Kinan harus memilih antara dua pilihan yang ada. Apakah dia akan terus bersembunyi dalam musim dingin yang damai atau berani melangkah menghadapi kenyataan yang sempat ia sangkal dan merasakan sesuatu yang baru. Karena terkadang, kita harus kehilangan segalanya agar kita bisa benar-benar menemukan jati diri.
Lux in Winter yang akan berisi 40 chapter ini, bukan hanya sekedar kisah tentangnya semata. Ini adalah sebuah perjalanan panjang melepaskan, mencintai dan menemukan cahaya di tempat yang paling tidak terduga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ryn Takumi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 20 - Puspa
Sinar matahari pagi tak mampu menembus gorden putih tebal yang tertutup rapat. Dengan raut wajah yang masih dilanda kantuk berat, Romi duduk termenung di ranjang sebuah kamar hotel mewah. Di belakangnya, tampak seorang cewek yang masih terlelap tidur di bawah balutan selimut putih tebal di tengah pakaian yang tercecer tak beraturan di atas lantai.
Jarum jam dinding sudah menunjuk angka sembilan pagi, namun kelopak mata Romi masih tampak begitu berat. Kepalanya berdenyut nyeri akibat efek alkohol, dan napasnya masih menyebarkan aroma minuman keras. Tangan kirinya menggenggam ponsel yang menempel ke telinga, menanti jawaban panggilan telepon seseorang.
“Ada apa?” ujar seseorang
"Yah, aku butuh duit sekarang. Sepuluh juta aja," gerutu Romi sembari memijat pelipisnya yang pening dan mengacak rambutnya yang kusut.
Dari seberang telepon, suara ayahnya menyambar datar dan penuh nada curiga. "Apa?! Kamu mau minta uang lagi? Minggu lalu baru aja Ayah transfer dua puluh juta!"
Romi mengendus kasar, bola matanya melirik ke arah jendela yang tertutup. "Ya udah habis, Yah. Wajarlah duit segitu udah abis, namanya juga anak muda. Ayolah, Yah… butuh banget ini."
Suasana hening menegang sejenak di seberang telepon. Hingga kemudian, suara sang ayah meledak—terdengar lebih keras dan dingin dari biasanya.
"Romi, Romi! Kamu pikir nyari uang itu tinggal metik di pohon, hah?! Kamu pakai buat apa uang segitu sampai habis gak ada seminggu?!"
Romi tertegun kaku. Biasanya ayahnya tak pernah membentak sekeras ini jika menyangkut soal uang. Sejak kecil ia memang terbiasa hidup dimanjakan dalam kemewahan dengan segala fasilitas, terutama karena sang ibu selalu pasang badan mendesak ayahnya untuk menuruti segala keinginan anak tunggal mereka itu.
Ayah Romi bukanlah orang sembarangan. Beliau adalah salah satu pejabat daerah yang cukup terpandang di kotanya. Karena posisi politik itulah sang ayah sebisa mungkin tak ingin ambil pusing dengan kelakuan buruk putranya itu dan selalu mengalah serta menutupi semua kekacauan Romi agar nama baik keluarganya tak tercoreng di depan publik.
Romi terdiam kaku di tepi ranjang. Kepalanya terlalu pusing untuk memutar otak dan mencari alasan baru.
"Ayah lagi ada urusan dinas ke luar kota. Jangan ganggu kalau cuma mau merengek minta uang gak jelas atau hal gak penting lainnya! Kamu cari uang sendiri pakai caramu sendiri, dan jangan pernah pakai alasan konyol yang sama untuk kedua kalinya!"
Tuuut!
Panggilan diputus sepihak.
Romi menatap layar ponselnya yang mendadak gelap. Rahangnya mengeras, tak menyangka permintaannya ditolak mentah-mentah oleh sang ayah. Jemari tangannya mengepal erat hingga memutih. Matanya terpancar amarah yang begitu besar dan frustasi hebat.
