NovelToon NovelToon
CINTA YANG TAK SEPADAN

CINTA YANG TAK SEPADAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Dunia Masa Depan / Diam-Diam Cinta
Popularitas:429
Nilai: 5
Nama Author: Essa Amalia Khairina

Kepergian kekasihnya membuat Naya menyadari akan kehilangan yang begitu mendalam. Luka yang ditawarkannya pun begitu hebat hingga membuat Naya harus benar-benar pulih dari rasa sakit hati.

Dan seiring berjalannya waktu, Zaki datang dan mengubah kehidupannya yang dulu begitu terasa hampa penuh luka tersebut kini penuh kebahagiaan yang tak pernah ia miliki sebelumnya.

Namun sayangnya, kebahagiaan itu harus mereka perjuangkan bersama agar tetap bertahan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Essa Amalia Khairina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

RASA TAK BIASA

​Zaki merebahkan tubuhnya ke ranjang dengan kasar, hingga pegas kasurnya berdecit protes. Di luar, senja mulai merambat turun, membasuh kamarnya dengan cahaya jingga yang meredup. Ia menatap langit-langit kamar yang kusam, namun pikirannya justru melayang jauh, kembali ke teras rumah Naya tadi.

​Sepanjang perjalanan pulang, bayangan wajah Naya terus berputar di benaknya. Bukan wajah wanita itu yang berdiri tegak di depan kelas dengan penghapus spidol papan tulis di tangan, atau suara lantangnya yang membuat seisi kelas bungkam. Bukan. Yang terpatri kuat adalah tatapan sendu itu.

Ya. Tatapan seorang wanita yang selama ini mati-matian membangun benteng wibawa, namun pagi tadi, tanpa sadar, ia membiarkan pintu benteng itu terbuka lebar di depan Zaki.

Ia menarik napas panjang, dadanya terasa sesak. Ia baru menyadari, selama ini ia hanya melihat cangkang. Ia melihat "Bu Naya" si guru teladan, si guru muda yang mandiri, dan si pengajar yang tegas. Tapi ternyata, di balik seragam rapi dan sikap formal itu, ada sosok gadis yang rapuh.

Begitu ia memeluk tubuhnya, ada sisi Naya yang lelah, yang menyimpan segunung beban nasib yang tak boleh ia tunjukkan kepada siapa pun, termasuk muridnya sendiri.

​Kenapa dia harus menceritakan itu semua padaku? batin Zaki. Apa dia sebegitu percayanya, atau... dia memang sudah tidak punya tempat lain untuk berbagi?

​Ada getaran aneh yang menjalar di ulu hati Zaki. Usia mereka terpaut. Naya sudah matang, sudah menapak di dunia orang dewasa dengan segala tanggung jawabnya, sementara dirinya masih terjebak di antara sisa masa remaja dan ambisi masa depan.

​Memangnya kenapa kalau usianya lebih tua? Pikirannya mendebat diri sendiri. Memangnya cinta punya jam dinding yang harus diikuti?

​"Cinta? Ah, Zaki, ayolah... jangan gila," gumamnya pada diri sendiri, suaranya parau. Ia menolak untuk percaya bahwa benih yang tumbuh di hatinya adalah sesuatu yang terlarang. Namun, semakin ia menepis, semakin wajah Naya yang tersenyum tulus saat melepasnya pulang tadi membayang jelas.

​Dengan tangan yang sedikit gemetar, ia pun meraih ponselnya yang tergeletak di atas bantal. Ia membuka aplikasi pesan, masuk ke grup kelas yang sudah berbulan-bulan mati suri. Jarinya mulai bergerak lincah, mencari satu nama di daftar kontak: Bu Naya.

​Profil itu kemudian muncul. Sama seperti sebelumnya. Tidak ada foto yang mencolok, hanya sebuah gambar pemandangan yang tenang. Zaki menatap tombol chat itu cukup lama. Jantungnya berdegup kencang, lebih kencang daripada saat ia harus menghadapi ujian praktik paling sulit sekalipun.

Assalamu'alaikum Bu Naya...

Begitu sebuah pesan sebelum akhirnya terkirim.

Hening.

​Ia tahu, satu ketukan di sini berarti ia sedang menyeberangi garis batas yang tak kasat mata. Begitu pesan terkirim, tidak akan ada lagi sekat "guru dan murid" yang sama. Ia sedang menaruh hati di atas meja, siap untuk dihancurkan, atau mungkin... siap untuk disambut.

​Apa yang harus kukatakan? jarinya menggantung di atas papan ketik.

​"Aaah. Persetan!" gumam Zaki seraya menyentuh ikon pesawat di sudut kanan.

​Plup.

​Suara notifikasi itu terdengar nyaring di kamar yang hening. Gelembung pesan di layar ponselnya berubah menjadi centang du, tanda pesan telah terkirim ke alamat yang salah, atau mungkin, ke tempat yang paling tepat.

​Zaki menarik napas panjang, lalu mengembuskannya perlahan, mencoba menjinakkan debar jantung yang mendadak liar. Ia lalu meletakkan ponsel itu di atas dadanya, merasakan getaran halus yang menjalar menembus tulang rusuknya. Dan, tak lama ponsel itu bergetar lagi.

Sebuah balasan...

​Zaki membukanya dengan tangan gemetar.

