NovelToon NovelToon
Wanita Sang Raja Iblis

Wanita Sang Raja Iblis

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Romansa Fantasi / Iblis
Popularitas:732
Nilai: 5
Nama Author: Jee44

Di mata tiga alam, kaum Dewa adalah simbol kesucian dan Iblis adalah perlambang petaka. Namun, kebenaran tertutup oleh kabut keserakahan. Demi mencapai keabadian mutlak, Dewa Tinggi Ling Cang berniat mengorbankan Dewi Shen Liya—pemilik Wadah Ilahi dengan energi suci termurni. Menolak menjadi tumbal, Shen Liya melarikan diri ke dunia fana dalam kondisi terluka parah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jee44, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

9. Lompatan Waktu : 8 Tahun Penderitaan

Waktu di dunia fana bergulir tanpa memedulikan penderitaan makhluk di dalamnya. Delapan tahun telah berlalu sejak malam badai supernatural yang meratakan Hutan Bambu Ungu di Gunung Han. Delapan tahun pula, rahasia terbesar tentang sekerat takdir terlarang terkubur rapat di bawah hamparan langit fana yang luas.

Di sebuah wilayah terpencil di bagian barat bumi manusia, tepatnya di pinggiran Desa awan putih, berdiri sebuah gubuk bambu kecil yang sangat sederhana. Gubuk itu bersandar pada kaki bukit yang sepi, jauh dari keramaian penduduk desa lainnya.

Matahari sore memancarkan cahaya jingga yang temaram, menerobos masuk melalui celah dinding bambu yang mulai melapuk. Di atas ranjang bambu yang beralas kain rami tipis, Shen Liya berbaring dengan tubuh yang tampak sangat kurus.

Wajahnya yang semula seputih porselen dan memancarkan keagungan seorang dewi langit, kini tampak kuyu dan pucat pasi. Sinar suci di matanya meredup, menyisakan sepasang manik mata yang sarat akan kelelahan kronis. Bibirnya kering dan pecah-pecah. Setiap kali ia menarik napas, dadanya terasa sangat sesak, disusul oleh batuk kecil yang tertahan.

Uhuk... uhuk...

Shen Liya menyeka bibirnya menggunakan saputangan kain katun yang kasar. Saat ia melihat kain tersebut, sekerat warna merah pekat noda darah suci yang bercampur sulur hitam keunguan menghiasi kain putih itu.

"Waktuku... benar-benar sudah tidak lama lagi," bisik Shen Liya parau, suaranya nyaris menyerupai gesekan daun kering.

Delapan tahun hidup dalam persembunyian sebagai manusia biasa telah menguras seluruh sisa kultivasi sucinya. Efek laten dari Jue Qing San—Racun Pemutus Sukma—ternyata tidak pernah benar-benar lenyap dari tubuhnya.

Tanpa adanya aliran energi dingin murni (Yin) milik Gu Jue untuk menjinakkan api kutukan tersebut secara berkala, racun itu perlahan tapi pasti merayap kembali, menggerogoti meridian tubuh dan inti jiwa Shen Liya dari dalam selama hampir sewindu terakhir.

Namun, di balik penderitaan fisik yang menyiksanya setiap hari, seulas senyuman tulus yang penuh rasa syukur terukir di bibir pucat sang Dewi saat mendengar suara langkah kaki kecil yang mendekat dari arah luar gubuk.

Pintu bambu didorong terbuka dengan pelan dan hati-hati, seolah takut suaranya akan mengganggu tidur sang ibu.

Sesosok anak laki-laki berusia tujuh tahun melangkah masuk. Ia mengenakan pakaian kain rami abu-abunya yang bersih dengan lengan yang digulung rapi hingga siku—sebuah gaya berbusana yang entah mengapa sangat mirip dengan sosok "Gu Jue" di masa lalu. Di tangan kecilnya, anak itu membawa sebuah mangkuk tanah liat berisi air hangat, sementara di punggungnya tergantung sebilah pedang kayu kecil yang diikat dengan tali kain.

Anak itu adalah Gu Yu.

