"Mas Akball itu mobilan Aqil balikin ngga!" teriak sebuah suara cempreng dari arah ruang tengah.
"Bukan! Ini punya Mas Akbar! Kemarin Aqil udah main yang warna merah, sekarang Mas yang biru!" balas Akbar
Sejak perceraiannya tiga tahun lalu, Abi memang mantap untuk tidak mempekerjakan ART. Ia ingin merawat dan membesarkan kedua buah hatinya dengan tangannya sendiri, meski statusnya sebagai duda beranak dua sering kali menguras energi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hanela cantik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 29
Rapat akhirnya selesai sekitar jam sembilan lewat sepuluh menit. Satu per satu warga mulai membubarkan diri dari balai desa. Abi berjalan santai keluar menuju parkiran motor, sengaja melambatkan langkahnya sambil menikmati udara malam yang sejuk.
Di bawah pendar lampu jalan desa, ketampanan Abi memang sulit diabaikan. Wajahnya tegas, postur tubuhnya tegap dan atletis, dipadu dengan pembawaannya yang tenang dan dewasa. Kalau diberi penilaian, ketampanan Abi bisa dibilang ada di angka 8,5 dari 10, tipe pria matang yang diam-diam banyak disukai para gadis desa.
"Duh, Mas Abi... jalannya santai banget, kayak ndak ada yang nungguin di rumah aja," sebuah suara manja mendadak menyapa dari samping.
Abi menoleh. Riska, salah satu pemudi desa yang seumuran dengannya dan masih melajang, sudah berjalan sejajar dengannya.
"Eh, Mbak Riska," sahut Abi sopan.
"Iya ini, nyantai sebentar sambil cari angin."
"Nyantai atau lagi nungguin seseorang nih, Mas?" tebak Riska.
"Bapak-bapak anak dua kalau makin malam kok makin kelihatan karismatik ya? Bingung deh..."
Abi terkekeh pelan, sudah terbiasa dengan celetukan blak-blakan Riska yang memang humoris dan suka menggoda. "Bisa saja kamu ini, Ris. Karismatik dari mana, yang ada malah sudah kelihatan tuanya ini."
Tak jauh di belakang mereka, Kayla yang baru keluar dari pintu balai desa bersama pemudi lain mendadak menghentikan langkah. Matanya tertuju pada Abi dan Riska yang berjalan beriringan sambil tertawa pelan.
Kayla berdiri sendirian di teras balai desa yang mulai sepi. Ia mengedarkan pandangan ke sana-sini, menghela napas pasrah karena sandal jepit kesayangannya sempat terselip di antara tumpukan alas kaki warga lainnya. Karena sibuk mencari, ia jadi yang paling terakhir keluar.
Saat sedang membungkuk meraba-raba bawah rak kayu, suara deru halus mesin motor matik berhenti tepat di samping teras.
Abi memelankan laju motornya, menepi di dekat Kayla setelah melihat gadis itu sendirian. Lampu sorot motornya membiaskan cahaya di temaram halaman balai desa.
Abi mematikan mesin, lalu sedikit memajukan posisi duduknya seraya menatap Kayla heran.
"Nyari apa, Dek?" tanya Abi lembut.
"Kok belum pulang? Mbak-mbak yang lain tadi perasaan sudah pada jalan duluan."
Kayla mendongak kaget, refleks menegakkan badannya.
"Eh... Mas Abi," sahut Kayla pelan, tangannya menunjuk halus ke sudut teras. "Ini... tadi nyari sandal Kayla terselip di bawah rak. Baru ketemu ini, Mas."
Abi mengangguk paham, lalu melirik ke jalanan desa yang sudah makin gelap dan sepi. Rumah Kayla yang berada di paling ujung desa memang melewati area kebun bambu yang lumayan rindang kalau sudah jam sembilan malam lewat begini.
"Yaudah, mumpung Mas bawa motor, sekalian ayo Mas antarkan," tawar Abi.
"Sudah malam ini, jalan ke rumahmu kan paling ujung, lumayan gelap kalau jalan kaki sendirian."
"Ndak apa-apa ini, Mas?" tanya Kayla ragu. "Nanti malah ngerepotin Mas Abi..."
"Ndak repot sama sekali, Dek. Ayo naik, keburu makin malam," jawab Abi santai sambil menggeser duduknya ke depan untuk memberikan ruang.
Baru saja Kayla hendak naik ke boncengan motor, suara sorak-sorai heboh mendadak pecah dari gerbang balai desa. Rupanya anak-anak Karang Taruna dan beberapa pemuda yang masih nongkrong di pos ronda melihat momen tersebut.
"Ciee! Uhuy, Mas Abi! Asyik betul bonceng Neng Kayla!" goda salah satu pemuda dengan nada nyaring.
"Pulang rapat dapet bonus antarkan bunga desa nih!" sahut yang lainnya disambut tawa riuh para anggota Karang Taruna.
Wajah Kayla seketika memerah padam sampai ke leher. Ia makin tertunduk malu, tak berani menatap ke arah kerumunan anak-anak muda itu. Sementara Abi hanya tertawa santai, melambaikan tangan menggeleng pelan menanggapi godaan adik-adik desanya.
Namun, di sudut teras dekat pos, Kang Pardi berdiri mematung. Wajahnya ditekuk habis, matanya menatap tajam ke arah Abi dengan napas berat dan tangan mengepal di samping celana. Rasa panas membakar dadanya melihat gadis yang dikejarnya justru dengan mudahnya naik ke motor Abi.
"Sudah, ndak usah didengarin mereka," bisik Abi pelan pada Kayla, mengulum senyum geli. "Pegangan yang kuat ya, Dek."
Abi memutar gas motornya perlahan, meninggalkan kerumunan pemuda yang masih riuh bersorak serta Kang Pardi yang hanya bisa gigit jari menahan cemburu.
Motor matik Abi melaju pelan membelah keheningan jalan desa yang sepi. Angin malam berembus dingin, membuat Kayla refleks mengeratkan pegangannya pada jaket Abi.
"Nanti lebaran haji ada yang mau datang ndak, Dek?" suara Abi terdengar agak keras mengalahkan deru mesin motor.
Kayla yang kurang jelas mendengar langsung memajukan kepalanya sedikit. "Hah? Apa, Mas?"
Abi terkekeh pelan, lalu mengulangi pertanyaannya dengan nada lebih jelas. "Nanti lebaran haji ada yang mau datang ke rumah ndak, Dek?"
Kayla terdiam sejenak, mengingat-ingat agenda keluarganya bulan depan. "Ohh... palingan Mbah nanti yang datang dari kampung sebelah. Kenapa, Mas?"
Abi tersenyum tipis di balik helmnya. "Ndak ada apa-apa, Dek..."
Ia memelankan laju motornya saat sudah makin mendekati halaman rumah Kayla. Sebelum mematikan mesin, Abi menoleh sedikit ke belakang.
"Kalau Mas yang datang... ndak apa-apa?" lanjut Abi dengan nada santai namun tersirat keseriusan.
"Ndak apa-apa, Mas..." sahut Kayla pelan.
"...nanti tak buatin minum."
Abi menahan senyum kemenangannya melihat kepolosan dan kepatuhan Kayla. "Beneran ya? Ditagih lho nanti minumnya."
"Iya, Mas Abi. Datang aja sama anak-anak nanti," sahut Kayla santai sambil tersenyum ramah, makin membuat Abi gemas sendiri.