NovelToon NovelToon
MY HOT KILLER LECTURER

MY HOT KILLER LECTURER

Status: sedang berlangsung
Genre:Dosen / Cinta Terlarang / CEO
Popularitas:14.6k
Nilai: 5
Nama Author: Jeonndhhh

"Aku memaafkan pengkhianatanmu demi nama baik keluarga, tapi hatiku sudah mati."

Arga, CEO 30 tahun, terjebak nikah bisnis dengan istri yang hamil anak orang lain. Hatinya dikunci rapat.

Sampai Queen, mahasiswi bar-bar 20 tahun + pewaris universitasnya, datang dan menantang semua aturan.
Satu ciuman di club malam meruntuhkan tembok esnya.

Sekarang Arga harus pilih: Tetap di neraka pernikahan, atau terbakar dalam gairah terlarang dengan mahasiswinya sendiri?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeonndhhh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BADAI YANG KEMBALI MENGULANG

Matahari baru saja naik sepenggalahan, memancarkan cahaya hangat yang menyapu pekarangan luas kediaman Adhitama di Menteng.

Udara pagi terasa begitu segar, membawa angin sepoi-sepoi yang menggerakkan dedaunan hijau di sekitar taman belakang.

Di ruang keluarga yang bernuansa modern klasik didominasi oleh warna krem, furnitur kayu jati pilihan, dan pilar-pilar marmer Italia Queen sedang asyik merapikan mainan balok kayu milik Ganta yang berserakan di atas karpet beludru tebal berwarna abu-abu.

Bocah lima tahun itu kini sedang berada di taman bersama sang kakek, Handoko Adhitama, yang dengan sabar dan penuh kelembutan menemani cucu kesayangannya menanam bibit pohon mangga kecil di dekat kolam ikan.

Tawa renyah Ganta sesekali terdengar samar dari balik dinding kaca raksasa yang membatasi ruangan indoor dan outdoor tersebut, menciptakan pemandangan domestik yang begitu damai dan menenangkan jiwa.

Queen tersenyum kecil, menyeka peluh tipis di dahinya dengan punggung tangan.

Hidupnya terasa begitu sempurna, begitu utuh, dan begitu membahagiakan saat ini.

Tidak ada lagi bayang-bayang ketakutan malam hari, tidak ada lagi kecemasan berlebihan, dan yang paling melegakan, tidak ada lagi nama Keysha yang merusak kedamaian keluarga kecil mereka.

Wanita licik itu kini sedang mendekam di sel isolasi lapas wanita dengan masa hukuman seumur hidup, terisolasi dari dunia luar.

Queen merasa benteng kebahagiaan yang ia bangun bersama Arga sudah cukup kokoh untuk menahan terpaan angin apa pun.

'Ting!'

Suara notifikasi ponsel yang tergeletak di atas meja nakas marmer memecah lamunan Queen.

Suara itu terdengar begitu nyaring di tengah keheningan ruang keluarga yang luas.

Queen bangkit berdiri, melangkah pelan mengenakan sandal rumah berbulu lembut, lalu meraih ponsel pintarnya yang menyala terang di atas permukaan meja.

Sebuah pesan teks dari nomor tak dikenal tertera di layar utama.

Alis Queen sedikit berkerut, rasa penasaran bercampur keheranan merayap di benaknya.

"Nomor Tak Dikenal: Permainan baru saja dimulai, Queen.

Kamu pikir dia benar-benar sudah milikmu seutuhnya?

Kau salah besar."

Jantung Queen seketika berdegup kencang.

Hantaman rasa terkejut yang luar biasa langsung mendera dadanya, membuat aliran darahnya mendesak naik ke kepala dan sekujur tubuhnya meremang dingin seketika.

Pesan itu sangat singkat, tidak panjang lebar, namun ancaman tersirat di dalamnya begitu nyata, begitu tajam, dan begitu mematikan.

Bayangan tentang mimpi buruk masa lalu, tentang ancaman pembunuhan, penculikan, dan teror yang pernah ia alami bersama Arga langsung berkelebat cepat di benaknya bagai kilat menyambar.

Nomor siapa ini?

Bagaimana bisa orang ini tahu nomor pribadinya?

Pikiran Queen langsung melayang kepada kemungkinan terburuk.

Apakah Keysha memiliki kaki tangan yang selama ini bergerak di dalam bayang-bayang?

Atau ada seseorang yang sengaja ingin menghancurkan kebahagiaan yang baru saja mereka raih?

Queen segera menguasai diri, berniat menelepon Arga yang pagi ini sedang berada di kantor pusat perusahaan Adhitama untuk memimpin rapat penting dewan direksi bersama para pemegang saham global.

Ia tahu, dalam situasi darurat seperti ini, Arga adalah satu-satunya pelindung dan tempat berlindung yang paling aman.

