NovelToon NovelToon
Sekretaris Kaku VS CEO Random

Sekretaris Kaku VS CEO Random

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Rara_R

Raditya Baskara tahu cara mengelola bisnis mode bernilai miliaran, tapi dia sama sekali tidak tahu cara bersikap "normal". Dia adalah tipe bos yang bisa mendadak mengadakan lomba balap kursi roda di koridor kantor saat jam kerja hampir di mulai. Satu-satunya rem darurat dalam hidup Radit adalah Kirana, sekretarisnya yang super kaku dan selalu memandangnya dengan tatapan menghakimi.

​Namun, sebuah kesalahpahaman di hadapan media membuat mereka terjebak dalam rumor asmara. Demi reputasi saham perusahaan, mereka terpaksa mempertahankan sandiwara tersebut di luar jam kantor. Masalahnya, bagaimana cara menjalani hubungan pura-pura jika sang CEO selalu bertingkah ajaib, sementara sang sekretaris menanggapi gombalan romantis dengan analisis SWOT? Ini adalah kisah tentang lembur paling melelahkan, sekaligus paling membahagiakan dalam hidup Kirana.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rara_R, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 19

Ketegangan yang sempat membakar ruang rapat utama berangsur-angsur menguap, digantikan oleh keheningan yang jauh lebih menenangkan. Langkah kaki para staf di luar ruangan terdengar sibuk seperti biasa, namun di dalam ruangan eksekutif ini, waktu seolah berjalan lebih lambat.

Kirana memasukkan tablet kerjanya ke dalam tas dengan gerakan yang jauh lebih ringan. Beban berat belasan tahun yang selama ini menghimpit pundaknya (rahasia tentang Hadi Hartono) kini telah terbuka di depan Radit dan Ibu Sofia, dan anehnya, dunia tidak runtuh seperti yang selama ini dia takuti. Malahan, dia merasa lebih aman dari sebelumnya.

"Jadi, kita benar-benar akan bolos di jam kerja, Pak CEO?" tanya Kirana sambil menaikkan sebelah alisnya, menatap Radit yang sudah menyampirkan jasnya di lengan.

"Ini bukan bolos, Sekretaris Kirana," koreksi Radit dengan nada sok serius, meskipun binar usil di matanya tidak bisa disembunyikan. "Ini adalah bagian dari evaluasi psikologis pasca krisis untuk memastikan aset terpenting Baskara Group yaitu kamu tidak mengalami trauma pasca teror. Dan media evaluasinya adalah bakso".

Kirana hanya bisa geleng-geleng kepala melihat bagaimana Radit selalu punya seribu satu alasan regulasi untuk melegalkan keinginan impulsifnya.

Mereka keluar melalui lift khusus direksi untuk menghindari kasak-kusuk staf yang pasti masih hangat membahas tentang penangkapan Pak Baskoro oleh pihak kepolisian sejam yang lalu.

Di dalam mobil, Radit sengaja tidak menggunakan sopir kantor. Dia memilih menyetir sendiri SUV hitamnya, membiarkan Kirana duduk di kursi penumpang depan yang merupakan sebuah pemandangan yang akan langsung melanggar Aturan Baru Pasal 1 jika dilakukan di area parkir korporat.

"Kita mau ke mana? Jangan bilang Anda mau ke restoran hotel bintang lima lagi hanya untuk makan bakso yang dihiasi dengan bunga edelweis" ujar Kirana skeptis saat mobil mulai membelah jalanan Jakarta yang cukup padat siang itu.

"Tenang saja. Hari ini kita pakai seleramu," Radit melirik sekilas dengan senyum lebar. "Kita ke tempat bakso langgananmu di dekat area kampus dulu. Tempat yang pernah kamu ceritakan saat kita terjebak macet bulan lalu".

Kirana tersentak pelan. Dia tidak menyangka Radit masih mengingat detail kecil dari obrolan kasual mereka yang lewat begitu saja di tengah kemacetan harian Jakarta. Dada Kirana kembali berdesir, sebuah perasaan hangat yang perlahan mulai mengaburkan batasan profesional yang selama lima tahun ini dia bangun dengan kokoh.

____

Warung Bakso Pak Kumis di pojok jalan dekat area kampus siang itu cukup ramai oleh mahasiswa dan pekerja kantoran sekitar. Aromanya yang gurih langsung menyapa indra penciuman begitu Radit dan Kirana turun dari mobil.

Kehadiran Radit dengan kemeja putih mahal yang lengannya digulung hingga siku, dipadukan dengan celana kain berpotongan pas, tentu saja langsung menarik perhatian beberapa pengunjung perempuan di sana. Pria itu tampak sangat mencolok di antara interior warung yang sederhana dengan meja panjang dan kursi plastik.

Namun, Radit tampaknya sama sekali tidak peduli, dia justru dengan cekatan mengelap permukaan meja kayu yang agak berminyak itu dengan tisu sebelum mempersilakan Kirana duduk.

"Silakan duduk, Pihak Kedua" ujar Radit penuh formalitas yang dibuat-buat, membuat Kirana harus menahan tawa di balik telapak tangannya.

"Dua porsi bakso urat besar, Pak. Yang satu jangan pakai seledri, yang satu lagi ekstra sambal" pesan Kirana kepada pelayan tanpa perlu melihat menu lagi.

