Evelyn Shen ditinggalkan Damian Lu di hari pernikahan mereka tanpa pesan, tanpa penjelasan. Sejak itu hidupnya runtuh, dihina, lalu diusir oleh keluarganya sendiri.
Lima tahun kemudian, Evelyn kembali sebagai detektif tangguh. Takdir mempertemukannya lagi dengan Damian, kini jaksa elit yang cerdas dan ahli bela diri, dalam sebuah kasus besar yang memaksa mereka bekerja sama.
Bagi Evelyn, Damian adalah pria yang menghancurkan hidupnya.
Bagi Damian, Evelyn masih wanita yang paling ia cintai.
Dan di antara luka, rahasia, serta kebenaran yang perlahan terungkap… apakah Evelyn akan memaafkan pria yang pernah meninggalkannya? Atau justru kebenaran di balik kepergian Damian akan menghancurkan mereka untuk kedua kalinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon linda huang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20
Setelah kembali ke kantor, Tim A segera mengadakan rapat.
"Tersangka mati di ruang tahanan dan menulis nama Evelyn. Untuk sementara, Evelyn tidak boleh bertindak sendirian," ujar Kapten Wong.
"Baik, Kapten," jawab Evelyn.
Andy Liu menyerahkan hasil pemeriksaan.
"Identitas Zhao Ming sudah dipastikan. Namun kami belum menemukan hubungan antara dia dan tujuh belas korban sebelumnya."
Kapten Wong mengernyit. "Terus selidiki."
Saat itu, seorang petugas berlari masuk.
"Kapten!"
"Apa?"
"Kami baru menerima laporan. Korban kesembilan belas ditemukan di Distrik Barat!"
Semua orang langsung berdiri.
Damien mengambil jasnya.
"Lokasi?"
"Gudang terbengkalai di Jalan Xinhua."
Kapten Wong segera memerintahkan, "Tim A, berangkat!"
Evelyn dan Damien saling berpandangan.
Tidak ada yang menyadari bahwa pelaku sudah selangkah lebih maju dari mereka.
Mobil Tim A melaju dengan sirene menyala menuju Distrik Barat.
Sepuluh menit kemudian, mereka tiba di sebuah gudang terbengkalai di Jalan Xinhua. Garis polisi sudah dipasang, dan beberapa petugas sedang mengamankan lokasi.
"Kapten Wong!" sapa seorang polisi yang berjaga. "Korban ditemukan oleh penjaga malam."
"Bagaimana kondisinya?" tanya Kapten Wong.
"Sudah meninggal. Diperkirakan dua jam lalu."
Damien dan Evelyn segera mengenakan sarung tangan dan memasuki gudang.
Di tengah ruangan, seorang pria berusia sekitar lima puluh tahun tergeletak di lantai dengan luka sayatan di leher.
Wesley menghela napas. "Korban kesembilan belas."
Namun Damien justru mengerutkan kening.
"Tunggu."
Evelyn ikut berjongkok di samping mayat.
"Lukanya berbeda lagi?" tanya Evelyn.
Damien mengangguk pelan.
"Ya. Luka ini sama dengan korban-korban sebelumnya."
Tatapan Evelyn berubah serius.
"Berarti korban ketujuh belas adalah tiruan, dan Zhao Ming dibunuh untuk membungkamnya."
Saat itu, Andy Liu berlari menghampiri.
"Kapten, kami menemukan dompet korban."
"Siapa dia?" tanya Kapten Wong.
Andy melihat kartu identitas yang ada di tangannya dan wajahnya langsung berubah.
"Korban bernama Liu Zheng."
"Apa?" Wesley membelalakkan mata.
"Liu Zheng yang itu?" tanya Kapten Wong.
Andy mengangguk perlahan.
"Ya, Kapten. Dia mantan kepala laboratorium forensik."
"Mantan petugas forensik lagi," gumam Evelyn.
Saat Tim A masih memeriksa lokasi, seorang petugas berpakaian preman diam-diam mendekati Kapten Wong.
"Kapten, ada pria mencurigakan yang terus memperhatikan Detektif Shen. Dia baru muncul beberapa menit lalu dan tidak terlihat seperti warga sekitar," bisiknya.
Kapten Wong mengernyit.
Damien mengikuti arah pandangan petugas. Seorang pria berjaket hitam berdiri tidak jauh dari garis polisi, sesekali melirik ke arah Evelyn yang sedang memeriksa TKP bersama petugas forensik.
"Jangan buat dia curiga," ucap Damien pelan.
Kapten Wong mengangguk.
"Wesley, Andy, kepung dia dari belakang."
Namun pria itu seolah menyadari sesuatu dan berbalik pergi.
Tatapan Damien berubah dingin.
"Dia menyadarinya."
Pria itu tiba-tiba mengeluarkan pisau dan diam-diam berjalan menuju Evelyn.
Namun sebelum sempat mendekat, Damien langsung menghadangnya dan menendang pisau dari tangan pria itu.
Wesley dan Andy segera membekuknya.
Pria itu menatap Evelyn dengan kebencian.
"Detektif Shen..."
