Clark hanya dianggap sebagai tumbal pelunasan hutang dalam pernikahannya dengan Dante, pemimpin mafia berdarah dingin, namun saat peluru nyasar menembus dadanya di pesta keluarga, ia baru menyadari tatapan pria itu yang penuh air mata, sungguh pemandangan tak pernah ia bayangkan ada pada sosok yang begitu kejam.
Lalu bagaimana jika takdir memberikan kesempatan kedua? Membuat Clark kembali terbangun enam tahun silam, tepat saat ia dipaksa menikah dengan pria yang kini ia tahu sangat mencintainya meski dulu ia hanya melihatnya sebagai sosok mengerikan yang harus ia hindari sebisa mungkin.
Kali ini, ia berjanji tak akan membiarkan tragedi yang sama terulang kembali.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aplolyn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28
Suasana kediaman akhirnya kembali tenang setelah Dante menyetujui kerja sama yang ia ajukan. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Dante akhirnya bisa menikmati waktu berdua bersama Clark tanpa ada gangguan yang tak diinginkan. Namun kedamaian itu tak berlangsung lama.
Beberapa hari kemudian, sebuah mobil hitam mewah berhenti tepat di depan gerbang utama kediaman keluarganya. Seorang pria berusia sekitar lima puluh tahun turun perlahan, mengenakan setelan jas bermotif halus yang sangat mahal, sambil memegang tongkat kayu berukir emas di tangan kanannya. Rambutnya mulai memutih di pelipis, namun sorot matanya tetap setajam elang yang siap menerkam mangsa kapan saja.
Para pengawal yang berjaga di sana langsung menundukkan kepala dengan hormat.
"Salam, Tuan Besar."
Pria itu tak menjawab sepatah kata pun. Tatapannya menyapu seluruh halaman luas itu dengan penuh penilaian dingin, sebelum melangkah masuk seolah tempat itu adalah miliknya sendiri.
Di ruang tengah, Clark yang sedang menyusun rangkaian bunga segar di vas kristal perlahan menoleh saat mendengar langkah kaki berat mendekat. Ia belum pernah melihat pria itu sebelumnya.
"Selamat pagi. Maaf, apakah Anda mencari seseorang?" tanyanya sopan.
Pria itu berhenti tepat di hadapan Clark. Matanya meneliti dari ujung rambut hingga ke ujung kaki, membuat Clark merasa tak nyaman seolah sedang diperiksa barang dagangan.
"Jadi... kau wanita yang dinikahi Dante."
Clark mengangguk pelan. "Benar, saya Clark."
"Hm." Hanya itu jawabannya. Sama sekali tak ramah, penuh penilaian meremehkan.
Tak lama kemudian, kepala pelayan datang dengan langkah tergesa-gesa. "Tuan Muda sedang segera turun, Tuan."
Belum lewat semenit, suara langkah kaki Dante terdengar jelas dari arah tangga. Begitu melihat siapa yang datang, raut wajahnya seketika berubah dingin dan kaku.
"Paman Vittorio."
Clark sedikit terkejut. 'Kalau tidak salah dia salah satu pemimpin mafia yang anaknya dijodohkan dengan Dante'
"Akhirnya kau masih ingat kalau kau punya keluarga," sindir Vittorio santai, lalu duduk di sofa utama tanpa menunggu dipersilakan.
"Keluarga? Mungkin paman lupa ya.. Ayah saya yang menganggap anda sebagai keluarga tapi tidak untuk saya"
"Kurang ajar, padahal dulu aku dan ayahmu sangat dekat bahkan sudah menjodohkan kau dengan Freya, namun kau malah mengkhianati janji itu."
Dante diam saja. Hubungan mereka memang tak pernah baik. Sejak sang ayah meninggal, Vittorio tak pernah lagi menunjukkan wajah seorang paman. Yang tersisa hanyalah ambisi dan keserakahan.
Berkali-kali pria itu berusaha mengambil alih sebagian wilayah kekuasaan keluarga Luca dengan dalih membantu, padahal semua orang tahu ia hanya mengincar posisi tertinggi yang kini berada di tangan Dante.
Dante juga tahu, kedatangan pria itu hari ini sama sekali bukan untuk bersilaturahmi.
"Aku tidak pernah mengkhianati janji apa pun," ucap Dante akhirnya. Suaranya datar, namun cukup dingin untuk membuat udara di ruangan terasa membeku. "Karena aku tidak pernah menyetujui perjodohan itu."
Vittorio mendengus.
"Kau memang tidak pernah mengiyakan, tapi kau juga tidak pernah menolak secara langsung saat ayahmu masih hidup."
"Ayah yang membahasnya, bukan saya."
"Kau sengaja mencari alasan."
Tatapan mereka saling bertemu, sama-sama tajam dan tak mau mengalah.
Clark yang berdiri tak jauh dari sana hanya diam memperhatikan. Ia bisa merasakan ketegangan yang memenuhi ruangan itu. Bahkan para pelayan yang sejak tadi berjaga memilih menundukkan kepala, takut menjadi sasaran amarah kedua pria tersebut.
😱😱😱😱
sakit perut adek bang ,,,
😂😂😂😂😂😂😂🤣🤣🤣🤣🤣
koq pemuda trus nyebutnya 🤭🤭🤭🤭
😅