Namun, sebelum ibu jari Queen sempat menekan ikon panggilan cepat untuk menghubungi suaminya, sebuah suara berderit pelan mengalihkan seluruh perhatiannya.

Cklek...

Pintu utama penthouse mewah mereka di lantai atas yang seharusnya terkunci rapat oleh sistem keamanan biometrik tingkat tinggi berderit terbuka dengan sangat halus.

Queen membeku di tempatnya.

Napasnya tercekat di tenggorokan.

"Mas...?" panggil Queen ragu-ragu, mencoba berpikir positif dan mengira suaminya kembali ke rumah karena ada berkas penting perusahaan yang tertinggal di ruang kerja lantai atas.

Tidak ada jawaban.

Sunyi senyap.

Yang terdengar hanyalah derap langkah kaki seseorang yang berat dan terukur, menapaki lantai marmer dingin dari arah koridor utama menuju ruang keluarga.

Langkah itu semakin lama semakin mendekat, menciptakan gema yang membuat bulu kuduk Queen merinding hebat.

Queen merapatkan tubuhnya ke dekat sofa, memegang ponselnya dengan kedua tangan yang mulai bergetar hebat.

Ia bersiap untuk meneriakkan nama para pengawal profesional yang biasanya berjaga di pos keamanan luar jika sosok asing yang muncul bukanlah sang suami.

Namun, sosok yang perlahan melangkah masuk dan menampakkan diri di balik sudut ruang keluarga membuat seluruh darah Queen seolah berhenti mengalir.

Napasnya tertahan di ujung dada.

Seorang wanita dengan setelan jas formal berwarna abu-abu gelap, berpotongan maskulin namun elegan, berdiri tegak menatapnya dengan pandangan yang menusuk.

Rambutnya dicepol sangat rapi tanpa sehelai pun yang berantakan, dan wajahnya tampak sangat dingin, tanpa ekspresi.

Namun, di sudut bibirnya, terukir sebuah senyuman tipis penuh misteri, sinis, dan mengerikan.

Itu bukan Keysha.

Wajah itu jauh lebih cerdas, lebih berbahaya, dan jauh lebih mematikan.

Itu adalah Clara mantan rekan bisnis Arga sekaligus wanita brilian namun psikopat yang pernah membantu Keysha meretas sistem keuangan perusahaan Dirgantara lima tahun lalu, sebelum wanita licik itu berhasil melarikan diri ke luar negeri menggunakan paspor palsu untuk menghindari kejaran hukum internasional.

"Clara...?"

cicit Queen, suaranya bergetar hebat, hampir tak keluar dari tenggorokan keringnya.

"Bagaimana bisa kamu ada di dalam sini?!

Pengawal!

Pengawal!"

teriak Queen panik, berusaha mengerahkan seluruh tenaganya untuk memanggil bantuan pos keamanan di luar.

Clara tidak menunjukkan sedikit pun kepanikan mendengar teriakan Queen.

Sebaliknya, wanita itu justru tertawa kecil, suara tawanya terdengar begitu dingin, hampa, dan mengerikan di dalam ruang keluarga yang luas itu.

"Simpan teriakanmu sia-sia itu, Queen," ucap Clara dengan nada suara yang tenang namun penuh penekanan yang menakutkan.

"Pengawal-pengawal pribadi suamimu yang terlatih itu sedang sibuk melayani 'kejutan' kecil yang kubuat di pos gerbang utama.

Mereka tidak akan sempat mendengar suara teriakanmu dari sini."

Queen melangkah mundur perlahan, matanya menatap tajam ke arah wanita di hadapannya.

Rasa takut yang sempat melumpuhkan kakinya kini perlahan-lahan tersapu oleh insting keibuannya yang menyala-nyala.

Pikirannya langsung tertuju pada Ganta yang masih berada di taman luar bersama sang kakek.

Clara melangkah maju perlahan, sepatu hak tingginya menghasilkan suara ketukan yang berirama di atas lantai marmer.

Matanya yang tajam menatap ke arah perut rata Queen sejenak, lalu beralih menatap jendela kaca besar yang memperlihatkan sosok Ganta sedang tertawa riang bersama Handoko di halaman luar.

"Lucu sekali," bisik Clara sinis, melipat kedua tangannya di dada.

"Kamu pikir hukuman seumur hidup Keysha adalah akhir dari segalanya?

Kamu pikir kalian bisa hidup bahagia selamanya tanpa bayar harga apa pun?

Keysha itu wanita bodoh yang bertindak hanya mengandalkan emosi murahan.

Tapi aku?

Aku tidak seperti dia.

Aku bermain menggunakan strategi jangka panjang, kesabaran, dan perhitungan matematis yang presisi."

