NovelToon NovelToon
MY ALTER EGO

MY ALTER EGO

Status: tamat
Genre:Balas Dendam / Fantasi Wanita / Wanita Karir / Tamat
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: FantasiKuyy

Judul: My alter ego

Kehilangan orang tua, pengkhianatan suami, dan terjebak di kantor yang toksik membuat hidup Hira Lione hancur dalam semalam. Namun, saat keputusasaan mencapai puncaknya, sebuah suara misterius muncul di dalam kepalanya.

Demi membalas dendam, Hira membuat kesepakatan berbahaya: menyerahkan kendali tubuhnya pada sosok alter ego yang dingin dan kejam. Hira yang rapuh kini telah tiada, digantikan oleh predator yang siap meruntuhkan hidup siapa pun yang pernah menginjak-injak harga dirinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon FantasiKuyy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 27: Ujian Sang Penguasa

​Hira memiringkan kepalanya sedikit, menolak tunduk dan membiarkan bibir pria itu menyapu ruang kosong di dekat leher jenjangnya.

​Tangan lentiknya menyambut gelas kristal tersebut dengan gerakan luar biasa tenang, sama sekali tidak terpengaruh oleh intimidasi jarak dekat yang baru saja terjadi.

​"Kau mungkin terbiasa mengoleksi barang antik bernilai tinggi di dalam rumah megahmu ini, Arthur."

​Hira memutar cairan merah pekat di dalam gelasnya, menatap lurus ke dalam manik mata kelam pria jangkung yang berdiri mengunci pergerakannya.

​"Tapi aku bukanlah sebuah mainan rapuh yang bisa kau pajang diam di dalam lemari kaca."

​Ia menyesap anggur merah itu secara perlahan, merasakan jejak rasa getir bercampur manis yang meluncur membasahi tenggorokannya dengan sempurna.

​Arthur menegakkan kembali postur tubuhnya, melangkah mundur satu langkah sembari mengamati setiap inci pergerakan wanita tersebut dengan ketertarikan yang semakin liar.

​"Kau baru saja merebut paksa perusahaan yang bertugas mengalirkan dua triliun rupiah ke dalam brankas pribadiku setiap tahunnya, Hira."

​Pria itu berjalan memutari meja makan panjang, jemarinya mengetuk pelan tepian kursi berukir rumit peninggalan zaman Eropa kuno.

​"Dan sekarang kau berani berdiri tegak di dalam rumahku, meminum anggurku, tanpa sedikit pun rasa gentar bahwa aku bisa saja memerintahkan barisan penembak jitu di luar sana untuk melubangi kepalamu."

​{Pria ini benar-benar berpikir bahwa ancaman kematian fisik adalah satu-satunya instrumen untuk menundukkan lawan.}

​Sang alter ego merespon dari dalam sudut pikiran terdalamnya, meremehkan taktik usang yang sedang dipamerkan dengan sangat arogan oleh sang penguasa bayangan.

​Hira meletakkan gelas kristalnya ke atas taplak sutra meja dengan satu hentakan pelan namun terdengar sangat tegas.

​"Penembak jitumu tidak akan pernah menarik pelatuknya malam ini, Arthur."

​Tangan kanan Hira bergerak naik menyentuh kalung berlian hitam berdesain duri mawar liar yang melingkar sangat erat di lehernya.

​"Karena jika jantungku mendadak berhenti berdetak, buku besar berisi nama seluruh politisi penyokongmu akan langsung terkirim secara otomatis ke dalam kotak masuk media nasional."

​Arthur menghentikan ayunan langkahnya tepat di ujung meja, sepasang mata tajamnya menyipit menilai kalkulasi risiko dari ancaman mematikan tersebut.

​"Peretas peliharaanku sempat memberitahuku bahwa kau memiliki sistem pelindung biometrik yang cukup merepotkan sesaat sebelum aku melubangi kepalanya."

​Pria bersetelan jas tempahan khusus itu merogoh saku dalamnya, mengeluarkan sebuah perangkat pengendali kecil berukuran sebesar kotak korek api.

​"Tapi sistem biometrik berbasis denyut nadi selalu memiliki kelemahan mendasar jika perangkat pemindainya dihancurkan dari luar secara paksa."

​Arthur menekan satu tombol merah pada perangkat tersebut tanpa menyisakan ragu sedikit pun di wajahnya.

​Kalung berlian hitam di leher Hira mendadak bergetar sangat keras, mengeluarkan sengatan listrik bertenaga rendah yang langsung melumpuhkan saraf otot di sekitar bahunya.

