"Sejak awal aku memang tidak pernah mencintaimu, Alin! Hatiku sepenuhnya masih milik Cindy!"
Kalimat kejam dari Elang menjadi penutup malam pertama yang dingin bagi Alin. Hanya karena rasa hormat pada Nenek Aisyah, sang CEO angkuh itu sudi mengikat Alin dalam pernikahan sepihak. Bagi Elang, menyelamatkan Cindy dan bocah kecil bernama Ega dari jalanan adalah segalanya, meskipun ia harus menginjak-injak martabat Alin sebagai istri sah.
Namun, Elang melupakan satu hal: Alin bukanlah wanita lemah yang akan mengemis cinta. Saat Alin benar-benar melepaskan cincin pernikahan mereka dan menghilang untuk menata hidupnya sendiri, dunia Elang justru runtuh seketika. Terlebih saat sebuah rahasia medis terbongkar dan membuktikan bahwa anak yang ia agungkan selama ini adalah sebuah kebohongan besar yang dirancang oleh mantannya.
Penyesalan itu datang terlambat. Elang yang dulu arogan kini harus melepaskan seluruh harga dirinya, merangkak di tengah badai, hanya untuk mendapatkan secuil maaf Alin.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mommy Ghina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27. Sindiran Makan Malam
Elang melirik ketus pada Alin, namun ego lelakinya terkalahkan oleh rasa lapar yang mendera sejak siang. "Terima kasih," ketusnya pendek.
Tanpa disangka-sangka, Elang mulai menyuap nasi beserta lauk sapo tahu dan potongan ikan gurame itu dengan sangat lahap. Rasa gurih yang pas, tekstur tahu yang lembut, serta perpaduan asam manis yang segar dari saus gurame benar-benar memanjakan lidahnya. Setiap suapan terasa begitu sempurna, jauh melampaui ekspektasinya. Dalam waktu yang terhitung singkat, Elang menghabiskan seluruh makanan di piringnya hingga ludes tanpa sisa.
Elang meletakkan sendoknya, lalu bersandar pada sandaran kursi dengan helaan napas puas. Ia menoleh ke arah Mbok Darmi yang berdiri tidak jauh dari meja.
"Masakan malam ini enak sekali, Mbok. Benar-benar pas di lidah saya," puji Elang tulus, sepasang matanya berbinar puas. "Sup bening dan ayam gorengnya biasanya tidak sekeren ini bumbunya. Koki baru di rumah Nenek pinter masak ya sekarang?"
Mbok Darmi tersenyum dengan sangat tenang mendengarnya. Ia melangkah maju, meraih teko kaca, lalu menuangkan air putih hangat ke dalam gelas kosong milik Elang.
"Ah, bukan begitu, Den Elang," kata Mbok Darmi lembut, suaranya mengalun santai di ruang makan yang sunyi. "Mbok mau jujur, kalau hidangan sapo tahu dan gurame asam manis yang baru saja Den Elang habiskan dengan lahap itu ... yang masak adalah istri Den Elang sendiri, Non Alin. Beliau tadi sore sengaja memasaknya di dapur belakang. Jadi, kalau sekiranya besok-besok Den Elang mau dimasakin menu yang sama lagi, minta saja langsung sama Non Alin."
"Uhuk! Uhuk!'
Tiba-tiba saja Elang tersedak ludahnya sendiri. Wajah tegapnya seketika memerah padam menahan malu yang luar biasa akibat salah mengira. Dadanya kembang kempis saat ia dengan tergesa-gesa meraih gelas air putih hangat yang baru dituangkan Mbok Darmi, lalu meneguknya dengan cepat hingga tersisa setengah. Ia benar-benar tidak menyangka kalau masakan yang baru saja ia puji setinggi langit di depan pelayan adalah hasil tangan dari istri yang beberapa jam lalu ia caci sebagai wanita bermuka dua.
Sementara itu, di seberang meja, Alin tetap mempertahankan ketenangannya. Ia dengan gerakan yang teramat santai ikut meneguk air putih dari gelasnya sendiri, mengusap bibirnya dengan tisu, lalu melemparkan pandangan mata yang dingin pada suaminya yang masih berusaha meredakan batuknya.
Alin menoleh ke arah Mbok Darmi, lalu menyunggingkan sebuah senyuman tipis yang sarat akan sindiran halus namun terasa teramat menusuk.
"Ah, Mbok Darmi ini bisa saja," ucap Alin, nada suaranya mengalun ringan tanpa beban, namun ketajamannya sanggup menguliti harga diri Elang yang berada di depannya. "Masakan saya itu sebenarnya biasa saja, Mbok. Malah bisa dibilang kurang enak dan tidak ada istimewanya sama sekali."
Elang menghentikan minumnya, menatap Alin dengan rahang yang kembali mengatup rapat, menyadari ke mana arah pembicaraan ini akan bermuara.