Clara menghentikan langkahnya, menatap lurus ke dalam mata bulat Queen dengan seringai lebar yang menyeramkan.

"Dan sekarang... aku kembali ke Indonesia untuk mengambil kembali apa yang seharusnya menjadi milikku, termasuk menghancurkan keluarga Dirgantara dan Adhitama sampai berkeping-keping tanpa tersisa sedikit pun."

Queen mengepalkan kedua tangannya hingga kuku-kukunya menancap di telapak tangannya sendiri.

Ketakutan yang sempat menguasainya kini sepenuhnya berubah menjadi kemarahan seorang ibu yang siap menerkam siapa saja yang berani mengusik ketenangan buah hatinya.

"Jangan pernah berani menyentuh anakku, Clara!"

bentak Queen, suaranya menggema penuh ketegasan dan amarah yang meluap-luap di dalam ruangan itu.

"Kalau kamu berani menyentuh Ganta sedikit saja, keluargaku tidak akan pernah mengampuni nyawamu!"

Clara tertawa meremehkan, lalu perlahan merogoh saku dalam jas formalnya.

Ia mengeluarkan sebuah perangkat kecil berbentuk pengendali jarak jauh dengan lampu indikator merah yang berkedip-kedip lambat.

"Kita lihat saja nanti, Nyonya Dirgantara," ancam Clara dengan tatapan mematikan.

"Permainan baru saja dimulai, dan kali ini... kalian tidak akan punya kesempatan untuk menang."

---

Di saat yang bersamaan, di lantai 45 gedung pencakar langit pusat perusahaan Adhitama di kawasan SCBD, suasana ruang rapat utama yang biasanya tegang dan kaku mendadak terhenti.

Arga Dirgantara sedang berdiri di depan layar proyektor besar, memegang pointer laser sambil memaparkan laporan kuartal terakhir perusahaan di hadapan puluhan direktur dan komisaris eksekutif.

Wajahnya tampak serius, memancarkan aura kepemimpinan yang dingin dan berwibawa.

Tiba-tiba...

'Bum!'

Suara dering ponsel pribadi Arga yang diletakkan di atas meja mahoni besar berdering nyaring.

Nada dering itu diatur khusus untuk panggilan darurat dari sistem keamanan utama rumah tinggalnya di Menteng.

Arga menghentikan paparannya seketika.

Alisnya bertaut tajam.

Para direktur di ruangan itu saling berpandangan, menyadari perubahan ekspresi drastis di wajah sang CEO utama.

Arga segera meraih ponselnya, mengusap layar untuk mengangkat panggilan tersebut.

Sebelum ia sempat berkata apa pun, suara panik dari kepala tim pengawal pribadinya terdengar bergemeretak di ujung sambungan telepon, disusul oleh suara bising kekacauan di latar belakang.

"Tuan Arga!

Gawat!

Sistem keamanan gerbang utama kita diretas oleh pihak luar!

Ada kelompok penyusup tak dikenal yang memicu bom asap di pos pengamanan luar, dan satu unit penyusup berhasil melompati pagar sisi timur menuju ke dalam rumah utama!

Nyonya Queen dalam bahaya!"

'Deg!'

Dunia di sekitar Arga seolah runtuh seketika.

Suara di ruang rapat mendadak senyap, lenyap ditelan oleh deru detak jantungnya sendiri yang berdegup kencang bak palu menghantam dada.

Wajah Arga memucat pasi, dan dalam sepersekian detik, aura dingin yang biasa ia tunjukkan berubah menjadi kemarahan mutlak yang siap membakar apa saja.

Tanpa memedulikan puluhan investor penting yang sedang duduk terpaku di hadapannya, Arga membanting pointer di tangannya ke atas meja hingga hancur berkeping-keping.

Pria itu membalikkan tubuhnya dengan gerakan cepat, menyambar jas kerjanya yang tersampir di kursi, dan melangkah lebar meninggalkan ruang rapat tanpa mengucapkan sepatah kata penutup pun.

"Batalkan seluruh agenda rapat hari ini!"

perintah Arga dengan suara baritonnya yang menggelegar penuh amarah, menggema di seluruh lantai ruangan saat ia berlari menuju lift pribadi menuju lantai dasar tempat mobil sport mewahnya terparkir.

Badai yang selama ini dikira telah padam sepenuhnya, kini kembali bangkit membawa ancaman kehancuran yang jauh lebih besar dan mengerikan.

Arga tahu betul, ia tidak boleh terlambat.

Nyawa istri dan putra tercintanya adalah taruhan mutlak dari napas hidupnya di bumi ini.

1
atik
Bagus
putri auliza
baguss bangettt
recom lah pokoknyaa
putri auliza
thorr yang panjang lagi dong
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!