Gu Yu memiliki ketampanan yang teramat sangat untuk ukuran anak fana seusianya. Wajahnya menyerupai pahatan sempurna, dengan hidung mancung dan sepasang mata sehitam tinta yang sangat dalam dan tajam—warisan absolut dari garis darah Mo Jue sang Raja Iblis. Namun, setiap kali ia menatap ibunya, sepasang mata dingin itu seketika mencair, memancarkan kehangatan dan ketulusan yang menuruni sifat suci Shen Liya.

"Ibu, kau terbangun lagi?" panggil Gu Yu kecil, suaranya terdengar lembut namun memiliki kedewasaan yang melampaui usianya.

Ia berjalan mendekati ranjang, lalu dengan sangat teliti meletakkan mangkuk air hangat di atas meja kayu kecil di samping tempat tidur.

Tubuh kecilnya bergerak dengan luwes saat membantu menyusun bantal jerami di belakang punggung Shen Liya agar ibunya bisa duduk dengan lebih nyaman.

"Ibu hanya merindukan suara langkah kakimu, Yu'er," ujar Shen Liya, mengulurkan tangannya yang kurus untuk mengelus rambut hitam lebat putranya dengan penuh kasih sayang.

Gu Yu tidak segera menjawab. Sepasang mata hitamnya melirik sekilas ke arah saputangan bernoda darah yang buru-buru disembunyikan oleh Shen Liya di balik selimut. Kilatan kesedihan dan kecemasan sempat melintas di mata bocah itu, namun ia dengan cepat menekannya dengan rapi. Sejak bisa berpikir logis, Gu Yu tahu ibunya mengidap penyakit supernatural yang sangat aneh.

Ia telah tumbuh menjadi anak yang sangat peka dan mandiri demi merawat ibunya yang sakit-sakitan.

"Aku baru saja kembali dari lereng bukit, Ibu. Aku membawakan air mata air segar dan beberapa daun mint liar untuk meredakan sesak di dadamu," kata Gu Yu, mengambil saputangan bersih lainnya dari atas meja lalu dengan lembut menyeka sisa keringat dingin di dahi Shen Liya.

Shen Liya menatap putranya dengan mata yang berkaca-kaca. Di dalam dada Gu Yu kecil, ia bisa merasakan sebuah aliran energi spiritual yang sangat luar biasa hebat namun tertekan dengan sangat rapi. Gu Yu adalah anak yang istimewa. Sejak lahir, bocah ini tidak pernah sakit, memiliki ingatan yang mengerikan, dan mampu membaca aksara kuno hanya dengan sekali lihat.

Yang paling menakutkan sekaligus membanggakan bagi Shen Liya adalah bakat spiritual tersembunyi milik anaknya. Kadang-kadang, saat Gu Yu berlatih sendirian di halaman dengan pedang kayunya, Shen Liya bisa melihat riak energi kegelapan yang pekat menyelimuti tubuh kecil putranya, sebelum akhirnya diredam kembali oleh kilatan cahaya emas suci yang mengalir di pembuluh darahnya.

Gu Yu memikul dua kekuatan terbesar di tiga alam: darah Dewa Tinggi dan darah Raja Iblis, meski bocah itu sendiri mengira dirinya hanyalah anak dari seorang tabib fana biasa bernama Gu Jue berdasarkan cerita dongeng yang sering disampaikan Shen Liya sebelum tidur.

"Yu'er... kemarilah, duduk di dekat Ibu," panggil Shen Liya lembut, menepuk sisi ranjang bambu yang kosong.

Gu Yu menurut. Ia melepas ikatan pedang kayunya dengan rapi, meletakkannya di sudut ranjang, lalu duduk bersila di samping ibunya. "Ada apa, Ibu? Apakah dadamu terasa sangat sakit lagi hari ini?"

Shen Liya menggelengkan kepalanya perlahan. Ia menggenggam sepasang tangan kecil Gu Yu yang mulai terasa kokoh, menatap lekat-lekat mata hitam putranya yang sangat mirip dengan pria yang dirindukan sekaligus ditinggalkannya delapan tahun lalu.

"Yu'er, kau tahu... Ayahmu adalah pria yang sangat hebat," ujar Shen Liya memulai percakapan yang belakangan ini sering ia sampaikan sebagai bentuk persiapan. "Dia adalah seorang tabib yang sangat pintar di Gunung Han. Dia bisa menyembuhkan penyakit apa pun, dan dia memiliki hati yang sangat kokoh seperti batu gunung."