"Maksud Non Alin bagaimana? Ini buktinya Den Elang suka sampai habis," tanya Mbok Darmi polos, tidak menyadari riak ketegangan di antara keduanya.
"Mas Elang itu lidahnya punya standar yang tinggi, Mbok," sambung Alin, matanya kini beralih menatap lurus-lurus ke dalam manik mata Elang dengan sorot penuh kemenangan yang dingin. "Mas Elang pasti jauh lebih cocok, lebih berselera, dan lebih bahagia dengan masakan buatan Mbak Cindy di rumah baru kami. Pelayanan Mbak Cindy kan jauh lebih sempurna dan lemah lembut daripada saya, ya kan, Mas?"
"Alin! Jaga bicaramu di depan Mbok Darmi!" bentak Elang rendah, suaranya bergetar menahan amarah yang kian memuncak karena merasa disindir habis-habisan di depan kepala pelayan rumah besar.
Alin tidak membalas bentakan itu dengan kemarahan. Ia justru terkekeh pelan, sebuah tawa hambar yang terasa begitu dingin memantul di dinding ruang makan. Ia meletakkan gelasnya ke atas meja, lalu berdiri dari kursinya dengan gerakan yang teramat anggun. Ia merapikan ujung tunik abu-abu gelapnya, lalu menyugar rambut panjang hitamnya ke belakang pundak.
"Saya hanya bicara fakta, Mas. Tidak perlu emosi sampai tersedak begitu," bisik Alin, nadanya kembali datar dan cuek. Ia menoleh pada Mbok Darmi. "Mbok, saya kembali ke kamar tamu dulu ya untuk istirahat. Terima kasih untuk makan malamnya."
"Eh ... iya, Non Alin. Selamat beristirahat," jawab Mbok Darmi terbata-bata, merasakan atmosfer yang mendadak kembali membeku.
Tanpa memberikan pelukan, salam, atau sekadar berpamitan pada suaminya yang kini hanya bisa mematung dengan wajah merah padam menahan rasa dongkol yang luar biasa, Alin memutar tubuhnya. Ia melangkah santai meninggalkan ruang makan, membiarkan Elang sendirian meratapi piring kosongnya di bawah bayang-bayang kekalahan ego yang kian berdarah-darah di hari pertama pernikahan mereka.
***
Elang melangkah lebar meninggalkan ruang makan yang mendadak terasa begitu pengap. Ia berjalan cepat menuju halaman samping rumah kolonial, tempat sebuah kolam renang berair jernih memantulkan pendar lampu taman yang temaram. Angin malam bertiup cukup kencang, menggoyang dedaunan pohon kamboja di sudut halaman, namun dinginnya udara malam itu sama sekali tidak mampu mendinginkan kepala Elang yang kian memanas.
Pria itu berdiri bersandar pada pembatas pagar besi, merutuki dirinya sendiri dengan umpatan yang tertahan di balik tenggorokan. Ia benar-benar merasa bodoh dan sangat meratapi kelalaiannya beberapa menit lalu. Bagaimana bisa ia dengan begitu lahap menghabiskan makanan di piringnya, bahkan sampai memujinya setinggi langit di depan Mbok Darmi, tanpa menyadari bahwa hidangan lezat itu adalah masakan dari istrinya sendiri? Tamparan fakta itu terasa jauh lebih menyakitkan bagi harga dirinya ketimbang tamparan fisik dari Nenek Aisyah tadi siang.
Elang merogoh saku celana chinos-nya, mengeluarkan sebungkus rokok dan pemantik gas. Dengan jemari yang sedikit gemetar karena sisa kejengkelan, ia menyalakan sebatang rokok, lalu menghirupnya dalam-dalam. Ia kembali mengembuskan asap rokoknya ke udara malam, membiarkan gulungan asap putih itu pecah berantakan ditiup angin, sembari sepasang mata elangnya menatap tajam ke arah jendela kaca kamar tamu lantai bawah yang ditempati oleh Alin.
Pikiran Elang benar-benar berada dalam kondisi yang tidak menentu. Di bawah temaram lampu taman, ia termenung menatap bayangan gorden jendela kamar Alin yang tertutup rapat.
Sebenarnya, jika Cindy tidak muncul secara tiba-tiba di acara pernikahannya kemarin malam, mungkin saat ini situasinya akan jauh lebih mudah. Jika drama di gedung resepsi itu tidak pernah terjadi, Elang tahu betul bahwa saat ini ia pasti sedang berada di rumah baru mereka, mencoba untuk membuka hati secara perlahan dan belajar menerima Alin sebagai pendamping hidupnya yang sah. Biar bagaimanapun, Alin adalah pilihan terbaik Nenek Aisyah yang ia hormati. Namun, sekarang kondisinya sudah sepenuhnya berbeda dan berbalik menjadi teramat rumit.
Bersambung ...
beristri duaaaaaaa??????
😡😤
😄😄