"Ayo mengaku, Mas Sholeh! Kamu bisa lihat aku, kan?! Jangan bohong, bohong itu dosa, nanti masuk neraka loh!"
Bagi Arash, menjadi cowok indigo itu melelahkan. Makanya, dia pakai trik keramat: Pura-pura buta huruf soal hal gaib. Mau ada pocong kayang pun, Arash bakal tetap lempeng.
Strategi itu sukses bertahun-tahun, sampai dia ketempelan sesosok roh cewek misterius yang punya jiwa "cegil" (cewek gila) akut. Bukannya nakutin, roh genit ini malah rusuh mengintil kemana-mana, bahkan nekat narik kerah jaket Arash demi minta perhatian.
Arash mati-matian bertahan demi menjaga iman dan aktingnya. Tapi saat teror mistis yang mengancam nyawanya datang, si hantu cegil justru pasang badan paling depan dengan cara yang paling bar-bar.
Gimana jadinya kalau cowok sholeh berkharisma harus menghadapi musuh gaib bersama hantu cegil yang ternyata... belum sepenuhnya mati?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mommy_Ar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35
Arash berdehem sedikit, berusaha menetralkan raut wajahnya agar tetap terlihat tegas di depan hantu cewek yang kini sedang melayang dengan melipat kaki di udara.
Dia melangkah melewati Lala, memungut bantal yang tadi sempat terlempar ke lantai, lalu menepuk-nepuknya sebelum meletakkannya kembali secara rapi di atas tempat tidur.
"La, dengerin dulu," ujar Arash tenang sembari membalikkan badan menghadap Lala.
"Pertama, aku gak ada niatan sama sekali buat menghindari kamu. Pagar ghaib pesantren itu emang udah ada dari zaman dulu, bukan aku yang bikin khusus buat nahan kamu di luar. Kedua, semalem itu urusannya beneran penting. Ini soal kelangsungan hidupku juga di dunia metafisika. Kamu mau punya Mas Ganteng yang sekali kena tampol energi hitam langsung koma tiga hari lagi, hah?"
Mendengar retorika Arash, Lala terdiam sejenak.
Pipinya yang tadi digembungkan perlahan-lahan mengempis, meski binar kejengkelan di matanya belum sepenuhnya padam.
Dia melayang mendekat, kini posisinya sejajar dengan pundak Arash, memperhatikan cowok itu yang mulai membuka kancing atas baju kokonya untuk bersiap mandi.
"Ya... ya gak mau, sih," cicit Lala dengan nada suara yang mulai melunak.
"Aku kan panik, Mas. Semalaman aku nungguin di atas lemari sambil dengerin detak jam dinding yang bunyinya tik tak tik tak serem banget. Mau nanya ke Kak Merah, dia lagi sibuk keliling kompleks nakutin tukang nasi goreng. Mau nanya ke Pocong kantin, dia malah melow sendirian di pojokan sekolah. Akhirnya aku cuma bisa telentang kesepian kayak ikan asin dijemur."
Arash tidak bisa menahan kedutan di sudut bibirnya. Dia tersenyum tipis, hampir tak kentara.
Sungguh luar biasa bagaimana mahluk ghaib dari dimensi astral bisa merajuk dengan kosakata se-manusiawi ini.
"Nah, makanya itu. Semalem aku belajar bareng Eyang Umar. Biar wadah spiritualku ini makin kokoh," jelas Arash sembari mengambil selembar handuk bersih dari gantungan di balik pintu.
"Jadi sekarang, skorsing kamu kan udah dicabut. Aku juga udah pulang dengan selamat tanpa kurang satu apa pun. Urusan kita adil, kan?"
Lala mendengus pelan, lalu melayang berputar di udara sebanyak satu kali sebelum mendarat horizontal di atas kasur Arash, meniru posisi tidur telentang yang biasa Arash lakukan.
"Iya deh, iya. Tapi gantinya, nanti sore sepulang sekolah, kamu harus dengerin semua cerita aku tanpa terkecuali! Aku udah bikin daftar urutan gosip ghaib dari yang paling penting sampai yang cuma sekadar selingan."
"Daftar urutan ghaib?" Arash mengernyitkan dahi, tak habis pikir. "Kamu niat banget ya, La. Emang ada gosip apa aja sih di dunia per-setanan kompleks kita?"
Lala langsung bangkit dari posisi tidurnya, duduk tegak dengan mata berbinar-binar penuh semangat kelicikan khasnya.
"Banyak banget, Mas! Salah satunya, si Pocong lusuh yang di kantin sekolah itu... ternyata dia itu dulunya alumni sekolah kita, lho! Dan dia terjebak di sana bukan karena ada dukun yang ngiket dia, tapi karena ada sesuatu yang belum dia selesaikan sama pihak sekolah sebelum dia meninggal!"
Langkah kaki Arash yang hendak menuju ke kamar mandi seketika terhenti di ambang pintu.
Dia menoleh ke arah Lala dengan pandangan yang mendadak berubah serius.
Informasi selingan dari Lala ini rupanya langsung menyenggol ingatan Arash tentang radar indigonya yang sempat menangkap gelombang kesedihan mendalam dari sosok pocong tersebut saat jam istirahat kedua kemarin siang.
"Alumni sekolah kita?" tanya Arash memastikan.