Tak sanggup menahan diri, Romi melempar bantal ke dinding sembari berteriak keras. Teriakannya membuat ceweknya di atas ranjang tersentak bangun dengan mata mengantuk dan raut linglung. Romi pun beranjak bangkit tanpa memerdulikan cewek itu, menyambar bajunya yang tercecer di lantai, lalu melangkah keluar ke koridor hotel, meninggalkan ceweknya sendirian.
Brak!
Suara hentakan kaki telanjang dan benturan keras badan di atas matras memenuhi ruangan dojo siang itu.
Nathan berdiri tegap di tengah area latih tanding, napasnya berembus beraturan namun sorot matanya tak sefokus biasanya. Keringat mengucur deras di pelipis hingga membasahi pakaian judogi-nya. Kali ini ia berhadapan dalam sesi randori melawan rekan latihannya yang memiliki tingkatan sabuk sepadan.
Di atas kertas, pertarungan ini seharusnya bisa ia menangkan dengan cukup mudah. Siapa pun yang menyaksikan di pinggir matras pasti sudah bisa mengira siapa yang akan menang. Namun hari ini, ada yang kembali berbeda dari Nathan. Gerakannya lambat sekian detik, dan pikirannya benar-benar sedang berkelana entah kemana.
Pertandingan itu awalnya berjalan seimbang. Beberapa kali lawan di depannya mampu memberi perlawanan alot yang cukup merepotkan Nathan. Namun, hanya karena sepersekian detik ia lengah dan kehilangan fokus, momen singkat itu sudah lebih dari cukup untuk mengubah keadaan.
Tiba-tiba tubuhnya terangkat ke udara, lalu dibanting telak ke atas matras dengan teknik kuncian ippon yang bersih.
“Dug!”
Suara itu cukup keras memecah ketegangan, diiringi kejapan mata kaget dari rekan-rekan dan pelatih yang tak percaya dengan apa yang baru saja mereka saksikan.
“Point!” seru sang pelatih tegas.
Nathan terdiam berbaring menatap langit-langit dojo sejenak sebelum bangkit mengambil posisi duduk. Keringat mengalir dari dahinya hingga menetes ke permukaan matras. Ia lantas tersenyum kecil sembari memejamkan mata, mengakui kekalahan telaknya.
Kekalahan kali ini sejatinya mirip dengan kejadian hampir tiga bulan yang lalu—dimana ia kalah akibat kehilangan fokus dan kecolongan bantingan. Namun kali ini, Nathan sangat tahu bahwa akarnya berbeda, merasa penyebabnya tidaklah sama dengan yang dulu.
Lawannya mengulurkan tangan ke arah Nathan, berniat membantunya berdiri. Meskipun sang lawan sendiri tak menyangka mampu mengalahkan Nathan, sorot matanya justru tak menyiratkan rasa puas dan merasa bahwa hari ini ia sedang tak melawan Nathan yang biasanya ia kenal.
Nathan menyambut uluran tangan itu, hanya mencoba tersenyum tipis, dan mengucapkan terima kasih. Tanpa banyak kata, Ia kemudian melangkah menuju pinggir matras.
“Tumben,” cetus Elena yang duduk tak jauh di sampingnya, memandangi Nathan yang tengah duduk menyender santai pada dinding dojo sembari mengelap keringat. “Biasanya kamu yang bikin orang kepayahan buat berdiri.”
Nathan menoleh sekilas, lalu tersenyum tipis. “Lagi kehilangan fokus sesaat.”
Elena menatap Nathan lebih tajam, menangkap seulas senyum di bibir cowok itu yang tak biasanya ada pasca-kekalahan. Ia menyipitkan mata dengan raut curiga. “Kayaknya penyebabnya beda sama kekalahanmu beberapa bulan yang lalu, deh. Sekarang apa yang—”
Nathan sudah buru-buru mengalihkan pandangan sebelum Elena sempat menyelesaikan kalimatnya. “Entahlah. Aku sendiri juga gak begitu paham.”
