NovelToon NovelToon
Dear My Destiny (Kepada Takdirku, Bersamamu)

Dear My Destiny (Kepada Takdirku, Bersamamu)

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir / Kehidupan di Sekolah/Kampus / Romansa / Bad Boy
Popularitas:286
Nilai: 5
Nama Author: Bella Kristy Cecilia

Emily adalah seorang remaja cantik yang pintar dan dikenal sebagai juara di SMA Harapan Bangsa. Ia bertemu dengan Sean, seorang pria kaya raya yang hidupnya berantakan.

Mereka mulai saling mengenal dan akhirnya memutuskan menjadi sepasang kekasih. Namun, banyak sekali masalah yang harus mereka hadapi seperti restu keluarga, perbedaan visi dan misi, kepribadian dan pemikiran yang jauh berbeda, dan masih banyak lagi.

Apakah mereka berhasil bersama sampai akhir? Atau mereka memilih menyerah? Ikuti terus kisahnya!

IG = @bellakristyc_
Email = bellakristyc@gmail.com

Note : Author terinspirasi untuk menulis novel ini dari kisah nyata yang digabungkan dengan imajinasi. Apabila ada kesamaan nama tokoh, tempat, dan yang lainnya tidak ada yang disengaja.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bella Kristy Cecilia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tangisan yang Membeku di Zurich

Langit Zurich berwarna abu-abu pucat, menumpahkan gumpalan salju pertama di pertengahan musim dingin yang menusuk hingga ke sumsum tulang. Di dalam studio apartemen kecil berukuran dua puluh meter persegi di sudut distrik Niederdorf, Emily Valencia terisak tanpa suara di atas lantai kayu yang dingin.

Tubuhnya yang kurus dibalut oleh jaket hoodie hitam milik Sean, satu-satunya barang yang menyisakan aroma kayu cendana khas cowok itu. Meski sudah dicuci berkali-kali, Emily selalu membenamkan wajahnya di lipatan kain tersebut setiap kali rasa sesak di dadanya tak lagi sanggup ditahan.

Di atas meja kecil di samping tempat tidurnya, flashdisk hitam dari Sean tergeletak berdampingan dengan ponselnya. Rekaman suara itu sudah diputar ratusan kali. Setiap malam, saat deru angin dingin menghantam jendela kaca apartemennya, suara serak Sean yang membisikkan kata-kata cinta di tengah keputusasaan menjadi satu-satunya pengantar tidur Emily.

Tidak ada pesan masuk dari Ibunya. Tidak ada panggilan menanyakan apakah ia bertahan hidup di negeri orang. Keluarganya di Jakarta benar-benar menganggap Emily telah mati sejak ia menaiki pesawat empat belas jam yang lalu.

"Aku nggak boleh menyerah..." bisik Emily pada kegelapan kamar, mengusap air matanya yang membeku di pipi. "Sean udah korbankan segalanya buat aku di sana. Aku nggak boleh sia-siakan kesempatan ini."

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

Melanjutkan kelas 12 di Gymnasium Zurich—salah satu sekolah menengah paling bergengsi dan ketat di Swiss bukanlah perkara mudah.

Sebagai siswi pindahan dari Asia yang masuk di pertengahan tahun ajaran, Emily harus menghadapi dinding diskriminasi yang begitu tebal. Kurikulum di sana menggunakan bahasa Jerman tingkat tinggi (Hochdeutsch), dengan standar akademis yang jauh lebih berat dibanding sekolahnya di Jakarta.

Hari pertama sekolah menjadi neraka tersendiri bagi Emily.

Di dalam ruang kelas yang bernuansa kayu modern dengan pemandangan pegunungan Alpen di kejauhan, Emily duduk di bangku paling belakang. Siswa-siswi Eropa di kelas itu menatapnya dengan pandangan asing dan dingin. Bisik-bisik dalam bahasa Jerman berseliweran di sekitarnya, mempertanyakan bagaimana seorang gadis Asia kacamata bisa mendapatkan beasiswa penuh dari yayasan privat secara mendadak.

