NovelToon NovelToon
Cemara Juga Punya Luka

Cemara Juga Punya Luka

Status: sedang berlangsung
Genre:Idola sekolah / Teen / Balas Dendam
Popularitas:425
Nilai: 5
Nama Author: Sifanursiami

Di balik rumah yang hangat, semua orang memakai topeng paling rapi
Bagi dunia luar, Haseena adalah remaja berprestasi kebanggaan Abah. Namun di balik tawanya, Haseena menderita gangguan kecemasan dan terpaksa meminum obat penenang secara sembunyi-sembunyi selama lima tahun lalu.
Haseena mengira hanya dia yang punya rahasia. Sampai suatu malam, dia menemukan botol obat misterius di saku jaket abangnya, melihat kode lampu senter berkedip tiga kali di kegelapan sawah belakang rumah, dan kakak perempuannya yang bersikeras ingin pergi jauh
"Kini, Haseena terjebak dalam sandiwara sempurnanya. Berpura-pura menjadi gadis ceria untuk menutupi paranoia, sambil diam-diam mengumpulkan kepingan teka-teki yang mungkin akan menghancurkan hidupnya selamanya. Haseena harus memilih: tetap menjadi 'Ahli Ngeles' yang dicintai publik, atau membuka kotak Pandora tentang hilangnya sang kakak—meskipun itu berarti ia harus kehilangan segalanya, termasuk pria yang baru saja ia percayai."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sifanursiami, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

menunggu yang tak kunjung datang

Mesin motor kembali menyala.

Perlahan mereka meninggalkan jalan yang tadi terasa begitu mencekam.

Tak satu pun dari mereka berbicara.

Hanya suara angin dan deru mesin yang menemani perjalanan.

Haseena duduk diam di belakang kakaknya.

Tangannya tidak memegang pundak Zafran seperti dulu.

Ia hanya memegang erat kantong plastik berisi bohlam lampu.

Sesekali matanya memperhatikan punggung sang kakak.

Entah sejak kapan...

Punggung yang dulu selalu terasa hangat itu kini terlihat begitu jauh.

---

Mereka melewati jalan yang mulai ramai.

Beberapa kali Zafran memperlambat laju motor ketika melewati persimpangan.

Tak ada satu kata pun keluar.

Keheningan itu justru terasa lebih berat daripada pertengkaran mereka beberapa hari yang lalu.

Hingga akhirnya...

"Bang..."

Suara Haseena terdengar pelan.

Zafran tidak menoleh.

"Hm?"

"Abang sengaja lewat sini?"

Zafran terdiam beberapa detik.

"Iya."

Jawabannya singkat.

"Aku tahu jam pulang sekolahmu."

Haseena menundukkan kepala.

"Jadi..."

"Abang memang nungguin Haseena?"

Zafran mengembuskan napas pelan.

"Bukan."

"Aku cuma kebetulan lewat."

Jawaban itu terdengar datar.

Namun Haseena tahu...

Kakaknya sedang berbohong.

Jalan yang mereka lewati bukan jalur menuju tempat tongkrongan Zafran.

Ia hanya memilih tidak membahasnya.

Angin kembali berembus.

Motor terus melaju membelah jalan desa.

"Bang..."

"Hm?"

"Abang betah di luar rumah?"

Pertanyaan itu membuat Zafran terdiam lebih lama.

Sorot matanya lurus ke depan.

"Aku nggak tahu."

"Aku cuma belum siap pulang."

Haseena menggigit bibirnya pelan.

"Karena Abah?"

"Bukan."

"Lalu?"

"...karena diri sendiri."

Jawaban itu terdengar lirih.

Nyaris hilang tertelan suara angin.

"Aku capek, Seen."

"Setiap masuk rumah..."

"Aku selalu ingat Ibu."

"...ingat Kak Husna."

"Aku marah."

"Ke diri sendiri."

"Ke keadaan."

"Aku takut..."

Suara Zafran terputus.

Untuk pertama kalinya sejak ia pergi dari rumah...

Haseena mendengar kakaknya mengakui sesuatu.

"Aku takut suatu hari nanti..."

"...aku malah nyakitin kalian."

Haseena menundukkan wajahnya.

Air matanya mulai menggenang.

"Abang..."

"Nggak akan."

Zafran tersenyum hambar.

"Kamu nggak tahu."

"Tapi..."

"Aku tahu."

Haseena menjawab pelan.

"Abang masih mau nolong Haseena."

"Berarti Abang masih Zafran yang dulu."

Motor melambat.

Rumah mereka mulai terlihat di ujung jalan.

Zafran menghentikan motornya tepat di depan pagar.

Haseena turun perlahan sambil melepas helm.

"Ini, Bang."

Ia mengembalikan helm itu.

"Terima kasih."

Zafran menerimanya tanpa banyak bicara.

Haseena berdiri memandangi kakaknya.

"Bang..."

"Nanti pulang ya."

"Nggak usah sekarang."

"Besok juga nggak apa-apa."

"Tapi pulang."

"Abah nggak pernah nutup pintu."

"...aku juga nggak."

Zafran terdiam.

Tatapannya beralih ke rumah yang berdiri beberapa meter di depannya.

Jendela kamar Haseena masih terbuka.

Pot bunga yang dulu dirawat Ibu masih berjajar rapi di teras.

Tak ada yang berubah.

Yang berubah...

Hanyalah dirinya.

"Aku pergi dulu."

Hanya itu yang ia ucapkan.

Mesin motor kembali menyala.

Haseena melangkah mundur.

Ia berdiri di depan pagar, memandangi motor itu hingga menghilang di tikungan.

Barulah ia masuk ke dalam rumah.

Pintu ditutup perlahan.

---

Di ujung jalan...

Zafran menghentikan motornya.

Ia menoleh ke arah rumah.

Lampu ruang tamu menyala.

Beberapa detik kemudian, bayangan Haseena terlihat berjalan melewati jendela.

Zafran mengembuskan napas lega.

"Alhamdulillah..."

gumamnya pelan.

Setelah memastikan adiknya benar-benar sampai dengan selamat...

Barulah ia memutar gas.

Motor itu kembali melaju.

Menjauh.

Meninggalkan rumah yang masih ia sebut sebagai tempat pulang...

Meski ia belum sanggup kembali.

---

Catatan Haseena

> Hari itu aku sadar...

Seseorang bisa memilih pergi dari rumah.

Namun bukan berarti ia berhenti menyayangi orang-orang yang tinggal di dalamnya.

Mungkin...

Abang hanya sedang tersesat.

Dan tugasku bukan memaksanya pulang.

Melainkan memastikan ia tahu...

Bahwa selalu ada rumah yang menunggunya kembali.

— Catatan Haseena

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!