Monique "Momo" Salim — gadis Tionghoa dari gang sempit Pecinan Semarang, anak haram yang dijual ayahnya sendiri, tabungan Rp 300.000 — terbangun di sebuah pulau mewah yang tak pernah ada di peta mana pun.
Di hadapannya berdiri seorang pria yang menguasai separuh ekonomi Asia Tenggara.
Renard Aurelius Widjaja.
CEO Widjaja Group. Konglomerat paling berkuasa — dan paling berbahaya — di Indonesia. Matanya amber seperti matahari terbenam, tapi tatapannya lebih dingin dari es.
"Kamu milikku," katanya. Bukan pertanyaan. Bukan permintaan. Itu pernyataan.
Momo dikurung. Bajunya diganti. Ponselnya disita. Satu-satunya yang tersisa: setengah gelang sakura di pergelangan tangannya — dan ingatan samar tentang pil putih yang memulai segalanya.
Tapi Momo bukan gadis yang mudah tunduk.
Di balik tembok emas penjara Renard, ada rahasia yang lebih gelap dari obsesinya:
— Seorang hacker jenius yang menawarkan kebebasan... dengan harga yang tak terduga.
— Sebuah password sembilan huruf yang menyimpan cinta bertahun-tahun.
— Dan kebenaran tentang keluarga Widjaja yang bisa menghancurkan segalanya.
Ketika cinta paksa berubah menjadi cinta sungguhan — siapa yang sebenarnya menjadi tahanan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Buana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 10
Bab 10: Perjodohan yang Terkubur
Sen muncul lagi pada hari keenam belas, di tempat yang seharusnya tidak bisa ia masuki.
Momo sedang berdiri di dekat tebing utara, menatap garis laut yang memukul batu di bawah. Albert ada jauh di belakang, cukup dekat untuk mengawasi, cukup jauh untuk memberi ilusi ruang. Sejak insiden walkie-talkie, Momo tidak pernah benar-benar sendirian. Tetapi Sen sepertinya tidak peduli pada aturan siapa pun.
"Tempat bagus untuk berpikir buruk," katanya dari balik pohon kamboja.
Momo tidak terkejut kali ini. Ia hanya menoleh pelan. "Kamu hobi muncul seperti hantu?"
"Hantu biasanya punya urusan yang belum selesai."
"Apa urusanmu denganku?"
Sen tersenyum. Jaket hitamnya bergerak ditiup angin. Ia tampak lebih pucat dari terakhir kali, tetapi matanya tetap tajam, hidup, dan berbahaya.
"Kau sudah memikirkan tawaranku?"
"Aku memikirkan kenapa kamu tahu terlalu banyak tentang Ama."
"Karena aku peduli."
Momo tertawa pendek. "Orang yang peduli tidak memantau dari jauh seperti pencuri."
"Renard memantau dari dekat. Kau lebih suka?"
Nama itu membuat sesuatu bergerak di dada Momo. Ia membenci Sen karena melihatnya.
"Jangan bandingkan dirimu dengan dia."
"Kenapa? Karena aku kalah menakutkan?"
"Karena kalian sama-sama membuatku muak."
Sen menatapnya beberapa detik, lalu tertawa pelan. "Bagus. Kau masih punya gigi."
Ia mengeluarkan foto dari dompet tipis. Bukan tablet. Bukan data digital. Kertas foto tua, sudutnya mulai pudar. Sen memegangnya dengan dua jari, tetapi tidak langsung menyerahkan.
"Aku datang membawa sesuatu yang seharusnya sudah kau tahu sejak lama."
Momo tidak bergerak.
Sen membalik foto itu.
Di dalamnya ada perempuan muda yang wajahnya terlalu mirip Momo untuk diabaikan. Mata. Garis hidung. Bentuk senyum yang tidak pernah Momo lihat di cermin karena ia jarang tersenyum seperti itu. Di samping perempuan itu berdiri seorang pria muda dengan jas putih, tangannya di bahu perempuan itu. Di belakang mereka ada tulisan lama: Hartono.
Jantung Momo berdenyut menyakitkan.
"Siapa dia?"
"Sherly Ong."
Nama itu asing, tetapi tubuh Momo seperti mengenalnya dari lubang kosong yang selama ini tidak pernah diisi.
"Ibumu."
Angin di tebing seolah berhenti.
Momo menatap foto itu sampai matanya perih. Ama tidak pernah banyak bicara tentang perempuan yang melahirkannya. Gunawan apalagi. Bagi keluarga Salim, Momo tumbuh seperti sesuatu yang ditaruh di rumah Ama karena orang dewasa lain terlalu sibuk membuang tanggung jawab.
"Jangan gunakan ibuku untuk memancingku."
"Aku tidak memancing. Aku menunjukkan."
"Kenapa fotonya ada padamu?"
Sen menurunkan pandangan ke foto itu. Untuk pertama kalinya, senyumnya tidak muncul. "Karena ayahku ada di foto yang sama."
Momo menatap pria di foto. "Ayahmu?"
"Mereka membuat perjanjian sebelum kau lahir." Sen melangkah lebih dekat, cukup dekat untuk membuat Momo mencium aroma dingin aneh dari tubuhnya. "Keluarga Ong dan Hartono. Jika anak mereka lahir perempuan, dan anak keluarga Hartono laki-laki, mereka dijodohkan."
