"Pernikahan ini adalah benteng, dan rahasia adalah senjataku."
Bagi dunia luar, Mike Raharja adalah lambang kesempurnaan sekaligus kutukan. Sang tirani korporat yang dingin, tak tersentuh, dan dirumorkan tidak bisa memberikan keturunan bagi dinasti bisnis raksasa Raharja Group. Demi menjaga takhtanya dan melindungi sebuah rahasia besar dari musuh-musuh dalam selimut, Mike merancang sebuah skenario gila: pernikahan kontrak selama empat tahun dengan pengacara ambisius, Anita.
Namun, ketika masa kontrak berakhir dan topeng-topeng mulai berjatuhan, sebuah kejutan besar yang sesungguhnya baru saja dimulai. Di balik dinding sangkar emas yang penuh manipulasi, ada satu jiwa yang selama ini disembunyikan Mike dari radar dunia—sebuah pelabuhan hati rahasia yang menjadi alasan di balik semua kelicikan dan pengorbanannya.
Saat badai korporasi mengancam dan masa lalu menuntut balas, akankah skenario yang disusun Mike berakhir sebagai kemenangan mutlak, atau justru menjadi bumerang untuknya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Shee Lyn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11 (Benang yang saling bertaut)
Pagi hari di kawasan Jakarta Selatan menyambut mereka dengan langit yang cerah setelah diguyur hujan semalaman. Sedan hitam mewah milik Mike membelah jalanan protokol yang mulai padat, sebelum akhirnya berbelok ke sebuah area komersial premium yang dipenuhi bangunan modern bertingkat.
Mobil perlahan berhenti di depan sebuah ruko berdesain minimalis-elegan dengan fasad kaca besar berlantai tiga. Di papan nama bagian depan, sebuah tulisan dengan huruf kayu timbul berwarna pastel tampak cantik: **PAUD Mentari Kasih – Yayasan Sarah Raharja**.
Alisha menatap papan nama itu dari balik kaca mobil dengan mata yang berkaca-kaca. Perasaan haru yang luar biasa membuncah di dadanya, mengalahkan sisa-sisa rasa canggung yang ia pelihara selama sebulan terakhir kepada pria yang kini duduk di samping kemudi.
"Turunlah. Ibumu pasti sudah menunggumu di dalam," ucap Mike lembut, mematikan mesin mobil lalu berbalik menatap Alisha. Sikapnya tidak lagi se-intimidatif malam semalam di perpustakaan; pagi ini Mike tampak seperti seorang suami yang tulus ingin membahagiakan istrinya.
Alisha mengangguk pelan, membuka pintu mobil, dan melangkah keluar. Begitu kakinya menyentuh halaman ruko, pintu utama bangunan tersebut terbuka. Sarah keluar dengan wajah yang berseri-seri, mengenakan pakaian rapi yang dipersiapkan untuk hari pertamanya mengelola yayasan impiannya.
"Alisha! Pak Mike!" seru Sarah, buru-buru menuruni anak tangga ruko untuk memeluk putrinya dengan erat. "Ibu masih merasa seperti mimpi, Nak. Lihat ruko ini... semuanya begitu sempurna. Fasilitas belajar di dalam bahkan sudah lengkap semua."
"Ini bukan mimpi, Bu," Alisha tersenyum tulus, membalas pelukan ibunya sembari melirik ke arah Mike yang berjalan menyusul di belakang mereka dengan langkah berwibawa. Pria itu mengangguk hormat pada Sarah.
"Terima kasih banyak, Pak Mike. Ibu tidak tahu bagaimana harus membalas semua kebaikan Anda pada keluarga kami," ucap Sarah dengan mata yang mulai basah oleh air mata haru. Di mata Sarah, Mike tetaplah sosok penolong 'malang' yang berhati malaikat.
"Anda tidak perlu membalas apa pun, Ibu. Cukup jaga kesehatan Anda dan pastikan yayasan ini berjalan dengan baik. Kebahagiaan Anda adalah ketenangan bagi saya dan Alisha," jawab Mike dengan nada suara yang begitu sopan dan menyejukkan—akting menantu ideal yang luar biasa rapi.
