**INI ADALAH BOOK KE 2 DARI SEMBILAN GULUNGAN NAGA LEGENDARIS.**
Ketika seluruh semesta terancam, satu pemuda harus memilih: menjadi monster yang menyelamatkan dunia, atau tetap manusia dan membiarkan semua musnah.
Lin Tian, kehilangan segalanya, karena invasi entitas misterius yang melahap dimensi. Kini, sebagai pewaris teknik "Orkestrasi Sembilan Naga," ia melintasi batas dimensi untuk berburu Master mereka: Pemangsa Dimensi yang mengancam 30 dimensi sekaligus.
Di Dimensi Asura, dimensi pejuang brutal, Lin Tian menemukan kekuatan... tapi hampir kehilangan kemanusiaannya. Antara latihan mematikan, pertarungan melawan entitas cerdas, dan persahabatan yang tak terduga, ia belajar kebenaran paling sulit: kekuatan tanpa hati adalah tirani, tapi hati tanpa kekuatan adalah kehancuran.
Bisa kah ia menyelamatkan alam semesta tanpa kehilangan jiwanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nugraha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20 : Setelah Putaran Kedua
Malam harinya, keempat murid berkumpul kembali setelah kemenangan mereka.
Suasananya jauh lebih hangat dibanding minggu pertama.
Mira'tok terlihat paling bahagia.
"Kemenangan tim benar-benar sempurna dan koordinasi kita tadi luar biasa!"
Khor'sal yang biasanya keras kepala kini terlihat jauh lebih tenang.
"Pertarungan tim ternyata memang efektif." Ia menghela napas pelan. "Kadang lebih baik daripada bertarung sendirian."
Lin Tian langsung menyadari betapa besar perubahan itu.
Kalimat seperti itu hampir mustahil keluar dari mulut Khor'sal sebelumnya.
Zhen'ar juga tampak cukup puas. "Perkembanganmu jelas terlihat." Tatapan peraknya tertuju pada Khor'sal. "Kau mulai mengendalikan egomu dan Itu kemajuan besar."
Khor'sal tampak sedikit malu mendengar pujian tersebut. "Aku masih belajar."
Tatapannya perlahan beralih pada Lin Tian. "Terutama dari Lin Tian. Masukan tentang teknik dan kerja sama tadi… ternyata sangat berguna."
Mira'tok langsung membelalak.
"Wah. Khor'sal benar-benar memuji orang lain, itu adalah kejadian yang langka."
Khor'sal langsung mendengus kesal. Namun kali ini tidak ada amarah di dalamnya.
Lin Tian sendiri mengangguk kecil. "Kekuatanmu memang selalu luar biasa, tapi sekarang kau menambahkan kerja sama di atas itu, itu membuatmu jauh lebih kuat."
Khor'sal terdiam beberapa saat sebelum akhirnya mengulurkan lengannya seperti salam khas prajurit Asura.
"Lin Tian, persaingan kita tetap ada dan karena itu membuat kita berkembang."
Tatapannya serius. "Tapi rasa hormatku sekarang mutlak." Ia berhenti sesaat sebelum melanjutkan. "Dan mungkin suatu hari nanti… kita bisa benar-benar menjadi teman."
Lin Tian menatap lengan yang diulurkan itu beberapa detik.
Lalu ia menerimanya.
Khor'sal mendengus kecil sambil tersenyum samar, dan Mira'tok langsung melonjak kegirangan.
"Ya! Kita semua benar-benar jadi teman sekarang, Ini sempurna!"
Zhen'ar yang biasanya dingin bahkan terlihat sedikit lebih tenang melihat pemandangan itu. "Ikatan seperti ini penting. Bersama, kekuatan kita jauh lebih besar, dan tim kita juga akhirnya mulai terbentuk."
Lin Tian diam sejenak sambil melihat mereka semua.
Hari ketiga turnamen akhirnya dimulai. Dan kali ini aturannya jauh lebih brutal.
Dua puluh petarung akan masuk ke arena secara bersamaan.
Tidak ada tim resmi.
Tidak ada perlindungan.
Yang bertahan paling akhir adalah pemenangnya.
Sebelum memasuki arena, Zhen'ar langsung berbicara serius.
"Pertarungan bebas selalu kacau. Aliansi sementara pasti terbentuk, tapi pengkhianatan juga tidak bisa dihindari."
Tatapan peraknya menyapu seluruh tim. "Kita singkirkan ancaman lain terlebih dahulu... Setelah itu… kita bertarung sendiri-sendiri."
"Setuju?"
Semua langsung mengangguk. "Setuju."
Begitu pertarungan dimulai, arena langsung berubah menjadi kekacauan total.
Dua puluh prajurit saling menyerang dari segala arah.
