NovelToon NovelToon
Untuk Wanita Yang Pernah Menyelamatkanku

Untuk Wanita Yang Pernah Menyelamatkanku

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Diam-Diam Cinta / CEO
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: Lidya Ribka pandiangan

Alex Christopher Nozer, CEO muda sekaligus pemimpin mafia paling ditakuti di London, tak pernah percaya pada cinta. Hidupnya hanya dipenuhi darah, kekuasaan, dan pengkhianatan. Namun segalanya berubah sejak seorang wanita asing berulang kali menolongnya tanpa mengetahui siapa dirinya. Lauren Valencia Varles, gadis sederhana yang berhati lembut, tanpa sadar menjadi satu-satunya cahaya di dunia kelam Alex. Ketika takdir kembali mempertemukan mereka di perusahaan milik Alex, obsesi mulai tumbuh menjadi sesuatu yang jauh lebih berbahaya. Di balik status tunangan hasil perjodohan dan musuh yang mengincar kekuasaannya, Alex bertekad memiliki Lauren dengan caranya sendiri. Di dunia mafia, cinta bukan tentang kebebasan, melainkan kepemilikan. Mampukah Lauren bertahan di sisi pria yang rela menghancurkan siapa pun demi melindunginya, atau justru ia akan terjebak menjadi Wanita Simpanan Sang Mafia?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lidya Ribka pandiangan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 9. Kediaman yang tak terduga

 Pandangan Lauren sempat menyapu sekeliling trotoar, memastikan tidak ada rekan kerja yang masih berada di sekitar pintu masuk gedung dan memperhatikan dirinya.

Damian tetap memegang pintu belakang mobil dengan sikap profesional, menunggu tanpa sedikit pun menunjukkan tanda-tanda tidak sabar.

Lauren menggenggam erat tali tas kerjanya sebelum sedikit menundukkan kepala sebagai tanda terima kasih.

"Terima kasih," ucapnya lirih.

"Sama-sama, Nona," balas Damian singkat.

Dengan gerakan hati-hati, Lauren membungkukkan badan dan masuk ke dalam mobil.

Aroma kulit asli yang lembut langsung menyambut indra penciumannya, berpadu dengan wangi samar parfum yang terasa begitu familiar baginya. Kabin mobil itu luas, bersih, dan begitu sunyi hingga suara napasnya sendiri terdengar jelas di telinganya.

Ia duduk perlahan di kursi belakang, merapikan rok kerjanya agar tidak kusut, lalu meletakkan tas di atas pangkuan.

Jemarinya saling menggenggam erat tanpa ia sadari, berusaha menyembunyikan kegugupan yang terus menguasai dirinya.

Setelah memastikan Lauren sudah duduk dengan nyaman, Damian menutup pintu mobil secara perlahan hingga terdengar bunyi pelan yang nyaris tak terdengar.

Seketika, hiruk pikuk lalu lintas di luar berubah menjadi suara samar yang teredam oleh kabin mobil yang kedap suara.

"Kita mau ke mana?" tanya Lauren akhirnya, suaranya dijaga setenang mungkin, berusaha terdengar biasa saja meski di dalam hatinya jantungnya berdegup kencang dipenuhi rasa takut dan gugup yang terus ia tahan sejak awal masuk ke dalam mobil ini.

Damian melirik sekilas lewat kaca spion tengah. "Kediaman Pak Alex," jawabnya singkat, tanpa penjelasan lebih lanjut.

"Kenapa harus ke rumahnya?" Lauren mencoba bertanya lagi, suaranya sedikit bergetar meski ia berusaha terdengar tenang. "Apa tidak sebaiknya di kantor saja kalau memang ada yang perlu dibicarakan?"

"Saya hanya menjalankan perintah, Nona," jawab Damian, nadanya tetap sopan namun tidak menyisakan ruang untuk perdebatan lebih jauh. "Untuk detailnya, Anda bisa tanyakan langsung kepada Pak Alex begitu sampai."

Lauren menghela napas pelan, menyandarkan punggungnya ke jok mobil, mencoba menenangkan diri meski pikirannya terus berputar liar. Apakah ini soal pekerjaannya? Apakah Alex marah karena caranya bersikap dulu, saat ia membentak pria itu habis-habisan tanpa tahu siapa sebenarnya yang ia hadapi?

Mobil melaju melewati jalanan kota yang mulai dipenuhi lampu-lampu jalan. Lauren teringat kembali semua momen aneh yang terjadi sepanjang delapan bulan terakhir, semua kebetulan yang kini terasa jauh lebih terencana dari yang pernah ia duga.

"Namamu siapa?" tanya Lauren, mencoba mencairkan suasana kaku di dalam mobil.

"Nama saya Damian, Nona," jawabnya sopan.

"Apa kau sudah lama bekerja untuk Alex?" tanya Lauren lagi, mencoba mengalihkan pikirannya.

"Cukup lama, Nona. Sejak beliau masih remaja," jawab Damian singkat.

"Seperti apa dia? Di luar pekerjaan, maksudku."

