Analepsis : Pertemuan yang mendatangkan perpisahan
Ini bukan soal mempertaruhkan waktu di usia muda tuk masa depan. Ini hanya tentang siapapun yang berusaha untuk bertahan hidup jauh lebih baik lagi.
Jika kita bisa sedikit menghargai kehadiran orang lain di hidup kita. Mungkin batin tidak akan merasa perih untuk merasakan penyesalan, karena sulit mempertahankannya tuk tetap menunggu esok hari.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aytysz_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Analepsis ^ 19
Artikel baru yang baru saja Yumna rilis kini langsung mendapat banyak perhatian dari berbagai sumber, yang memberinya komentar akan pendatang baru di perusahaan tempatnya bekerja. Yumna tersenyum bangga pada dirinya sendiri. Jika pun kejadian kemarin begitu melelahkan, tapi Yumna tidak bisa berlarut-larut dalam kesedihan yang mendalam. Karena itu dapat menghancurkan raga dan pikirannya.
Mungkin Yumna saat ini belum bisa memaafkan atas kebohongan ibunya, tapi Yumna juga tidak akan marah ataupun kecewa selama itu. Yumna hanya butuh waktu untuk menerima atas kejadian yang seharusnya tidak ibu sembunyikan dari Yumna ataupun Rama.
Meniup udara, Yumna kini memutar kursi kerjanya untuk berdiri, melangkah keluar ruangan untuk melihat apa yang ada di lantai bawah. Karena seluruh rekan kerjanya ada disana.
Tapi saat berada diruang kerja para manager, kaki Yumna refleks terhenti akan seseorang yang memang dengan sengaja menghalangi jalannya. Itu membuat Yumna menipiskan bibirnya, menatap malas orang itu.
"Apa yang harus aku berikan padamu sebagai hadiah? Kenapa kau begitu pandai sekali menarik media untuk fokus pada perusahaan kita?" Tanpa adanya basa-basi Tama mengatakannya.
"Untuk saat ini aku tidak mau apapun. Jadi menyingkirlah. Kenapa kau senang sekali menghalangi jalan ku?" Yumna memberi sahutan, sebelum berjalan pergi dari hadapan Tama. yang kini malah menjejerkan langkah kakinya dengan milik Yumna.
"Apa kau tidak punya wanita yang ingin kau goda selain diriku?" Entah kenapa kalimat itu keluar dari mulut Yumna, yang menyimpan sedikit rasa ingin tahu. Karena selama ini Yumna tidak pernah melihat Tama bersama dengan perempuan.
"Atau__" bukannya Yumna tidak sanggup menuntaskan perkataannya. Hanya saja, napas berat yang dihembuskan Tama, membuat Yumna tahu apa jawabannya.
"Jika pun aku tidak memiliki kekasih, bukan berarti aku ini seorang gay." Timpal Tama tanpa ragu. Sekilas melihat Yumna dari samping, yang mengangguk paham. "Bagaimana dengan mu?"
"Aku__" sebentar Yumna memainkan bibir mungilnya itu, dengan kepala yang tengah memikirkan suatu hal, tapi itu masih sangat abu-abu. "Aku menyukainya, tapi itu hanya sesaat."
"Apa maksud mu?" Kening Tama mengernyit tidak paham.
Kedua insan itu mulai menuruni anak tangga yang akan mengantarkan mereka ke lantai satu. Langsung mendapati banyak orang, karena artis pendatang baru harus melakukan siaran langsung untuk memperkenalkan diri.
"Saat aku melihatnya, aku ingin memilikinya. Tapi jika aku tidak bertemu dengannya, perasaan itu tidak ada. Jadi aku tidak bisa mengatakan jika aku benar-benar menyukainya." Ada keraguan yang terselip disetiap ucapan Yumna.
Yumna menghentikan langkahnya, sedikit menghadapkan tubuhnya di depan Tama. Diam menunggu kelanjutan apa yang ingin dikatakan Yumna. "Aku ingin berteman dengannya. Mungkin itu." Senyum kecil itu terlukis di wajah Yumna.
Kini Yumna membenarkan posisi berdirinya untuk melihat ke arah Malla yang tersenyum di depan kamera, dan seorang pembawa acara yang terlihat mencoba untuk tidak menghadirkan rasa canggung pada Malla.
"Jika kau bisa mengatakan siapa namanya, mungkin aku bisa membantumu. Agar kau berteman dengan orang itu." Memberi tawaran bukan hal baru bagi Tama. Meluruskan pandangannya tepat di mana seorang wanita yang berdiri di samping Tirtha.
"Entahkenapa, aku sulit untuk memberi kepercayaan itu pada mu. Karena kau seorang penipu." Tanpa ragu Yumna mengatakannya.
