Terdesak masalah hidup, Rina Amelia terpaksa menjadi wanita simpanan Adrian Wibawa—tanpa sadar bahwa pria itu adalah suami dari Profesor Eliza, dosen paling ditakutinya. Merasa dibohongi, Rina ingin mengakhiri hubungan terlarang itu, namun rayuan dan janji manis Adrian berhasil meluluhkannya.
Kini ia terjebak di antara dua dunia yang berbahaya: kekasih rahasia sang pengusaha, sekaligus mahasiswi yang nasibnya ada di tangan istrinya sendiri. Mampukah Rina bertahan di tengah jerat kebohongan ini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sisi Ryri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pilih Profesor atau Om Ganteng
“Bagaimana, Rina? Waktu saya mahal,” ucap Prof. Eliza sambil melirik jam tangan Rolex emasnya.
Rina menelan ludah. Keberaniannya yang tersisa dikumpulkan.
Rina mengulurkan tangannya yang gemetar untuk meraih kunci dan amplop yang disodorkan Profesor Eliza kemudian memasukkannya ke dalam tas. “Saya... saya akan lakukan, Bu Prof.”
Profesor Eliza tersenyum puas. “Bagus. Ingat, Adrian itu bodoh, tapi dia sensitif jika menyangkut urusan ranjang. Buat dia mabuk kepayang sampai dia tidak sadar dunianya sedang runtuh.”
"Baik, Bu." Rina mengangguk patuh. "Akan saya lakukan malam ini," ucap Rina dengan nada bergetar.
"Bagus. Kamu memang gadis yang pintar. Jadi lakukan dengan hati-hati," perintah Eliza sambil mempersilahkan Rina keluar dari ruangannya.
Ini bukan sebuah hal yang mudah bagi Rina. kalau dia gagal bisa-bisa tidak cuma Eliza yang mencekiknya tapi juga Adrian akan membuangnya.
Selama dalam perjalanan pulang ke apartemen Rina terlihat bingung. Sesekali dia menatap foto dirinya di layar ponsel berharap ada kekuatan tak terduga yang muncul saat ini.
"Lakukan atau jangan?" tanyanya pada dirinya sendiri.
Rina akhirnya kembali ke apartemen setelah bisa lebih tenang. Dia lalu membuka pintu terbuka dengan senyumannya yang palsu.
Saat pintu dibuka nampak Adrian sedang berdiri di dapur bersih dengan hanya mengenakan apron dan celana pendek.
Pria tampan itu tampak begitu jantan dan memikat mata Rina yang haus kasih sayang.
“Hei, sayang. Sudah pulang?” Adrian memutar badannya lalu tersenyum lebar kemudian langsung memeluk Rina.
"Hai, masak apa?" tanya Rina datar.
"Aku masak soto ayam untukmu," tunjuk Adrian pada mangkuk yang sudah dia platting. "Gimana di kampus? Aman, kan?”
Rina memaksakan senyum termanisnya lalu menggelayut di leher Adrian. “Aman, Om. Bu Prof ternyata tidak masuk kelas hari ini jadi gosipnya agak mereda," bohong Rina lalu memandangi mata Adrian yang nampak begitu indah.
“Nah, kan! Apa Om bilang. Eliza itu terlalu sibuk dengan buku-buku tebalnya sampai lupa punya suami tampan di rumah,” gurau Adrian sambil tertawa remeh.
Mendengar nama 'Eliza' disebut dengan begitu merendahkan oleh Adrian, hati Rina berdesir dingin.
Pria ini benar-benar tidak tahu diri. Padahal dia hidup dari harta istrinya.
"Kamu lihat apa?" tanya Adrian memecah kebisuan Rina.
"Ah, enggak," kekeh Rina lalu meriah piring. "Aku udah lapar. Ayo kita makan."
"Ayo!" seru Adrian yang memang sejak tadi sudah kelaparan.
Setelah makan malam yang romantis, Adrian mulai melancarkan aksinya.
Dia merapatkan tubuhnya ke Rina di sofa dan tidak lupa tangannya mulai bergerilya di pinggang Rina.
“Malam ini... mau main di mana, sayang? Kamar? Atau di ruang kerjaku?” tanya Adrian seperti menjawab doa Rina sejak tadi.
"Ah, main di ruang kerja?" tanya Rina sambil memiringkan wajahnya.
