NovelToon NovelToon
Sisi Gelap Timbangan (The Scale & The Shadow)

Sisi Gelap Timbangan (The Scale & The Shadow)

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Epik Petualangan / Sistem
Popularitas:343
Nilai: 5
Nama Author: yrp putri

Seorang Hakim Ketua yang menjunjung tinggi keadilan harus memilih antara hukum, ayahnya, dan cinta kelamnya pada seorang buronan nomor satu yang pernah menghancurkan masa lalunya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yrp putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Surat dari Neraka dan Runtuhnya Kerajaan

Musim dingin di Pegunungan Alpen mencapai puncaknya. Badai salju mengurung *château* kuno itu dalam keheningan yang memutih, seolah alam semesta sedang menahan napas untuk menyambut sebuah kehancuran.

Sore itu, Arjuna pulang lebih awal dari pertemuannya dengan para kartel di perbatasan. Ia melangkah masuk ke dalam kamar utama, mengibas salju dari mantel panjangnya, lalu menghampiri Aluna yang sedang duduk termenung di depan perapian.

Dengan senyum yang begitu hangat—senyum yang mengingatkan Aluna pada pemuda nakal di lapangan basket SMA Garuda belasan tahun lalu—Arjuna berlutut di samping kursi istrinya. Ia merogoh saku bagian dalam jasnya dan mengeluarkan sebuah amplop cokelat tebal berstempel notaris internasional, lalu meletakkannya di pangkuan Aluna.

"Buka, Na," bisik Arjuna, matanya berbinar penuh harap.

Tangan Aluna sedikit gemetar saat ia membuka segel amplop itu. Di dalamnya terdapat sebuah sertifikat kepemilikan tanah dan rumah kayu yang indah di tepi Danau Wakatipu, Selandia Baru. Atas nama mereka berdua. Bukan nama samaran, bukan identitas palsu, melainkan nama asli mereka yang telah dibersihkan melalui jalur hukum berlapis.

"Aku berhasil, Na," ucap Arjuna dengan suara serak, mencengkeram kedua tangan istrinya. "Aku telah mengamankan seluruh rute logistik Eropa. Sebagai imbalannya, aku memaksa ayahku untuk membiarkanku mundur menjadi pengawas pasif. Mulai minggu depan, kita akan meninggalkan kastel ini. Kita akan terbang ke Selandia Baru. Tidak ada lagi senjata, tidak ada lagi darah, dan tidak ada lagi pengawal. Hanya kau dan aku, hidup di bawah sinar matahari seperti yang selalu aku janjikan."

Mendengar itu, jantung Aluna seolah berhenti berdetak. Dunia di sekelilingnya runtuh seketika.

Arjuna menatapnya dengan penuh cinta, menunggu senyum bahagia atau pelukan haru dari ratunya. Namun, yang terjadi justru sebaliknya. Air mata Aluna tumpah dengan sangat deras. Wanita itu terisak hebat, mencengkeram sertifikat itu hingga kusut di dadanya.

"Hei... kenapa menangis?" Arjuna langsung berdiri dan merengkuh tubuh istrinya dengan panik, mengira Aluna menangis karena terlalu bahagia. "Sstt... semuanya sudah berakhir, Sayang. Kita bebas."

Di dalam dekapan suaminya, jiwa Aluna menjerit dalam penderitaan yang tak tertahankan.

*Kita tidak bebas, Juna. Semuanya sudah terlambat.*

Hanya dua puluh empat jam yang lalu, melalui seorang kurir *blind-drop* yang tak bisa dilacak, Aluna telah mengirimkan buku hitamnya—buku yang berisi seluruh rahasia kerajaan sindikat Baskara—ke Markas Besar Kepolisian di Jakarta. Paket itu kini sedang berada dalam perjalanan, melesat bagai anak panah yang tak mungkin bisa ditarik kembali, menuju tangan Inspektur Arya Larasati.

Aluna menangis meratapi ironi nasibnya yang kejam. Tepat ketika suaminya berhasil menebus kebebasan mereka, ia justru telah menarik pelatuk yang akan menghancurkan nyawa mereka berdua.

**Di Markas Besar Kepolisian, Jakarta (Dua Hari Kemudian)**

Hujan badai mengguyur ibu kota, mencuci jalanan yang kelam. Di dalam ruang kerjanya yang suram, Inspektur Arya Larasati menatap nanar sebuah paket berbalut kulit hitam yang baru saja lolos dari pemindaian keamanan tingkat tinggi.

Tidak ada nama pengirim, namun insting intelijennya mengatakan bahwa benda ini sangat penting.

Inspektur Arya membuka bungkusan itu. Sebuah buku catatan kulit hitam dan selembar surat bertulisan tangan terjatuh ke atas mejanya. Saat melihat guratan tulisan itu, napas sang perwira senior itu tercekat. Itu adalah tulisan tangan Aluna.

