"Dendanya lima miliar rupiah, Clara. Atau... kamu tanda tangani kontrak tiga tahun jadi asisten pribadi saya!"
Berniat kabur dari masa lalu dan hidup mandiri, Clara justru terjebak dalam jaring laba-laba Elzio Mahendra—CEO tampan, kaya raya, dan obsesif yang tak mempan digertak. Hanya demi mengikat Clara di sisinya, Elzio tak ragu membeli perusahaan tempat Clara melamar dan menjeratnya dengan kontrak denda bernilai fantastis.
Segala cara Clara lakukan agar Elzio ilfil—mulai dari bersikap super galak, memboroskan uangnya, hingga kabur naik KRL. Namun, bukannya menyerah, sang CEO gila justru makin gila dan posesif padanya.
Di tengah intrik perjodohan elit dan trauma masa lalu yang menghantui, akankah Clara berhasil bebas dari jerat denda lima miliar, atau justru akhirnya bertekuk lutut dalam pelukan sang CEO?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 14
"Masih mau pura-pura jual mahal, sweetheart?"
Suara bariton Elzio mengalun rendah di dalam lift pribadi menuju lantai 12. Pria itu menyandarkan bahunya di dinding lift, menatap Clara yang berdiri tegap di sampingnya sambil merapikan gaun kerja bernuansa cream elegan yang baru dibelikan Dominica pagi tadi.
Clara melirik Elzio lewat pantulan kaca lift, menyilangkan kedua tangannya di dada. "Siapa yang jual mahal? Gue cuma bersikap rasional. Tawaran satu miliar dari Mama lu aja belum gue terima, apalagi ajakan nikah dari pria gila kaya lu."
Elzio terkekeh pelan, melangkah mendekat hingga mengikis jarak di antara mereka. Ibu jarinya terulur, mengusap lembut sudut bibir Clara. "Tapi dadamu berdegup kencang setiap kali saya mendekat, Clara. Kamu tidak bisa membohongi tubuh kamu sendiri."
"Itu refleks tubuh karena gue emosi!" sangkal Clara cepat, menepis tangan Elzio meski pipinya mendadak terasa hangat. "Lagian, hari ini jadwal lu padat. Fokus kerja, jangan godain asisten lu terus!"
Denting!
Pintu lift terbuka di lantai ruang rapat utama. Elzio menyunggingkan senyum tipis yang sarat akan dominasi. "Siapkan dokumen untuk presentasi proyek kerja sama investasi siang ini. Perusahaan mitra sudah menunggu di dalam."
"Iya, Pak CEO," balas Clara dengan nada dibuat-buat, memutar bolanya malas sebelum berjalan mendahului Elzio menuju ruang arsip untuk menyambar berkas-berkas penting.
Suasana di dalam ruang rapat besar PT Nusantara Media terasa formal. Meja kayu panjang bernuansa gelap itu dikelilingi oleh jajaran direksi dan wakil dari perusahaan investor.
Saat Clara melangkah masuk membawa tumpukan dokumen tebal, matanya mendadak terpaku pada dua orang yang duduk di sudut meja mitra bisnis.
Darah Clara seolah berhenti mengalir seketika.
Di sana, duduk Ardan—mantan tunangannya—bersama Miska, adik tirinya. Ardan mengenakan jas hitam yang tampak dipaksakan rapi, sementara Miska tampil mencolok dengan pakaian serba pamer merk dan perhiasan berlebihan. Perusahaan keluarga Ardan rupanya sedang mencoba mengajukan proposal investasi kecil ke anak perusahaan Mahendra Group ini.
Miska yang sedang memoles lipstik mendadak mendongak. Matanya membelalak kaget melihat Clara masuk membawa berkas, disusul tawa ejekan yang langsung meledak dari mulut tipisnya.
"Astaga... Mas Ardan, lihat deh! Siapa ini?!" seru Miska dengan suara melengking yang sengaja dikencangkan, memotong pembicaraan beberapa direksi.
Ardan menoleh, dan raut wajahnya mendadak berubah antara kaget dan sinis. "Clara?"
Clara dengan cepat menguasai dirinya. Dia mengatur napas, menetralkan raut wajahnya menjadi sedingin es, lalu melangkah tenang membagikan dokumen ke atas meja para petinggi tanpa mengacuhkan dua orang itu.
"Aduh, Kak Clara... kasihan banget sih kamu," cemooh Miska lagi, menopang dagunya sambil menatap Clara dari ujung kepala sampai ujung kaki dengan pandangan merendahkan. "Kabur dari rumah, mutus kontak sama Papa, ternyata cuma demi jadi babu pemegang berkas di perusahaan orang?"