Damian terdiam sejenak. "Pak Alex bukan orang yang mudah menunjukkan sisi lain dari dirinya kepada sembarang orang," jawabnya akhirnya. "Tapi saya kira, Anda sudah cukup beruntung melihat sisi yang jarang sekali beliau tunjukkan kepada siapa pun."

Lauren terdiam, mencerna kata-kata itu. Ia teringat malam-malam Alex muncul dengan tubuh penuh luka, teringat tatapan pria itu di lorong lantai direksi tadi pagi.

"Apa dia sering seperti itu? Pulang dengan luka," tanya Lauren, tidak bisa menahan rasa ingin tahunya.

Rahang Damian sedikit mengeras. "Pekerjaan Pak Alex memang penuh risiko, Nona. Lebih dari itu, bukan tempat saya untuk menjelaskan."

Lauren mengangguk pelan, memahami batasan itu, meski rasa penasarannya justru semakin membesar.

"Sudah dekat, Nona," kata Damian, ketika mobil berbelok memasuki jalan sepi yang dikelilingi rumah-rumah besar bergaya klasik, jelas menandakan mereka telah memasuki kawasan paling elit di London.

Lauren menatap ke luar jendela, rumah-rumah besar dengan gerbang besi tinggi dan taman luas terpampang di sepanjang jalan, jauh berbeda dari lingkungan sederhana tempat ia tinggal di Camden.

Mobil akhirnya berhenti di depan sebuah rumah besar bergaya modern minimalis, dikelilingi taman tertata rapi dengan kolam kecil berisi ikan koi. Dinding kaca besar memantulkan cahaya jingga matahari sore yang mulai tenggelam.

Lauren duduk terpaku sejenak, mencoba mencerna kenyataan bahwa pria yang dulu ia temukan tersungkur berlumuran darah di gang sempit dekat Notting Hill, ternyata tinggal di rumah semegah ini.

Damian keluar dari kursi pengemudi, membukakan pintu belakang untuk Lauren. "Silakan, Nona."

Lauren melangkah keluar dengan kaki sedikit gemetar, menatap bangunan megah di hadapannya dengan campuran kekaguman dan kecemasan. "Lewat sini," kata Damian, memandu Lauren menuju pintu masuk utama.

Pintu besar itu terbuka sebelum Damian sempat mengetuk, menampilkan seorang pelayan rumah berseragam rapi yang sudah menunggu di ambang pintu. "Selamat datang, Nona," sapa pelayan itu ramah, mempersilakan Lauren masuk.

Lauren melangkah masuk, disambut interior rumah yang tidak kalah megah dari luarnya, lantai marmer putih mengilap, langit-langit tinggi dengan lampu gantung minimalis, dan beberapa karya seni modern di dinding-dinding putih bersih.

 Rumah sebesar ini begitu sunyi, hanya sesekali dipecah langkah kaki pelayan yang bergerak nyaris tanpa suara.

"Pak Alex sedang menunggu di ruang kerja pribadinya. Silakan ikuti saya," kata pelayan itu, memandu Lauren menyusuri lorong panjang berhias jendela kaca besar.

Di ujung lorong, sebuah pintu kayu gelap berdiri kokoh, sedikit terbuka. Pelayan itu mengetuknya pelan sebelum membukanya lebih lebar. Lauren sempat menoleh mencari sosok Damian, tapi pria itu sudah tidak terlihat lagi.

"Pak Alex, Nona Lauren sudah tiba," lapor pelayan itu, lalu mundur, memberi jalan bagi Lauren untuk melangkah masuk sendirian.

Lauren berdiri terpaku sejenak di ambang pintu, menatap ke dalam ruangan remang yang hanya diterangi lampu meja kecil, memperlihatkan sosok Alex berdiri membelakanginya, menatap ke luar jendela besar yang menghadap taman belakang yang sudah gelap oleh datangnya malam.

Lauren menelan ludah, mengumpulkan keberanian, sebelum akhirnya melangkah masuk lebih jauh.

"Kau memanggilku ke sini," kata Lauren akhirnya, suaranya bergetar meski ia berusaha terdengar tenang. "Ada apa sebenarnya?"

Alex melangkah menuju meja kerjanya, mengambil sebatang rokok dari kotak perak kecil, menyalakannya dengan korek yang sama, lalu menghembuskan asap perlahan ke arah jendela. Gerakannya tenang, terlatih, seolah kebiasaan itu sudah menjadi bagian dari dirinya sejak lama.

"Duduklah," ulangnya, menunjuk kursi di seberang meja kerja.

Lauren duduk kaku, matanya mengikuti setiap gerakan Alex, dari cara ia menyandarkan punggung ke kursi kulitnya, sampai cara asap rokok mengepul tipis di antara mereka.

Ada sesuatu yang berbeda dari pria ini malam ini, sesuatu yang lebih terbuka namun tetap dingin, seperti es yang mulai retak namun belum sepenuhnya pecah.

"Kau pasti sudah menduga," kata Alex akhirnya, suaranya rendah dan tajam, tanpa basa-basi, "bahwa pekerjaanmu di Nozer Holdings bukan kebetulan."

1
Chenyu Wang
crita nya bagus saya baru baca separuh tapi udah langsung sreg.. lanjutin sampe tamat ya..🙏🙏
Chenyu Wang: sama2..🙏
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!