​Hira tersentak mundur menahan sakit, tangannya secara refleks memegangi leher yang kini terasa kaku dan panas membakar kulit.

​{Dia memasang alat kejut mematikan di dalam perhiasan sialan ini!}

​Jiwa asli Hira menjerit panik merasakan rasa sakit yang menyengat secara tiba-tiba, membuat pertahanannya nyaris runtuh seketika di hadapan musuh.

​Namun sang alter ego dengan sigap mengambil alih kendali rasa sakit itu, mengubahnya secara instan menjadi bahan bakar amarah yang luar biasa murni.

​Hira menegakkan kembali tubuhnya yang sempat goyah, memaksakan sebuah tawa dingin keluar dari sela-sela giginya yang terkatup sangat rapat.

​"Trik murahan yang sangat menyedihkan untuk ukuran seorang penguasa kota, Arthur."

​Tangan kiri Hira dengan cepat menyentuh layar smartwatch di pergelangan kanannya, memasukkan kombinasi angka keamanan darurat tanpa melihat.

​Sengatan listrik di lehernya berhenti secara absolut, mematikan sinyal perangkat pengendali di tangan Arthur hingga alat tersebut mengeluarkan kepulan asap tipis.

​Pria jangkung itu melemparkan perangkat pengendalinya yang sudah rusak ke lantai pualam, tampak sama sekali tidak terkejut dengan kecepatan reaksi lawannya.

​"Kau berhasil lolos dari ujian pertamaku, Nyonya Presiden Direktur."

​Arthur kembali menuangkan sisa anggur ke dalam gelasnya sendiri, menikmati kemenangan psikologis kecil dari permainan maut yang baru saja ia ciptakan.

​"Aku hanya ingin memastikan bahwa orang yang memegang kendali atas mesin uangku adalah wanita yang tahu persis cara bertahan hidup dari rasa sakit."

​"Aku bukan sekadar tahu cara bertahan hidup, aku tahu persis cara membalikkannya padamu berlipat ganda."

​Hira berjalan mendekat mengikis jarak, mengambil sebuah garpu perak tajam dari atas meja makan, menggoreskan ujungnya ke permukaan taplak sutra mahal hingga robek memanjang.

​"Mulai besok pagi, seluruh jalur logistik perusahaanmu akan berada di bawah otoritas penuh departemenku tanpa ada satu pun campur tangan dari pesuruh bodohmu lagi."

​Arthur menyesap anggurnya perlahan, menatap robekan di atas meja dengan pandangan datar yang penuh teka-teki tak tertebak.

​"Kau menuntut kontrol absolut untuk sebuah wilayah kekuasaan yang baru saja kau masuki satu hari yang lalu."

​"Aku sama sekali tidak menuntutnya, aku baru saja memberitahumu tentang fakta yang akan terjadi di lapangan."

​Hira membuang garpu perak itu ke lantai hingga berdenting nyaring, membalikkan badannya untuk melangkah pergi meninggalkan ruang perjamuan mewah tersebut tanpa memberikan kesempatan Arthur membalas.

​"Jika kau membutuhkan bantuanku untuk mencuci uang harammu, pastikan kau mengirimkan permintaan resmi di atas kertas, bukan ancaman kekanakan seperti malam ini."

​Sepatu hak tingginya kembali bergema nyaring menyusuri lorong berhias pilar marmer klasik, meninggalkan sang penguasa bayangan yang masih berdiri diam menatap punggungnya dari ujung ruangan.

​{Pria itu jauh lebih berbahaya dari semua musuh yang pernah kita hadapi, tapi kita baru saja menancapkan batas teritori yang tidak boleh ia langgar sembarangan.}

​Hira melangkah keluar menembus pintu utama yang segera dibukakan oleh para penjaga, melangkah mantap membelah suhu malam yang membekukan permukaan kulitnya.

​Mobil sedan antipeluru sudah menunggunya dengan mesin menyala konstan, siap membawa sang Ratu baru kembali menuju pusat takhta kekuasaannya sendiri.

​||||

​Aktivitas pagi mulai memadati hamparan aspal di pusat kota, menandai dimulainya kembali rutinitas perputaran uang tanpa akhir di gedung pencakar langit.

​Hira duduk dengan postur tulang punggung lurus sempurna di balik meja marmer hitam ruang kerjanya, menatap tumpukan berkas yang telah disusun rapi oleh asisten pribadinya.

​Leo berdiri tegap di sudut ruangan direktur utama, memegang sebuah tablet kerja yang menampilkan jadwal pertemuan luar biasa padat untuk dieksekusi hari ini.