Gu Yu mendengarkan dengan khidmat. Sepasang mata hitamnya berkilat penuh rasa ingin tahu yang besar. "Jika Ayah adalah tabib yang sangat hebat, mengapa kita tidak pergi menemuinya, Ibu? Mengapa kita harus tinggal bersembunyi di gubuk kecil ini selama bertahun-tahun sementara kau menahan sakit sendirian?"

Pertanyaan polos namun tajam dari Gu Yu membuat dada Shen Liya berdenyut perih. Ia tidak bisa membongkar kebenaran bahwa ia melarikan diri demi melindungi nyawa "Gu Jue" dari amarah tentara langit.

"Dulu... ada kesalahpahaman yang membuat Ibu harus pergi tanpa pamit darinya," dusta Shen Liya, air matanya akhirnya luruh menetes di atas punggung tangan putranya. "Ibu sangat egois karena telah memisahkanmu darinya selama tujuh tahun ini. Tapi sekarang... Ibu tahu tubuh Ibu sudah mencapai batasnya. Umur Ibu tidak akan lama lagi di dunia fana ini."

"Ibu tidak akan mati!" potong Gu Yu cepat, suaranya mendadak meninggi, memancarkan sekerat tekanan intimidasi spiritual yang tidak sadar lolos dari inti tubuhnya akibat rasa takut kehilangan sang ibu. Tangan kecilnya mencengkeram jemari Shen Liya dengan sangat erat.

"Aku akan mencari tanaman obat terbaik di seluruh hutan ini! Aku akan menjadi lebih kuat agar bisa melindungimu!"

Melihat reaksi emosional putranya yang melepaskan riak energi pekat, Shen Liya segera memeluk tubuh kecil Gu Yu, mendekapnya erat ke dalam dadanya sembari membisikkan mantra penenang spiritual.

"Tenanglah, Yu'er... dengarkan Ibu," bisik Shen Liya di dekat telinga putranya yang mulai terisak pelan. "Ibu tidak takut mati. Yang Ibu takuti adalah membiarkanmu sendirian di dunia yang kejam ini tanpa ada yang menjagamu. Karena itu... esok pagi, kita akan melakukan perjalanan jauh. Kita akan kembali ke Gunung Han untuk mencari keberadaan Ayahmu."

Gu Yu terdiam di dalam pelukan ibunya. Ia menyeka air matanya menggunakan lengan jubah raminya, lalu mendongak menatap mata Shen Liya dengan tatapan yang mendadak mengeras, penuh ketetapan hati seorang pria kecil.

"Baik, Ibu. Jika itu yang kau inginkan, aku akan mengawalmu kembali ke Gunung Han," ujar Gu Yu tegas, tangan kecilnya secara insting bergerak menggenggam hulu pedang kayu di sampingnya. "Aku akan membawa Ibu bertemu dengan Ayah, dan jika Ayah benar-benar tabib sehebat yang kau ceritakan... dia harus menyembuhkanmu, apa pun caranya."

Shen Liya hanya bisa tersenyum getir, mengelus kepala putranya dengan penuh rasa haru. Ia tahu pondok di Gunung Han mungkin sudah kosong atau telah berubah setelah delapan tahun lamanya. Namun, mengembalikan Gu Yu ke tempat pertama kali takdir mereka dimulai adalah satu-satunya harapan terakhirnya sebelum jiwanya runtuh menjadi debu kosmis akibat keganasan racun langit.

Malam itu, di bawah sunyinya kaki bukit Desa Awan Putih, gubuk bambu kecil tersebut menjadi saksi dari kemasan barang-barang sederhana yang dilakukan oleh seorang anak berusia tujuh tahun demi perjalanan terjauh di hidupnya.

Gu Yu kecil tidur dengan memeluk pedang kayunya erat-erat, bersiap untuk menantang takdir dunia fana demi menyelamatkan nyawa ibunya, tanpa menyadari bahwa di balik kegelapan hutan di luar gubuk, sepasang mata bertopeng perak milik Pelindung Kanan Feng Wu telah mengawasi rencana kepulangan mereka dengan kilatan ketegangan yang mendalam.

1
Aisyah Suyuti
good
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!