Sekte kuno Pedang Langit yang berjaya selama seribu tahun, dalam lima ratus tahun terakhir mengalami kemunduran akibat seluruh guru besar dan murid sekte bahkan sesepuh serta ketua sekte tewas dalam perang melawan Klan Iblis. Hanya tersisa, seorang murid luar Li Tianchen dan mendapatkan warisan dari guru besar. li Tianchen menjadi ketua sekte Pedang Langit.
Hidup damai dan nyamannya mulai terusik, saat Sekte -sekte baru menyerang dan ingin menguasai wilayah sekte Pedang Langit.
Mampukah Li Tianchen mempertahankan sekte pedang Langit? Dapatkah Tianchen mendapatkan murid untuk membantu sekte meraih puncak tertinggi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss_Dew, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SEKTE KUNO 31
Pagi harinya, sinar matahari terbit memancarkan pendar keemasan di atas Puncak Pedang Langit. Kabut tipis menyelimuti area pelataran saat Tianchen berdiri tegak di ambang pintu utama Balai Leluhur. Semua perlengkapan, mulai dari batu roh murni hingga pil-pil obat berharga, telah tersimpan rapi di dalam cincin penyimpanan spiritual berukir naga di jarinya.
Yuanling berdiri tepat di depannya, mengusap bahu jubah Tianchen untuk terakhir kali, sementara Lingling, sang Ratu Rubah Valeska dalam wujud kucing putih meringkuk manis di dalam pelukan Yuanling.
"Aku akan pergi paling cepat tiga hari, dan paling lama tujuh hari," ucap Tianchen seraya menatap mata istrinya dengan penuh kehangatan. "Selama aku tidak ada di sekte, aku mempercayakan tempat ini sepenuhnya padamu, Yuanling."
Tianchen lalu memalingkan pandangannya ke arah kucing putih di lengan istrinya. Matanya menyipit tajam. "Dan kau, Lingling. Tugas utamamu adalah menjaga keselamatan istriku. Jangan coba-coba keluyuran atau bertindak ceroboh."
Grrrrr...
Suara geraman tipis terdengar dari tenggorokan Lingling. Bulu putih di sekitar lehernya berdiri tegak. Di dalam hatinya, Valeska menjerit murka, membayangkan betapa inginnya ia mencakar wajah tampan pria di hadapannya ini hingga hancur. Namun, saat niat membangkang itu muncul, ukiran teratai emas di jiwanya mendadak memancar sejuk, mengikat kesadaran dan kekuatannya secara mutlak. Rasa patuh yang dipaksakan oleh Kontrak Hewan Roh membuatnya tak mampu melayangkan satu pun serangan.
Bajingan kau, pria gila! umpat Valeska dalam batinnya yang mendidih. Kau menjadikanku hewan peliharaan, membagikan kontrakku pada wanita fana ini, dan sekarang menyuruhku menjadi pengawal?! Awas saja kau... jika kekuatan Suci Murni milikku kembali sepenuhnya, aku akan... Ugh! Kenapa jiwaku terasa terbakar setiap kali aku berniat jahat padamu?!
Mengabaikan gertakan tersembunyi sang ratu rubah, Tianchen kembali menatap Yuanling. "Yuanling, kau bebas memasuki seluruh area sekte ini. Gunakan semua fasilitas yang ada tanpa ragu. Jika kau merasa bingung atau membutuhkan petunjuk, pergilah ke Perpustakaan Agung. Di sana ada Jiwa Penjaga yang bisa membimbingmu secara detail. Lalu, jika kau memerlukan senjata atau artifak pelindung, datanglah ke Paviliun Harta dan Senjata. Di sana juga ada Jiwa Tetua Penjaga yang bisa menjelaskan fungsi dari setiap benda yang tidak kau ketahui."
"Baik, Suami," sahut Yuanling anggun sambil mengangguk pelan. "Aku akan mengingat semua pesanmu. Pergilah dengan tenang dan berhati-hatilah di luar sana."
Saat Tianchen hendak berbalik melangkah, suara langkah kaki yang terburu-buru terdengar dari arah lorong sayap barat. Su Ziyan berlari kencang dengan jubah latihannya yang sedikit berantakan. Wajahnya tampak panik sekaligus cemas.
"Guru! Tunggu sebentar, Guru!" teriak Ziyan terengah-engah begitu sampai di hadapan Tianchen. Ia membungkuk dalam-dalam. "Maafkan murid yang lancang mengganggu keberangkatan Guru! Tapi ada masalah besar dalam kultivasiku!"
Tianchen menghentikan langkahnya, menatap murid tunggalnya itu dengan tenang. "Ada apa dengan kultivasimu, Ziyan? Bukankah kau sudah menembus Ranah Pencerahan?"
Ziyan mengusap keringat di keningnya, merapatkan kedua telapak tangannya di depan dada. "Benar, Guru. Kecepatan kultivasiku memang melesat tajam dan aku sudah menguasai lima teknik Inti Pedang. Namun... semenjak tadi malam, saat aku mencoba mengendapkan qi, elemen es murni dalam tubuhku terasa sangat tersumbat! Aliran spiritual Pencerahan milikku tidak bisa menyatu dan justru bentrok hebat dengan energi es di meridian dada! Setiap kali aku memaksakannya, rasanya seperti ada es batu yang menusuk organ dalamku!"
Tianchen tidak langsung menjawab. Ia mengulurkan dua jarinya dan menempelkannya tepat di tengah dahi Ziyan. Seberkas cahaya putih tipis meresap masuk, memindai seluruh jaringan meridian dan Inti Pedang di dalam tubuh Ziyan.
