NovelToon NovelToon
Antara Benci Dan Cinta

Antara Benci Dan Cinta

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cinta Seiring Waktu / CEO
Popularitas:4k
Nilai: 5
Nama Author: Miss Ra

Pernikahan ini bukan tentang cinta, melainkan sebuah hukuman.

Bagi Alvan, Andira adalah wanita berdarah dingin yang harus membayar kematian adiknya. Demi membalas dendam, ia mengikat Andira dalam pernikahan sedingin es yang penuh aturan ketat dan kebencian.

Bagi Andira, pernikahan ini adalah satu-satunya cara membuktikan bahwa ia tidak bersalah dan mengungkap kebenaran di balik jebakan kelam keluarga sendiri.

Namun, saat rahasia mulai terkuak dan dalang sebenarnya bersembunyi di balik senyuman terdekat, akankah benih cinta sanggup tumbuh di atas tanah dendam?

"Aku menikahimu bukan untuk membahagiakanmu, Andira, tapi untuk memastikan kamu membayar setiap tetes air mata keluargaku."

Kita Simak Kisah Selanjutnya Di Cerita Novel => Antara Benci Dan Cinta.
By - Miss Ra.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss Ra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 15

Keheningan dini hari menggelayut pekat di atas mansion Samudra. Di ruang kerja pribadinya yang remang, Alvan duduk di balik meja kayu jati berukuran besar. Sebuah lampu meja bergaya klasik memancarkan pendar kuning temaram, memantulkan bayangan wajahnya yang keras di atas permukaan kaca meja yang dingin.

Dua kancing teratas kemeja putihnya sudah terbuka. Jas tuxedo yang membentenginya di gala dinner semalam kini tergeletak begitu saja di sandaran kursi. Pria itu menyandarkan kepalanya, kedua matanya terpejam rapat, sementara jemari tangan kirinya tak henti-hentinya menekan pelipis yang berdenyut hebat.

Di dalam dadanya, sebuah kecamuk perang sedang berkecamuk tanpa ampun.

Di satu sisi, bayangan wajah mendiang Roy, terus membayang bagaikan hantu yang menuntut janji balasan. 'Dia membunuhku, Mas. Jangan biarkan dia tersenyum,' bisikan gaib dari masa lalu itu selalu menjadi bahan bakar yang membakar dendamnya selama berbulan-bulan.

Namun di sisi lain, bayangan mata bening Andira di pesta semalam terus meruntuhkan benteng kebencian itu batu demi batu. Tatapan wanita itu saat menatapnya di dalam mobil, tatapan yang tidak membalas dengan dendam, tidak pula memanfaatkan momen pembelaan untuk bersikap melonjak, terpahat begitu pekat di benaknya.

Dan yang paling menyiksa Alvan... adalah detak jantungnya sendiri. Getaran liar di dadanya setiap kali ia berada di dekat Andira adalah bukti tak terbantahkan bahwa logika dendamnya telah tercemar oleh sesuatu yang teramat berbahaya - empati.

"Siapa yang sebenarnya berbohong di rumah ini?" bisik Alvan dengan suara parau yang nyaris tak terdengar.

Pria itu membuka matanya tiba-tiba. Manik matanya yang tajam mengunci sebuah berkas tebal bersampul hitam yang tersimpan di dalam laci mejanya yang terkunci. Itu adalah dokumen bukti transaksi keuangan rahasia, bukti utama yang diserahkan oleh Elena untuk membuktikan bahwa Andira telah menerima aliran dana ilegal sebelum kematian Roy.

Alvan menarik napas panjang. Keraguan yang selama ini terkubur dalam-dalam kini meledak menjadi keputusan yang tak bisa ditunda lagi.

Ia menyambar ponsel pribadinya, menekan sebuah nomor yang terenkripsi khusus, lalu mengusulkan panggilan tersebut ke telinganya.

"Bima," ujar Alvan begitu nada sambung terhubung. Suaranya dingin, kaku, dan tidak menerima bantahan. "Ini aku."

"Ya, Pak Alvan? Ada perintah di dini hari ini ?" suara Bima, kepala tim investigasi independen terpercaya Alvan yang bekerja di luar struktur resmi Samudra Group, terdengar sigap dari seberang telepon.

