Di dunia fantasi Eldoria yang dikuasai oleh perserikatan klan penyihir, Aura Zephyra adalah perwujudan dari kepolosan masa muda. Sebagai putri sulung dari Klan Penyihir Angin yang agung, hidup remajanya dipenuhi dengan tulusnya cinta kepada tunangannya, Gavin Elrod. Namun, di hari pernikahan mereka yang seharusnya menjadi momen paling bahagia, cinta itu berubah menjadi mimpi buruk. Gavin mengkhianatinya, membantai seluruh klannya, dan menusuk dada Aura demi merebut Inti Sihir Angin untuk ambisi takhtanya. Di ambang kematian, dalam kobaran api kuil yang hancur, Aura mengutuk Gavin dengan air mata darah.
Bukannya lenyap, jiwa Aura justru terlempar kembali ke masa lalu—dua tahun sebelum tragedi pembantaian itu terjadi. Terbangun di tubuh remajanya yang berusia tujuh belas tahun, Aura bukan lagi gadis naif yang bisa dibodohi. Keajaiban regresi waktu tidak hanya membawa ingatannya, tetapi juga membangkitkan atribut sihir terlarang yang telah punah ribuan tahun: Sihir Es Kuno.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AnnaYoung, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jaring Laba-Laba dari Bayangan
Malam merayap di atas langit Ibu Kota Eldoria dengan membawa kabut tipis yang mendinginkan jalanan batu porselen. Di distrik kelas atas yang dihuni oleh para bangsawan, lentera-lentera sihir menyala dengan pendar kuning yang temaram, memantulkan bayangan-bayangan panjang di dinding tinggi.
Namun, di dalam ruang rahasia Kediaman Klan Bayangan—salah satu dari empat klan besar pendukung utama faksi Elrod—suasananya jauh lebih pekat daripada kegelapan malam di luar.
Ruangan itu tidak diterangi oleh api biasa, melainkan oleh lilin-lilin hitam yang memancarkan aroma getah pohon mati. Di tengah ruangan, sebuah meja bundar dari kayu hitam dikelilingi oleh tiga orang pemimpin klan yang wajahnya mengeras oleh kecemasan dan dendam.
Duke Gerald Elrod duduk dengan kedua tangan mengepal di atas meja, rahangnya mengeras hingga otot-otot lehernya menonjol. Di sampingnya, Lord Ignis Senior dari Klan Api Barat menatap lurus dengan mata yang berkilat merah karena amarah.
Di seberang mereka berdua, duduk Lord Malakar, sang pemimpin Klan Bayangan yang tubuhnya hampir sepenuhnya menyatu dengan kegelapan jubahnya.
"Gavin masih belum sadarkan diri ...," Duke Gerald memecah keheningan dengan suara serak yang sarat akan kebencian. "Penyembuh kekaisaran mengatakan bahwa energi es di dalam tubuhnya telah merusak lebih dari tujuh puluh persen pembuluh magis utamanya. Bahkan jika dia terbangun, dia tidak akan pernah bisa melangkah ke Tingkat Lima seumur hidupnya. Anakku ... jenius klan kami, telah diubah menjadi seorang cacat oleh jalang itu!"
"Putraku juga menderita luka dalam yang parah karena hawa dingin terkutuk itu!" Lord Ignis Senior menyahut, suaranya seperti bara api yang mendesis. "Klan Zephyra telah melintasi batas. Raymond berpikir dia bisa menginjak-injak kita semua hanya karena putrinya merangkak ke ranjang Monster Utara! Kita tidak bisa membiarkan mereka menyelesaikan Ujian Sihir Kekaisaran minggu depan. Jika wanita jalang itu memenangkan posisi nomor satu, kaisar akan memberikan hak pengelolaan tambang kristal magis barat kepadanya. Dan kita akan kehilangan pasokan energi terbesar kita!"
Lord Malakar dari Klan Bayangan perlahan menegakkan tubuhnya, wajahnya yang separuh tertutup topeng kain hitam mengulas senyuman yang tak terlihat.
"Kalian berdua terlalu tidak sabaran. Di dalam istana, Kaelen Vane mungkin memiliki perisai hukum militer Utara. Namun, di luar Istana Matahari, di jalanan ibu kota yang gelap ... hukum ditulis oleh mereka yang menguasai belati dari balik bayangan."
Malakar mengetukkan jarinya ke atas meja, memanggil seberkas asap hitam yang membentuk peta distrik komersial ibu kota.
"Besok malam adalah malam bulan mati. Pasokan batu sihir angin milik Klan Zephyra yang dialihkan ke Utara akan dipindahkan dari gudang timur menuju pelabuhan transit. Di sana, perlindungan ksatria hitam Kaelen Vane akan menipis karena mereka harus menjaga kediaman utama."
