Fitnah keji dan pengkhianatan merebut segalanya dari Nina, seorang gadis desa yatim piatu yang dituduh berzina dan dibuang ke hutan bersama putri kecilnya, Gendis. Di bawah naungan sihir hitam dan racun dendam mertua serta kakak iparnya, Roni, suami yang dulu sangat mencintainya, tega membiarkan mereka ..
Kini, dari kegelapan hutan belakang desa, Nina kembali. Satu per satu, mereka yang terlibat dalam kematian tragisnya akan membayar hutang darah ini dengan nyawa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon UmakAy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5
"Apa?! Roni?! Mengapa dia menghajarmu, Mas? Apa yang kau lakukan sampai membuatnya mengamuk?!" jerit Ruhi histeris, menangkup wajah Herman yang memar dan berdarah.
Saat Herman hendak membuka mulut untuk menyusun kebohongan baru, suara langkah kaki yang mantap mendekat.
"Dia, lelaki brengsek ini berusaha melecehkan istriku, Mbak! Aku melihat dengan mata kepalaku sendiri!" tunjuk Roni tegas dari ambang pintu. Matanya berkilat menatap kakak iparnya dengan jijik. "Dan aku tidak akan mengampuninya. Sekarang juga aku bawa dia ke kantor polisi!"
Seketika wajah Ruhi pucat pasi. Kepanikan menjalar cepat hingga ke ujung jarinya. Ia meninggalkan Herman dan menghampiri Roni, berlutut sembari mencengkeram tangan adiknya.
"Ron, tolong... Mbak mohon, jangan laporkan Mas Herman ke polisi!" tangis Ruhi pecah, suaranya bergetar hebat.
Roni memandang kakaknya dengan tatapan tajam. "Kenapa? Kemarin kalian menuduh Nina yang tidak-tidak. Sekarang, saat aku menyaksikan sendiri kelakuan kotor suamimu, Mbak mau aku diam saja? Aku berhak memenjarakannya!"
Ruhi semakin panik. "Mbak tidak tahu apa yang terjadi! Tapi kalaupun dia salah, Mbak mohon jangan bawa ke polisi. Tolong, Ron Kami baru saja menikah! Bagaimana nasib Mbak kalau dia dipenjara? Masa depan Mbak hancur!" Ruhi memohon-mohon dengan air mata yang bercucuran. "Mbak janji, Mbak yang akan membuat Mas Herman berubah! Tolong beri dia kesempatan, Ron. Kalau perlu, mbak akan minta maaf juga pada, Nina" ucapnya sedikit enggan saat menyebut nama Nina
Melihat tangisan hebat pada wajah kakak perempuannya, benteng pertahanan Roni mulai goyah. Rasa iba sebagai saudara perlahan melunakkan amarahnya.
Ia menoleh pada sang istri yang berdiri di sana.
Roni menghela napas berat. "Baiklah. Kali ini aku tidak akan melaporkannya. Tapi ingat, jika dia menyentuh atau mengganggu Nina lagi, aku tidak akan tinggal diam!"
Ruhi mengangguk cepat. "Terima kasih, Ron. Terima kasih."
Tanpa mengucap kata lagi, Roni menghampiri kemudian menarik tangan Nina berbalik meninggalkan dapur.
Begitu Roni berlalu, Rukmini yang sejak tadi mengintip dari balik tembok bergegas mendekat. Namun, pemandangan di hadapannya justru membuatnya terheran-heran. Ruhi menyapu air matanya, lalu mengukir senyum iblis.
"Ruhi? Kenapa kamu malah tersenyum? Ibu kira kamu menangis sungguhan," bisik Rukmini heran.
"Biasa, Bu. Semuanya gara-gara menantu kesayangan Ibu itu," ucap Ruhi sinis. "Bagus kan aktingku?."
"Najis!!! Kamu sebut menantu kesayangan ibu." "Yang penting mas Roni tidak jadi memanggil polisi." lanjut Ruhi.
Rukmini terkekeh pelan sembari menggelengkan kepala. "Kamu memang luar biasa cerdik." Lanjutnya.
Ruhi kemudian menatap Herman yang meringis kesakitan di lantai. "Sekarang kamu selamat, Mas. Tapi kalau sampai kamu bertindak bodoh lagi, aku sendiri yang akan menyerahkanmu ke polisi!"
Herman hanya mampu mengangguk lemah menahan remuk di sekujur tubuhnya.