Namun beberapa detik kemudian, wajahnya berubah kesakitan.
"Dia menggigit lidahnya!" kata Damien.
Kapten Wong mengernyit.
"Dia lebih memilih mati daripada bicara."
Sebelum kehilangan kesadaran, tatapan pria itu masih tertuju pada Evelyn, seolah tujuan satu-satunya datang ke TKP itu memang untuk membunuh Detektif Shen.
Damien segera memeriksa pria itu. "Masih hidup."
Kapten Wong langsung memerintahkan, "Panggil ambulans. Jangan biarkan dia mati."
"Baik, Kapten."
Namun beberapa detik kemudian, pria itu kehilangan napas.
Wesley mengepalkan tangan.
"Brengsek, terlambat lagi."
Tatapan Damien berubah dingin.
"Tidak."
"Apa?" tanya Andy.
Damien menunjuk leher pria itu.
"Ada bekas suntikan."
Evelyn segera mendekat.
"Apakah racun?"
Damien mengangguk pelan.
"Dia tidak bunuh diri."
Kapten Wong mengernyit.
"Berarti seseorang ingin membungkamnya."
Saat itu, seorang petugas menghampiri mereka.
"Kapten, kami menemukan kartu identitasnya."
"Siapa dia?"
"Namanya Daniel Chen, tiga puluh delapan tahun."
Damien mengambil dompet pria itu dan memeriksanya.
Di dalamnya hanya ada sejumlah uang dan sebuah foto kecil.
Tatapannya langsung berubah.
"Evelyn."
Evelyn menoleh.
Damien menyerahkan foto itu.
Wajah Evelyn membeku.
Karena foto itu adalah foto dirinya.
Dan di belakang foto tertulis satu kalimat:
Target harus dibunuh.
Kapten Wong langsung mengernyit.
"Jadi target sebenarnya memang Detektif Shen."
Damien menatap mayat Daniel Chen dengan dingin. "Dan orang yang memerintahkannya tidak ingin dia hidup cukup lama untuk membuka mulut."
"Aku penasaran siapa yang mengincarku. Kalau hanya satu pembunuh, kenapa sejak awal tidak ada petunjuk yang mengarah kepadaku? Kenapa baru sekarang dia meninggalkan namaku dan fotoku?" ucap Evelyn.
"Mungkin karena yang mengambil alih kasus ini adalah kita," kata Damien.
"Detektif Shen, ke depannya kau harus lebih sering bersama kami. Jangan sendirian," ucap Kapten Wong.
"Paman, aku harus memancingnya keluar," ujar Evelyn.
"Kita akan merencanakannya nanti. Sekarang mari kembali dulu," kata Kapten Wong.
Malam hari.
Di sebuah gedung tinggi, tampak sebuah ruangan luas di kantor pusat perusahaan Ma Group.
Seorang pria paruh baya duduk di kursinya sambil menghisap cerutu.
"Tuan Ma, menurut informasi yang didapat orang kita, target pembunuh ternyata adalah Detektif Shen," lapor asistennya, Alex.
"Evelyn Shen menjadi target pembunuh? Apakah karena dia telah memecahkan banyak kasus?" tanya pria itu. Ia adalah direktur utama Ma Group, Steve Ma.
"Mungkin saja, Tuan. Tapi kami masih menyelidikinya," jawab Alex.
"Apa kata Jaksa Lu?" tanya Steve.
"Jaksa Lu juga sedang menyelidiki kasus ini. Dan saat ini dia dipasangkan dengan Detektif Shen," jawab Alex.
Steve mengangguk pelan.
"Tetap awasi mereka. Kalau ada perkembangan terbaru, segera laporkan kepadaku."
"Baik, Tuan," jawab Alex hormat.
Sebelum Alex sempat pergi, ia kembali membuka berkas di tangannya.
"Tuan, ada kabar dari Ronald Shen. Dia ingin bertemu dengan Anda untuk membahas proyek baru yang sedang dijalankan," lapor Alex.
"Ronald Shen? Shen Group?" tanya Steve sambil mengernyit.
"Benar, Tuan. Dia adalah ayah Detektif Shen. Beberapa waktu lalu mereka sempat bertengkar. Setelah Detektif Shen berhasil menangkap seorang buronan yang membuat mereka bergelantungan di kabel gedung, Ronald Shen justru menampar putrinya tanpa mengetahui situasinya," jelas Alex.
Wajah Steve langsung menjadi dingin.
"Semua kerja sama yang berhubungan dengannya, tolak."
"Aku tidak tertarik bekerja sama dengan pengecut seperti itu," ucap Steve dingin.
"Baik, Tuan."
Alex mengangguk hormat dan hendak pergi.
Namun Steve kembali berkata dengan nada datar, "Mulai sekarang, tidak perlu melaporkan apa pun tentang Ronald Shen kepadaku."
"Ya, Tuan."
"Dan...hubungi Jaksa Lu, aku ingin bertemu dengannya!" perintah Steve." Dia telah kehilangan kebahagiaan karena aku. Setelah semuanya terungkap aku akan pastikan mereka bersatu kembali!" perintah Steve.