Dengan tangan gemetar, Inspektur Arya membaca surat tersebut:

> *Ayah,*

> *Jika buku ini sampai di tangan Ayah, ketahuilah bahwa putri palsumu ini tidak pernah melupakan keadilan yang Ayah ajarkan. Aku membohongi hukum, menipu publik, dan memilih pergi bersama monster itu... bukan karena aku mengkhianati Ayah, melainkan karena aku tahu, dari luar, kerajaan ini tidak akan pernah bisa dihancurkan.*

> *Buku ini berisi setiap rute, setiap nama pejabat korup, dan setiap rekening anonim milik sindikat Baskara, termasuk Raja Mafia itu sendiri. Ini adalah bukti yang Ayah butuhkan untuk meruntuhkan mereka ke akar-akarnya.*

> *Ayah pernah menyelamatkanku dari panti asuhan dan memberiku kehidupan. Hari ini, aku mengembalikan nyawa itu. Jangan mencariku, Ayah. Karena saat sistem ini runtuh, sesuai dengan sumpah darah yang mengikat kami, Arjuna sendirilah yang harus mengeksekusiku.*

> *Ini adalah keadilanku. Ini adalah hukuman suciku.*

> *Selamat tinggal,*

> *Aluna.*

>

Inspektur Arya merosot di kursinya. Air mata mengalir deras membasahi wajah keriputnya yang keras. "Palu Es"-nya tidak pernah mencair. Putrinya tidak pernah berkhianat. Putrinya justru mengorbankan jiwa, raga, dan cintanya sendiri demi menyusup ke jantung neraka dan menghancurkannya dari dalam.

"ALUNA!" raung Inspektur Arya, memukul mejanya dengan amarah dan keputusasaan yang mengiris hati.

Tanpa membuang waktu satu detik pun, Inspektur Arya menyeka air matanya dan menekan tombol interkom darurat di mejanya.

"Kumpulkan seluruh pasukan elit taktis! Hubungi Interpol dan bekukan seluruh aset di Kepulauan Cayman berdasarkan data yang akan saya kirimkan!" perintahnya dengan suara menggelegar yang membekukan darah. "Malam ini, kita ratakan sindikat Baskara dengan tanah!"

**Ledakan Bom Waktu di Pegunungan Alpen**

Kembali ke *château* yang membeku.

Arjuna sedang menuangkan dua gelas *wine* merah di ruang tengah ketika ponsel satelit enkripsinya, yang hanya digunakan untuk keadaan darurat tingkat satu, berdering dengan nada panjang yang memekakkan telinga.

Arjuna mengerutkan kening. Ia meletakkan botol *wine* itu dan mengangkat panggilan dari ayahnya.

"Ayah? Ada ap—"

**"KAU BAWA PENGKHIANAT ITU KE DALAM RUMAH KITA!"**

Suara raungan Sang Raja Mafia meledak dari seberang telepon, diiringi suara sirine polisi dan rentetan tembakan senapan serbu di latar belakang. Markas utama mereka di Jakarta sedang diserbu habis-habisan.

"Apa maksudmu?!" Arjuna menegang, insting membunuhnya bangkit seketika.

"Kepolisian Jakarta baru saja membekukan seluruh aset triliunan kita di Cayman! Mereka menggerebek tiga pelabuhan tikus kita secara bersamaan! Mereka memiliki daftar lengkap klien kita di Eropa!" napas Sang Raja terdengar memburu, diselingi suara dobrakan pintu. "Hanya ada satu orang selain dirimu yang memiliki akses sedekat itu dengan operasi Eropa, Arjuna! Istrimu yang bedebah itu!"

Darah di tubuh Arjuna seolah membeku. Gelas *wine* di tangannya merosot dan hancur berkeping-keping di lantai marmer, menodai karpet dengan cairan semerah darah.

"Laksanakan sumpahmu, Arjuna," desis Sang Raja dengan kebencian absolut sebelum sambungan telepon itu terputus selamanya oleh suara ledakan dari markas Jakarta. "Bawa kepala Hakim itu padaku, atau aku akan mengirim seluruh anjing pembunuh Bratva untuk memotong kalian berdua menjadi kepingan daging!"

Telepon satelit itu terlepas dari genggaman Arjuna, jatuh ke lantai berdampingan dengan pecahan kaca.

Napas Arjuna memburu. Pikirannya kosong. Ia membalikkan badannya perlahan, menatap ke arah ambang pintu ruang tengah.

Di sana, Aluna sudah berdiri menatapnya. Wanita itu mengenakan gaun sutra berwarna putih bersih. Wajahnya tidak memancarkan ketakutan sedikit pun. Mata hitamnya menatap Arjuna dengan kelembutan yang sangat pedih, seolah ia sudah tahu bahwa panggilan telepon barusan adalah lonceng kematiannya.

Di tangan kanannya yang terlipat di samping gaun, Aluna memegang pistol *revolver* tua milik ayahnya—senjata yang sama yang pernah ia gunakan untuk mengancam bunuh diri di hadapan Sang Raja Mafia.

"Waktunya sudah habis ya, Juna?" bisik Aluna memecah keheningan yang mencekik, memberikan senyuman paling sendu yang pernah dilihat Arjuna seumur hidupnya.

1
Teduh Kata
semangat!
yrputri: terimakasih
total 1 replies
Teduh Kata
Hai kak, aku sudah bom like karya kamu, dan mari salin follow yah dan jangan luoa like karya aku juga. mari saling dukung💪
yrputri: hai kak, terimakasih sudah bom... sudah saya like sudah saya like balik juga ya
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!