Sepuluh tahun lalu, Rani rela mengubur mimpinya menjadi dokter spesialis anak demi memilih cinta. Ia menikahi Roy, seorang duda dengan tiga anak, dan berusaha menjadi istri serta ibu tiri terbaik bagi keluarga yang kini menjadi dunianya.
Namun saat membuka mata di ranjang rumah sakit setelah percobaan bunuh diri yang nyaris merenggut nyawanya, Rani terkejut mendapati dirinya telah berusia tiga puluh sembilan tahun.
Bagi Rani, hari terakhir yang ia ingat adalah saat dirinya masih berusia dua puluh sembilan tahun, penuh ambisi, penuh mimpi, dan belum mengetahui seperti apa masa depannya.
Saat kembali ke rumah, bukannya menemukan keluarga yang mencintainya, Rani justru mendapati suami dan ketiga anak tirinya berdiri di sisi wanita lain. Mereka menuduhnya kejam, manipulatif, bahkan menjadi sumber penderitaan keluarga itu.
Akankah ia kembali menjadi wanita yang selama ini mengorbankan segalanya demi keluarga yang tak pernah memilihnya atau memilih dirinya sendiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Puji170, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20
Semua orang tampak tidak percaya dengan keputusan Rani. Terlebih Roy yang sejak tadi lebih banyak mengamati daripada ikut berbicara.
"Rani, tidak perlu sejauh ini. Kita masih bisa menyelesaikannya dengan baik-baik," ucapnya dengan nada rendah.
Rani menatapnya tanpa gentar. "Baik-baik?" Ia tersenyum tipis, tetapi sorot matanya sedingin es. "Anakmu sudah melakukan tindakan kriminal. Apa salah kalau hukum yang menyelesaikannya?"
Alis Roy langsung bertaut. Kata anakmu terdengar begitu asing di telinganya. Selama sepuluh tahun terakhir, Rani selalu bersikeras bahwa Aksan, Arlan, dan Arjun adalah anak mereka. Berkali-kali wanita itu memohon agar Roy menganggap mereka sebagai keluarga utuh. Namun hari ini, untuk pertama kalinya, Rani menarik garis yang begitu tegas. Seolah ikatan yang selama ini ia pertahankan telah benar-benar putus.
Meski demikian, Roy tidak bisa membantah. Apa yang dilakukan ketiga putranya memang sudah kelewat batas.
"Papa, tolong bujuk Mama supaya melepaskan kami. Kami janji tidak akan mengulanginya lagi," pinta Aksan dengan wajah panik.
"Benar, Pa. Kami janji," sambung Arlan cepat.
Arjun ikut melangkah maju. "Iya, Pa. Arjun juga janji tidak akan melakukan hal seperti ini lagi."
Rani mengalihkan pandangannya pada Roy. Ia tahu pria itu sanggup melakukan apa pun demi menyelamatkan ketiga putranya. Sejak polisi datang pun Roy lebih banyak diam sambil mengamati situasi. Namun jika pria itu berniat menggunakan kekuasaan atau pengaruhnya untuk menghentikan proses hukum, Rani sudah menyiapkan langkah berikutnya.
Roy mengembuskan napas pelan. Tatapannya bergantian mengarah kepada Aksan, Arlan, dan Arjun yang menunggunya dengan penuh harap.
"Cukup."
Satu kata itu langsung membungkam mereka.
"Ikut dengan polisi," lanjut Roy tegas. "Kalau memang kalian yang berbuat, kalian juga yang harus bertanggung jawab."
Kalimat itu seketika menghancurkan harapan Aksan, Arlan, dan Arjun. Mereka tidak pernah menyangka orang yang paling mereka andalkan justru menyerahkan mereka kepada proses hukum.
Sintia yang sejak tadi memilih diam pun tampak terkejut.
"Mas, kamu yakin ingin melakukan ini? Bagaimana masa depan mereka nanti?" tanyanya cemas.
Roy menoleh sekilas ke arahnya.
"Sintia, aku tahu kamu menyayangi mereka, tidak seperti seseorang yang selama ini hanya berpura-pura. Tapi biarkan proses hukum berjalan."
Sindiran itu membuat tatapan Rani mengeras, tetapi ia memilih tetap diam.
Tak lama kemudian, kedua polisi menggiring Aksan, Arlan, dan Arjun keluar dari rumah. Ketiganya sempat menoleh ke arah Roy dan Sintia dengan wajah penuh harap, tetapi tidak ada lagi yang bisa mengubah keputusan yang telah diambil.
Suasana menjadi sunyi setelah mobil polisi meninggalkan halaman. Roy kembali mengalihkan pandangannya kepada Rani.
"Sekarang kamu sudah puas?" tanyanya datar.
"Tentu saja," jawab Rani tanpa ragu.
Roy mengangguk pelan, lalu berkata dengan nada tenang, tetapi sarat penekanan.
"Tapi, Rani, aku peringatkan kamu. Jangan sampai mereka berada di dalam penjara lebih dari dua puluh empat jam. Kalau sampai itu terjadi, kamu tahu aku tidak akan tinggal diam."
Rani menyipitkan mata.
"Oh, jadi sekarang kamu mengancamku?"
"Aku tidak mengancammu." Roy menatapnya lurus. "Aku hanya memperingatkan. Setelah ini, semuanya tergantung padamu."
Rani terdiam. Keningnya berkerut tipis, mencoba menafsirkan maksud di balik sikap Roy yang begitu tenang. Seharusnya pria itu panik melihat ketiga putranya dibawa polisi, tetapi yang ditunjukkannya justru keyakinan, seolah ia memegang sesuatu yang membuat keadaan masih berada dalam kendalinya.
Apa sebenarnya kartu yang disembunyikan Roy? Mengapa ia tampak begitu yakin semuanya akan berakhir sesuai keinginannya?
merekam untuk bukti itu perlu mang km bisa lawan tanpa bukti aneh.
kl sadar lemah hrse jd wanita Pinter tak tik atau gk ya licik biar bisa cari celah bukti.
itu kriminal ga buat main" kalau tidak di tindak lanjuti akan sangat berbahaya OMG ,,Rani ayo buka kedok si Kunti bogel be smart don't be stupid ran kan dah tau akan seperti apa dirimu kalau ga sat set
nunggu dua hari lagi
amnesia itu lupa ingatan aduh bodoh nya kamu
ran lebih Mak jleb lagi dong kamu kan tau alur nya
suami bego
lanjutkan 🙏🙏