaligus putri dari musuh terbarunya.

Tidak peduli seberapa cantik atau menawannya wanita itu, Xavier akan melakukan segala cara untuk memusnahkan bukti ancaman tersebut dan membatalkan pertunangan mereka.

Namun satu hal yang tidak pernah ia predeksi akan terjadi, sekarang setelah mendapatkan Anna... ia tidak sanggup melepaskannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon saphal_tha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Anna

Aku tidak bisa tidur. Aku sudah terkapar di tempat tidur tiga jam yang lalu, tubuhku lelah luar biasa, tetapi pikiranku terus berpacu seolah-olah aku baru saja menyuntikkan selusin sloki espresso ke dalamnya.

Aku sudah mencoba menghitung domba, membayangkan tentang Asher Donovan, dan mendengarkan fitur suara tenang yang ada di jam wekerku, tetapi tidak ada yang berhasil.

Setiap kali aku memejamkan mata, bayangan dari pesta pertunangan itu berputar terus menerus seperti pita rekaman yang rusak.

Tangan Xavier di pergelangan tanganku. Usapan jari-jarinya di sepanjang tulang belakangku. Gema suaranya yang berat dan dalam di telingaku.

'Selamat datang dalam gencatan senjata, mia cara.'

Sensasi merinding meledak di sekujur tubuhku. Aku mengerang dan berbalik miring, berharap perubahan posisi ini bisa mengenyahkan ingatan yang terus menghantuiku tentang sentuhan Dante dan suara beledu kasarnya.

Tapi tidak berhasil.

Jujur saja, aku terkejut dia bersedia menyetujui gencatan senjata itu begitu cepat. Kami tidak bertukar lebih dari selusin kata sejak aku meninggalkannya di bangku trotoar setelah pemotretan pertunangan kami, tetapi secara aktif mengabaikannya ternyata jauh lebih menguras energi daripada yang kubayangkan.

Penthouse ini sangat besar, tetapi entah bagaimana kami tetap saja berpapasan beberapa kali dalam sehari, dia keluar dari kamarnya saat aku berjalan menuju kamarku, aku sedang mencari udara segar saat dia menerima telepon di balkon, kami sama-sama menyelinap ke ruang bioskop untuk menonton film larut malam di waktu yang bersamaan.

Salah satu dari kami pasti selalu pergi saat melihat yang lain, tetapi aku tidak pernah bisa berbelok di sudut ruangan tanpa membuat detak jantungku melonjak karena mengantisipasi tabrakan dengan Xavier.

Gencatan senjata adalah pilihan terbaik demi kesehatan mental dan tekanan darahku. Lagipula, satu percakapan tanpa pertahanan yang kami lakukan sejauh ini terasa… menyenangkan.

Tak terduga, tapi menyenangkan. Ada sebuah hati di suatu tempat di balik penampilan Xavier yang pemarah dan selalu bersungut-sungut. Hati itu mungkin hitam dan mengkerut, tetapi tetap ada di sana.

Angka di jamku berganti dari pukul 12.02 menjadi 12.03 dini hari. Perutku mengeluarkan suara keroncongan yang keras pada saat yang bersamaan.

Setelah hanya bertahan hidup dengan segenggam makanan ringan dan Champaign sepanjang hari, perutku akhirnya memprotes.

Aku mengerang lagi. Secara teknis ini sudah terlalu larut untuk makan, tapi…

Masa bodohlah. Lagipula aku juga tidak bisa tidur.

Setelah ragu-ragu sejenak, aku menepis selimutku dan berjinjit keluar dari kamar lalu menyusuri lorong.

Aku sudah bertahun-tahun tidak menyantap camilan tengah malam, tetapi mendadak aku sangat mengidamkan kombinasi makanan favorit lamaku.

Aku menyalakan lampu dapur, membuka kulkas, dan memindai isinya sampai menemukan setoples acar irisan dan semangkuk puding cokelat di rak paling bawah. A-ha!

