Beda Usia + Berondong + Manis-Cemburu + Ambigu Kantoran + Cinta Diam-Diam + Cerita Per Unit】
Katanya pacaran sama berondong itu bahaya. Tapi kenapa makin bahaya, makin nagih?
Kirana cuma mau relaksasi otot di gym. Bukannya rileks, dia malah "khilaf" satu malam sama pelatih pengganti yang mukanya polos kayak anak anjing. Besok paginya? Cowok itu ternyata suami in-game sahabatnya di Raja Nusantara, anak semata wayang bos-nya Pak Handoko, dan… anak magang baru di divisinya.
Kirana pengin kabur. Tapi si adik malah bisik-bisik: "Kak, malam ini sekali lagi, ya?"
Dan Kirana bukan satu-satunya yang kejeblos.
Ada yang salah jemput di bandara, eh malah bawa pulang "pacar bayaran" yang ternyata naksir dia diam-diam sejak lima tahun lalu. Ada yang mabuk lalu nikah dadakan sama "cowok bayaran"—yang ternyata putra mahkota konglomerat. Ada manajer artis yang, semalam sebelum resign buat nikah, malah "termakan" sama aktor papan atas asuhannya sendiri selama sepuluh tahun. Ada dokter relawan yang dikejar-kejar adik tetangga yang dulu ia besarkan—sekarang balik jadi dokter pulangan luar negeri yang… nggak mau ngalah.
20 berondong. 20 kisah. Satu pola yang bikin jantungan: siang hari manis manggil "Kakak", malam hari berubah jadi serigala yang nggak mau dipanggil adik lagi.
Mereka polos di depan, tapi posesif di belakang. Mereka bilang "aku masih kecil, Kak", tapi merekalah yang ngejar sampai ke ujung dunia, beliin rumah diam-diam, jagain sampai babak belur, dan bilang: "Berhenti nganggap aku adik. Anggap aku laki-laki yang sejajar sama kamu."
Masalahnya… si Kakak keburu kabur duluan tiap pagi.
Pertanyaannya sekarang: berapa lama Kakak bisa lari, kalau tiap berondong ini nagihnya minta ampun?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aluna Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 3
Bab 3
Proyek "Berani Nggak?"
Lima tahun lalu, Surabaya mengajariku bahwa cinta bisa terasa seperti rumah sekaligus ruang tunggu.
Saat itu aku masih management trainee yang selalu datang paling pagi dan pulang setelah petugas kebersihan mematikan separuh lampu kantor. Reza adalah atasanku. Dia mengajariku membaca laporan distribusi, menghadapi klien yang meremehkan perempuan muda, dan memesan rawon terenak saat lembur.
Pada satu jamuan klien, seorang tamu terus mendorong gelas ke arahku. Reza menukarnya dengan gelas miliknya.
"Dia masih harus presentasi besok," katanya. "Saya yang temani Bapak."
Malam itu lehernya memerah karena makanan yang mengandung rosella. Dia tetap tersenyum sampai klien pulang, lalu duduk di trotoar sambil menelan antihistamin.
Aku jatuh cinta pada laki-laki yang kukira selalu akan berdiri di depanku.
Setahun kemudian masa rotasiku selesai. Reza memintaku menetap di Surabaya. Pada hari yang sama, kantor pusat Jakarta menawarkan jalur percepatan karier.
"Kalau lo pulang, kita mau bagaimana?" tanyanya.
"Kita bisa jarak jauh."
"Karier selalu nomor satu buat lo."
Aku tetap naik pesawat ke Jakarta.
Dua tahun setelahnya, Vania mengunggah foto bersama Reza dengan caption: Sama kamu, aku selalu bahagia.
Tak ada penjelasan. Aku menghapus nomor Reza dan memblokir Vania. Namun rupanya menghapus kontak tidak sama dengan membuang kenangan.
Sekarang, lelaki yang dulu melindungiku justru berdiri di sisi lain meja proyek dan mengambil setiap ide seolah muncul dari kepalanya sendiri.
Untung Arya tak memberiku waktu untuk terlalu lama menatap masa lalu.
"Kak Kira, proposal kampus sudah masuk. Tiga puluh dua BEM mau ikut challenge."
Dia menjatuhkan diri di kursi sebelahku. Grafik jangkauan Raja Nusantara memenuhi tabletnya.
"Bagus. Kirim ke tim digital sebelum jam empat."
"Malam ini kita rayakan?"
"Belum selesai."
"Kalau menunggu Kakak merasa selesai, kita rayakan saat pensiun."
Benar juga.
Tiga minggu berikutnya berjalan seperti mesin panas. Kaleng Fizzo rosella masuk ke kampus-kampus melalui booth wisuda dan komunitas mahasiswa. Para pemain Raja Nusantara mengunggah tantangan mereka. Ada yang menembak gebetan di depan perpustakaan, ada yang mengirim lamaran kerja pertama, ada yang mencicipi rosella sambil menahan wajah masam.
Tagar BeraniNggak naik di TikTok. Penjualan bertambah dua puluh persen.
Di kampus terakhir, seorang mahasiswi membawa kaleng Fizzo ke panggung wisuda lalu menantang ibunya ikut kursus menjahit yang selama ini ditunda. Videonya ditonton jutaan kali. Komentar tak lagi membicarakan rasa minuman, melainkan keberanian kecil yang bisa mengubah hidup. Saat tim digital bersorak, aku melihat Reza berdiri di belakang mereka dan menerima ucapan selamat dari direktur lain. Arya justru menyelipkan catatan di bawah laptopku.
