Putri Aurelia dari Kerajaan Oakhaven menghabiskan seluruh hidupnya seperti burung di dalam sangkar emas, terisolasi di menara kaca istana yang megah. Namun, kedamaian semu itu berakhir ketika ia menginjak usia dua puluh satu tahun. Demi menyelamatkan kerajaannya yang mulai runtuh dan menghentikan perang tiga dekade yang berdarah, Aurelia terpaksa menjadi tumbal politik. Ia harus bertunangan dengan Pangeran Cassian dari Kerajaan Valenica di Utara—seorang panglima perang yang dikenal kejam, dingin, dan dijuluki "monster medan perang."
Pertemuan pertama mereka di Aula Agung langsung memicu percikan ketegangan. Alih-alih tunduk pada intimidasi sang Pangeran yang memiliki tatapan sepekat badai, Aurelia justru menyambutnya dengan keberanian dan lidah yang tajam. Keteguhan hati Aurelia justru memikat rasa ingin tahu Cassian, yang terbiasa menghadapi kepatuhan yang membosankan.
Di balik kemegahan rencana pernikahan mereka, bahaya besar sedang mengintai. Aurelia tidak hanya harus beradaptasi dengan calon suaminya yang penuh teka-teki, tetapi ia juga harus belajar bertahan hidup di tengah dinding istana yang dipenuhi intrik politik, racun, dan pengkhianatan. Ini adalah kisah tentang dua jiwa dari dunia yang bertolak belakang, yang harus memilih antara saling menghancurkan atau bersatu demi menyelamatkan sebuah kekaisaran.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anggi Septianti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 35 : Labirin Kepercayaan di Valencia
Pagi hari di kota Frosthold tidak ditandai dengan terbitnya matahari, melainkan dengan perubahan cahaya dari kelabu gelap menjadi kelabu pucat yang menyakitkan mata. Aurelia berdiri di dekat jendela kamar yang terbuat dari es transparan, menatap kota Frosthelm yang tertutup badai abadi. Pikirannya masih terbayang oleh pertemuan semalam, terutama pada sosok Lord Hakon.
Tidak seperti dugaannya, Hakon tidak tampak seperti seorang pengkhianat yang haus darah. Ada sesuatu yang lebih rumit di balik tatapan pria itu—sebuah kepahitan yang terpendam,
Saat Cassian sedang menghadap para Tetua untuk membahas administrasi kerajaan, Aurelia memutuskan untuk menjelajahi lorong-lorong istana Frosthold. Ia bertemu dengan Hakon di perpustakaan kuno yang menyimpan catatan silsilah kerajaan.
"Anda terlihat sangat berhati-hati, Ratu Aurelia," suara Hakon terdengar tenang, tanpa nada sarkasme yang ia tunjukkan di depan para Tetua semalam.
Aurelia membalikkan badan, tangannya secara insting berada di dekat perutnya. "Saya punya alasan untuk berhati-hati, Lord Hakon. Terutama setelah apa yang dikatakan tentang tradisi kalian."
Hakon mendekat, namun menjaga jarak yang sopan. "Tradisi di Valencia bukan sekadar aturan, itu adalah belenggu. Saya pernah mencoba melawannya bertahun-tahun lalu, bukan untuk merebut takhta, melainkan untuk mengubah sistem yang membekukan potensi kerajaan ini. Saya gagal, dan dunia menganggap saya sebagai pemberontak yang menginginkan mahkota."
Aurelia tertegun. "Jadi, Anda tidak pernah menginginkan takhta itu?"
"Takhta ini adalah beban, bukan hadiah," jawab Hakon dengan getir. "Saya hanya ingin Valencia memiliki masa depan di mana rakyatnya tidak perlu hidup dalam ketakutan akan para Tetua. Namun, saya dipaksa bermain peran sebagai 'paman yang ambisius' agar para Tetua tetap percaya pada loyalitas palsu saya. Itu adalah satu-satunya cara agar saya tetap bisa melindungi Cassian dari kejauhan."
Percakapan itu mengubah pandangan Aurelia. Ia menyadari bahwa di balik tembok-tembok Frosthold yang dingin, terdapat intrik yang jauh lebih dalam daripada sekadar perebutan kekuasaan. Ada perang dingin antara mereka yang ingin menjaga masa lalu dan mereka yang—seperti Hakon—telah menyerah pada keputusasaan.
"Jika Anda bukan musuh, mengapa Anda membiarkan mereka mengatakan bahwa saya akan dipisahkan dari anak saya?" tanya Aurelia, suaranya melembut.
"Karena saya harus menunjukkan bahwa saya setuju dengan mereka," balas Hakon pelan. "Jika saya menunjukkan empati, para Tetua akan menyingkirkan saya. Tapi dengarkan saya, Ratu Aurelia: jika mereka benar-benar mencoba mengambil bayi itu, larilah. Jangan pernah percaya pada sumpah kesetiaan para Tetua. Mereka menyembuh 'Jantung Es' di bawah istana ini, dan mereka akan melakukan apa saja untuk menjaga detaknya, bahkan jika itu berarti mengorbankan darah daging kerajaan sendiri."
Pertemuan dengan Cassian
Ketika Cassian kembali, ia mendapati Aurelia sedang menatap api kecil di perapian dengan pandangan kosong. Cassian segera memeluknya dari belakang.
"Apa yang terjadi? Kau tampak sangat tertekan," bisik Cassian.
Aurelia berbalik, menatap suaminya dengan penuh keseriusan. "Kita salah sangka tentang Hakon, Cassian. Dia bukan musuhmu. Dia adalah satu-satunya sekutu yang kita miliki di sini, meski dia harus berpura-pura menjadi musuhmu demi keselamatanmu sendiri selama bertahun-tahun."