"Ya, biar ngak bosen aja,"
“Ok, boleh. Kita malam ini main di ruang kerja Om. Sepertinya seru di atas meja kerja,” bisik Rina manja sambil menggigit bibir bawahnya sengaja memancing gairah Adrian.
Mata Adrian menggelap seketika. “Naughty girl,” geramnya rendah.
Adrian langsung membopong tubuh Rina menuju ruang kerja yang terletak di bagian belakang apartemen.
Di ruang remang-remang itu Adrian mendudukkan Rina di atas meja kerjanya dan tanpa menunggu langsung mencium leher Rina dengan rakus.
Di sela-sela ciuman panas itu, mata Rina bergerak liar menyapu dinding ruangan.
Ketemu!
Di dinding sebelah kanan, ada sebuah lukisan abstrak besar bernuansa emas.
Itu pasti tempat brankasnya.
“Om... matikan dulu lampu utamanya, Rina agak malu,” pinta Rina dengan suara mendesah, pura-pura manja.
“Apapun untukmu, sayang,” Adrian turun dari meja, berjalan menuju saklar lampu di dekat pintu.
Saat punggung Adrian menghadapinya, Rina dengan gerakan sekilat kilat merogoh kantong roknya untuk mengambil kunci kecil dari Prof. Eliza, dan menyembunyikannya di bawah tumpukan dokumen diatas meja kerja agar mudah diraih nanti.
Ketika lampu padam Adrian kembali menerkam Rina.
Malam itu, Rina mengerahkan seluruh kemampuannya. Dia bergerak lincah untuk membuat Adrian mendesah penuh gairah.
Tak lama setelah sama-sama tiba di titik didihnya, suara dengkuran mulai terdengar. Adrian tertidur dan isi saatnya Rina beraksi.
Dengan tubuh yang masih berkeringat dengan hanya mengenakan kemeja Adrian yang longgar. Rina melangkah tanpa suara mendekati lukisan abstrak di dinding. Jantungnya berdegup dua kali lebih cepat daripada saat bercinta tadi.
Matanya sesekali melirik ke Adrian tapi tetap fokus ke lukisan yang dia tuju.
"Pelan-pelan, Rina," bisiknya sambil menggeser lukisan.
Sreeek...
Sebuah kotak besi brankas tertanam di dinding di depannya nampak lubang kunci kecil di bagian bawah nomor kombinasi digitalnya yang merupakan kunci manual darurat.
Rina mengambil kunci dari meja kemudian memasukkannya ke lubang brankas dan memutarnya.
KLIK.
Pintu brankas terbuka.
Di dalamnya terdapat tumpukan uang tunai dan sebuah map kulit berwarna hitam berlambang perusahaan keluarga Profesor Eliza.
Sebelum Adrian terbangun dengan cepat Rina mengambil map itu namun karena tangannya yang gemetar dan berkeringat, map itu menyenggol sebuah patung pajangan kecil di dalam brankas.
PRANG!
Patung itu jatuh ke lantai marmer dan pecah berkeping-keping.
"Aduh!" Rina seketika pucat.
Suara pecahan patung itu terdengar begitu nyaring membuat Adrian bergerak dan perlahan pria itu membuka matanya sambil mengerutkan kening melihat bayangan Rina yang berdiri di depan brankas yang terbuka.
“Rina...? Kamu sedang apa di sana?” suara Adrian terdengar serak dipenuhi rasa curiga.
"Sial!" bisik Rina yang mati kutu di depan brankas. "Aduh, ketahuan."
Adrian mulai bangkit dari duduknya sedang Rina mendekap map hitam yang dia ambil dari brankas dengan erat.
"Tamat sudah riwayatnya jika Adrian berhasil menangkapnya sekarang." Rina terlihat panik.
"Kamu lagi apa?" Suara Adrian meninggi.
Kring!
Ponsel Rina di atas meja tiba-tiba bergetar menyala.
Ada satu pesan masuk dari nomor yang tidak dikenal, namun Rina tahu persis siapa pemiliknya.
Layar ponsel itu menampilkan pesan singkat dari Eliza.
“Gedung apartemen sudah dikepung pengacara dan orang-orangku. Bawa dokumennya keluar sekarang, atau kamu ikut terseret hancur bersama Adrian.”
Rina hanya terpaku bingung harus berbuat apa di saat terjepit ini.
"Rina! Aku sedang bicara padamu!" teriak Adrian dengan matanya yang masih merah.