"Aku akan mengirimkan salinan digital dokumen transaksi rahasia atas nama Andira yang kita dapatkan dari Elena beberapa waktu lalu," kata Alvan, matanya menatap lurus ke dalam kegelapan ruangan. "Bawa dokumen itu ke pakar forensik digital dan analisis perbankan independen luar negeri terhebat yang kamu miliki. Periksa ulang nomor rekening, tanda tangan digital, stempel audit, dan alur konfirmasinya. Aku mau verifikasi tanpa celah dalam waktu kurang dari dua puluh empat jam."

Sejenak, terjadi jeda di seberang telepon. Bima tahu betapa sakralnya dokumen itu bagi Alvan selama ini.

"Baik, Pak Alvan. Saya akan langsung memprosesnya sendiri secara rahasia tanpa melibatkan pihak internal kantor," jawab Bima mantap.

"Jangan sampai Elena atau siapa pun di Samudra Group tahu soal analisis ulang ini," tegas Alvan sebelum memutus sambungan telepon secara sepihak.

Ia meletakkan ponselnya di meja. Duduk bersandar, Alvan menatap langit-langit kamar dengan dada yang bergemuruh.

Jika dokumen itu ternyata sah, maka ia akan membuang rasa empatinya jauh-jauh dan menghancurkan Andira. Namun, jika dokumen itu bermasalah... maka seluruh fondasi rumah tangga dan dendamnya berdiri di atas kebohongan besar yang diciptakan oleh orang lain.

Pagi harinya, suasana mansion diselimuti kabut tipis dan gemericik gerimis halus.

Andira bangun lebih awal seperti biasa. Meskipun luka di pergelangan tangannya masih berdenyut perih di balik perban tipisnya, dan lehernya masih dihiasi memar kebiruan sisa cengkeraman penyerang malam itu, wanita itu tidak membiarkan rasa sakit melumpuhkan kewajibannya.

Ia mengerti posisi dirinya. Pembelaan mengejutkan dari Alvan di gala dinner semalam, di mana pria itu secara terbuka mengumumkan Andira sebagai istrinya yang sah dan mengancam para investor, bisa saja dimanfaatkan oleh wanita lain untuk bersikap congkak atau menuntut keistimewaan. Namun Andira tahu betul, menari di atas emosi Alvan yang tidak stabil adalah tindakan bunuh diri.

Di dapur utama, Bi Inah menatap Andira dengan tatapan serba salah dan iba.

"Nyonya... maksud saya, Mbak Andira," panggil Bi Inah ragu-ragu saat melihat Andira sedang merapikan nampan sarapan. "Kenapa Mbak Andira tidak istirahat saja di kamar? Semalam kan baru saja dari acara besar..."

Andira memalingkan wajahnya, mengulas senyum tipis yang teramat tulus pada wanita tua itu. "Tidak apa-apa, Bi Inah. Saya bukan tamu di rumah ini. Selama saya masih ada di sini, saya ingin menjalankan tugas saya dengan baik."

Andira membawa nampan berisi cangkir kopi hitam tanpa gula dan sarapan ringan menuju meja makan utama.

Di sana, Alvan sudah duduk seraya membaca laporan bisnis di tabletnya. Wajah pria itu tampak kusam dan letih, tanda jelas bahwa ia sama sekali tidak memejamkan mata sepanjang malam. Mata mereka bertemu saat Andira melangkah mendekat.

Ada kecanggungan pekat yang mendadak mengepung udara di antara mereka. Alvan menghentikan pergerakan jemarinya pada layar tablet, menatap Andira dengan intensitas yang sulit diartikan.

Ia meneliti setiap gerak-gerik wanita itu, mencari tanda-tanda perubahan sikap setelah peristiwa pembelaan semalam. Apakah wanita ini akan bersikap manja? Apakah ia akan menuntut penjelasan atau kebebasan lebih?

Namun, Andira hanya meletakkan cangkir kopi itu dengan sangat perlahan dan penuh hormat di samping kanan Alvan.

"Kopinya, Pak Alvan," ujar Andira lembut. Tangannya ditarik kembali secara sopan ke depan tubuhnya. "Jika Kau membutuhkan hal lain untuk laporan pagi ini, aku bisa menyiapkannya."

Sikap Andira yang tetap rendah hati, tenang, dan sama sekali tidak memanfaatkan momen pembelaan kemarin malam membuat dada Alvan terasa makin sesak oleh penyesalan yang membakar.

Alvan meraih cangkir kopi itu, namun matanya tidak lepas dari Andira. "Lehermu..." kata Alvan pelan, suaranya agak parau. "Apakah memarnya masih terasa sakit?"