"Mari masuk ke dalam. Di lantai dua sedang ada pertemuan dengan tim hukum yang mengurus legalitas yayasan ini," ajak Sarah sembari menuntun Alisha dan Mike masuk ke dalam ruko yang beraroma cat baru dan perabotan kayu yang segar.
Saat mereka menaiki tangga menuju lantai dua yang dirancang sebagai ruang administrasi dan kantor yayasan, Alisha dikejutkan oleh suara tawa yang sangat ia kenal dari balik pintu kaca yang semi-terbuka. Suara tawa seorang wanita yang elegan dan mandiri.
Begitu pintu dibuka oleh Mike, Alisha seketika mematung di ambang pintu.
Di dalam ruangan tersebut, duduk di balik meja rapat kecil, adalah Anita. Mantan istri Mike. Wanita yang dikira Alisha telah menceraikan Mike karena masalah kemandulan, kini sedang duduk santai sembari memegang beberapa map dokumen legalitas. Di samping Anita, berdiri Alvin—sahabat karib Mike—yang tampak sedang merapikan beberapa berkas kerja sama dengan senyuman hangat di wajahnya.
"Ah, kalian akhirnya sampai," ujar Anita, bangkit dari kursinya dengan keanggunan yang sama seperti saat ia masih menjadi Nyonya Raharja di depan publik. Namun kali ini, tidak ada kecanggungan atau permusuhan di wajahnya saat menatap Alisha.
Alisha refleks melirik ke arah Mike dengan tatapan penuh tanya dan kewaspadaan, sementara tangannya mencengkeram lengan sweter Mike dengan erat. "Mike... kenapa Ibu Anita ada di sini?" bisik Alisha dengan nada cemas. Ia takut kehadiran Anita akan memicu kecurigaan ibunya, Sarah, yang saat ini sedang mengambilkan minuman ke dapur ruko.
Anita yang mendengar bisikan itu langsung terkekeh rendah, memecah ketegangan di wajah Alisha. "Jangan tegang begitu, Alisha. Panggil aku Kak Anita saja, status kita sekarang sudah berbeda."
Alvin melangkah maju, menepuk bahu Mike pelan sebelum menjelaskan pada Alisha. "Firma konsultan hukum dan bisnis yang menaungi yayasan pendidikan ibumu adalah firma baru milik Anita, Alisha. Raharja Group menunjuk firma Anita secara resmi sebagai konsultan hukum utama untuk seluruh proyek tanggung jawab sosial perusahaan, termasuk PAUD ini."
Alisha tertegun, otaknya mencoba mencerna situasi ini. "Jadi... Kak Anita yang mengurus seluruh legalitas sekolah ini?"
"Benar," Anita berjalan mendekati Alisha, memberikan senyuman tulus seorang kakak perempuan yang suportif. "Mike memintaku secara pribadi untuk memastikan tidak ada celah hukum sedikit pun yang bisa digugat oleh paman-pamannya di dewan direksi mengenai aset ruko ini. Segala urusan perizinan, pembebasan pajak yayasan, hingga perlindungan hukum untuk nama baik almarhum kakakmu, Aryo, semuanya berada di bawah pengawasan firmaku."
Anita kemudian melirik ke arah Mike dengan kerlingan jenaka. "Dan percayalah, suamimu yang posesif ini membayar jasaku dengan sangat mahal untuk memastikan kenyamanan keluargamu."
Mendengar kata 'suamimu', Alisha merasakan pipinya mendadak merona merah. Ia menatap Anita, melihat bagaimana wanita itu berinteraksi dengan Alvin dengan begitu dekat dan penuh kasih—sebuah dinamika yang tidak pernah ia lihat saat Anita bersama Mike dulu. Di depan matanya sendiri, Alisha menyadari betapa rapinya benang-benang skenario yang dijalin oleh mereka semua. Pernikahan kontrak empat tahun itu benar-benar murni bisnis yang kini bermuara pada kebahagiaan semua pihak.