Ardan bersandar di kursinya, menyunggingkan senyum cemoohan yang menyakitkan. "Dulu waktu sama aku, hidup kamu terjamin, Clar. Kamu enggak perlu kerja kasar kaya gini, jadi pelayan yang suruh-suruh bawa kertas tebal. Punya gengsi setinggi langit, tapi akhirnya cuma jadi karyawan biasa yang gajinya mungkin cuma cukup buat bayar kontrakan kumuh."
Clara menghentikan tangannya yang sedang menaruh berkas di depan Ardan. Dia mendongak, menatap Arkan dan Miska dengan tatapan datar tanpa emosi.
"Sudah selesai bicaranya?" tanya Clara dingin, suaranya tenang namun memotong keheningan ruangan. "Kalau sudah, tolong diam. Ini ruang rapat profesional, bukan lapak gosip keluarga."
"Eh, berani banget kamu ngomong gitu?!" bentak Miska, mukanya memerah karena merasa dipermalukan di depan para direksi. "Kamu itu cuma karyawan kroco di sini! Sadar diri dong! Mas Ardan ini calon investor di sini, bisa saja Mas Ardan minta bos kamu buat memecat kamu detik ini juga!"
Ardan menaikkan dagunya, merasa di atas angin. "Benar kata Miska, Clar. Kalau kamu mau minta maaf sama aku dan Miska atas kelakuan kamu waktu itu, aku bisa bicara baik-baik sama jajaran direksi di sini biar posisi kamu aman. Kasihan aku lihat kamu terlunta-lunta gini."
Beberapa direksi di ruangan itu saling pandang dengan raut wajah tegang dan pucat pasi. Mereka tahu betul siapa Clara—wanita yang setiap pagi berani berteriak di ruangan sang CEO tertinggi dan meminum kopi khusus dari Elzio.
"Maaf, Pak Ardan..." salah satu manajer senior mencoba memotong dengan suara gemetar. "Sebaiknya Anda—"
"Gak usah dibela, Pak!" potong Miska cepat, menepuk meja. "Saya ini adik tirinya! Saya tahu betul cewek ini enggak punya masa depan setelah dibuang sama keluarga kami! Dia cuma cewek miskin yang sok jual mahal!"
SRET.
Pintu ganda ruang rapat terdorong penuh dari luar.
Aura dingin yang mencekam mendadak menyapu seluruh ruangan. Suasana seketika membisu total. Langkah kaki yang tegap dan berwibawa melangkah masuk. Elzio Mahendra berdiri di ujung meja dengan setelan jas mewahnya, memancarkan dominasi mutlak yang membuat siapa saja menahan napas.
Di belakangnya, Arka berdiri tegap dengan iPad di tangan.
Ardan dan Miska yang tidak tahu siapa sosok Elzio sebenarnya—karena Elzio jarang muncul di media publik skala kecil—hanya terpana melihat perawakan dan aura pria tersebut.
"Ada masalah apa di ruang rapat saya?" suara bariton Elzio mengalun rendah, sangat dingin, hingga sanggup membekukan udara di dalam ruangan.
Miska yang terpesona sekaligus ingin pamer langsung berdiri, memasang senyum paling manis yang dia punya. "Ah, Bapak pasti pimpinan tertinggi di sini ya? Kenalkan, saya Miska dari PT Jaya Sentosa. Kami ke sini mau investasi. Tapi maaf ya Pak, karyawan Bapak yang nama Clara ini sangat tidak sopan! Dia menghina kami yang mau tanam modal di sini!"
Ardan ikut berdiri, menyisir rambutnya sok berwibawa. "Benar, Pak. Sebagai calon mitra bisnis, kami merasa tidak nyaman dengan kehadiran pelayan berkas seperti dia. Saya sarankan Bapak pecat saja cewek ini. Dia cuma benalu."
Clara hanya menyilangkan tangan di dada, menatap dua manusia di depannya dengan senyum sinis yang tertahan.
Elzio tidak menjawab. Matanya yang pekat menatap Ardan dan Miska bagaikan menatap dua ekor serangga kecil yang mengganggu. Pria itu berjalan perlahan, namun alih-alih menuju kursi utamanya di ujung meja, Elzio melangkah lurus mendekati Clara.
Di depan mata semua orang, Elzio merangkul pinggang ramping Clara secara posesif, menarik tubuh wanita itu makin rapat ke sisinya.
DEG.
Mata Miska dan Ardan melotot hampir melompat keluar dari kelopaknya.
"Siapa yang kamu sebut pelayan berkas dan benalu?" desis Elzio rendah, tatapannya menghujam Ardan dengan kebencian yang mendalam.