"Emily Valencia?" panggil Herr Weber, guru matematika tingkat lanjut, dengan nada suara kaku tanpa ramah tamah. "Di sini kamu tidak bisa mengandalkan keberuntungan. Jika nilaimu turun di bawah rata-rata dalam satu bulan, beasiswamu akan ditinjau ulang."

"Baik, Herr Weber," jawab Emily dalam bahasa Inggris yang lancar, berusaha menahan getar di suaranya.

Sejak hari itu, hidup Emily berubah menjadi medan perang.

Emily sadar, ia tidak punya pelindung lagi di sini. Tidak ada Sean yang akan mendampinginya saat ia kesulitan, tidak ada lagi ruang untuk bersikap manja atau lemah. Emily membentuk rutinitas yang menyiksa fisiknya: terbangun jam 04.00 pagi untuk menghafal ribuan kosakata bahasa Jerman, menghadiri kelas hingga sore, dan menenggelamkan diri di perpustakaan kota hingga jam tutup pada pukul 22.00 malam.

Rasa lelah yang luar biasa sering kali memicu kesehatannya memburuk. Ada malam-malam di mana Emily harus menahan sakit kepala yang hebat akibat penyesuaian kacamata tebalnya dan kelelahan belajar.

Suatu malam di bulan Januari, saat badai salju menerpa kota Zurich, Emily ditemukan terkapar di antara tumpukan buku akuntansi di sudut perpustakaan. Hidungnya mimisan hebat karena stres dan kelelahan berlebih. Seorang petugas perpustakaan paruh baya yang prihatin harus membantunya bangun dan memberinya secangkir teh panas.

"Kamu terlalu memaksakan diri, Nak," ujar petugas itu iba. "Tubuhmu butuh istirahat."

Emily hanya tersenyum tipis, menyapu darah di atas lembar soalnya dengan tisu. Aku nggak punya waktu buat istirahat, batin Emily. Di Jakarta, Sean sedang menderita di dalam sangkar emas keluarga Wijaya. Setiap detik yang aku buang adalah penghinaan buat pengorbanannya.

Rasa sakit hati dan rindu yang membakar ia ubah menjadi kecerdasan akademis yang mengerikan. Dalam waktu tiga bulan, Emily tidak hanya berhasil menguasai bahasa Jerman, tetapi juga melompati peringkat akademis di Gymnasium Zurich, menduduki posisi pertama dalam ujian evaluasi semester. Guru-guru yang dulu meremehkannya kini menatapnya dengan rasa hormat yang mendalam.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

Meski secara akademis Emily melesat bagaikan meteor, jiwanya tetap hampa.

Setiap minggu, secara sembunyi-sembunyi melalui jaringan internet privat di apartemennya, Emily memantau perkembangan berita di Jakarta. Hatinya bagai diiris sembilu setiap kali melihat foto-foto kemewahan Sean dan Valerie yang beredar di majalah bisnis hiburan.

Di foto-foto itu, Sean selalu mengenakan jas mahal buatan perancang busana dunia, berdiri mendampingi Valerie di berbagai acara jamuan makan malam elit. Namun Emily tahu pasti, mata Sean di foto-foto itu adalah mata seorang tawanan yang kehilangan jiwanya. Sean tak pernah tersenyum sedikit pun.

Emily sering menulis surat-surat panjang di dalam buku diari tebalnya. Ia menceritakan betapa dinginnya salju di Zurich, betapa sulitnya pelajaran akuntansi internasional, dan betapa ia merindukan aroma tubuh Sean saat memeluknya di dalam mobil. Namun, surat-surat itu tak pernah dikirimkan. Emily membakarnya satu per satu di atas wastafel kamar mandi, membiarkan abunya larut bersama air, takut jika komunikasi sekecil apa pun akan membahayakan nyawa Sean dari cengkeraman keluarga Wijaya.