Aku menaruh barang buruanku di meja island dapur sebelum berburu bahan terakhir.

Pasta kering, bumbu-bumbu, kue kering, keripik rumput laut… aku membuka dan menutup jajaran lemari yang tak berujung, mencari sebuah tabung karton yang khas.

Lemari-lemari itu sangat tinggi hingga aku harus berdiri berjinjit untuk melihat ke bagian belakang, dan lengan serta pahaku mulai terasa pegal. Kenapa Xavier punya ruang penyimpanan sebanyak ini? Siapa coba yang butuh satu lemari penuh berisi minyak goreng?

Kalau aku tidak.......

“Apa yang sedang kamu lakukan?”

Aku melonjak dan menahan jeritan mendengar suara yang tak terduga itu. Pinggulku membentur tepi meja saat aku berbalik dengan cepat, memicu sentakan rasa sakit yang getarannya seirama dengan detak jantungku yang mendadak panik.

Xavier berdiri di ambang pintu, tatapannya tampak heran saat berganti pandang antara diriku dan lemari yang terbuka.

Untuk sekali ini, dia tidak memakai jas dan dasi. Alih-alih, sebuah kaus putih membentang ketat di bahunya, mempertegas bentuk otot-ototnya yang terukir dan kulit cokelat perunggunya yang eksotis. Celana sweatpants hitam menggantung cukup rendah hingga bisa memicu pikiran-pikiran nakal sebelum aku buru-buru menepisnya.

“Kamu mengejutkanku.” Suaraku keluar lebih terengah-engah daripada yang kubayangkan. “Kamu sedang apa bangun jam segini?”

Itu pertanyaan konyol. Sudah jelas dia bangun karena alasan yang sama denganku, tetapi aku tidak bisa berpikir jernih di tengah kabut adrenalin ini.

“Tidak bisa tidur.” Suara berat dan seraknya merayap ke arahku dan berdesir rendah di antara kedua kakiku. “Sepertinya aku bukan satu-satunya.”

Matanya menatap mataku sejenak sebelum pandangannya menyapu tubuhku.

Sensasi dejavu menjalar di sepanjang tulang belakangku, tetapi tidak seperti saat pertama kali kami bertemu, aku menangkap ada retakan pada sikap tak peduli Xavier.

Retakan itu sangat kecil, hanya sepercik bayangan nyala api, tetapi itu cukup untuk membuat perutku berdebar-debar.

Pengamatannya terhenti di bagian pinggangku. Bayangan api itu meluas, menggelapkan matanya dari warna cokelat pekat menjadi hampir sehitam batu obsidian.

Aku melihat ke bawah, dan jantungku tersentak saat melihat apa yang menarik perhatiannya.

Aku tipe orang yang mudah merasa panas saat tidur, jadi aku biasanya memakai kombinasi tanktop sutra dan celana pendek boy shorts ke tempat tidur. Pakaian itu tidak masalah untuk privasi kamarku, tetapi sangat tidak sopan saat berhadapan dengan orang lain.

Celana pendek itu berhenti satu inci di atas pertengahan paha, dan atasanku sempat tersingkap naik saat aku mengaduk-aduk lemari tadi, memperlihatkan bagian kulit bahuku yang cukup terbuka.

Saat aku mendongak lagi, tatapan Xavier telah kembali ke wajahku.

Aku bergeming, takut untuk bernapas saat dia melangkah mendekatiku dengan keanggunan yang tenang namun perkasa dari seekor predator yang sedang mengintai mangsanya.

Setiap langkah kakinya yang lembut bagaikan nyala api lain yang tersulut di ruang antara kami berdua.

Dia berhenti ketika hawa panas tubuhnya menyelimuti tubuhku. Hanya berjarak beberapa inci, begitu dekat hingga aku bisa menghitung setiap rambut tipis yang membayangi rahangnya. “Apa yang sedang kamu cari?”