Konsep dari Kak Kira. Eksekusi juga dari Kak Kira. Jangan biarkan orang lain menulis ulang ceritanya.
Kusimpan kertas itu di dalam agenda.
Malam saat angka final masuk, aku mengirim pesan kepada Arya.
Kirana: Hotel Aveston. Satu jam lagi.
Arya: Ini undangan rapat atau hadiah performa?
Kirana: Datang kalau berani.
Dia tiba empat puluh menit kemudian dengan rambut masih basah dan senyum yang membuat kamar hotel terasa lebih sempit.
"Rara akhirnya mengakui kerja kerasku?"
"Aku cuma nggak mau pulang. Nadia masih tinggal di apartemenku."
"Berarti aku hotel darurat?"
Aku menarik kerah kemejanya. "Banyak tanya."
Ciumannya menelan jawabanku. Beberapa saat kemudian punggungku menyentuh seprai dan dunia di luar kamar menghilang.
Sampai ponselku berdering.
Nama Reza menyala di layar.
Aku hendak mematikannya, tetapi Arya lebih cepat. Dia mengangkat panggilan dan menyalakan pengeras suara.
"Kirana?" Suara Reza terdengar di antara dengung mesin lift. "Gue di depan apartemen lo."
Aku bangkit. "Arya, tutup."
Arya menahan pinggangku. "Malam ini dia milikku, Mas. Jangan tunggu."
"Siapa lo?"
"Orang yang kasih alamat itu ke Mas Reza. Biar jelas sekalian."
Aku menutup panggilan dan memukul dadanya. "Kamu kasih alamatku?"
"Aku mau tahu Kakak bakal pilih siapa."
"Itu manipulatif."
Wajahnya menegang. "Aku lihat cara Kakak memandang dia. Aku nggak mau jadi tempat singgah sementara Kakak menunggu mantan."
Sebelum aku menjawab, voice note Nadia masuk beruntun.
"Kira, ada om-om nungguin lo di bawah! Jangan bilang ini Arya!"
Voice note kedua lebih keras.
"Berani banget lo tidur sama suami gue, terus seleranya setua ini!"
Aku menutup wajah dengan bantal. Arya tertawa sampai bahunya berguncang. Kemarahanku belum hilang, tetapi suara tawa itu meretakkan simpul di dadaku.
Nadia kemudian mengirim foto Reza dari kejauhan. Di bawahnya ada tulisan: Kalau ini suami game gue, gue ikhlas cerai sebelum login.
Aku membalas bahwa laki-laki itu mantanku. Tiga titik muncul lama sekali sebelum voice note berikutnya datang.
"Jadi yang lo tiduri memang Arya? Kirana, besok kita sidang persahabatan. Tapi tenang, pernikahan gue sama dia cuma virtual. Yang gue marahin itu lo bohong, bukan rebutan cowok."
Dadaku sedikit longgar. Setidaknya satu dari tiga bom malam pertamaku ternyata tidak akan meledak.
"Besok jelaskan ke Nadia," kataku. "Dan jangan pernah pakai alamatku untuk menguji aku lagi."
Arya berhenti tertawa. "Iya. Maaf."
Dia tidak mencari alasan. Itu membuatku lebih mudah memaafkannya.
Dua hari kemudian, rapat evaluasi proyek diadakan. Pak Handoko memuji peningkatan penjualan, tetapi surat keputusan yang dibacakan HR membuat tepuk tangan terdengar seperti ejekan.
Reza resmi menjadi wakil manajer marketing.
Aku mendapat kenaikan gaji sepuluh persen.
"Terima kasih atas kerja keras semuanya," kata Reza di depan tim. "Ke depan, saya akan memastikan strategi kita lebih terarah."
Strategi kita.
Di layar masih ada konsep yang kutulis, jaringan kampus yang dikerjakan Arya, dan video pendek yang kurancang bersama tim digital. Namun nama Reza berada di surat keputusan.
Setelah rapat, dia menyusulku ke lorong tangga darurat.
"Jangan pasang muka begitu. Lo tetap dapat kenaikan."
"Selamat, Mas Reza."
"Lo kira tidur sama anak Pak Handoko bisa bikin lo naik jabatan?"
Aku berhenti.
Lima tahun kenangan berdiri di antara kami. Trotoar Surabaya. Rawon tengah malam. Gelas yang dia ambil dari tanganku. Semua itu runtuh oleh satu kalimat.
"Yang mencuri kerja orang lain ternyata masih sempat mengurus ranjang orang," kataku.
Reza mencibir. "Gue cuma bilang kenyataan."
Tanganku bergerak lebih dulu.
PLAK!
Kepalanya menoleh karena tamparanku. Bekas merah muncul di pipinya, jauh lebih jelas daripada biduran rosella waktu itu.
"Ini juga kenyataan," ucapku. "Kenangan indah kita hancur detik ini. Jangan pernah bawa tubuhku untuk merendahkan pekerjaanku lagi."
Aku meninggalkannya di tangga darurat.
Di balik pintu, Arya berdiri sambil memegang dua kaleng Fizzo. Entah sudah berapa lama dia mendengar.
Dia tidak bertanya. Dia hanya membuka satu kaleng dan menyerahkannya kepadaku.
"Buat merayakan apa?" tanyaku.
"Kakak akhirnya berani berhenti menoleh ke belakang."
Aku menerima kaleng itu. Untuk pertama kali, ketika Arya memanggilku Kakak, aku tidak merasa sedang berdiri di samping anak kecil.