"Bertahanlah sebentar lagi, Sean," bisik Emily tiap kali mengamati foto Sean di layar laptopnya. "Aku sedang merintis jalan buat membebaskan kamu."

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

Enam bulan berlalu. Musim semi menyapu bersih salju di Zurich.

Emily berhasil menyelesaikan pendidikan kelas 12 di Gymnasium Zurich dengan predikat lulusan terbaik (Summa Cum Laude). Prestasi luar biasa itu membukakan pintu ke berbagai universitas ternama di Eropa seperti ETH Zurich hingga Oxford di Inggris.

Namun, Emily mengambil keputusan yang mengejutkan konselor akademisnya. Ia menolak seluruh tawaran universitas di Eropa.

"Kenapa kamu menolak ETH Zurich, Emily?" tanya Herr Weber dengan mata membelalak tak percaya saat mereka berada di ruang kelulusan. "Itu adalah impian ribuan pelajar di seluruh dunia!"

"Saya punya rencana yang lebih besar, Herr Weber," jawab Emily tenang. Wajahnya yang dulu selalu ketakutan kini memancarkan ketegasan yang matang. "Saya butuh batu loncatan yang lebih dekat dengan medan pertempuran saya."

Emily tahu betul: jika ia tetap berada di Eropa, jalurnya terlalu jauh dari jangkauan Asia. Ia butuh membangun jaringan bisnis dan finansial di Asia Tenggara tanpa memicu kecurigaan keluarga Wijaya atau keluarga Anderson di Jakarta.

Pilihannya jatuh pada Malaysia.

Kuala Lumpur adalah salah satu pusat keuangan internasional yang berkembang sangat pesat di Asia Tenggara. Di sana berdiri kampus-kampus cabang universitas ternama dunia dengan program studi International Finance and Investment terbaik. Yang terpenting, Malaysia berada di kawasan strategis yang sangat dekat dengan Indonesia, namun berada di luar hukum dan jangkauan kekuasaan politik keluarga Wijaya.

Di Malaysia, Emily berencana membangun fondasi finansialnya sendiri. Ia akan memanfaatkan kecerdasannya untuk masuk ke dalam dunia pasar saham dan investasi kawasan ASEAN, mengumpulkan kekayaan, reputasi, dan kekuasaan yang mandiri secara perlahan tapi pasti.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

Awal Agustus. Bandar Udara Internasional Zurich (Flughafen Zürich).

Emily berdiri di depan kaca besar terminal keberangkatan, menatap pemandangan kota Zurich untuk terakhir kalinya. Rambut hitam lurusnya yang dulu selalu ia catok keriting kini dibiarkan terurai alami, membingkai wajahnya yang cantik dan elegan. Kacamata tebal berbingkai buruk rupa itu telah berganti dengan kacamata dengan bingkai tipis berdesain modern yang sangat cocok dengan matanya yang tajam.

Gadis penakut yang dulu melarikan diri dari Jakarta sambil menangis sesenggukan kini telah tiada.

Emily merogoh saku mantelmya, menggenggam erat flashdisk hitam dari Sean yang tak pernah lepas dari jangkauannya.

"Panggilan terakhir untuk penerbangan Malaysia Airlines MH-11 tujuan Kuala Lumpur..." suara pengeras suara bandara berkumandang halus dalam bahasa Jerman dan Inggris.

Emily memutar tubuhnya, menarik koper hitamnya dengan langkah kaki yang mantap dan berwibawa menuju garbarata pesawat.

Tunggu aku di Asia, Sean, batin Emily, matanya memancarkan tekad membara yang tak terpadamkan.

"Swiss sudah mengajariku cara bertahan hidup di tengah kedinginan. Sekarang, Kuala Lumpur akan jadi tempat aku menempa pedang untuk menghancurkan semua orang yang sudah merusak hidup kita," ucap Emily dengan wajah seriusnya.

Bersambung......

1
Alia Chans
Hadir atuuu/Smile//Smile/
Bella: haloo kakk, makasihh yaa 🥰 enjoy ceritanyaa 💖
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!