AL harus pergi dari rumahnya karena di usir oleh orangtuanya, mereka lebih menyayangi adiknya ketimbang dirinya.
Meskipun begitu, ia tatap bangkit untuk bertahan hidup. Takdir berkata lain, ia mendapatkan sebuah sistem yang mengubah hidupnya dan membuat orang tuanya menyesal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon less22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
35 Misi Baru
Al menyelipkan map hitam emas itu ke dalam tas punggungnya, lalu melangkah santai menuju ruang kepala sekolah.
Rendy berjalan di sampingnya, mengamati wajah Al yang sama sekali tidak menunjukkan rasa cemas.
Di depan pintu berukir kayu jati bertuliskan Ruang Kepala Sekolah.
Tok! Tok! Tok!
Rendy mengetuk pintu tiga kali. Sebelum sempat ada jawaban dari dalam, pintu sudah tertarik terbuka dari dalam.
Pak Hilman, Kepala Sekolah SMA Garuda, berdiri di ambang pintu dengan dahi basah oleh keringat dingin. Dasinya sudah melonggar dan kemejanya agak kusut.
"Kalian... masuk, cepat masuk!" panggil Pak Hilman panik, mengarahkan pandangannya ke kiri dan kanan koridor untuk memastikan tidak ada siswa lain yang memperhatikan.
Begitu pintu ditutup rapat dan dikunci dari dalam, Pak Hilman langsung menghampiri Al dengan wajah pucat.
"Al! Kamu tahu apa yang baru saja terjadi di luar?!" seru Pak Hilman, suaranya bergetar menahan tekanan.
"Dua puluh menit lalu, media nasional menyiarkan bukti korupsi Pak Dion ayah Deno! Pihak dinas pendidikan terus menelepon saya, dan polisi sudah menunggu di gerbang! Bagaimana mungkin dokumen internal komite bisa bocor secepat itu?!" katanya dengan pelan tapi penuh dengan amarah.
Al berjalan tenang mendekati sofa kulit di tengah ruangan, lalu duduk tanpa diminta.
Ia menyilangkan kakinya dengan santai, menatap Pak Hilman yang masih berdiri gemetar.
"Bukannya bagus, Pak?" tanya Al datar. "Kanker di sekolah ini akhirnya diangkat sebelum makin menjalar."
"Bagus kamu bilang?!" Pak Wijaya mengusap wajahnya kasar, lalu menggebrak meja kerjanya dari jauh.
"Nama baik sekolah ini dipertaruhkan, Al! Pak Dion itu donor terbesar untuk pembangunan gedung baru dan fasilitas olahraga kita. Kalau dia ditangkap, pengerjaan gedung perpustakaan digital bakal terbengkalai! Belum lagi citra sekolah di mata para investor!" kata Pak Hilman merasa pusing.
Ting!
[Misi Baru]
[Tanam investasi di sekolah]
[Status Misi sedang berlangsung]
"Wow, aku dapat misi, hm... ini pasti akan berguna sekali di mana depan," gumam Al tersenyum.
Rendy yang berdiri di dekat rak buku akhirnya bersuara, "Pak Hilman tenang dulu. Al tidak akan bertindak sejauh ini tanpa menyiapkan solusi."
Pak Hilman menoleh cepat ke arah Rendy, lalu beralih menatap Al dengan mata membelalak. "Solusi apa?! Uang komite yang diembat Pak Lukman itu nilainya ratusan juta! Siapa yang mau menutup lubang sebanyak itu dalam waktu singkat?!"
Al merogoh tasnya, mengeluarkan ponselnya.
"Berapa ratus juta memangnya yang di perlukan, aku akan berinvestasi 400 juta, dan juga masalah Pak Dion yang korupsi, sita aset yang dia punya, dia bahkan berhutang pada ku untu perbaikan sepeda motorku, dan biarkan dia mendekam di penjara. Kenapa Anda mesti panik," kata Al menatap Pak Hilman tanpa ada tekanan.
"Anda bisa jua Asetnya sebagai ganti rugi, dan menutup dana yang dikorupsi Pak Dion. Dana itu akan merenovasi seluruh fasilitas sekolah, melunasi tunggakan beasiswa ratusan siswa, dan membangun laboratorium sains tercanggih di sekolah ini. Saya akan membantu mengurusnya, dan saya jamin, besok selesai. Sebagai gantinya, posisi Ketua Komite Sekolah resmi diisi oleh orang yang benar-benar jujur," sahut Al sambil mengulas senyum tipis.
Pak Hilman menelan ludah dengan susah payah. Ia menatap Al seolah Al sangat genius.
"Kamu... sebenarnya siapa, Al?" tanya Pak Wijaya dengan suara yang nyaris tak terdengar. "Anak biasa tidak mungkin bisa melakukan hal ini."
Al berdiri dari duduknya, merapikan lipatan seragamnya yang sedikit kusut, lalu menatap sang Kepala Sekolah lurus-lurus.
"Siapa saya, itu tidak penting, Pak Hilman. Yang penting adalah, mulai hari ini, sekolah ini berjalan sesuai aturan Saya. Kalau Anda bijak, Anda tahu pihak mana yang harus Anda dukung," kata Al penuh penekanan.
Pak Hilman terdiam membisu, tak lama ia mengangguk pelan tanpa sanggup membantah sepatah kata pun.
Al berbalik dan berjalan menuju pintu. Sebelum keluar, ia menoleh sedikit ke arah Rendy.
"Rendy, sebagai OSIS, jika ingin meraih prestasi, urus konferensi persnya bersama humas. Pastikan nama baik sekolah dibersihkan," kata Al yang membuat Randy mengangguk patuh, entah aura apa yang di bawa Al sehingga perintahnya di turuti.
"Siap, Al," jawab Rendy dengan anggukan mantap.
Al melangkah keluar dari ruangan itu.
Randy mengarungi kepalanya yang tidak gatal. "Aneh, kenapa aku mengikuti perintahnya? Tapi sudahlah, ini juga bagus untuk ku," kata Randy tidak terlalu ambil pusing.