Apapun alibi dari Nathan, nada bicaranya sama sekali tidak menyiratkan seseorang yang tertekan atau pusing karena suatu masalah. Elena sejatinya menyadari perubahan sikap Nathan sejak awal cowok itu menginjakkan kaki di dojo hari ini.
Namun, Elena tetaplah Elena. Ia tak berniat ambil pusing dengan semuanya dan kembali memfokuskan perhatiannya menyaksikan laga latih tanding selanjutnya.
Sementara itu, di balik tatapan kosongnya, Nathan mulai tak bisa membohongi dirinya sendiri. Ia mengambil kesimpulan sementara bahwa mungkin penyebab pikirannya seperti saat ini karena satu sosok—Kinan. Meski begitu, jauh di dalam hatinya, Nathan masih berusaha menampik perasaan itu.
Malam harinya…
Seusai melepas lelah setelah seharian bekerja di akhir pekan yang begitu ramai, Kinan akhirnya bisa merebahkan diri di atas kasur. Seragam kerjanya sudah tergantung rapi di balik pintu. Rambutnya masih sedikit basah, terbalut gulungan handuk setelah mandi malam.
Kinan mengenakan baju tidurnya yang nyaman. Ia menghela napas lega yang panjang layaknya seseorang yang baru saja terbebas dari beban berat. Kemudian ia meraih ponsel yang tergeletak di sebelahnya.
Grup chat yang berisi dirinya, Alya dan Mika malam itu terasa lebih hidup dari biasanya. Mika mengirim beberapa foto saat ia sedang menikmati makan malam bersama keluarganya di sebuah restoran.
Kinan perlahan membuka foto itu satu per satu, menyimak jajaran obrolan yang masuk. Sambil menggigit bibir bawahnya ragu, ia mengirim sebuah foto kafe kekinian ke grup. Tepat setelah foto terkirim, Kinan langsung menutup kedua matanya dengan tangannya yang masih memegang ponsel dengan dada berdebar.
Tak butuh waktu lama, Alya dan Mika pun langsung nimbrung menanggapi.
Alya: Kafe?
Mika: Ini kan kafe yang di deket sekolahku dulu! Tiba-tiba banget Kinan ngirim foto itu.
Alya: Wah, wah… bau-bau sesuatu nih!
Semenit kemudian, Kinan menyadari ponselnya tak berhenti bergetar menandakan rentetan notifikasi masuk. Dengan keberaniannya, Kinan memberanikan diri mengetik pesan balasan.
Kinan: Minggu depan aku mau ngajak dia ke sini sebagai ucapan terima kasih. Menurut kalian, cocok gak?
Mika: DIA?! SIAPA?!
Alya: Bentaaaar... Minggu depan? Sama siapa? Cowok?!
Kinan: Ya Nathan… Siapa lagi?
Indikator typing dari Mika dan Alya langsung muncul bersamaan di layar, disusul bubble chat singkat yang datang beruntun.
Mika: HAAAAAAAAAH?!
Mika: Serius?!
Mika: Gak bercanda, kan?!
Alya: Heh??? Demi apa?!
Mika: Kinan ngajak Nathan ngedate? Gila sih, keren banget dah!
Alya: Seriusan nih?
Kinan: Heh!!! Ini bukan kencan atau semacemnya, ya. Ini cuman buat sebagai ucapan terima kasih aja buat waktu itu.
Mika: Apalagi namanya kalo bukan kencan coba? Keluar berdua ke kafe! KINAN BENERAN LAGI JATUH CINTAAAAA~
Kinan: Gak, Mik! Sumpah! Cuman… ya, bentuk terima kasih aja. Gitu.
Alya: Yang bilang cinta siapa, yang panik siapa. Hmmm~
Kinan memelototi layar ponselnya yang dipenuhi ejekan manis itu, lalu serta merta mengubur wajahnya dalam-dalam ke balik bantal. Kedua pipinya panas sendiri, meski ia terus memberi tahu bahwa niatnya tak lebih dari sekadar berterima kasih.
