Di Karang Wetan, hukum punya pintu belakang — dan orang-orang seperti Rangga tidak pernah diundang lewat situ. Setelah menjadi korban kejahatan yang pelakunya berlindung di balik kekuasaan, Rangga bersumpah tidak akan pernah lagi menunggu keadilan datang dari atas. Dari gang sempit dan bantaran kali, ia membangun Lentera — perkumpulan orang-orang tertindas yang saling melindungi ketika negara menutup mata. Namun setiap cahaya yang menyala akan menarik perhatian kegelapan yang lebih besar: Komisaris Yusuf Baskoro dan Bupati Hardian Wibowo, dua penguasa yang saling melindungi demi mempertahankan takhta mereka. Ini kisah tentang seorang anak miskin yang menjelma jadi pemimpin yang ditakuti — dan pertanyaan yang terus menghantuinya: apakah ia masih pelindung, atau sudah jadi seperti yang dulu ia lawan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Areka Leywin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Isi Kotak Logam
Tiga hari berikutnya kami habiskan hampir tanpa tidur, berkumpul di gudang cadangan dekat terminal lama, membedah satu per satu isi kotak logam yang dibawa dari Broto. Sari memimpin proses ini dengan ketelitian yang membuatku semakin yakin, keputusan menerimanya bergabung dulu di kampung nelayan adalah salah satu keputusan terbaik yang pernah kami buat.
"Catatan setoran ini," katanya, menunjukkan tumpukan kertas bertuliskan angka-angka dan inisial yang awalnya terlihat seperti kode acak, "kalau dicocokkan sama pola yang udah aku petain sebelumnya, ini jelas nunjukkin aliran rutin bulanan dari beberapa preman kayak Broto, naik ke Baskoro, terus sebagian gede pergi ke rekening yang inisialnya cocok sama nama yang sering disebut Dedi soal perusahaan proyek."
Ujang, yang duduk di sampingnya sambil memutar salah satu kartu memori lewat laptop tua pinjaman, tiba-tiba terdiam. "Bang, dengerin ini."
---
Rekaman itu berdurasi pendek, kualitasnya tidak sempurna, tapi cukup jelas untuk mengenali suara yang, setelah pertemuanku langsung dengannya, tidak mungkin salah lagi—suara Komisaris Baskoro, berbicara santai dengan seseorang yang belakangan kami sadari kemungkinan besar adalah salah satu staf dekat Bupati Hardian.
*"...pokoknya pastiin proses appraisal-nya jangan sampai ketinggian, biar selisihnya masih masuk akal buat dibagi... "*
*"...Pak Bupati udah wanti-wanti, jangan sampai ada yang berani macem-macem kayak dulu waktu ada yang lapor-lapor..."*
Rekaman itu terputus di bagian akhir, tapi cukup untuk membuat ruangan itu hening lama setelah selesai diputar.
"Ini bukti langsung," kata Yanto akhirnya, suaranya bercampur antara lega dan waspada. "Bukan cuma dugaan lagi."
---
Malam itu, kami menghabiskan waktu berdiskusi panjang soal bagaimana cara terbaik menggunakan bukti-bukti ini. Ada banyak pertimbangan yang harus kami pikirkan dengan matang.
"Kalau kita langsung serahin ini ke polisi," kata Sari, "kita nggak tahu siapa lagi di institusi itu yang mungkin masih berpihak sama Baskoro. Bisa aja bukti ini malah 'hilang' kayak kasus Rangga dulu."
"Kalau kita serahin semua ke Mira buat diterbitin langsung," tambah Ujang, "itu bisa jadi bom besar, tapi juga bisa bikin mereka panik dan makin nekat, kayak yang terjadi waktu Rangga diserang."
Aku mendengarkan semua pertimbangan itu, mencoba menyusun strategi yang paling aman sekaligus paling efektif. "Kita nggak bisa taruh semua telur di satu keranjang. Kita bagi buktinya—sebagian kita kasih ke Mira buat disiapin jadi laporan investigasi besar, sebagian lagi kita coba salurkan ke lembaga yang levelnya di atas kepolisian daerah, kayak lembaga antikorupsi tingkat nasional, yang kemungkinan besar nggak punya kepentingan langsung buat lindungin Hardian atau Baskoro."
---
"Tapi itu butuh waktu," kata Yanto. "Dan kita nggak tahu berapa lama lagi sebelum Baskoro sadar Broto udah kabur bawa bukti."
Aku mengangguk, menyadari beratnya tekanan waktu yang kami hadapi. "Makanya kita harus gerak paralel. Sambil Mira nyiapin laporan besar-besaran yang bisa diterbitin kapan aja kalau keadaan mendesak, kita juga coba jalur resmi ke lembaga antikorupsi, walau prosesnya mungkin lebih lambat."
Sari mulai menyusun salinan-salinan dari dokumen paling penting, memastikan tidak ada yang bergantung pada satu sumber saja yang bisa dengan mudah dihancurkan atau disembunyikan jika sesuatu terjadi pada kami.
---
Menjelang subuh, saat kami masih sibuk menyusun rencana, sebuah pesan mendadak masuk dari Pak Darto, nadanya penuh kepanikan: "Ada yang lihat rumah Broto digeledah tadi malam. Kabarnya, dia sendiri udah dinyatakan 'buron' sama orang-orangnya Baskoro, dituduh macam-macam, mulai dari penggelapan sampai pengkhianatan."
Aku merasakan jantungku berdebar kencang mendengar kabar itu. Baskoro sudah menyadari kehilangan Broto, dan sekarang bergerak cepat untuk mengendalikan narasi sebelum kebenaran sempat terungkap.
"Mereka udah mulai panik," kataku pada semua yang hadir, mencoba tetap tenang meski situasi semakin mendesak. "Itu artinya kita harus lebih cepat dari mereka. Kita nggak punya waktu lagi buat nunggu proses resmi yang lambat."
Yanto menatapku serius. "Jadi apa rencananya sekarang, Rangga?"
Aku menarik napas dalam, merasakan beratnya keputusan yang harus segera kuambil. "Kita mulai bergerak di dua jalur sekaligus, mulai besok. Kita kasih sebagian bukti ke Mira buat mulai disiapkan publikasinya, dan kita cari cara buat sampein sisanya ke lembaga antikorupsi lewat jalur yang paling aman yang kita bisa temukan—bahkan kalau itu berarti kita harus cari kontak langsung ke ibu kota."
---
*(Bersambung ke Bab 32)*