Andira refleks menyentuh selendang yang menutupi lehernya. Ia menggeleng pelan. "Sudah jauh lebih baik, Pak. Terima kasih sudah menanyakannya."

"Andira," panggil Alvan lagi, memotong langkah wanita itu yang hendak mundur.

"Ya, Pak?"

Alvan menatap mata jernih itu cukup lama. Ada dorongan kuat di dadanya untuk bertanya tentang flashdisk yang tersembunyi di balik perbannya, tentang malam kematian Roy, tentang segala keraguan yang menyiksa jiwanya. Namun bibirnya seolah terkunci rapat oleh gengsi dan rasa takut akan kebenaran yang mungkin akan menghancurkan dunianya.

"Soal semalam di pesta..." Alvan berdeham kecil, mencoba menguasai nadanya kembali menjadi dingin. "Jangan berpikir bahwa bersikap lembut seperti ini akan membuatku melupakan alasan utama kenapa kamu ada di rumah ini."

Andira menatap Alvan lurus. Tidak ada rasa marah atau terluka di matanya, hanya ada pemahaman yang mendalam atas beban berat yang dipikul pria di hadapannya.

"Aku paham, Pak Alvan," jawab Andira singkat dan jujur. "Aku tidak pernah mengharapkanmu melupakan apa pun. Aku hanya berharap... suatu hari nanti, matamu bisa melihat kebenaran tanpa tertutup oleh amarah orang lain."

Setelah mengucapkan kalimat yang menghujam tepat di jantung batin Alvan itu, Andira menundukkan kepalanya sedikit lalu berbalik melangkah menuju arah dapur dengan keanggunan yang tenang.

Alvan mematung di kursi makan. Kalimat terakhir Andira, '*melihat kebenaran tanpa tertutup oleh amarah orang lain*',bergema berulang-ulang di dalam ruang pikirannya bagaikan petir di siang bolong.

~

Siang harinya, atmosfer di mansion Samudra terasa kian mencekam.

Elena beberapa kali mencoba menghubungi ponsel pribadi Alvan, namun pria itu sengaja mengabaikan setiap panggilan masuk dari wanita tersebut.

Pukulan telak di ballroom semalam telah membuat Alvan menyadari satu hal. Elena tidak lagi bergerak demi kehormatan Roy, melainkan didorong oleh kebencian pribadi yang teramat pekat terhadap Andira.

Alvan mengurung dirinya di ruang kerja lantai atas. Ia tidak bisa menyentuh berkas pekerjaan satu pun. Setiap detik terasa melambat secara menyiksa. Pria itu terus berjalan bolak-balik di depan jendela besar, memandangi air hujan yang menetes mengalir di permukaan kaca.

Waktu menunjukkan pukul dua siang.

Dada Alvan berdegup kencang tanpa alasan yang jelas. Keraguan dan ketakutannya mencapai puncaknya.

Jika bukti transaksi rahasia itu ternyata palsu, berarti seluruh kebencian yang ia tuangkan pada Andira, seluruh siksaan mental, pengurungan, dan hinaan yang ia timpakan pada wanita tak berdosa itu, adalah sebuah kejahatan besar yang ia lakukan atas nama dendam buta.

BZZZZT... BZZZZT...

Ponsel di atas meja kayu jatinya bergetar hebat.

Alvan berbalik seketika. Langkah kakinya begitu cepat menghampiri meja. Di layar ponsel, nama Bima berkedip-kedip, membawa firasat yang sanggup menghentikan aliran darahnya.

Jemari Alvan yang biasanya tidak pernah gemetar saat menandatangani dokumen bisnis bernilai triliunan kini tampak bergetar pelan saat menggeser ikon hijau di layar.

Ia mengangkat telepon itu, menempelkannya ke telinga tanpa mengucap sepatah kata pun.

"*Pak Alvan*..." suara Bima di seberang telepon terdengar sangat berat, sarat akan kecemasan dan keseriusan yang tak pernah Alvan dengar sebelumnya.

"Bicara, Bima," potong Alvan, suaranya serak dan tertahan di tenggorokan. "Bagaimana hasilnya?"

"*Hasil analisis forensik digital dan audit perbankan internasional baru saja keluar, Pak*," Bima menarik napas panjang sebelum melanjutkan. "*Dokumen transaksi keuangan rahasia atas nama Nyonya Andira yang diberikan oleh Ibu Elena... dinyatakan seratus persen PALSU*."