"Kau ingin kita merampoknya?" Duke Gerald menyipitkan mata.
"Bukan sekadar merampok ...," Malakar berbisik, matanya berkilat licik. "Kita akan membakarnya dengan Api Abyss yang diselundupkan oleh faksi kita. Kita akan memancing Aura Zephyra keluar secara pribadi untuk menyelamatkan aset klannya. Begitu dia keluar dari jangkauan perlindungan Kaelen Vane di kediaman utama, pembunuh bayangan tingkat tinggiku bersama dengan para tetua Klan Api Bara akan mengepungnya. Kita tidak perlu membunuhnya di tempat jika itu memicu perang; kita hanya perlu merobek inti sihirnya, membalas apa yang dia lakukan kepada Gavin, lalu membuang tubuhnya ke saluran pembuangan kota."
Duke Gerald terdiam sejenak, menimbang risiko politiknya. Namun, bayangan putranya yang terbaring lemah dengan pergelangan tangan hancur menghapus semua sisa rasiologinya. "Lakukan, Malakar! Pastikan jalang itu merasakan apa itu neraka yang sesungguhnya."
Selagi konspirasi gelap sedang dijalin di Kediaman Klan Bayangan, di dalam paviliun barat Kediaman Zephyra, Aura sedang duduk bersila di atas ranjangnya. Suasana kamar itu sangat dingin hingga kaca jendela dipenuhi oleh pola-pola es alami yang membentuk mawar-mawar kecil.
Di dalam ruang kesadarannya, Aura sedang menstabilkan energinya setelah pertarungan di arena. Fondasi Tingkat Keempat Puncaknya kini telah sepenuhnya kokoh. Energi es kunonya mengalir dengan patuh, tidak lagi liar seperti saat ia pertama kali keluar dari gua.
Tok, tok, tok.
Ketukan pelan di pintu membuyarkan kultivasinya. Aura membuka mata birunya yang berkilat jernih.
"Masuk," ucapnya.
Pintu terbuka, memperlihatkan Boris, ajudan setia Kaelen, yang melangkah masuk dengan kepala tertunduk hormat. Di belakangnya, Kaelen melangkah masuk dengan pakaian kasual hitam, membawa gulungan perkamen kecil di tangannya.
"Yang Mulia Ratu ...," Boris berbicara dengan nada rendah. "Mata-mata kita yang ditempatkan di sekitar distrik klan besar telah mendeteksi pergerakan yang tidak biasa dari Klan Bayangan dan Klan Api Bara sejak sore tadi. Beberapa penyihir pembunuh tingkat tinggi mereka dilaporkan meninggalkan kediaman dengan menyamar sebagai pedagang."
Aura turun dari ranjangnya dengan keanggunan yang alami, jubah tidurnya yang berwarna biru muda berdesir pelan.
"Mereka bergerak lebih cepat dari yang kukira. Apa target mereka, Boris?"
Kaelen melangkah maju, menyerahkan gulungan perkamen itu kepada Aura.
"Gudang timur Klan Zephyra. Tempat di mana ayahmu menyimpan stok kristal sihir angin yang akan dikirim ke Utara minggu depan. Mereka ingin memotong jalur logistik kita, sekaligus memancingmu keluar, istriku."
Aura membuka perkamen tersebut, membaca rincian laporan intelejen dengan senyuman mawar es yang perlahan mengembang di bibirnya.
Malam berikutnya tiba dengan kegelapan yang mutlak. Bulan benar-benar tersembunyi di balik awan hitam yang tebal, menyelimuti distrik gudang timur ibu kota dalam kesunyian yang mencekam. Gudang besar yang terbuat dari batu hitam itu tampak sepi, hanya dijaga oleh beberapa penjaga klan Zephyra tingkat rendah yang tampak terkantuk-kantuk.
Dari balik kegelapan atap bangunan di seberang gudang, belasan sosok berbaju hitam dengan topeng perak mengintai dengan napas yang tertahan. Mereka adalah para pembunuh dari Klan Bayangan, didampingi oleh dua tetua dari Klan Api Bara yang memegang botol kristal berisi cairan merah bergejolak—Api Abyss.
"Sekarang. Bakar tempat itu!" Pemimpin pembunuh memberikan perintah lewat transmisi suara sihir.
Dua tetua Klan Api Bara melemparkan botol kristal tersebut ke arah atap dan pintu utama gudang Zephyra.
PRANG! BOOOM!
Seketika, api berwarna ungu kehitaman meledak dengan dahsyat, melahap seluruh bangunan batu itu dalam hitungan detik. Api Abyss tidak membutuhkan kayu atau bahan bakar biasa, api itu memakan energi magis dari kristal sihir angin di dalam gudang, menciptakan ombak kepulan asap beracun yang membubung tinggi ke langit malam.