Namun, jika memang sebatas itu… mengapa dadanya terus berdebar hebat dan tak karuan seperti ini?
Keesokan malamnya, Nathan baru saja sampai di kos. Saat ia memutar gagang pintu dan membukanya, pandangannya mendapati sosok yang tengah duduk serius di sofa ruang tamu. Bukan Riki, bukan pula Devan. Orang itu adalah Derry—salah satu dari empat teman satu kosnya.
Derry memang tipe orang yang sangat berdedikasi pada perkuliahan dan tugas-tugas akademisnya. Ia terbilang jarang berkumpul dengan yang lainnya di ruang tamu, lebih sering berdiam diri di kamar untuk berkutat dengan tugas atau hanya sekedar membaca buku.
“Tumben?” tegur Nathan, tampak sedikit terkejut melihat temannya itu memilih mengerjakan tugas di ruang tamu.
“Lampu di kamar lagi mati,” sahut Derry singkat tanpa mengalihkan pandangan dari buku.
Nathan manggut-manggut paham lalu melangkah menuju area dapur. Tak lama berselang, ia kembali ke ruang tamu membawa segelas air putih dingin dan sebuah piring kosong. Nathan duduk di sofa seberang Derry, memindahkan beberapa potong martabak telur yang baru dibelinya ke atas piring.
“Makan aja, Der,” tawar Nathan santai sembari menggeser piring itu ke tengah meja.
“Ah, makasih.”
Keheningan yang canggung perlahan muncul di antara mereka, hanya diselingi jemari Derry yang membalik halaman buku. DI tengah keheningan itu, Derry mendadak menoleh ke arah Nathan yang tengah meneguk air. Dari raut wajahnya, ada hal yang ingin ia katakan, namun ia sempat tampak ragu dan hendak mengurungkannya.
Sesaat kemudian, Nathan menyadari tatapan itu dan ikut menoleh. Hal tersebut akhirnya membuat Derry membuka suara.
“Nath.”
“Hmm?” sahut Nathan.
“Semester ini kau udah mulai skripsian kan, ya?” tanya Derry pelan.
Nathan hanya mengangguk pelan sembari meletakkan gelasnya ke atas meja.
Keheningan kembali merayap di antara mereka. Nathan melirik Derry sekilas. “Harusnya bakal selesei minggu ini. Napa?” lanjut Nathan membuka obrolan.
Derry tampak sedikit kaget, tak menyangka progres skripsi Nathan sudah sejauh itu. “Ah, gak apa, sih. Tanya aja.”
“Oh…”
Lagi-lagi tak ada kelanjutan topik pembicaraan di antara mereka. Jarum jam dinding di ruang tamu sudah menunjukkan angka setengah sepuluh malam—hanya detik suara dentingnya memecah kesunyian. Namun, keheningan itu mendadak buyar oleh bunyi dering notifikasi pesan masuk dari ponsel Nathan.
Nathan segera mengulurkan tangan meraih ponselnya di tergeletak atas meja, lalu membukanya.
“Aku mau ngajak kamu ke kafe, buat tanda terima kasih aja karena udah bantu aku kemaren hari. Kalo kamu bersedia sih. Rabu depan kamu sibuk, gak? Aku harap sih kamu gak keberatan meluangkan waktu bentar.”
Nathan membaca deretan kalimat dari Kinan itu di dalam hati. Sesaat kemudian, tanpa bisa ditahan, sebuah senyum tiba-tiba terukir di bibirnya.
Beberapa menit sebelumnya…
Kinan rebahan di kasur kamarnya. Ia bahkan belum sempat mengganti seragam kerjanya. Wajahnya menyiratkan raut gusar dan gundah luar biasa. Kelopak matanya beberapa kali mengedip pelan, lalu berubah melamun. Tak lama berselang, ia tersenyum malu-malu sendiri sebelum buru-buru menutupi wajahnya yang memerah menggunakan bantal.