"Benar, aku memang seorang penipu." Sebuah pengakuan dari Tama, yang langsung membuat Yumna mengalihkan pandangannya untuk melihat raut wajah pria di sampingnya. Terlihat menyimpan setuju kesedihan yang sulit untuk dibagi pada siapapun.
"Kau ingin membantu orang lain, tapi kau tidak sanggup menyelesaikan urusan mu sendiri. Untuk apa?" Timpal Yumna, merasa gemas sendiri dengan tetangganya satu itu.
Saat Yumna meliarkan pandangannya, tidak sengaja melihat kearah seorang wanita asing dengan topi pantai di kepalanya. Kacamata hitam bertengger ditulang hidungnya . Membuat Yumna tersenyum getir, tidak percaya dengan wanita itu
"Berapa penghasilannya?" Gumam Yumna begitu spontan, sangat penasaran dengan wanita itu. Karena semua yang wanita itu pakai benar-benar barang branded. "Apa dia orang kaya? Tidak mungkin jika tidak."
Yumna terus bergumam dengan pandangan mata masih tertuju pada sosok wanita yang berada diantara beberapa orang itu. Membuat Tama menoleh kesamping melihat Yumna, sebelum mengikuti arah pandang Yumna dengan senyum samar.
"Yudha bilang, dia pengusik perusahaan." Cetus Tama kembali melihat kearah kerumunan orang-orang yang tertuju pada Malla.
"Maksud mu, pemilik akun anonim itu?" Yumna hanya menebak. Dan itu langsung mendapat anggukkan dari Tama.
"Wahhh, bagaimana bisa dia ada disini? Apa dia ingin mencari masalah?" Kedua bola mata Yumna sedikit membulat. Rasa tidak percaya itu masih ada dalam jiwanya.
"Kau tidak melihat akunya? Dia sudah menghapus postingannya kemarin." Jikapun Tama tidak melihat Yumna, pria itu tetap memberi sahutan. Karena mau bagaimana pun. Tama tidak akan mengabaikan siapapun yang mengajaknya bicaranya.
"Jika pun dia melakukannya. Perusahaan harus tetap waspada dengannya. Karena, sifat buruk itu tidak bisa berubah dalam sekejap. Apalagi jika itu menyangkut uang." Cetusan Yumna sangat diterima sang kawan bicaranya saat ini.
"Tapi dari mana dia tahu? Apa dia bekerja disini juga?" Rasa penasaran yang ada didalam diri Yumna kini semakin besar. Entah kenapa, saat melihat wanita itu. Yumna merasa akan terjadi hal besar yang menimpa perusahaan.
"Tidak!! Dia bukan karyawan disini. Mungkin, ada orang dalam yang memberitahunya." Napas gusar keluar dari mulut Tama. Melihat kearah wanita itu dengan sorot mata penuh peringatan. "Inti perusahaan masih dalam proses mencari pengkhianatan itu."
"Bagaimana jika pengkhianatan itu orang yang begitu dekat dengan kalian." Bukannya ingin memprovokasi pikiran sang lawan bicara. Kalimat itu terlintas begitu saja di kepala Yumna, yang berakhir dia cetuskan.
"Dia tersenyum menerima, tapi di belakang dia tersenyum jahat." Ucap Yumna yang terdengar sangat ambigu. Tapi tetap wanita itu katakan. Melihat ke arah Malla dengan senyum bangga pada saudaranya itu. Tanpa peduli akan Tama yang kini menatap Yumna penuh makna.
Tidak langsung membuka suara, Tama mengerutkan samar keningnya. Pandangan mata masih melihat kearah Yumna. "Kau ingin membantu?"
"Apa yang akan aku dapatkan jika melakukan itu?" Hukum timbal balik itu harus ada dalam hidup Yumna. Karena jika dia mengulurkan tangannya dengan percuma, itu akan membuat mulut Yumna mengerutu penuh penyesalan.
"Jika pengkhianatan itu orang yang sangat dekat__" diam sejenak, Tama menelan ludah getirnya. "Apapun yang kau mau, aku akan menurutinya."
"Walaupun tidak ada hitam di atas putih, kau harus tetap menepatinya." Rendah Yumna dengan senyum devilnya. Membalas tatapan Tama. "Jika kau melanggarnya, aku bisa melakukan hal yang jauh lebih jahat daripada orang itu."
Kepala Tama mengangguk menyetujui. "Kau pernah melihatku ingkar janji?"
Tidak!! Yumna tidak pernah melihat Tama mengingkari apa yang sempat keluar dari mulut pria itu. Tapi Yumna juga harus tetap waspada. Karena mau bagaimanapun, isi hati seseorang itu tidak ada yang tahu.