"Pak... Pak CEO..." gagap Ardan, mendadak tenggorokannya terasa kering dan lututnya lemas. "I-itu... cewek itu..."
"Wanita yang sedang kamu hina ini," potong Elzio dengan nada bernyawa ancaman mutlak, "adalah Asisten Eksekutif Utama saya. Calon istri saya. Dan calon pemilik tunggal seluruh aset Mahendra Group."
"APA?!" jerit Miska histeris, menutup mulutnya tak percaya. "Gak mungkin! Dia cuma cewek miskin! Bapak pasti dibohongi sama cewek ini!"
Elzio terkekeh dingin—sebuah tawa tanpa nada humor yang mengerikan. Dia melirik Arka. "Arka."
"Ya, Pak Elzio?" Arka maju satu langkah.
"Batalkan seluruh rencana investasi PT Jaya Sentosa," perintah Elzio tanpa ragu. "Cabut seluruh saham pendukung Mahendra Corp di perusahaan mereka, dan pastikan seluruh bank mitra kita membekukan pinjaman bisnis keluarga mereka mulai sore ini."
"Baik, Pak. Akan segera diproses," jawab Arka lugas tanpa cela.
Wajah Ardan seketika pucat pasi bagaikan mayat. Tubuhnya gemetar hebat. Perusahaan keluarganya memang sedang di ujung tanduk dan sangat membutuhkan suntikan dana dari anak perusahaan Mahendra Group ini.
"Pa-Pak! Tolong jangan, Pak!" ratap Ardan panik, beralih menatap Clara dengan mata memelas. "Clara! Clara, tolong bicarakan sama bos kamu! Kamu kan kenal aku! Kita pernah tunangan, Clar!"
"Tunangan?" Elzio menyipitkan matanya tajam. Aura membunuh terpancar jelas dari tubuhnya. Pria itu mempererat cengkeramannya di pinggang Clara. "Jadi kamu pria brengsek yang pernah menyakiti calon istri saya?"
Miska yang ketakutan setengah mati langsung memegang lengan Ardan. "Mas... ini gimana, Mas? Perusahaan Papa bisa bangkrut kalau pinjaman bank dibekukan!"
Clara melangkah satu detik ke depan, menatap Ardan dan Miska dengan pandangan penuh kemenangan dan dingin.
"Lu berdua pikir, setelah lu khianati gue, gue bakal hidup menderita?" bisik Clara pelan namun menusuk, menyunggingkan senyum elegannya. "Sadar diri. Kelas kalian bahkan enggak cukup tinggi buat sekadar memandang sepatu pria di sebelah gue."
"Clara, tolong..." tangis Ardan pecah, hendak mendekati Clara.
Namun dua pengawal pribadi Elzio yang bersiap di pintu langsung maju, menahan kedua tangan Ardan dan Miska dengan kasar.
"Seret mereka keluar dari gedung ini," perintah Elzio dingin tanpa memandang dua orang itu lagi. "Dan pastikan nama mereka masuk ke dalam daftar hitam seluruh industri di kota ini."
"Lepasin! Clara! Clara, maafin aku, Clar!" teriak Ardan histeris saat diseret keluar koridor bersama Miska yang menangis meraung-raung.
Pintu ruang rapat tertutup rapat kembali. Keheningan kembali melingkupi ruangan. Para direksi menunduk tak berani bersuara.
Clara menghela napas panjang, lalu menoleh menatap Elzio yang masih memeluk pinggangnya erat-erat dengan raut wajah yang masih memancarkan sisa kemarahan.
"Udah... mereka udah pergi," gumam Clara pelan, mencoba melonggarkan cengkeraman tangan Elzio di pinggangnya.
Elzio menunduk, menatap iris mata Clara dengan binar posesif yang pekat. "Kamu tidak boleh menatap pria lain seperti itu lagi, Clara. Terutama mantan kamu."
Clara memutar bolanya malas, namun bibirnya tak bisa menahan senyum tipis yang terukir manis. "Siapa juga yang mau ngetatap dia? Gue cuma puas aja lihat muka panik mereka."
"Kalau begitu, sebagai imbalan karena saya sudah membalaskan dendam kamu..." bisik Elzio rendah di dekat telinga Clara, "...terima lamaran saya sekarang."
Clara tertawa renyah, mendorong dada Elzio pelan. "Enak aja! Itu kan urusan pekerjaan! Tetap enggak gampang ya, Pak CEO!"
Elzio menyunggingkan seringai tampannya, mengecup kening Clara hangat di depan seluruh jajaran direksi yang hanya bisa berpura-pura amnesia. "Kita lihat sampai kapan kamu bisa bertahan, sweetheart."