Hanya butuh beberapa detik bagi Tianchen untuk menarik kembali jarinya.
"Masalahmu sederhana," ujar Tianchen datar. "Ini adalah akibat dari peningkatan ranah kultivasi yang terlalu cepat di Menara Sepuluh Waktu tanpa menstabilkan Inti Elemen Es milikmu terlebih dahulu. Qi pedang Pencerahanmu bergerak terlalu ganas, sedangkan Inti Elemen Es milikmu masih berada di tingkat dasar, sehingga tidak sanggup menampung debit energi yang meluap."
Ziyan terperanjat. "L-Lalu apa yang harus murid lakukan, Guru? Apakah kultivasiku akan cacat?"
"Tidak," jawab Tianchen tenang. Ia menoleh ke arah Yuanling. "Yuanling, antarkan Ziyan ke Kolam Air Spiritual di bawah Paviliun Kultivasi. Minta dia berendam di sana selama dua jam untuk mendinginkan jalur darahnya. Setelah itu, pergilah ke Paviliun Harta dan ambilkan satu butir Pil Energi Tingkat 6 lalu berikan padanya untuk diminum."
Mendengar kata "Pil Energi Tingkat 6", mata Ziyan membelalak sempurna! Pil Tingkat 6 adalah benda langka yang bahkan di pelelangan kota raksasa bisa memicu perang antar sekte! Namun gurunya membicarakan pil tersebut seolah-olah hanya membagikan permen biasa!
Saat sedang syok, pandangan Ziyan tidak sengaja bergulir ke arah kucing putih di pelukan Yuanling. Dengan mata batinnya yang baru saja meningkat ke Ranah Pencerahan, Ziyan menangkap fluktuasi mistis yang luar biasa tebal menyelimuti tubuh kucing itu.
"T-Tunggu dulu..." Ziyan menunjuk Lingling dengan jari gemetaran. "Istri Guru... Kucing ini... mengapa dia memancarkan aura spiritual yang begitu murni?! Apakah kucing ini bisa berkultivasi?!"
Lingling yang berada di dalam pelukan Yuanling menyipitkan matanya tajam. Sisa-sisa harga diri Ratu Rubah Ekor Sembilan seketika tersenggol oleh tatapan tidak sopan gadis muda di hadapannya. Ia mengeram rendah, memperlihatkan taring kecilnya yang tajam.
Grrrrrrr!
Lingling berusaha memunculkan wujud manusianya untuk menampar wajah gadis lancang itu, namun energi kolam semalam masih mengunci transformasi wujudnya dalam taraf pemulihan. Ia terikat penuh dalam wujud kucing mungil ini setidaknya untuk beberapa jam ke depan!
Awas saja kau, bocah nakal ! gerutu Valeska berapi-api di dalam jiwanya, matanya menyala biru mengancam ke arah Ziyan. Lihat saja nanti! Begitu pria monster itu pergi melangkah turun gunung, aku akan menggantung tubuhmu terbalik di atas gerbang depan sekte ini! Akan kubuat kau berteriak minta ampun pada Ratu ini!
Ziyan merinding seketika saat menatap mata kucing itu. Ia mundur setengah langkah, merasa ada tekanan gaib yang aneh namun sangat familiar dari mata si kucing putih.
"Sudahlah, jangan membuang waktu. Yuanling, urus Ziyan dengan baik," potong Tianchen.
Tanpa menunggu balasan lagi, tubuh Tianchen membias secara ajaib. Dalam satu hembusan angin, sosoknya telah melesat terbang membelah kabut pagi, hilang di balik cakrawala menuju wilayah fana di bawah bukit.
Waktu berlalu dengan cepat. Setengah hari telah lewat sejak Tianchen meninggalkan puncak Sekte Pedang Langit.
Langkah kaki Tianchen terasa santai menyusuri jalan setapak di dalam Hutan Perbatasan sebuah wilayah rimba terpencil yang memisahkan pegunungan sekte dengan desa-desa fana terdekat. Pohon-pohon purba berukuran raksasa menjulang tinggi memblokir sebagian besar sinar matahari, menciptakan suasana remang-remang yang mencekam.
Secara normal, Hutan Perbatasan adalah sarang bagi ratusan siluman ganas dan hewan monster tingkat menengah yang haus darah. Para kultivator biasa harus membentuk tim besar dan bersiap tempur jika ingin melintasi kawasan ini.
Namun, saat Tianchen berjalan dengan tangan bersedekap di balik punggungnya, suasana hutan justru menjadi sangat hening secara tidak wajar.
Meskipun Tianchen telah menyembunyikan sebagian besar tingkat kultivasinya, setitik aura keberadaan alam purba yang secara tidak sengaja terpancar dari tubuhnya sudah cukup untuk membuat insting bertahan hidup para monster bergetar ketakutan. Di balik semak-semak tebal dan pepohonan tinggi, Serigala Mata Darah, Beruang Besi Purba, hingga Ular Piton Bertanduk menyembunyikan kepala mereka rapat-rapat di tanah. Tidak ada satu pun siluman yang berani menampakkan diri, apalagi mendekati radius seratus meter di sekitar Tianchen.
"Udara di bawah sini benar-benar tipis energi spiritualnya," gumam Tianchen pelan, memperhatikan pepohonan yang mulai menipis di depannya. "Desa terdekat seharusnya berada tepat di balik bukit ini."