​"Waalaikumsalam, Zaki."

​Zaki membelalak. Ia segera beranjak, duduk tegak di tepi ranjang. Jemarinya menari lincah di atas keyboard ponsel, penuh dengan urgensi yang ia sendiri tak bisa definisikan.

Bu Naya apa sudah membaik?

​Balasan datang hampir seketika...

Sudah. Maaf ya, Zaki. Tidak seharusnya aku menceritakan masalah ini semua sama kamu.

​"Aku." Zaki menggumamkan kata itu pelan.

​Ada perubahan aneh yang menusuk perasaannya. Tadi, saat Naya bercerita di taman, wanita itu begitu lepas hingga lupa akan sekat profesi. Namun sekarang, kata 'aku' yang ia gunakan seolah menjadi jembatan sekaligus dinding pemisah. Ia sadar, Naya sedang mencoba menarik diri kembali ke balik topeng guru yang wibawa, berusaha memperbaiki batasan yang sempat runtuh.

​Tapi bagi Zaki, itu bukan lagi sekadar guru. Itu adalah seorang wanita yang baru saja membiarkan ia melihat luka terdalamnya.

Hidup memang tumpukan masalah yang tak kunjung usai. Tapi justru di balik retakan-retakan itulah cahaya bisa masuk dan membentuk kita. Menjadi dewasa bukan berarti berhenti terluka, tapi belajar bagaimana caranya tetap berdiri tegak meski sedang hancur-hancurnya di dalam...

Jemari Zaki mendadak menggantung di udara...

Kamu...

Begitu kalimat selanjutnya yang akhirnya ia ketik ragu.

"Kamu?" Batin Zaki. "Ah, ya sudahlah!"

Kamu sudah sangat hebat untuk bertahan sejauh ini.

​Zaki menatap layar, memastikan kalimatnya sudah cukup matang sebelum menekan tombol kirim.

Hening.

Zaki masih terpaku. Layar ponselnya pun masih menyala, menampilkan kalimat "kamu sudah sangat hebat untuk bertahan sejauh ini." yang seolah menari-nari di bawah cahaya redup kamar. Namun, titik-titik indikator mengetik di bagian atas layar yang biasanya menjadi penanda bahwa Naya sedang merangkai kata, kini menghilang.​ Tidak ada gerak. Tidak ada balasan lanjutan.

​Zaki merasakan jantungnya berdegup tidak karuan. Keheningan yang tercipta di seberang sana terasa lebih berat daripada kata-kata. Apakah Naya menyesali ucapannya? Apakah wanita itu baru saja menyadari bahwa ia telah membiarkan pintu hatinya terbuka terlalu lebar untuk seorang murid? Batinnya sambil menggenggam ponselnya erat.

Ia membayangkan Naya di sana, di balik layar itu, mungkin sedang menatap kosong ke langit-langit kamarnya sendiri, sama seperti Zaki tadi. Mungkin wanita itu sedang berperang dengan logikanya sendiri, mencoba menarik kembali kata-kata yang sudah telanjur ia lepaskan.

​Detik demi detik berlalu, terasa seperti jam.

​Zaki merasa harus melakukan sesuatu. Ia tak ingin membiarkan Naya terjebak dalam penyesalan atau rasa canggung yang mencekik. Ia tak ingin momen kejujuran ini menguap begitu saja menjadi kecanggungan di ruang kelas nantinya.

Drrrrt...

Ponsel akhirnya bergetar. Dengan jemari yang sedikit berkeringat, Zaki segera menggeser kunci pola layarnya secepat kilat. ​Layar yang tadi gelap kini menyala terang, menampilkan notifikasi pesan baru.

Makasih, ya. Aku beruntung ketemu kamu.

​Deg.

​Kalimat itu seperti hantaman telak. Zaki terdiam, napasnya seakan tertahan di tenggorokan. Ia membaca ulang kalimat itu berkali-kali, memastikan bahwa ia tidak salah baca. 'Aku beruntung ketemu kamu.' Kalimat itu begitu sederhana, namun membawa bobot emosional yang luar biasa baginya.

​Wanita itu bukan hanya sedang berterima kasih sebagai guru kepada muridnya. Sungguh, sebuah ego remajanya yang tadi sempat ragu, kini sepenuhnya luluh. Ia merasa bukan lagi seorang murid yang menatap gurunya dari kejauhan, melainkan seseorang yang sedang ditarik masuk ke dalam labirin perasaan seorang Naya. Perasaan apa ini?

****

1
Rahmi Mamimima
Typo ini.. Harusnya aku yg pduli sm kamu
Rahmi Mamimima
Kasian, naya udah g punya sahabat baik lagi

Kinan jug ksian krna uda g punya orang tua
Rahmi Mamimima
Wadduuhh gimana si kecil? Apa dy ikut dlm kcelakaan itu?
Rahmi Mamimima
Ah masa iya stlh obrolan itu tdk ad obrolan lgi ntara nya dan zaki
Mlah nay tu dr grup sekolahan, bkn dr zaki sendiri
Rahmi Mamimima
🤣🤣🤣😄Org lagi jatuh cinta kok malah mau d bw k psikiater
Rahmi Mamimima
Jatuh cinta beneran si naya sm muridnya
Rahmi Mamimima
Ibunya sdh mninggl? Apa krna anaknya g jdi mnikah?
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!