Sedangkan di kamar, Roni Tak ingin berlama-lama menghirup udara beracun di rumah itu, mereka langsung berkemas. Tanpa menunggu esok hari, mereka menyeret dua koper besar menuruni anak tangga. Suara roda koper yang bergesekan dengan lantai memancing langkah Rukmini ke ruang tamu.
"Kalian sungguhan mau pergi sekarang?" tanya Rukmini dengan nada angkuh, walau ada rasa panas yang tertahan di dadanya.
Roni menatap ibunya. "Iya, Bu. Sudah cukup. Kami tidak bisa tinggal di sini lebih lama lagi."
Nina berdiri merapat di samping Roni, memilih bungkam untuk menghindari perdebatan. Rukmini menatap menantunya dengan tatapan penuh kebencian yang mendalam.
"Kalian akan menyesal!" desis Rukmini memberi ancaman halus.
"Kami sudah memikirkan segalanya dengan matang, Bu. Permisi," sahut Roni dingin, lalu menuntun Nina melangkah keluar, melewati pintu depan tanpa berpaling lagi.
Melihat punggung anak dan menantunya menghilang di balik pagar, dada Rukmini membara oleh dendam. "Lihat saja, Nina. Kau sudah menghancurkan keluargaku. Kau pikir kau bisa hidup tenang di luar sana? Aku akan memastikan hidupmu hancur!" bisiknya penuh amarah.
*
Perjalanan menuju desa perbatasan terasa begitu menenangkan. Mobil yang mereka tumpangi membelah keheningan malam. Roni tak henti-hentinya menggenggam jemari Nina, menyalurkan rasa aman yang sempat hilang dari istrinya.
"Mulai sekarang, kita bangun rumah tangga kita sendiri ya, Dek. Yang jauh dari tekanan siapa pun. Maafkan mas yang sudah membawamu ke dlama keluargaku." bisik Roni lembut.
Nina tersenyum tulus, mengangguk pelan sembari menyandarkan kepalanya di bahu sang suami.
Ketika roda mobil berhenti di pekarangan rumah tua Nek Nilam, gemericik air sungai dan desir angin hutan menyambut mereka. Roni mengetuk pintu kayu rumah tersebut.
Tak lama, pintu terbuka. Nek Nilam yang berdiri di ambang pintu terperanjat mendapati cucu dan cucu menantunya berdiri membawa koper di tengah malam.
"Nina, Roni? Ada apa ini, Nduk? Kenapa malam-malam membawa koper?" tanya Nek Nilam cemas, matanya berkaca-kaca menatap mereka bergantian.
"Nenek. Kami akan tinggal di sini bersama Nenek," bisik Nina lembut.
Nek Nilam membimbing mereka masuk ke ruang tamu. Di bawah remang cahaya lampu, Nina menceritakan seluruh kepahitan yang dialaminya, tentang perlakuan mertuanya, hingga tindakan tak senonoh Herman yang hampir merenggut kehormatannya.
Airmata Nek Nilam menetes perlahan. Hatinya teriris membayangkan penderitaan cucu yatim piatunya.
"Maafkan Roni ya, Nek. Roni kurang dalam menjaga Nina," ucap Roni penuh penyesalan, menunduk di hadapan wanita tua itu.
Nek Nilam tersenyum tipis, mengusap bahu Roni. "Tidak apa-apa, Nak. Setidaknya kamu berdiri membela istrimu dan memilih jalan yang benar."
Nek Nilam menggenggam tangan Roni erat-erat, menatap dalam manik mata pria kota itu. "Nenek cuma punya Nina. Janji pada Nenek, kamu tidak akan pernah meninggalkan Nina dalam keadaan apa pun?"
Roni mengangguk mantap tanpa ragu. "Roni berjanji dengan taruhan nyawa Roni sendiri, Nek. Apapun yang terjadi, Roni akan selalu menjaga Nina dan tidak akan membiarkannya menderita lagi."
Melihat ketulusan yang memancar dari sorot mata Roni, kecemasan di dada Nek Nilam perlahan sirna.
🤨🤨🤨🤨🤨
UDAH, PINDAH AJA KE DESA NINA, RON...
💪💪💪
🤣🤣🤣🤣🤣
Terus, gimana Ruhi (kakaknya Roni) bisa punya calon suami? Lah wong sikapnya aja seperti itu sama adiknya sendiri...
Dan Nina, karakternya langsung bikin meleleh... 🤭🤭🤭