"Iya! Tapi detailnya gak mau aku ceritain sekarang," sahut Lala sembari menjulurkan lidahnya dengan jahil, sengaja membalas perbuatan Arash yang menunda obrolan mereka semalam. "Makanya, Mas Ganteng mandi dulu sana, ganti baju seragam, terus kita berangkat sekolah. Nanti malam baru aku buka semua tabir misterinya!"
Arash mendengus geli melihat cara Lala membalas dendam secara taktis. "Pintar ya kamu sekarang main rahasia-rahasian."
"Siapa dulu dong mentornya, Mas Arash gitu loh!" puji Lala pada dirinya sendiri sembari memberikan pose hormat yang dibuat-buat di udara.
"Ya sudah, aku mandi dulu. Kamu jangan berani-berani ngintip ke kamar mandi, ya! Kutembak pakai doa nurbuat tahu rasa kamu," ancam Arash bercanda sembari menunjuk Lala dengan ujung handuknya.
"Ih, siapa juga yang mau ngintip! Biarpun Mas ganteng itu masa depanku, tapi Lala ini kan hantu yang punya harga diri dan menjunjung tinggi norma kesopanan ghaib!" seru Lala dramatis, berpura-pura menutupi kedua matanya dengan tangan, padahal di sela-sela jarinya dia tetap mengintip nakal.
Arash menggelengkan kepalanya pasrah, lalu melangkah masuk ke dalam kamar mandi dan menutup pintunya rapat-rapat.
Sembari memutar keran air, pikiran Arash mulai memetakan hari baru yang akan dihadapinya.
Perjalanan spiritual semalam di hutan bambu bersama Eyang Umar seolah membuka lembaran baru dalam hidupnya.
Kemampuannya kini terasa lebih pekat, lebih responsif, dan dia menyadari bahwa tugasnya di dunia ini bukan sekadar melihat atau menghindari mahluk ghaib, melainkan menjadi penengah dan penolong bagi jiwa-jiwa yang tersesat termasuk mungkin, sosok pocong alumni di kantin sekolahnya.
##
Motor sport hijau milik Arash memasuki kawasan sekolah, membelah riuhnya suasana pagi di sekitar gerbang utama.
Setelah memarkirkan motornya dengan rapi, Arash melepas sarung tangannya. Dari arah koridor, Reno berjalan terburu-buru menghampirinya dengan raut wajah yang tampak serius.
"Arash, tadi dicariin tuh," kata Reno setengah berbisik begitu jarak mereka sudah dekat.
"Siapa?" tanya Arash sembari melepas helm full-face hitamnya.
"Devano," jawab Reno.
Dahi Arash seketika mengerut dalam-dalam, mencoba mengingat-ingat apakah dia memiliki urusan dengan kapten tim futsal sekolah itu.
"Ngapain?"
"Entahlah, dia maksa pengen ketemu kamu. Katanya ada hal penting yang mau diomongin, tapi harus empat mata. Dia gak mau ada orang lain yang dengar."
"Di mana?" tanya Arash lagi, menatap Reno dengan serius.
"Rooftop, jam istirahat pertama katanya dia bakal nungguin kamu di sana."
‘’Oh oke,’’ Arash mengangguk paham, lalu mereka bersama-sama berjalan menuju ke ruang kelas untuk mengikuti pelajaran.
Sepanjang jam pelajaran pertama sampai ketiga, pikiran Arash agak terbagi. Sinyal indigonya menangkap ada sesuatu yang tidak beres dari nama yang disebutkan Reno tadi.
Begitu bel jam istirahat berbunyi nyaring, Arash tidak pergi ke kantin bersama teman-temannya.
Dia langsung melangkah menuju ke gedung tua bagian belakang dan menaiki anak tangga menuju ke lantai paling atas.
Begitu pintu besi rooftop didorong terbuka, embusan angin siang langsung menyambutnya.
Di sana, Devano sudah berdiri menatap lurus ke depan, memperhatikan hamparan pemandangan kota dengan kedua tangan yang dimasukkan ke dalam saku celana abu-abunya.
Melalui pandangan mata batinnya yang kini jauh lebih tajam setelah ritual semalam,
Arash bisa melihat seberkas aura hitam pekat yang kotor sedang menyelimuti pundak Devano, seolah-olah ada sosok tak kasat mata yang sedang menempel erat di punggung cowok itu.
Arash melangkah mendekat. "Aku sudah di sini, Dev. Ada urusan apa kamu nyari aku?"
Mendengar suara itu, tubuh Devano tersentak hebat. Dia membalikkan badannya dengan cepat untuk menatap Arash.
Wajah tampan Devano yang biasanya dipenuhi rasa percaya diri kini tampak luar biasa pucat dengan lingkaran hitam tebal di bawah matanya, memancarkan rasa ketakutan yang teramat mendalam.
"Arash..." suara Devano terdengar sangat serak dan bergetar. Dia melangkah maju dengan pandangan putus asa. "Tolong aku, Rash... aku udah gak kuat..."
plot twist nya seperti itu kejadiannya kenapa s pocong gentayangan d sekolah...
lah s pocong ngelunjak gak mau pergi??
kenapa woyyy..
u benar-benar ya bikin harapan makin palsu aja bukannya benar ekh malah amburadul..
wah wah benar-benar s cengil kocak u ya.. hahahaha