Cassian terdiam, mencoba mencerna informasi itu. "Itu menjelaskan mengapa dia selalu menjaga jarak denganku sejak aku kecil. Dia mencoba menjauhkan aku dari radar para Tetua."
"Dan ada yang lebih buruk," lanjut Aurelia, menceritakan tentang 'Jantung Es'. "Mereka siap mengorbankan siapapun demi menjaga stabilitas magis kerajaan ini. Jika mereka menganggap anak kita sebagai kunci atau ancaman bagi jantung itu, mereka tidak akan ragu untuk bertindak."
Mengatur Langkah: Menghubungi Elian
Cassian mengencangkan pelukannya. "Kita tidak akan membiarkan itu terjadi. Kita akan menggunakan semua kekuatan yang kita miliki. Aku akan mulai menyelidiki catatan kuno yang Hakon bicarakan. Kita butuh rencana untuk keluar dari sini jika keadaan memburuk."
Aurelia mengangguk. "Dan aku harus menghubungi Elian. Dia adalah mata dan telingaku di Selatan."
Malam itu, di kamar yang diselimuti sihir pelindung, Aurelia menggunakan cermin komunikasi rahasia. Butuh waktu lama hingga akhirnya wajah Elian muncul di permukaan cermin.
"Kak Aurelia?" suara Elian terdengar dari balik cermin. "Aku baru saja selesai memeriksa batas wilayah Oakhevene. Mengapa kau menghubungiku lewat jalur terlarang?"
"Elian, dengarkan aku," Aurelia berbisik, memastikan tidak ada penjaga di dekat pintu. "Situasi di Valencia jauh lebih berbahaya dari yang kita bayangkan. Para Tetua di sini memiliki rahasia kuno, dan mereka menginginkan anak ini. Aku butuh kau untuk menyiapkan bala bantuan, namun lakukan secara rahasia. Jangan biarkan Ayah tahu terlalu banyak, aku tidak ingin dia mengorbankan keselamatannya demi kami."
Elian tampak terkejut, namun ia segera menenangkan dirinya. "Aku mengerti, Kak. Aku akan mulai mengumpulkan pasukan bayangan. Mereka tidak akan curiga jika aku bergerak atas nama latihan rutin akademi. Apa yang harus aku lakukan jika terjadi sesuatu?"
"Jika aku mengirimkan tanda api biru di langit malam, itu artinya kau harus datang. Gunakan portal jarak jauh yang pernah kita pelajari di perpustakaan," instruksi Aurelia.
"Aku akan siap, Kak," janji Elian dengan tatapan penuh tekad.
Setelah komunikasi terputus, Aurelia merasa sedikit lebih lega. Namun, kelegaan itu tidak bertahan lama. Saat ia mematikan cermin, ia mendengar suara langkah kaki di luar pintu kamarnya. Langkah kaki yang lambat, berat, dan pasti. Seseorang sedang mengawasi mereka.
Cassian dengan cepat memadamkan cahaya di ruangan, memberi isyarat agar Aurelia tetap diam. Mereka mendekati pintu, siap dengan senjata masing-masing.
"Siapa di luar?" tanya Cassian dengan suara berat.
Tidak ada jawaban. Hanya keheningan yang menyelimuti lorong istana the Frosthold. Ketika mereka membuka pintu, lorong itu kosong, hanya ada selembar bulu gagak hitam yang tertinggal di lantai es. Itu adalah tanda dari para Tetua—sebuah peringatan bahwa mereka sedang diawasi.
"Mereka tahu kita merencanakan sesuatu," bisik Cassian.
Aurelia menatap bulu itu dengan ngeri. "Ini baru permulaan, Cassian. Kita tidak hanya melawan tradisi, kita melawan sesuatu yang telah berurat akar di istana ini selama ribuan tahun."
Di tengah badai salju yang menghantam dinding istana the Frosthold, Cassian dan Aurelia kini memiliki sekutu yang tak terduga, namun mereka juga menyadari bahwa setiap langkah mereka diawasi. Labirin kepercayaan telah terbuka; mereka kini tahu siapa yang harus diawasi dan siapa yang harus dirangkul.
Namun, di lorong istana yang gelap, seorang Tetua berdiri diam, mendengarkan setiap bisikan dari balik pintu kamar mereka. Permainan ini baru saja dimulai, dan di kerajaan es ini, satu langkah salah berarti kematian yang kekal. Aurelia menyentuh perutnya, berjanji dalam hati bahwa ia tidak akan membiarkan siapapun, entah itu Tetua atau kekuatan kuno di bawah istana, menyentuh masa depan yang sedang ia bawa.
Istana the Frosthold mungkin adalah tempat di mana ego dihancurkan, tapi bagi Aurelia, ini adalah tempat di mana ia akan membangun kembali segalanya—apapun risikonya. Ia bukan lagi gadis yang takut pada bayang-bayang; ia adalah Ratu yang akan membawa cahaya ke dalam kegelapan abadi Valencia, dan ia akan memastikan bahwa anaknya akan lahir di bawah langit yang bebas, jauh dari dinginnya Frosthold yang membekukan jiwa.
Setiap detik di sini adalah peperangan. Namun, dengan api tekad yang menyala di hatinya, Aurelia tahu bahwa mereka tidak akan pernah membeku. Mereka akan menjadi api yang menghanguskan kebohongan dan mencairkan es yang selama ini mengurung kerajaan ini. Besok, hari baru akan tiba, dan dengan setiap langkah yang mereka ambil, mereka semakin dekat menuju kebebasan yang sesungguhnya.
*•*
*•*
*•*
*•*
*•*
ehh iya kalo ada waktuu mampir jugaa yaa ke novel kuu "Tak Semua Tangis Memiliki suara"