Ledakan energi memenuhi udara.
Benturan senjata terdengar tanpa henti. Dan di tengah kekacauan itu, tim Kharos bergerak sangat efisien.
Mereka tidak terlalu menonjol di awal. Namun perlahan-lahan, mereka mulai menyingkirkan peserta lain satu per satu.
Sepuluh menit berlalu. Separuh peserta sudah kalah.
Lima menit berikutnya, hanya tersisa sepuluh orang.
Dan tidak lama kemudian, kerja sama tim Kharos kembali menunjukkan hasil luar biasa.
Dengan serangan terkoordinasi cepat, enam peserta lainnya langsung tersingkir.
Kini, hanya tersisa empat orang di arena.
Zhen'ar, Khor'sal, Mira'tok dan Lin Tian.
Keempat murid Kharos berdiri saling berhadapan. Aliansi sementara mereka akhirnya berakhir.
Dan sekarang, pertarungan sesungguhnya dimulai.
Kini Mereka Harus Saling Bertarung
Empat murid Kharos berdiri saling berhadapan di tengah arena.
Aliansi sementara yang tadi membantu mereka bertahan kini resmi berakhir.
Dan suasana langsung berubah tegang.
Mira'tok justru terlihat paling bersemangat. "Ini jadi menarik!"
Ia memutar kedua pedangnya sambil tertawa. "Kita teman… tapi tetap rival!"
Khor'sal menyeringai penuh semangat bertarung. "Akhirnya! Sekarang waktunya membuktikan siapa yang paling kuat!"
Sementara itu, Zhen'ar tetap tenang seperti biasa.
Tatapan peraknya mengamati ketiganya sebelum akhirnya berbicara. "Kalau berpikir logis…Target pertama seharusnya Mira'tok, kecepatannya terlalu berbahaya."
Mira'tok langsung membelalak. "Hei! Kalian serius menargetkanku dulu?!"
Namun jawabannya langsung datang bersamaan.
"Ya."
Detik berikutnya, tiga lawan langsung bergerak ke arah Mira'tok sekaligus.
Mira'tok menjerit protes sambil melompat mundur. "Ini tidak adil!"
Namun meskipun kecepatannya luar biasa, menghadapi tiga orang sekaligus tetap terlalu berat.
Beberapa menit kemudian, Mira'tok akhirnya tersingkir.
Ia jatuh di luar arena sambil tertawa keras. "Baiklah! Itu memang masuk akal!"
Ia menunjuk tiga orang yang masih berdiri.
"Sekarang lanjutkan! Aku akan menikmati pertunjukannya!"
Tiga Orang Tersisa, kini arena hanya menyisakan tiga petarung.
Khor'sal, Zhen'ar dan Lin Tian.
Aura mereka langsung saling bertabrakan di udara.
Lalu, pertarungan tiga arah dimulai.
Khor'sal menyerang paling agresif.
Pedang raksasanya menghantam arena tanpa henti sambil menyerang dua lawan sekaligus.
Zhen'ar tetap bertahan dengan teknik sempurna dan efisiensi luar biasa.
Sementara Lin Tian terus mengendalikan arena menggunakan Domain elemen miliknya.
Pertarungan berlangsung sangat sengit. Tidak ada yang mampu mendapatkan keuntungan penuh.
Selama beberapa menit, situasinya benar-benar seimbang.
Namun akhirnya, Lin Tian dan Khor'sal saling bertukar pandang singkat.
Tidak ada kata-kata.
Tetapi mereka langsung memahami keputusan yang sama.
Zhen'ar terlalu berbahaya, dan untuk sesaat, keduanya membentuk aliansi sementara.
Zhen'ar melihat itu dan hanya mengangguk kecil. "Sudah kuduga, pilihan yang tepat."
Pertarungan dua lawan satu langsung dimulai.
Meski menghadapi tekanan besar, Zhen'ar tetap bertarung luar biasa tenang.
Tombaknya bergerak seperti badai sunyi.
Efisien, mematikan dan hampir tanpa celah. Namun pada akhirnya, jumlah tetap menang.
Setelah pertarungan panjang, Zhen'ar akhirnya tersingkir.
Sebelum keluar arena, ia memandang keduanya dengan tenang.
"Pertarungan yang bagus, sekarang selesaikan. Semoga berhasil."
Dan kini, Arena hanya menyisakan dua orang.
Seluruh arena langsung bergemuruh.
"Final!"
"Khor'sal!"
"Lin Tian!"
Kedua petarung berdiri saling berhadapan.
Tubuh mereka sudah dipenuhi luka dan energi mereka juga hampir habis setelah pertarungan sebelumnya.
Namun semangat bertarung di mata keduanya tetap menyala.