Para penjaga Zephyra di bawah berteriak panik, berlarian mencoba memadamkan api dengan sihir air tingkat rendah, namun api terlarang itu menolak untuk padam.
"Target terkonfirmasi! Alarm kediaman Zephyra pasti sudah berbunyi sekarang. Bersiap di posisi pengepungan!" Pemimpin pembunuh memerintahkan pasukannya untuk menyebar ke dalam gang-gang gelap di sekitar gudang, menyiapkan formasi penangkap sihir tingkat tinggi.
Kurang dari sepuluh menit kemudian, suara derap langkah kaki yang tergesa-gesa terdengar dari ujung gang barat.
Sesosok tubuh dengan jubah bertudung hitam tebal berlari mendekati area gudang yang terbakar. Begitu sosok itu melangkah masuk ke tengah gang yang gelap dan sempit, jubah tudungnya terbuka karena embusan angin kencang, memperlihatkan rambut perak yang berkilau di bawah pendar api ungu.
Itu adalah Aura Zephyra. Wajah remajanya tampak dipenuhi kecemasan dan kepanikan yang luar biasa di mata musuh-musuhnya.
"Oh tidak ... kristal-kristal itu ...." Aura bergumam dengan suara yang sengaja dikeraskan, melangkah mundur dengan panik saat melihat gudang keluarganya habis dilahap api.
"Hahaha! Sudah terlambat untuk meratap, Nona Muda Zephyra!"
Sebuah tawa kejam bergema dari kegelapan dinding gang. Belasan sosok berbaju hitam melompat turun dari atap, mengunci jalan keluar dan jalan masuk gang tersebut sepenuhnya. Lord Malakar sendiri melangkah keluar dari dalam bayangan pilar batu di ujung gang, ditemani oleh dua Tetua Klan Api Bara yang tangannya masih diselimuti sisa api ungu.
"Lord Malakar?!" Aura membelalakkan matanya. "Klan Bayangan ... beraninya kalian membakar aset keluargaku di ibu kota! Pangeran Kaelen tidak akan melepaskan kalian!"
"Pangeran Kaelen-mu yang agung sedang sibuk menjaga kediaman utamamu yang kami serang dengan umpan ilusi, Gadis Bodoh!" Malakar mendengus remeh, melangkah mendekat dengan belati hitam yang dilapisi racun kelumpuhan di tangannya.
"Malam ini, di gang terisolasi ini, tidak ada Serigala Utara yang bisa menyelamatkanmu. Kau telah menghancurkan masa depan Gavin Elrod, dan malam ini, kami akan mengambil inti sihir esmu sebagai bayarannya!"
Dua Tetua Klan Api Bara maju ke depan, melepaskan lingkaran sihir merah besar yang mengunci aliran udara di dalam gang, menekan semua energi sihir angin agar tidak bisa digunakan.
"Menyerahlah, Aura! Sihir esmu tidak akan bisa keluar di bawah formasi penekan api kami!"
Aura terdiam sejenak. Perlahan, ekspresi ketakutan dan panik di wajah cantiknya memudar secara instan, digantikan oleh senyuman dingin yang begitu menyeramkan hingga membuat langkah kaki Malakar mendadak terhenti.
Aura menegakkan tubuhnya, menatap belasan pembunuh di sekelilingnya dengan pandangan mata biru es murni yang berkilat kejam di tengah kegelapan malam.
"Kalian tahu ...," Aura berbicara dengan nada suara yang sangat tenang dan santai, kehilangan semua getaran kepanikan sebelumnya. "Akting ketakutan ini benar-benar melelahkan bagi otot wajahku. Tapi, terima kasih karena telah berkumpul dengan rapi di dalam gang sempit ini, Lord Malakar."
"Apa?!" Malakar mengerutkan dahi, insting pembunuhnya tiba-tiba menjeritkan alarm bahaya yang ekstrem.
"Formasi penekan sihir kalian ... hanya bekerja untuk penyihir tingkat rendah." Aura mengangkat tangan kanannya yang halus ke udara, perlahan membuka kelima jarinya. "Kalian mengira api ungu kalian bisa menakutiku? Mari kuperlihatkan bagaimana rupa dari badai es yang sesungguhnya."
BUMMM!!!
Sebuah tekanan magis Tingkat Keempat Puncak yang murni dan sangat masif meledak dari tubuh Aura secara instan, menghancurkan seluruh formasi penekan api milik dua Tetua Klan Api Bara menjadi serpihan energi yang hancur berantakan. Hawa dingin ekstrem yang keluar dari tubuh Aura begitu kuat hingga membuat api Abyss berwarna ungu yang membakar gudang di seberang mereka mendadak membeku dan padam dalam sekali sentakan energi.
Gang sempit itu, dalam waktu kurang dari satu detik, berubah menjadi gua es abadi yang siap menelan mangsanya tanpa sisa.