Inara Khadeeja Prameswari menikah dengan Mahesa Dirgantara. Mereka menikah sudah satu tahun, pernikahan perjodohan yang di lakukan dua keluarga. Saat itu Mahesa berstatus duda. Sedangkan Inara baru saja lulus kuliah.
Selama pernikahan, tak pernah ada percekcokan apapun. Dua tahun pernikahan mereka terasa dingin. Tak ada panggilan sayang atau apapun yang romantis dari Mahesa. Inara tahu jika dalam hati suaminya masih ada mantan istri yang pergi entah kemana. Clarissa
Inara berusaha menjadi istri yang baik walau tak pernah di anggap oleh suaminya. Dia berharap dengan kesabaran dan ketulusannya, akan membuat Mahesa jatuh cinta padanya. Melihatnya sebagai seorang wanita, sebagai istrinya. Bukan sebagai teman satu rumah. Bahkan Mahesa tak segan bersikap kasar padanya. Seolah Inara tak ada artinya untuk Mahesa.
Namun, akhirnya Inara menyerah setelah Clarissa kembali dengan cerita sedih dan penyakitnya. Pakah setelah ini Mahesa akan menyesal?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yam_zhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Inara 14
Pukul dua siang tepat. Inara berdiri di depan pintu kayu mahoni ruang kerja Direktur Utama. Kedua tangannya yang sedingin es mendekap erat bundel dokumen rekonsiliasi yang sudah selesai ia kerjakan dengan sisa-sisa tenaganya. Kepalanya masih berdenyut nyeri, dan perutnya yang kosong sejak pagi mulai melilit hebat, namun ingatan akan ancaman Mahesa tentang ibunya memaksa kaki Inara untuk tetap tegak.
Inara menarik napas dalam-dalam, lalu mengetuk pintu tiga kali.
"Masuk," terdengar suara bariton Mahesa dari dalam.
Inara mendorong pintu perlahan. Namun, begitu kakinya melangkah masuk, pemandangan di dalam ruangan itu seketika membuat pasokan oksigen di paru-parunya seperti direnggut paksa.
Mahesa tidak sedang duduk sendirian di kursi kebesarannya. Di samping pria itu, duduk Clarissa dengan gaun rajut ketat yang sengaja memperlihatkan lekuk tubuhnya. Yang membuat jantung Inara mencelos adalah bagaimana posisi mereka saat itu. Clarissa sedang bersandar manja di bahu Mahesa, sementara tangan Mahesa dengan santai mengusap rambut wanita itu dengan kelembutan yang tidak akan pernah dan tidak pernah dia berikan pada Inara.
Kehadiran Inara tidak membuat mereka menjauh. Clarissa justru sengaja mempererat gelayutan tangannya di lengan Mahesa, menatap Inara dengan senyum kemenangan yang mematikan.
"Ini dokumen rekonsiliasi kuartal pertama yang Pak Mahesa minta," ujar Inara, suaranya bergetar tipis.
Namun dia coba pertahankan agar tetap terdengar profesional. Matanya lurus menatap meja, enggan melihat pemandangan yang merobek batinnya. Mahesa hanya melirik bundel dokumen itu sekilas, lalu beralih menatap wajah pucat Inara.
"Letakkan di sana."
Inara melangkah maju dengan lutut yang terasa lemas, menaruh dokumen itu di tepi meja. Saat dia hendak berbalik untuk segera keluar dari ruangan yang mencekik itu, suara manja Clarissa menghentikannya.
"Eh, Mas Mahesa bukannya sore ini kita ada janji mau lihat-lihat desain apartemen baru kita? Aku agak pusing nih pilih interiornya," ucap Clarissa sengaja memperkeras suaranya. Dia mendongak, menatap Mahesa dengan tatapan merayu.
"Kamu nanti temani aku, kan?"
Mahesa tersenyum, sebuah senyuman tulus yang sangat asing di mata Inara. Pria itu mengulurkan tangan, mencubit hidung Clarissa dengan gemas.
"Tentu saja, Sayang. Apapun untukmu. Pilih saja interior yang paling mahal, nanti saya yang bayar."
Degh
Di rumah utama kemarin, Mahesa baru saja mencium pipinya dan berpura-pura merencanakan masa depan di depan orang tuanya. Namun di sini, di ruang kerja ini, pria yang sama sedang membiayai masa depan dan tempat tinggal baru bersama wanita lain menggunakan uang yang sebagian dari keuntungan proyek yang susah payah Inara audit laporannya sampai jatuh sakit.
Tangan Inara terkepal kuat di bawah sana. Menahan segara perasaan yang tak mampu di jelaskan. Namun intinya sangat sakit dan menyesakkan. Walau bagaimanapun dia masih berstatus istri sah Mahesa.
"Oh ya, Inara," panggil Mahesa tiba-tiba, saat Inara akan menarik handle pintu ruangan suaminya itu.
Inara mengepalkan tangannya di samping paha, menahan rasa perih yang teramat sangat di dadanya. Kemudian berbalik.
"Iya, Pak?"
"Karena sore ini saya harus pergi dengan Clarissa, ada beberapa tugas tambahan yang harus diselesaikan. Laporan arus kas anak perusahaan di Surabaya harus di audit ulang malam ini juga. Saya tidak mau tahu, besok pagi jam delapan dokumen itu sudah harus ada di meja saya," perintah Mahesa tanpa belas kasihan.
Inara mendongak, matanya yang sembab menatap Mahesa dengan pandangan tidak percaya.