Momo mundur. "Omong kosong."
"Aku juga berharap begitu."
"Ama tidak pernah bilang."
"Mungkin Ama tidak tahu semua detail. Mungkin ia tahu dan memilih melindungimu. Kau bisa tanya sendiri setelah keluar dari sini."
Kalimat setelah keluar dari sini sengaja diletakkan Sen seperti umpan yang berkilau. Momo tahu. Ia tetap tergoda.
"Kenapa baru sekarang?"
"Karena Renard membuatmu percaya bahwa semua klaim atas dirimu dimulai dari uang Gunawan." Mata Sen menjadi lebih gelap. "Tidak. Sebelum dia membeli namamu, sudah ada perjanjian lain. Perjanjian yang membuatku punya alasan datang."
"Aku bukan hadiah perjodohan."
"Aku tahu."
"Kamu tidak tahu apa-apa."
"Aku tahu kau ingin pulang. Aku tahu kau tidak memilih Renard. Aku tahu setiap kali dia menyentuhmu, kau marah pada tubuhmu sendiri karena takut itu bukan hanya rasa takut."
Tamparan itu tidak menyentuh kulit, tetapi wajah Momo langsung panas.
"Diam."
Sen tersenyum lagi, kali ini lembut. Terlalu lembut.
"Aku tunanganmu, Momo."
Kata itu jatuh di antara mereka seperti pisau yang dibungkus kain.
Di kejauhan, Albert menoleh, seolah angin baru saja membawa sesuatu yang salah.
Sen menunduk sedikit, matanya hangat, bibirnya hampir meyakinkan.
Momo hampir tertawa.
Pulang.
Kata itu seharusnya hangat. Di mulut Sen, kata itu seperti pintu yang digambar di dinding. Indah dilihat, mustahil dilewati.
"Pulang ke mana?" tanyanya. "Ke Semarang? Ke rumah Ama? Ke ayah yang menjualku? Atau ke tempat yang sudah kau siapkan karena kalian semua hobi memindahkan perempuan seperti barang?"
Sen tidak tersinggung. Ia justru tampak lebih serius. "Ke tempat yang tidak bisa disentuh Renard."
"Tidak ada tempat seperti itu."
"Ada."
"Kamu terlalu percaya diri."
"Dan kau terlalu lama hidup di bawah bayangannya."
Momo menegang.
Sen melihat reaksi itu, lalu suaranya melembut. "Aku tidak menyalahkanmu. Renard memang seperti itu. Dia tidak perlu menyentuh untuk membuat orang merasa sedang dipegang. Dia tidak perlu mencium untuk membuat orang lupa cara bernapas. Dia membuat penjara terasa seperti perlindungan, lalu menunggu sampai kau sendiri membuka pintu untuknya."
Kata-kata itu mengenai tempat yang terlalu tepat.
Momo membenci Sen karena melihatnya.
"Kamu tidak tahu apa-apa tentang aku."
"Aku tahu kau masih mencari jalan keluar."
"Semua tahanan mencari jalan keluar."
"Tidak semua tahanan menatap pintu penghubung tanpa menguncinya."
Momo membeku.
Sen tersenyum tipis. "Pulau ini punya mata, ingat?"
"Kamu memata-mataiku."
"Renard memata-mataimu lebih dulu."
"Itu tidak membuatmu lebih baik."
"Tidak," kata Sen. "Tapi aku satu-satunya yang menawarkan pilihan."
Momo menatap foto tua di tangan Sen. Foto itu menunjukkan Gunawan muda berdiri di samping seorang pria lain, dengan dua bayi dalam pangkuan perempuan berbeda. Di belakangnya ada tulisan tentang pertunangan keluarga, tinta pudar, janji yang dibuat sebelum Momo cukup besar untuk berkata tidak.
Pertunangan.
Kata itu membuat kulitnya terasa kotor.
"Jadi aku dijual dua kali," katanya pelan. "Sekali sebelum lahir, sekali oleh ayahku sendiri."
"Kau bukan barang."
"Semua pria dalam hidupku sepertinya tidak mendapat memo itu."
Sen menunduk sedikit. "Kalau kau ikut aku, kau bisa memilih setelah keluar."
"Dan kalau aku tidak ikut?"
"Renard akan terus menyebutmu miliknya sampai kau lupa bagaimana rasanya menjadi dirimu sendiri."
Momo ingin berkata ia tidak akan pernah lupa. Tetapi ingatan tentang makanan Semarang, pintu penghubung yang tidak terkunci, dan mata Renard yang menunggu jawabannya membuat lidahnya berat.
Sen mengulurkan tangan.
Tidak menyentuh. Hanya menunggu.
Gerakannya terlihat sopan, hampir lembut. Tetapi Momo kini tahu kesopanan juga bisa menjadi perangkap.
Di luar ruang bawah tanah, terdengar suara penjaga lewat.
Sen tidak bergerak. Ia hanya menatap Momo dengan tangan masih terulur. Keheningan di antara mereka terasa seperti jembatan rapuh. Di satu sisi ada Renard, penjara yang mulai punya wajah manusia. Di sisi lain ada Sen, kebebasan yang terlalu tahu banyak.
Momo tidak mengambil tangan itu.
Belum.
"Aku tunanganmu, Momo," katanya. "Aku datang untuk membawamu pulang."