Nadanya yang santai bertolak belakang dengan ketegangan yang membara di udara, tetapi aku hanya menyuarakan hal pertama yang melintas di pikiranku. “Pringles. Yang rasa klasik.” Tidak ada jawaban yang lebih baik daripada kejujuran.

Aku dengan sigap menarik bajuku ke bawah sementara Xavier mengulurkan tangan ke lemari di atas kepalaku. Hembusan angin kecil dari gerakannya mengusap kulitku. Bulu kudukku merinding, dan sesuatu yang panas bergejolak di perutku.

Dia mengambil satu kalung keripik yang belum dibuka dan menyerahkannya padaku tanpa sepatah kata pun.

“Terima kasih.” Aku memeluk tabung itu, bingung harus melakukan apa selanjutnya.

Sebagian diriku ingin melarikan diri ke dalam kamarku yang aman. Sebagian lainnya ingin tetap tinggal dan melihat seberapa lama aku bisa bermain dengan api tanpa terbakar.

“Pringles, acar, dan puding.” Xavier menyelamatkanku dari kebimbangan mengambil keputusan. “Kombinasi yang menarik.”

Rasa lega mengendurkan ikatan di dadaku. Napasku menjadi lebih mudah sekarang karena aku punya sesuatu untuk difokuskan selain reaksi tubuhku yang spontan terhadap keberadaannya.

“Rasanya enak kalau dimakan bersama. Jangan menghujat sebelum kamu mencobanya.” Aku menguasai kembali anggota tubuhku dan melangkah menghindarinya menuju meja island.

Sentuhan tatapannya mengikutiku, memberikan tekanan yang jelas di bagian punggung bawahku.

Aku membuka kaleng Pringles. Jangan berbalik.

“Maafkan aku. Aku sama sekali tidak bermaksud mempertanyakan pilihan camilanmu.” Jejak nada geli yang datar terdengar dalam suaranya.

Aku mendengar pintu kulkas terbuka di belakangku, diikuti denting sendok garpu dan bunyi klik pintu lemari yang ditutup.

Semenit kemudian, Xavier duduk di atas kursi bar di sampingku.

Mulutku ternganga saat dia mulai meracik camilannya. “Kamu mengejekku karena pilihan makananku, tapi kamu menyiram kecap asin di atas es krim?”

Ketegangan sebelumnya menyurut di hadapan rasa terkejutku. Lupakan bagaimana otot-ototnya meliuk di setiap gerakan atau bagaimana kausnya membungkus tubuh bagian atasnya.

Dia sedang melakukan kejahatan terhadap kemanusiaan tepat di depan mataku.

“Meneteskan, bukan menyiram. Dan jangan menghujat sebelum kamu mencobanya,” ejek Xavier, melemparkan kembali kata-kataku yang sebelumnya. “Aku bertaruh rasanya jauh lebih enak daripada makanan aneh yang kamu buat itu.”

Alisnya terangkat menatap keripik di tanganku, yang sudah kucelupkan ke dalam puding dan kuberi toping irisan acar di atasnya.

Mataku menyipit menerima tantangan tanpa suaranya itu. “Aku ragu.” Aku mengangkat tangannya dan menjatuhkan camilan yang kubuat dengan penuh rasa cinta itu ke telapak tangannya yang terbuka. Dia menatapnya seolah-olah itu adalah potongan permen karet bekas yang menempel di sepatunya. “Ayo kita bertukar dan lihat siapa yang salah dan siapa yang benar.”

Aku menarik mangkuknya ke arahku dengan sedikit meringis.

Aku suka es krim dan aku suka kecap asin..... Tetapi secara terpisah. Beberapa hal memang tidak ditakdirkan untuk dicampur, tetapi aku rela menelannya bulat-bulat demi membuktikan pendapatku.

Yaitu, aku benar, dan dia salah.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!