"Kamu hafal pesananku?" Radit menopang dagunya dengan kedua tangan di atas meja, menatap Kirana dengan pandangan intens yang membuat Kirana mendadak salah tingkah.

"Saya sekretaris Anda selama lima tahun, Pak Radit. Menghafal preferensi makanan Anda yang tidak suka daun-daunan hijau di dalam kuah adalah bagian dari deskripsi pekerjaan saya" jawab Kirana datar, mencoba mengembalikan benteng pertahanannya yang mulai goyah. Dia sengaja melepas kacamatanya, membersihkan lensanya yang sedikit berembun karena uap panas dari dapur warung di dekat mereka.

Radit terdiam beberapa saat, matanya terpaku pada wajah Kirana yang tanpa kacamata. Tanpa lensa tebal itu, gurat lelah di mata Kirana terlihat jelas, namun begitu pula dengan kecantikan alaminya yang selama ini selalu disembunyikan di balik citra kaku seorang profesional.

"Kirana" panggil Radit, suaranya melembut, seolah kehilangan seluruh nada usilnya.

"Iya?" Kirana mendongak sambil memakai kembali kacamatanya.

"Soal apa yang kukatakan di ruang rapat tadi... aku serius," Radit menatap manik mata Kirana dengan sungguh-sungguh. "Kamu tidak perlu lagi merasa inferior atau takut tentang masa lalu ayahmu di perusahaan ini. Kamu berada di posisimu sekarang murni karena kecerdasan dan kerja kerasmu. Bagiku, kamu adalah Kirana Larasati, bukan anak dari siapa pun".

Kirana merasakan tenggorokannya mendadak tercekat. Selama belasan tahun, dia selalu hidup dalam bayang-bayang ketakutan bahwa orang-orang akan memperlakukannya berbeda jika tahu siapa ayahnya. Pengakuan dari Radit, pria yang memegang kendali penuh atas kariernya adalah validasi terbesar yang pernah dia terima seumur hidupnya.

"Terima kasih, Radit," ucap Kirana, matanya sedikit berkaca-kaca namun dia segera mengerjapkannya saat dua mangkuk bakso panas dihidangkan di depan mereka. "Sekarang, silakan habiskan bakso tanpa seledri Anda sebelum saya berubah pikiran dan melaporkan Anda ke Ibu Sofia karena bolos kerja".

Radit terkekeh, dia langsung menyambar botol kecap.

"Siap, Sekretaris Utama".

Selesai makan, atmosfer di antara mereka terasa jauh lebih rileks. Gencatan senjata dari kepura-puraan korporat ini membuat keduanya bisa mengobrol tanpa beban, mulai dari membahas kelakuan lucu si Kuning hingga rencana kelanjutan proyek superblok pasca-idepakan Pak Baskoro.

Namun, ketenangan itu kembali terusik saat ponsel Radit di atas meja bergetar keras. Layarnya menampilkan nama panggilan yang membuat alis Radit langsung bertaut.

Ibu Sofia.

Radit menekan tombol speaker setelah menggeser layar ke kanan.

"Ya, Bu? Ada perkembangan dari pihak kepolisian tentang Pak Baskoro?".

Suara Sofia di seberang telepon tidak terdengar santai seperti biasanya. Ada nada ketegangan baru yang membuat insting waspada Kirana langsung bangkit.

"Polisi sudah mengamankan semua aset pribadi Baskoro, Radit. Tapi ada satu hal yang terlewat. Tim IT kami baru saja menemukan bahwa sebelum laptop kantornya disita, Baskoro sempat mengirimkan sebuah email terjadwal 'scheduled email' ke sebuah agensi media independen. Email itu berisi salinan draf kontrak pertunangan kalian, dan akan terkirim secara otomatis tepat pukul tujuh malam ini jika tidak dibatalkan lewat perangkat pribadinya".

Radit dan Kirana spontan melirik jam di pergelangan tangan masing-masing.

Sekarang sudah pukul dua siang. Mereka hanya punya waktu kurang dari lima jam sebelum draf kontrak pertunangan palsu mereka bocor ke publik secara otomatis, menghancurkan sisa-sisa ketenangan yang baru saja mereka menangkan.

1
paijo londo
q salut sama keterusterangan Kirana tentang masa lalunya yg kelam tnpa kebohongan untuk mengatakan yg sebenarnya pada Radit itu yg membuat mereka kompak dan kerjasama mereka jadi sukses💪💪💪
paijo londo
🤔🤔q yakin pasti itu paman Radit yg pengen depak Radit dari posisi ceo
paijo londo
ternyata oh ternyata sifat random Radit menurun dari nyonya Sofia y🤭🤭
paijo londo
tuh kan Radit bos yg benar2 ajaib sifatnya🤭🤭🤭paling2 yang setress sekertarisnya karena hidupnya yg teratur jadi jungkir balik kenak mental karna Radit 🤣🤣
paijo londo
mampir thor biasanya kalo q baca novel lainnya yg bersifat ksku kayak kanebo kering tuhosnya ya🤔🤔laaa ini kebalik yg sifatnya ajaib tuh malah bosnya yg kyak kanebo kering sekertarisnya unik banget moga ceritanya seunik sifat bosnya y yang penuh keajaiban🤣🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!