"Terima kasih, Kak Anita... dan Pak Alvin," ucap Alisha tulus, rasa bersalah dan cemas yang sempat menghantuinya perlahan mulai mencair, digantikan oleh rasa kagum pada profesionalisme wanita di depannya.
"Sama-sama, Alisha. Jaga si iblis ini baik-baik ya, dia sudah menahan diri terlalu lama untuk bisa membawamu ke sini," goda Anita setengah berbisik di telinga Alisha, membuat Alisha semakin salah tingkah.
Setelah pertemuan singkat dan penandatanganan berkas kerja sama selesai, Alvin dan Anita pamit terlebih dahulu karena ada jadwal pertemuan dengan klien lain. Sarah pun kembali sibuk di lantai dasar, menata mainan anak-anak yang baru saja tiba bersama para staf pengajar.
Tinggal Mike dan Alisha yang kini berdiri di balkon lantai tiga ruko, menatap pemandangan jalanan Jakarta Selatan yang ramai di bawah terik matahari siang. Angin sepoi-sepoi memainkan ujung rambut sebahu Alisha.
"Bagaimana? Kamu masih berpikir aku sedang membohongimu tentang niatku melindungi keluargamu?" tanya Mike, suaranya bariton, terdengar mendalam di sela-sela deru angin. Ia berdiri di samping Alisha, menopangkan kedua tangannya pada pagar pembatas balkon.
Alisha terdiam cukup lama, memandangi jemarinya yang kini melingkar cincin pernikahan mereka. "Melihat Kak Anita dan Pak Alvin tadi... aku baru sadar seberapa jauh kamu merencanakan semua ini, Mike. Kamu melibatkan sahabat-sahabatmu, mengorbankan reputasimu sendiri dengan rumor mandul itu, hanya untuk... untuk ruko ini? Untuk aku?"
Mike memutar tubuhnya, menatap Alisha dengan tatapan elang yang pekat, mengunci seluruh atensi gadis itu. "Bukan hanya untuk ruko ini, Alisha. Tapi untuk masa depan kita yang tanpa gangguan. Jika aku tidak menggunakan Anita sebagai tameng selama empat tahun, dan jika aku tidak menghancurkan selera paman-pamanku untuk menjodohkanku lewat rumor kemandulan itu, kita tidak akan pernah bisa berdiri di sini hari ini dengan tenang."
Mike melangkah satu tapak lebih dekat, mengulurkan tangannya untuk menggenggam jemari Alisha. Kali ini, Alisha tidak menarik tangannya mundur. Sentuhan hangat tangan Mike entah mengapa terasa seperti sebuah jangkar yang menenangkannya di tengah badai kenyataan yang baru ia ketahui.
"Aku tahu caraku egois dan manipulatif, Alisha," bisik Mike, wajahnya merunduk, menatap lurus ke dalam manik mata jernih istrinya. "Tapi setiap sen yang kukeluarkan untuk ruko ini, setiap lembar dokumen yang diurus Anita, dan setiap detak jantungku selama empat tahun penantian ini... semuanya murni untukmu. Aku tidak akan pernah meminta maaf karena telah menjebakmu masuk ke dalam hidupku, karena bagiku, kehilanganmu adalah satu-satunya kegagalan bisnis yang tidak akan pernah bisa kuterima seumur hidupku."
Alisha menatap mata Mike. Di balik dinding kebohongan yang sempat membuatnya marah, ia kini bisa melihat dengan jelas sebuah samudra obsesi dan perlindungan yang teramat luas yang disediakan pria ini hanya untuk dirinya. Benteng pertahanan di dalam hati Alisha yang semula kokoh kini perlahan mulai runtuh seluruhnya, menyisakan sebuah debaran baru yang hangat yang mulai tumbuh di antara rasa pasrah dan ketulusan suaminya yang luar biasa gila.