​"Seluruh pemegang saham minoritas telah menyetujui restrukturisasi dewan direksi secara sepihak pagi ini, Bu Hira."

​Asisten berkacamata itu melaporkan perkembangan terbaru dari lantai bursa dengan nada suara yang sangat teratur dan patuh pada atasannya.

​"Kerja bagus, pastikan orang-orang lamaku dari divisi pemasaran mendapatkan posisi strategis yang baru saja dikosongkan."

​Hira menandatangani dokumen persetujuan operasional terakhir, memastikan bahwa Bagas dan rekan-rekannya yang dulu sering merendahkannya kini berada tepat di bawah tumit kekuasaannya.

​{Membiarkan tikus-tikus kecil itu hidup dalam ketakutan setiap hari jauh lebih memuaskan daripada sekadar memecat mereka langsung ke jalanan.}

​Tiba-tiba, layar interkom di atas meja marmer berkedip merah terang, memunculkan notifikasi panggilan darurat dari pos keamanan lobi utama.

​Hira menekan tombol sentuh tersebut tanpa mengalihkan pandangannya dari dokumen, membiarkan suara Kepala Keamanan menggema ke seluruh penjuru ruangan luasnya.

​"Panggil kepolisian setempat untuk menyeretnya keluar menuju sel tahanan, jangan membuang waktuku dengan urusan keamanan standar yang seharusnya bisa kau tangani sendiri."

​Jari telunjuk Hira menghentikan ketukannya di atas meja marmer, sebuah senyum miring yang luar biasa kejam perlahan terbentuk merespon nama familiar tersebut.

​{Mantan suami yang menyedihkan ini ternyata masih berani merangkak keluar dari selokannya setelah kubiarkan membusuk tanpa harta sepeser pun.}

​"Bawa dia naik menggunakan lift barang yang paling kotor, dan pastikan dia tidak membawa senjata logam apa pun ke lantai direksi eksekutif."

​Hira memutuskan panggilan interkom secara sepihak, memberikan instruksi visual melalui lirikan mata kepada Leo untuk bersiap mengurus tamu tidak diundang ini.

​Lima belas menit kemudian, pintu kayu jati ganda ruang kerjanya terbuka paksa oleh dorongan kuat dari dua petugas keamanan berbadan tegap.

​Reza diseret masuk dengan kondisi yang sangat berantakan, mengenakan kemeja kusut yang sama persis seperti terakhir kali ia diusir paksa dari gedung mewah ini.

​Pria itu meronta brutal membebaskan diri dari cengkeraman penjaga, melemparkan sebuah map tipis ke atas meja marmer di hadapan Hira dengan sisa-sisa amarah yang memuncak.

​"Kau memalsukan semua bukti transfer sialan itu, Hira!"

​Reza berteriak sangat histeris, menunjuk wajah tenang mantan istrinya dengan jari telunjuk yang bergetar hebat menahan frustrasi berkepanjangan.

​"Pengacaraku memberitahuku bahwa kau yang meretas sistem perusahaan cangkang itu dan memasukkan namaku secara sepihak untuk melindungimu sendiri dari jerat hukum!"

​Hira menyandarkan punggungnya perlahan ke sandaran kursi kulit, memandangi sosok memprihatinkan di depannya seolah sedang menatap seekor kecoak yang terjebak di dalam toples kaca.

​"Kau bahkan tidak sanggup membayar pengacara murah untuk kasus perceraian sepihak kita, Reza, lantas dari mana kau mendapatkan penasihat hukum kelas atas untuk kasus penipuan miliaran rupiah ini?"

​"Seseorang yang sangat berkuasa memberikanku dokumen gugatan ini, seseorang yang tahu persis bahwa kau adalah iblis dalang di balik semua kehancuran ini!"

​Mata Hira menyipit tajam bak elang, insting predatornya langsung mengenali adanya campur tangan pihak luar yang sengaja merancang skenario murahan ini.

​Ia meraih map tipis tersebut tanpa keraguan, membuka halaman pertamanya dan memindai deretan logo firma hukum yang tertera rapi di sudut kertas bertekstur premium.

​Logo itu berbentuk dua pedang perak bersilang dengan mahkota kecil menumpang di atasnya, sebuah simbol identitas rahasia yang sangat spesifik dan berkelas.

​{Arthur sengaja mengirimkan anjing rabies ini untuk menguji kesabaran sekaligus kendali emosiku di pagi pertama kekuasaan mutlakku.}

​Hira merobek dokumen gugatan hukum itu menjadi dua bagian dengan gerakan jari yang sangat pelan, merendahkan, dan terukur presisi.