Sudah lebih dari lima belas menit Kinan masih berkutat dengan ponselnya—mengetik pesan, menghapusnya lagi, meletakkan ponsel di dada, lalu tersipu-sipu sendiri bak orang aneh.
Ia kembali meraih ponselnya dan mengetik ulang. Namun, beberapa detik kemudian, jemarinya dengan panik menekan tombol hapus hingga seluruh isi pesan bersih kembali. Ia kembali menghempaskan ponselnya ke kasur.
“Aduuh… napa jadi kayak ngajak kencan, ya? Gimana biar nanti dia gak salah sangka.”
Kinan beranjak duduk dan menyambar salah satu bonekanya untuk di sudut kasur lalu memeluknya erat-erat. Dari tadi kepalanya rasanya mau pecah hanya demi menyusun pesan singkat untuk Nathan.Dengan membulatkan tekad, Ia lalu kembali mengulurkan tangan meraih ponsel, mulai mengetikkan pesan ajakan itu sekali lagi.
“Apa gini aja ya? Kayaknya keliatan normal-normal aja. Semoga aja dia gak mikir aneh-aneh,” gumam Kinan dalam hati.
Kinan mengumpulkan tekad dan memberanikan diri untuk mengirim pesan ajakan untuk keluar bareng ke sebuah kafe tersebut kepada Nathan. Jemarinya menekan tombol kirim. Tepat setelah tanda terkirim muncul, ia serta-merta melempar ponselnya ke kasur dan menutupi seluruh wajahnya menggunakan boneka.
Kembali ke saat kini…
Di ruang tamu kos, Nathan memutuskan beranjak dari sofa menuju kamarnya, meninggalkan Derry yang mengerjakan tugas sendirian. Sesampainya di kamar, Nathan memandangi isi pesan dari Kinan itu untuk beberapa saat. Jujur saja, ia sendiri sempat bingung dan canggung menentukan membalas yang pas.
Setelah berdiam diri sejenak, ia mulai mengetik untuk sebuah balasan singkat.
“Jam berapa?”
Selesai merespons, Nathan meletakkan ponselnya di atas meja, lalu melangkah ke lemari untuk mengganti pakaiannya.
Sementara itu di kamarnya, Kinan masih dilanda hati berdebar saat menantikan balasan dari Nathan. Hingga akhirnya, sebuah notifikasi pesan terdengar dari ponselnya. Dengan gerak cepat, ia meraih ponselnya dan membaca pesan balasan dari Nathan tersebut.
Rasa waswas dan cemas yang tadinya menyesaki dadanya sekarang meleleh menjadi senyum lebar.
“Hmm… jam berapa ya? Sore aja? Atau sekalian malem? Tapi kayaknya sore aja deh,” batin Kinan bernegosiasi dengan dirinya sendiri. Dengan sigap, jemarinya membalas pesan Nathan.
“Gimana kalo sore jam 3. Bisa?”
Nathan yang sudah berbaring di kasur langsung sigap meraih ponselnya sesaat setelah terdengar notifikasi pesan masuk.
“Tiga sore, ya?” gumamnya. Nathan langsung mengetik balasan singkat.
“Bisa.”
Kinan sedikit tersedak saat mendapati notifikasi balasan dari Nathan masuk jauh lebih cepat dari pesan-pesan sebelumnya. Seketika itu pula, rona bahagia berbunga-bunga terpancar jelas di wajah cantiknya.
“Okey, sampai ketemu hari Rabu di Arima Cafe.”
Akhirnya Kinan bisa menghela napas panjang dan merasa begitu lega. Ia berkali-kali memberi tahu dirinya bahwa ini bukanlah kencan, hanya sebuah bentuk terima kasih pada seseorang yang sudah membantunya, tak lebih dari itu.
Sementara di kamarnya, Nathan terlentang seolah ada serangkaian hal yang menari-nari di benaknya, namun ia sendiri bingung mendefinisikan apa yang sebenarnya sedang ia pikirkan. Menghentikan kebingungannya sendiri, Nathan menarik selimut lalu memilih memejamkan mata untuk tidur.