DEGGGG!

Dunia di sekitar Alvan serasa runtuh seketika. Udara di dalam ruang kerja yang luas itu merangsek keluar, membuat Alvan terhuyung mundur satu langkah hingga punggungnya menghantam tepi meja kayu.

"P-palsu...?" ulangi Alvan, suaranya nyaris tak terdengar, tenggelam dalam pusaran syok yang menghantam jiwanya.

"*Ya, Pak Alvan. Sangat berekayasa tinggi*," jelas Bima dengan detail yang dingin. "*Pakar forensik kami menemukan bahwa nomor stempel clearing bank dalam dokumen itu menggunakan kode lama yang sudah dinonaktifkan dua tahun sebelum kematian Tuan Roy. Selain itu, tanda tangan digital Nyonya Andira ditempel secara komputasi dari dokumen lamaran kerjanya di kantor lama. Dokumen ini sengaja dibuat secara profesional dengan satu tujuan, menjebak Nyonya Andira agar terlihat seperti penerima uang suap dan dalang pembunuhan*."

Bima melanjutkan kalimatnya, namun suara di seberang telepon mendadak berubah menjadi dengung berdengung yang samar di telinga Alvan.

Ponsel di tangan Alvan perlahan meluncur turun dari genggamannya, jatuh terhempas di atas karpet mahal ruangan itu.

Alvan berdiri mematung di tengah ruangan.

Seluruh persendian tubuhnya terasa melolos, kehilangan daya. Kata-kata Bima berputar liar di dalam kepalanya bagaikan badai api yang membakar habis seluruh akal sehatnya.

'*Seratus persen palsu... Dokumen itu berekayasa tinggi... Sengaja dibuat untuk menjebak Andira*...'

Gelas-gelas kebenaran yang selama ini sengaja ditutupnya kini pecah berkeping-keping.

Bukti utama yang dijadikannya landasan untuk membenci Andira, untuk menyiksa wanita itu, untuk mengurungnya di rumah ini, dan untuk menyebutnya sebagai seorang pembunuh berdarah dingin... adalah sebuah kebohongan besar yang direkayasa secara licik oleh Elena!

Wajah Andira yang menangis di kamar semalam... matanya yang bening saat menatapnya di pesta... dan suaranya yang lembut pagi tadi saat berkata. '*Aku hanya berharap suatu hari nanti matamu bisa melihat kebenaran tanpa tertutup oleh amarah orang lain*'... semua itu menghantam dada Alvan dengan rasa bersalah yang teramat destruktif dan tak tertahankan.

Alvan memegangi dadanya, napasnya memburu parah bagaikan orang yang tenggelam di laut dalam.

Ia adalah sang algojo yang salah mengeksekusi orang. Ia telah menjadi monster bagi wanita tak berdosa yang justru menjadi korban dari permainan iblis orang di sekitarnya.

Alvan membalikkan badannya secara perlahan, menatap pintu ruang kerjanya yang tertutup. Di bawah sana, wanita yang telah ia hancurkan hidupnya sedang melayaninya dengan keheningan tulus.

Dengan mata yang memerah dan dada yang hancur berkeping-keping oleh penyesalan yang teramat dalam, Alvan mulai melangkah terseok-seok menuju pintu, berniat menemui Andira detik itu juga.

...----------------...

**To Be Continue** ....

1
Ibuk Oppo
dobel up kakak
Eva Karmita
lanjut otor semangat 🔥💪🥰
Eva Karmita
Andira kamu wanita kuat tetap semangat ya Allah bersamamu 🥺...elena kamu boleh tertawa sepuasnya sebelum semua kebusukan mu terbongkar 😏
Reniochim
seru nih kayaknya..sekelebat ceritanya kayak sinetron ikatan cinta.
Eva Karmita
lanjut otor semangat 🔥💪🥰
Rina Kurnia
waduuhh....miss ra...tragis kali ya....🥺🥺
Miss Ra: 🤗/Chuckle/
total 1 replies
Eva Karmita
mampir otor 🙏
Eva Karmita: 🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰
total 2 replies
Ma Em
Miss jgn terlalu kejam nanti Alvan pada Andira kasihan karena Andira mungkin dijebak oleh adik tirinya si Alena .
Miss Ra: 🤗/Chuckle/
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!