​"Orang bodoh yang memberimu kertas tidak berguna ini sedang memanfaatkan keputusasaan absolutmu semata-mata untuk mengangguku, Reza."

​Potongan kertas itu dijatuhkan ke lantai marmer dengan santai, berserakan tepat di ujung sepatu kulit usang milik pria yang masih menatapnya dengan penuh kebencian.

​"Kau tidak memiliki satu pun bukti valid selain asumsi liar yang sengaja kau bangun sendiri di dalam rongga kepala kosongmu."

​Reza melangkah maju secara agresif menerobos batas, mencoba meraih kerah baju Hira dengan niat mencekik sebelum petugas keamanan berhasil meringkus lengan pria itu kembali.

​"Aku akan menghancurkan karirmu, Hira, aku akan memastikan seluruh dunia tahu monster serakah seperti apa kau sebenarnya!"

​Pria itu terus memberontak liar sambil meneriakkan makian paling kotor saat tubuhnya diseret paksa mundur menuju arah pintu keluar oleh para penjaga.

​Hira sama sekali tidak mengedipkan matanya, membiarkan pertunjukan kemiskinan itu berakhir ditutup dengan suara bantingan pintu ganda yang mengunci rapat.

​"Hubungi koneksi kepolisian bayaran kita di wilayah selatan sekarang juga, Leo."

​Hira memberikan instruksi eksekusi dengan nada yang luar biasa dingin, sama sekali tidak menyisakan ruang terkecil pun untuk perasaan belas kasihan.

​"Pastikan mantan suamiku yang gila itu ditangkap paksa atas tuduhan perusakan properti serta ancaman pembunuhan terencana terhadap Presiden Direktur sebelum dia berhasil keluar dari radius satu kilometer gedung ini."

​Leo mengangguk sangat cepat, tangannya langsung sibuk mengetikkan pesan darurat melalui tablet kerjanya untuk mengeksekusi penangkapan tersebut tanpa ampun.

​Hira berjalan elegan menuju jendela kaca raksasa, menatap hamparan bangunan kota di bawahnya dengan pemikiran yang terfokus penuh pada manuver Arthur.

​Pria jangkung di rumah megah itu tidak akan pernah berhenti mencoba mencari berbagai celah manipulasi untuk menundukkannya melalui berbagai macam pion buangan yang tak berharga.

​Tiba-tiba, smartwatch mahal di pergelangan tangannya bergetar sangat panjang, memunculkan sebuah notifikasi pesan teks dari jaringan asing yang sepenuhnya terenkripsi tingkat tinggi.

​Hira membaca pesan tersebut dengan rahang yang mengeras sempurna, menyadari bahwa Arthur berhasil meretas kamera pengawas tertutup di dalam ruangannya sendiri tanpa memicu alarm.

1
Kustri
hah! sdh tamat
koq gk rela ya😊
tp mush"nya sdh takluk smua sih
yoweslah...👍
JihanSan: makasih k udh baca. masih banyak kurangnya. kalo berkenan, baca novel baruku juga ya. hehehe
total 1 replies
Kustri
hai... hai... siapa dia?
lawan ato kawan nih... apa jgn" malah menjemput jodoh🤭
Kustri
qu hampir lupa alur'a
baca dl part sblm'a
Kustri
ayo UP lg💪
lg seru nih
Kustri
koq msh siang
jm 9 ketemu dar, trus ketemu her & si botak, trus ketemu taren(lupa) trus ketemu victor, ini ketemu kael🤔 hrs'a sdh sore x thor
Kustri
dilanjut bsk ra, sdh saat'a pulang
Kustri
cepet bgt hira dpt smua info penyelewengan🤔🤔🤔
kodammu luar biasa!
Kustri
💪💪💪thor
Kustri
👏👏👏
🤝
Kustri
vote u hira💪
Kustri
dgn senang hati kutrima tantanganmu presdir💪
Kustri
klo teran cenayang pasti bisa merasakan alter ego'a hira🤣
Kustri
☕dl hira.... semangat💪
Kustri
ketemu jodoh🤣
Kustri
hlaaa... istri'a sdg berduka bukan'a ditemeni ini malah nyari hiburan sendiri, dasar suami durhaka🤣👊👊👊
Kustri
siapa yg kirim foto yaa🤔🤔🤔
Kustri
tunggu... tunggu berarti hira & suami 1 bos gitu thor🤔
ampe qu ulang baca part 1 hlo
JihanSan: betul cekali teman
total 1 replies
Kustri
awal yg menarik
biasa'a dirasuki jiwa lain, ini malah dr diri sendiri, mgkin ini kodam yg memberontak🤭
semangat thor💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!