Khor'sal mengangkat pedangnya sambil tertawa berat. "Seminggu lalu kau mengalahkan ku, tapi hari ini… aku akan membalasnya."
Lin Tian perlahan mengambil posisi bertarung. "Kau juga berkembang banyak."
Tatapannya tenang namun serius. "Pertarungan ini benar-benar tidak bisa diprediksi."
Lalu, Keduanya bergerak bersamaan.
Khor'sal meraung keras. "Gunung Tak Tergoyahkan!"
Pedang raksasanya dipenuhi aura merah gelap sebelum menghantam ke bawah dengan kekuatan penuh.
Di saat yang sama, Lin Tian mengangkat kedua tangannya.
"Penyatuan Sembilan Naga!"
Sembilan naga elemen langsung muncul mengelilingi tubuhnya.
Dan detik berikutnya...
DUUAARR!
Dua kekuatan besar bertabrakan di tengah arena.
Ledakan besar langsung mengguncang seluruh tempat pertandingan.
Gelombang kejutnya bahkan membuat sebagian penonton mundur beberapa langkah.
Dan ketika debu mulai menghilang, Kedua petarung sudah terjatuh di tanah.
Juri segera melangkah maju.
"Kedua peserta jatuh! Yang pertama berdiri akan menjadi pemenang!"
Seluruh arena langsung menahan napas. Khor'sal mencoba bangkit lebih dulu.
Tubuh besarnya bergetar hebat.
Sementara itu, Lin Tian juga memaksa dirinya berdiri sambil menahan rasa sakit di seluruh tubuhnya.
Perlahan… Khor'sal mulai setengah berdiri.
Namun, Lin Tian berhasil berdiri penuh lebih dulu.
Juri langsung mengangkat tangannya.
"Pemenang Turnamen—Lin Tian!"
Seluruh arena langsung meledak dalam sorakan besar.
"Orang luar menjadi juara!"
"Lapisan Keempat mengalahkan semuanya!"
Di tanah, Khor'sal tertawa keras meski napasnya berat.
"Hah… Aku kalah lagi… Tapi kali ini hampir menang." Tatapannya penuh semangat. "Lain kali… aku pasti menang."
Lin Tian berjalan mendekat sebelum mengulurkan tangannya. "Khor'sal, pertarungan mu luar biasa."
Tatapannya tenang. "Dan lain kali… hasilnya memang belum tentu."
Ia tersenyum tipis. "Persaingan kita bagus, tapi persahabatan kita lebih penting."
Khor'sal terdiam beberapa detik sebelum akhirnya menerima uluran tangan itu.
Lalu ia tertawa kecil. "Teman, ya?"
"Baiklah. Persaingan tetap lanjut, tapi kita tetap teman."
Dan untuk pertama kalinya, Khor'sal benar-benar menerima Lin Tian sepenuhnya.
Kharos berdiri di tengah arena sambil menatap seluruh peserta turnamen.
"Turnamen selesai." Suaranya menggema ke seluruh arena. "Dan juaranya adalah… Lin Tian."
Sorakan kembali bergema keras. Kharos kemudian melanjutkan dengan tatapan puas.
"Hasil latihan minggu pertama sudah terlihat jelas. Kerja sama kalian berkembang dan kekuatan kalian meningkat."
Tatapannya berhenti pada empat muridnya. "Dan kalian berempat telah membuatku bangga."
Aura tekanan besar perlahan memenuhi arena. "Lalu ada satu murid yang layak mendapat perhatian khusus."
Tatapan emasnya tertuju langsung pada Lin Tian. "Orang luar yang berhasil beradaptasi dengan Dimensi Asura, bakat yang luar biasa, karakter kuat dan kemampuan belajar yang sangat langka."
Kharos menyeringai kecil. "Ajaran kakekmu terlihat jelas dalam dirimu. Kau telah menjaga warisannya dengan baik."
Lin Tian terdiam sejenak mendengar kata-kata itu.
Yeye…
Malam itu, keempat murid duduk bersama sambil merayakan kemenangan mereka.
Ikatan mereka kini benar-benar terbentuk. Bukan hanya rekan latihan, tetapi juga teman.
Dan Lin Tian menyadari sesuatu. Selama seminggu terakhir, ia bukan hanya tumbuh lebih kuat, Ia juga perlahan menemukan kembali sisi manusianya.
Teman.
Tawa.
Kepercayaan.
Hal-hal yang sempat hilang selama perjalanan panjangnya.
Lin Tian menatap langit merah Dimensi Asura sambil tersenyum kecil.
Yeye…
Aku masih berusaha menjaga janjiku. Dan perlahan… Aku mulai menemukan keseimbangan itu kembali.