"Tapi Pak, laporan itu sangat banyak, setidaknya butuh waktu dua hari untuk mengerjakannya sendirian. Dan kondisi saya ..."
"Saya tidak menerima alasan, Bu Inara. Anda harus bekerja secara profesional!" potong Mahesa tajam, sengaja menekankan status formal mereka untuk menginjak harga diri Inara di depan Clarissa.
"Kalau kamu tidak sanggup kerja lembur, silakan ajukan surat resign sekarang juga. Tapi kamu tahu kan konsekuensinya? Begitu kamu keluar dari perusahaan ini, jaminan fasilitas kesehatan gratis untuk ibumu di rumah sakit pusat otomatis dicabut hari ini juga. Pilihannya ada di tanganmu."
Clarissa terkikik geli di samping Mahesa, menikmati setiap detik penderitaan yang tertulis di wajah Inara.
"Dengar itu, Inara. Makanya, jadi orang itu jangan lemah. Kerja yang bener, biar bisa bayar utang keluarga kamu."
Inara memejamkan matanya rapat-rapat. Air mata yang sejak tadi dia tahan akhirnya luruh, setetes demi setetes, membasahi pipinya yang tirus. Siksaan ini jauh lebih menyakitkan daripada pukulan fisik. Mahesa sengaja memamerkan kemesraannya dengan Clarissa untuk menghancurkan mentalnya, sekaligus mengikat lehernya dengan tali ancaman nyawa ibunya agar ia tidak bisa melarikan diri.
"Baik, Pak. Akan saya selesaikan malam ini," lirih Inara.
Mahesa melihat air mata Inara namun dia memalingkan tatapannya. Dia berbalik dengan langkah gontai, meninggalkan ruangan terkutuk itu. Di balik pintu yang tertutup, Inara mendengar samar-samar suara tawa manja Clarissa dan sahutan lembut Mahesa. Inara bersandar pada dinding koridor kantor yang dingin, mencengkeram dadanya yang terasa sangat sesak dan sakit. Di bawah gemerlap lampu gedung Dirgantara Group, dia sadar, raganya mungkin masih bernapas, namun jiwanya telah habis dimutilasi oleh kekejaman suaminya sendiri.
Malam telah turun sepenuhnya, membungkus gedung Dirgantara Group dalam keheningan yang sunyi dan dingin. Pukul sepuluh malam, sebagian besar lantai kantor sudah gelap gulita, menyisakan satu sudut di divisi akuntansi yang lampunya masih menyala terang.
Di sana, Inara duduk sendirian di depan layar monitor yang berpendar tajam. Matanya yang merah dan bengkak dipaksakan untuk membaca deretan angka-angka laporan arus kas anak perusahaan Surabaya yang seolah menari-nari di kepalanya. Jemarinya yang kurus gemetar saat mengetik di atas keyboard. Rasa mual di lambungnya kini bercampur dengan rasa pening yang luar biasa, membuat pandangannya sesekali mengabur.
Setiap kali bayangan Mahesa yang mengusap rambut Clarissa tadi siang melintas di benaknya, dadanya kembali berdenyut nyeri. Padahal dia jug sadar jika sebelumnya Angkasa sudah melakukan lebih dari itu dengan Clarissa. Apalagi mereka pernah menikah. Namun tetap saja rasanya sakit sekali melihat suami sendiri bersikap sangat manis kepada mantan istri yang pernah meninggalkannya. Inara mencengkeram tepi meja, menahan air mata agar tidak jatuh dan mengaburkan angka-angka di layar.
"Jangan pingsan, Inara. Ini demi Ibu, kamu harus bertahan," bisiknya pada diri sendiri, suaranya parau memecah kesunyian malam.
Sementara itu, di basemen gedung, sebuah mobil sedan mewah perlahan memasuki area parkir khusus direksi. Mesin mobil dimatikan, namun Mahesa tidak segera turun. Pria itu menyandarkan kepalanya di setir, menghela napas panjang.
Dua jam yang lalu, dia baru saja mengantar Clarissa pulang ke apartemen lamanya setelah makan malam mewah. Sepanjang makan malam, Clarissa terus membicarakan rencana liburan mereka, namun pikiran Mahesa justru tertinggal di kantor. Bayangan wajah Inara yang sepucat dan air mata yang sempat mengalir saat dia ancam tadi siang terus membayangi benaknya.
Ada rasa tidak nyaman yang terus menggelitik dinding hatinya. Rasa khawatir yang ego dan keangkuhannya coba sangkal mati-matian.
Dia baru saja keluar dari masa kritis tiga hari lalu, bisik suara kecil di kepala Mahesa. Mahesa mendecit kesal, memukul setir mobilnya.
"Sialan. Kenapa aku harus memikirkan wanita itu?" gerutunya. Namun, alih-alih pulang ke rumahnya, kakinya justru melangkah keluar dari mobil dan berjalan menuju lift, menekan tombol lantai divisi akuntansi.
sana bawa tuh cewek benalu...
kak ayoo donk ,,
dtggu pake. bangeet kelanjutan ny ,,
pengen liat muka ungu mahesa krn kenyataan tak sesuai ekspetasii ny ,, Dan muka ijooo Clarissa krn semua tdk sesuai keinginan ny 🤭🤭🤭🤭🤭🤭🤭
pengen tau yg terjadi di gedung enoh, bawa dah tuh Mahesa mantan terindah loe😛
harus d laporkan k polisi ituuuuu
pasal perampasan aset🤭🤭🤭